|
Sunat adalah Sunat di dalam Hati
< Roma 2:17-29 >
“Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi
dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Jahweh, dan tahu akan kehendak-Nya,
dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana
yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi
mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang
belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian
dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah
engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: “Jangan mencuri,” mengapa
engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan berzinah,” mengapa engkau
sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri
merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri
menghina Jahweh dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab
oleh karena kamulah nama Jahweh dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Sunat
memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar
hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak
bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap
sama dengan orang yang telah disunat? Jika demikian, maka orang yang tak bersunat,
tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum
tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi
bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat
yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang
tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani,
bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan
dari Jahweh.”
Kita harus disunat di dalam hati
“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Kita
diselamatkan ketika kita percaya di dalam hati. Kita harus diselamatkan di dalam
hati. Jahweh berkata, “sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan
secara hurufiah; Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari
Jahweh” (Roma 2:29). Kita harus memiliki pengampunan dosa did alam hati
kita. Kalau kita tidak memiliki pengampunan dosa di dalam hati kita, maka hal
itu tidak sah. Manusia memiliki “bagian rohani dan bagian lahiriah,” dan setiap
orang harus menerima pengampunan dosa di dalam bagian rohaninya.
Rasul Paulus berkata kepada orang-orang Yahudi,
“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Lalu bagian mana yang disunatkan
oleh orang-orang Yahudi? Orang-orang Yahudi menyunatkan sebagian dari daginga.
Namun, Rasul Paulus mengatakan, “Sunat adalah sunat di dalam hati.” Orang-orang
Yahudi disunat bagian lahiriahnya tetapi Rasul Paulus mengatakan bahwa sunat
adalah sunat di dalam hati. Jahweh berkata di dalam hati kita ketika kita menjadi
anak-anakNya.
Paulus tidak berbicara mengenai sunat lahiriah,
tetapi sunat dan pengampunan dosa adalah di dalam hati. Karena itu ketika ia
berkata, “Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia?” (Roma
3:3). Artinya, “Kalau ada orang-orang yang tidak mau percaya di dalam hatinya.”
Ia tidak sedang berbicara mengenai percaya secara lahiriah, tetapi yang dikatakannya
adalah “Percaya di dalam hati.” Kita harus tahu bahwa yang dimaksud oleh Rasul
Paulus dan apa artinya pengampunan dosa. Kita juga harus belajar bagaimana caranya
untuk menerima pengampunan dosa di dalam hati kita melalui firman Jahweh.
“Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada
yang tidak setia?” artinya, “Jadi bagaimana kalau orang-orang Yahudi tidak
percaya kepada Jahshua Kristus sebagai Juruselamat mereka, meskipun mereka secara
daging adalah keturunan Abraham?” Apakah ketidakpercayaan mereka akan membuat
kesetiaan Jahweh akan batal? Apakah kenyataan bahwa Jahweh menghapus dosa termasuk
dosa-dosa keturunan Abraham kemudian dibatalkan? Tidak akan. Paulus mengatakan
bahwa bahkan orang-orang Yahudi, yang adalah keturunan Abraham secara daging,
bisa diselamatkan ketika mereka percaya bahwa Jahshua Kristus adalah Juruselamat,
Anak Jahweh, yang menanggung segala dosa dunia melalui baptisan dan penyalibanNya.
Ia juga berkata bahwa keselamatan dan anugerah melalui Jahshua Kristus tidak
akan pernah dibatalkan.
Roma 3:3-4 mengatakan, “Jadi bagaimana, jika
di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan
kesetiaan Jahweh? Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Jahweh adalah benar, dan semua
manusia pembohong, seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam
segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi.” Tuhan berjanji dengan
firmanNya dan menguduskan orang percaya dengan menggenapi janjiNya sendiri.
Jahweh ingin menunjukkan kebenaranNya dan untuk membenarkan mereka yang memiliki
iman kepada Jahshua dengan firmanNya dengan menggenapi apa yang dijanjikanNya
ketika Ia dihakimi. Bahkan kita, yang menerima pengampunan dosa di dalam hati
kita, juga ingin dihakimi dengan firmanNya dan ingin menang melalui firmanNya
ketika kita dihakimi.
Rasul Paulus berkata mengenai manusia lahiriah dan manusia batiniah
Paulus berbicara mengenai “manusia lahiriah dan
manusia batiniah.” Kita juga memiliki manusia lahiriah dan manusia batiniah,
yaitu daging dan roh kita. Kita sama dengan dia. Sekarang Paulus menyinggung
mengenai hal ini.
Roma 3:5 mengatakan, “Tetapi jika ketidakbenaran
kita menunjukkan kebenaran Jahweh, apakah yang akan kita katakan?” Paulus
tidak bermaksud menjelaskan bahwa manusia lahiriahnya bersih. Dagingnya kotor
dan terus melakukan dosa sampai ia mati. Ini termasuk juga semua manusia yang
ada di dunia ini. Namun, kalau Jahweh menyelamatkan orang-orang itu, tidakkah
itu menunjukkan kebenaranNya? Tidakkah Jahweh benar kalau Ia menyelamatkan semua
manusia, meskipun manusia lahiriah mereka tidak teguh? Karena itu Paulus mengatakan,
“Tidak adilkah Jahweh -- aku berkata sebagai manusia -- jika Ia menampakkan
murka-Nya? Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Jahweh dapat
menghakimi dunia” (Roma 3:5, 6). Paulus menjelaskan bahwa kita tidak diselamatkan
hanya karena manusia lahiriah kita bersih.
Kita memiliki keberadaan lahiriah dan rohani.
Paulus menyebut mengenai hati kita ketika ia berkata, “Jadi bagaimana, jika
di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan
kesetiaan Jahweh? Sunat adalah sunat di dalam hati.” Bukan iman yang benar yang
menjadikan kita suci seketika dan kemudian keesokan harinya menjadi orang berdosa
dan mendasari iman kita degan dasar hal-hal lahiriah yang melakukan dosa dan
memiliki kelemahan.
Manusia lahiriah selalu melakukan dosa sampai mati
Rasul Paulus tidak menempatkan pengharapannya
kepada hal-hal lahiriah. Mereka yang dosa-dosanya sudah dihapuskan juga memiliki
manusia lahirian dan rohani. Mereka tidak bisa tidak merasa kecewa. Mari kita
melihat bagian lahiriah kita. Kadangkala kita baik, tetapi kadangkala kita sangat
jahat. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa manusia lahiriah kita sudah disalibkan
bersama dengan Jahshua Kristus. Manusia lahiriah kita sudah mati, dan Jahshua
Kristus mengampuni dosa-dosa bagian lahiriah kita.
Kita yang diselamatkan sering merasa kecewa dengan
diri kita kalau kita melihat manusia lahiriah kita. Kita merasa bisa mengharap
banyak kalau bagian lahiriah kita melakukan yang baik, tetapi menjadi sangat
kecewa kalau bagian lahiriah kita tidak sesuai dengan apa yang kita tentukan.
Kita cenderung untuk berpikir bahwa iman kita sudah hancur ketika kita kecewa
dengan bagian lahiriah kita. Namun hal itu tidak benar. Manusia lahiriah kita
sudah disalibkan bersama dengan Kristus. Mereka yang sudah menerima pengampunan
dosa juga terus melakukan dosa dengan tubuh jasmani mereka. Jadi apakah itu
bukan dosa? Ya, itu dosa, tetapi dosa yang sudah mati. Mati karena dosa-dosa
sudah dibawa ke kayu Salib dengan Tuhan. Dosa yang dilakukan manusia lahiriah
bukanlah hal yang serius, tetapi akan menjadi masalah yang serius kalau hati
kita tidak benar di hadapan Tuhan.
Kita harus percaya kepada Jahweh dengan hati kita
Banyak kelemahan yang dinyatakan kepada orang
benar setelah mereka menerima pengampunan dosa. Karena itu, keselamatan Jahweh
akan menjadi tidak sempurna kalau dasar keselamatan kita adalah kepada bagian
lahiriah kita yang tidak bisa tidak melakukan dosa setiap saat. Iman kita akan
menyimpang dari iman kepada Jahweh, yang dimiliki Abraham, kalau kita meletakkan
iman kita atas dasar perbuatan manusia lahiriah kita.
Rasul Paulus mengatakan, “Sunat adalah sunat
di dalam hati.” Kita menjadi kudus dan benar dengan percaya di dalam hati,
bukan menurut perbuatan manusia lahiriaha kita. Pengudusan tidak tergantung
kepada apakah manusia lahiriah kita melakukan seperti yang dikatakan Jahweh
atau tidak. Apakah anda mengerti hal ini? Masalahnya adalah karena kita memiliki
manusia lahiriah dan manusia batiniah dan keduanya bersama-sama. Karena itu,
kita kadangkala cenderung memberikan penekanan yang lebih besar kepada manusia
lahiriah kita. Kita menjadi mantap kalau manusia lahiriah kita melakukan kebaikan,
tetapi kecewa kalau tidak demikian. Paulus mengatakan bahwa ini bukan iman yang
benar.
“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Apakah
kebenaran yang sesungguhnya? Bagaimana kita bisa tahu dan percaya dengan hati
kita? Dalam Matius 16, Jahshua bertanya kepada Petrus, “Menurutmu, siapakah
Aku?” Lalu Petrus mengakui dengan imannya dan berkata, “Engkau adalah Kristus,
Anak Jahweh yang hdiup.” Petrus percaya seperti itu dengan hatinya. Jahshua
mengatakan, “Diberkatilah engkau, Simon bin Yunus, karena bukan daging dan darah
yang menyatakannya kepadamu, tetapi BapaKu yang ada di surga.” Jahshua mengatakan
bahwa iman Petrus itu benar.
Abraham tidak memiliki anak. Jahweh memimpin dia
dengan firmanNya dan berjanji bahwa Ia akan memberikan seorang anak kepadanya
dan bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Ia juga mengatakan bahwa Jahweh
akan menjadi Jahweh bagi dia dan seluruh keturunannya. Jahweh memerintahkan
agar Abraham, keluarganya dan keturunannya disunat sebagai tanda perjanjian
antara Jahweh dengan Abraham. “Luka pengeratan sebagian dari daging adalah perjanjian
bahwa Aku adalah Jahweh bagimu,” kata Jahweh. Abraham percaya kepada perjanjian
itu di dalam hatinya. Ia percaya bahwa Jahweh akan menjadi Jahweh bagi dia dan
akan memberkati hatinya. Ia juga percaya bahwa Jahweh akan menjadi Jahweh bagi
keturunannya juga. Ia percaya kepada Jahweh sendiri.
Kita dijadikan orang benar dengan percaya kepada Injil air dan
Roh di dalam hati
Kita dijadikan orang benar dengan percaya di dalam
hati bahwa Jahweh adalah Jahweh kita, Juruselamat kita. Kita diselamatkan dengan
percaya di dalam hati. Kita tidak diselamatkan dengan sesuatu yang lain. Kita
menjadi orang benar dengan percaya di dalam hati bahwa Jahweh adalah Jahweh
kita dan bahwa Ia menghapus dosa kita dengan baptisan Jahshua dan kematianNya
di kayu Salib. Percaya dengan sepenuh hati kita akan menyelamatkan kita. Karena
itu Alkitab berkata, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan
dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10).
Kita harus jelas pada saat ini bahwa kita dijadikan
orang benar dengan percaya di dalam hati kita, dan tidak dengan perbuatan baik
kedagingan kita. Kita tidak akan pernah menjadi orang benar kalau Jahshua menambahkan
persyaratan manusia lahiriah kita, dengan mengatakan, “Aku akan menghapus dosa-dosamu,
tetapi dengan satu syarat. Engkau bisa menjadi anakKu kalau engkau bisa menghindarkan
diri dari dosa. Engkau tidak akan bisa menjadi anakKu kalau engkau gagal menghindar.”
Kita dijadikan orang benar dengan percaya di dalam
hati. Bisakah kita menjadi orang benar kalau Jahweh menambahkan persyaratan
untuk manusia lahiriah kita? Apakah anda percaya bahwa Tuhan menyelamatkan anda
dengan menanggung dosa anda melalui baptisanNya di sungai Yordan, disalibkan
dan menanggung hukuman menggantikan anda? Bagaimana anda mempercayai hal ini?
Tidakkah anda percaya di dalam hati anda? Bisakah anda diselamatkan secara sempurna
kalau Jahweh mengatakan, “Aku akan mengampuni kesalahan-kesalahan kecilmu tetapi
tidak mengampuni yang besar-besar. Aku akan menganggap keselamatanmu tidak sah
kalau engkau tidak bisa menepati hal ini.”
Kita harus memisahkan manusia lahiriah dengan manusia batiniah
kita
Daging kita, manusia lahiriah, selalu lemah dan
tidak bisa mencapai sendiri kebenaran Jahweh. Kita menjadi orang benar dengan
percaya di dalm hati kita di hadirat Jahweh karena Ia sudah berjanji untuk menyelamatkan
mereka yang percaya di dalah hati mereka. Dengan melihat iman dimana kita mengakui
apa yang dilakukan Jahweh dan Jahshua menanggung dosa dan menghapus segala dosa
dari hati kita, Jahweh menjadikan kita anak-anakNya yang benar. Inilah perjanjian
Jahweh, dan Ia menyelamatkan kita dengan menggenapi janjiNya.
Jahweh mengatakan bahwa ketika Ia melihat iman
di dalam hati kita, kita menjadi umatNya. Kita harus memisahkan manusia lahiriah
dengan manusia batiniah kita. Tidak ada seorangpun di dunia yang akan menerima
pengampunan dosa kalau kita mendasari keselamatan kita dengan manusia lahiriah.
“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Kita diselamatkan dengan percaya
kepada Jahshua Kristus di dalam hati kita. Apakah anda mengerti hal ini? “Karena
dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan
diselamatkan” (Roma 10:10). Rasul Paulus dengan jelas memisahkan antara
manusia lahiriah dengan manusia batiniah kita.
Manusia lahiriah kita lebih kotor daripada kotoran
anjing. Tidak ada gunanya sama sekali. Kita tidak perlu memakai Abraham sebagai
contoh. Perhatikan diri anda sendiri. Lihat daging anda yang tidak ada gunanya.
Kedagingan menempuh kejahatan untuk mendapatkan posisi sosial yang tinggi dan
untuk hidup berpengaruh. Tidakkah kedagingan hanya senantiasa mencari kepentingannya
sendiri? Daging akan dihukum lebihdari dua puluh kali sehari kalau hukuman itu
didasarkan kepada pikiran dan tindakannya. Kedagingan manusia melawan Jahweh.
Syukurnya, Jahweh tidak memperhatikan manusia
lahiriah kita, tetapi Ia memperhatikan manusia batiniah kita. Ia menyelamatkan
kita ketika Ia melihat kita sungguh-sungguh percaya bahwa Jahshua adalah Juruselamat
dengan segenap hati kita. Ia mengatakan bahwa Ia menyelamatkan kita dari segala
dosa kita.
Kita tidak akan pernah bisa diselamatkan dengan pemikiran kita
sendiri
Mari kita menyelidiki pemikiran kita sendiri.
Kita berpikir kita hanya percaya dengan pemikiran kita sendiri. Kita bisa percaya
dengan pemikiran kedagingan kita, yang berpikir, ‘Aku selamat karena Jahweh
menyelamatkan aku.’ Namun, kita tidak bisa diselamatkan melalui pemikiran kita
sendiri. Pikiran duniawi senantiasa berubah dari waktu ke waktu dan selalu melakukan
kejahatan. Apakah ini benar? Pemikiran dari pikiran duniawi mau melakukan ini
dan itu sesuai dengan hawa nafsunya.
Mari kita andaikan kalau seseorang meletakkan
dasar imannya kepada pemikirannya sendiri. Ia bisa memiliki keyakinan kepada
keselamatannya ketika keadaan pemikirannya sekarang cocok dengan pemikirannya
sebelumnya, yaitu, ‘Jahshua menghapus semua dosa di sungai Yordan.’ Namun, karena
pemikiran kedagingan sangat tidak stabil, ia tidak bisa selalu memiliki keyakinan
akan keselamatannya, kalau sedikit saja keraguan merasuki pemikirannya yang
lemah tentang keselamatan. Iman yang dibangun dengan cara yang salah akan runtuh
kalau ada serangan keraguan.
Kita tidak bisa sungguh-sungguh percaya kepadaNya
dan kepada kebenaran kalau kita meletakkan dasar iman kita kepada pemikiran
kita sendiri. Iman yang seperti itu adalah seperti iman sebuah rumah yang didirikan
di atas pasir, “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius
7:27).
Karena itu, iman seseorang yang hanya percaya
kepada pemikirannya sendiri jauh sekali dari iman yang didasarkan kepada firman
Jahweh. Jahweh mengatakan, “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firmanMu,
dan menang, jika Engkau dihakimi” (Roma 3:4). Keselamatan kita haruslah
didasarkan kepada firmanNya. Firman menjadi daging dan berdiam di antara kita,
dan Firman itu adalah Jahweh. Firman itu datang ke dalam dunia dalam rupa manusia.
Jahshua menyelamatkan kita dan diangkat setelah 33 tahun kehidupanNya di bumi
dan menuntun para RasulNya menuliskan firman perjanjuan, yang adalah penggenapan
dari Perjanjian Lama yang juga Ia perintahkan untuk ditulis oleh para hambaNya
yang terdahulu. Jahweh menuliskan apa yang dikatakan dan dilakukanNya di dalam
Alkitab. Jahweh muncul di dalam dan dengan Firman, berbicara dengan Firman dan
menyelamatkan kita dengan Firman.
Kita tidak bisa memiliki pengampunan dosa yang
sempurna dengan pemikiran kita sendiri, saat tidak percaya kepada firman Jahweh,
dan berpikir, ‘Kadangkala nampaknya saya diselamatkan, tetapi kadangkala saya
tidak bisa percaya kepada keselamatan dari Tuhan.’ Kita tidak bisa diselamatkan
karena pemikiran kita karena pemikiran kita senantiasa berubah dan tidak selalu
benar.
Karena itu, Rasul Paulus mengatakan bahwa sunat
adalah sunat di dalam hati dan kita mempercayai kebenaranNya dengan hati kita.
Ketika hati kita percaya kepada firmanNya, hati kita kemudian akan menyaksikan
bahwa Jahweh sudah menjanjikan hal ini di dalam Perjanjian Lama dan menggenapi
perjanjianNya. Ia menyelamatkan kita seperti ini di dalam Perjanjian Baru dengan
firmanNya. Kita diselamatkan dan menjadi anak-anak Jahweh dengan percaya kepada
firmanNya di dalam hati.
Kita diselamatkan dari dosa dengan percaya kepada Injil air
dan Roh di dalam hati
Kita diselamatkan dengan iman karena hati bisa
mengakui Jahweh, tetapi pemikiran keduniawian mungkin tidak mengakuiNya. Kita
menjadi anak-anak Jahweh dengan percaya di dalam hati, bukan dengan perbuatan
atau pemikiran manusia lahiriah kita. Jelas sekali bahwa kita bisa menjadi anak-anak
Jahweh dengan percaya kepada firmanNya di dalam hati kita. Apakah anda percaya
di dalam hati anda? Apakah anda sudah sunat di dalam hati? Apakah anda percaya
di dalam hati bahwa Jahshua Kristus adalah Juruselamat anda? Apakah anda percaya
kepada Anak Jahweh dan memiliki kesaksian itu sendiri? Apakah anda memiliki
kesaksian firman bahwa Jahshua secara sempurna menyelamatkan anda, bukan kesaksian
atas pengalaman sendiri belaka? Apakah anda memiliki firman Jahweh di dalam
hati anda? Apakah anda memiliki firman yang memberikan kepada anda pengampunan
dosa? Memiliki iman yang sejati berarti diselamatkan dengan iman.
Kita menerima pengampunan dosa dengan percaya
kepada firman Jahweh di dalam hati kita. Namun, kita sering merasa kecewa kalau
kita memandang kepada kelemahan manusia lahiriah kita. Dan kemudian kita cenderung
mundur dari iman kita kepada Jahweh. Seseorang yang tidak sungguh-sungguh memahami
kebenaran berada di bawah ilusi. Kebanyakan orang Kristen mendasarkan iman mereka
kepada perbuatan mereka sendiri. Itu kesalahan besar. Kita tidak boleh mengukur
iman kita dengan pemikiran kita. Kita tidak boleh meletakkan dasar iman kita
kepada kedagingan, karena kedagingan kita tidak ada artinya. Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru mengatakan bahwa seseorang menjadi orang berdosa ketika
ia percaya kepada firman Jahweh dengan hatinya. Kita tidak bisa diselamatkan
dengan perbuatan kedagingan. Baik kita melakukan dosa atau berbuat baik, tidak
ada hubungannya dengan Jahweh dan kemuliaanNya.
Karena itu, iman sejati berarti diselamatkan dengan
percaya kepada keselamatan firman Jahweh dengan hati kita. Iman kita salah kalau
hati kita salah dan iman kita benar kalau hati kita benar. Kebiasaan yang benar
datang dari iman yang benar. Kebiasaan yang salah mungkin terjadi karena hati
memang lemah. Tetapi yang penting adalah bahwa Jahweh melihat hati. Jahweh melihat
ke dalam hati dan menyelidikinya. Jahweh melihat apakah hati kita benar atau
tidak. Jahweh melihat apa kita percaya di dalam hati atau tidak. Apakah anda
mengerti? Apakah anda tahu bahwa Jahweh melihat ke dalam hati kita? Jahweh melihat
apakah kita percaya kepada Jahshua Kristus di dalam hati atau tidak. Apakah
anda percaya di dalam hati anda?
Jahweh melihat apakah kita percaya di dalam hati
atau tidak. Ia melihat ke dalam hati kita. Kita harus memeriksa hati kita di
hadapan Jahweh. Sunat adalah sunat di dalam hati. Apakah anda percaya di dalam
hati? Jahweh memandang ke dalam hati. Ia melihat apakah kita sungguh-sungguh
percaya di dalam hati atau tidak. Ia melihat apakah kita sungguh-sungguh mengenal
kebenaran atau tidak dan apakah kita mau mengejar kebenaran itu atau tidak.
Ia melihat apakah kita memiliki iman di dalam hati kita atau tidak, dan apakah
kita mau taat kepadaNya dan percaya kepada firmanNya.
Ada kelompok keagamaan yang menekankan pentingnya tanggal yang
tepat dari saat dilahirkan kembali
Sangat penting untuk mengerti dengan pasti mengenai
apa yang dilakukan Jahshua Kristus dan percaya dengan sepenuh hati. Ada kelompok
keagamaan yang yang mengatakan bahwa saudara-saudara yang ada di dalam gereja
kita belum diselamatkan. Saya sangat kasihan dengan jiwa-jiwa yang ada di dalam
kelompok kegamaan itu. Saya ingin agar mereka bisa menegrti maksud saya dan
mengajarkan kepada mereka Injil air dan Roh. Apakah dosa-dosa anda sudah dihapuskan?
-Amin.- Apakah anda percaya dengan sepenuh hati?
Tetapi ada orang-orang yang mengatakan bahwa iman
kita tidak benar. Mereka mengatakan bahwa kita tidak boleh percaya kepada sabda
sebagaimana yang tertulis dan percaya hanya kepada apa yang bisa dibuktikan
secara ilmiah. Mereka mengatakan bahwa itulah keselamatan yang sempurna dan
iman yang sejati. Mereka mengatakan bahwa orang yang dilahirkan kembali harus
mengetahui secara pasti kapan mereka dilahirkan kembali (jam, tanggal, bulan).
Ketika saudara Hwang bertemu dengan salah seorang dari mereka, orang itu bertanya
kepasa saudara Hwang kapankan ia dilahirkan kembali, karena itu saudara Hwang
menjawab bahwa ia tidak ingat kapan tepatnya tanggal dan jamnya, tetapi ia yakin
sudah dilahirkan kembali dengan percaya kepada Injil air dan Roh, sekitar tahun
yang lalu. Orang itu kemudian mengatakan bahwa saudara Hwang belum dilahirkan
kembali.
Tentu saja, kita bisa mengatakan jam, tanggal,
bulan, dan tahun yang tepat kalau kita melacak kembali kepada saat ketika kita
dilahirkan kembali. Kita bisa mengatakan apakah itu siang atau malam; pagi atau
sore, waktu makan siang atau waktu makan malam. Namun, keselamatan tergantung
kepada percaya di dalam hati. Tidak masalah kalau anda ingat atau tidak ingat
saat yang tepat akan hal itu.
Sunat adalah sunat di dalam hati
Tuhan menghapus dosa ke atas diriNya di sungai
Yordan dan disalibkan menggantikan kita menanggung hukuman bagi segala dosa
kita. Ia tertikam karena pemberontakan kita dan diremukkan karena kejahatan
kita. Ia menanggung segala dosa-dosa kita dari manusia lahiriah dan manusia
batiniah kita. Semangat kita bangkit kembali dari kematian dan sekarang kita
bisa mengikuti Tuhan sebagaiamana yang dikehendakiNya, meskipun ada orang-orang
yang terus mengatakan bahwa kita belum diselamatkan.
Apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia lahiriah?
Kejahatan demi kejahatan nampak dinyatakan setelah kita menerima pengampunan
dosa. Semua kejahatan kita belum dinyatakan; akan ada lebih banyak lagi kelemahan
yang dinyatakan. Namun, kita diselamatkan kalau kita percaya di dalam hati kita
bahwa Jahweh adalah Jahweh kita dan bahwa Jahshua menghapus dosa kita di sungai
Yordan melalui baptisan dan disalibkan.
Kita tidak bisa dibandingkan dengan orang-orang
yang menekankan pentingnya tanggal kita dilahirkan kembali dan percaya hanya
kepada apa yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Jelasnya, mereka belum diselamatkan.
Kita percaya dengan segenap hati kita untuk menjadi orang benar. Apakah anda
percaya bahwa Jahshua Kristus adalah Juruselamat kita? -Amin.- Iman dimulai
dari titik itu dan Tuhan menuntun hati kita sejak saat itu. Ia memberkati hati
kita dan menghendaki agar kita mengikuti Dia dengan hati kita melalui iman.
Jahweh memimpin kita dan memberkati kita ketika kita berjalan dengan Dia melalui
iman di dalam hati kita.
“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Kita
diselamatkan dengan percaya dengan hati kita. Banyak orang di dunia yang mengatakan
bahwa percaya kepada Injil dengan sepenuh hati menyelamatkan mereka. Namun,
mereka sebenarnya menambahkan perbuatan baik kepada iman mereka. Mereka menganggap
perbuatan manusia lahiriah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman mereka.
Mereka berkata bahwa memiliki iman kepada Injil air dan Roh tidak bisa membawa
mereka kepada keselamatan karena mereka mencampurkan kepercayaan dengan sepenuh
hati dengan perbuatan kebaikan mereka sendiri.
Sebagai akibatnya, mereka lebih memperhatikan
bagaimana keadaan manusia lahiriah dan seberapa sering mereka menaikkan doa-doa
pertobatan. Mereka jauh dari keselamatan meskipun mereka berpikir bahwa mereka
diselamatkan dari dosa-dosa mereka.
Jahweh melihat hati
| Ingin
tahu lebih banyak tentang kitab surat Roma?
Silahkan klik banner di bawah untuk mendapatkan buku gratis
tentang kitab surat Roma. |
|
 |
 |
Kita percaya dan kemudian menjadi
orang benar di dalam hati kita. Hal itu sepenuhnya terpisah dari
manusia lahiriah dan tidak ada hubungannya dengan perbuatan kita.
Keselamatan sama sekali tidak ada hubungannya dengan usaha dan perbuatan
kita. Apakah anda merasa lega bahwa segala dosa anda sudah dhapuskan?
Apakah anda mau melayani Tuhan dengan penuh sukacita? Apakah anda
mengabarkan Injil dengan sukacita? Apakah anda mau melibatkan diri
di dalam pelayanan yang indah ini? Hati menjadi penuh ucapan syukur
dan sukacita karena Jahweh menerima iman kita ketika kita percaya
dengan sepenuh hati kita. Karena itu, hati adalah sesuatu yang sangat
penting di hadapan Jahweh.
Kembali ke Daftar
|