|
Bahan Bangunan Kemah
Suci Yang
Meletakkan Dasar Untuk Iman
< Keluaran 25:1-9 >
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah
kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan
khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu
pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus
yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, perunggu; kain
biru, kain ungu, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit
domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga;
minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk
ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan
untuk baju efod dan untuk tutup dada. Dan mereka harus membuat tempat
kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut
segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan
sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.””

Kehidupan yang Malang
Dalam sebuah puisi yang berjudul ‘Satu Mazmur
Kehidupan,’ Henry Wadsworth Longfellow menuliskan, “Jangan katakan kepadaku,
dengan kemurungan, Kehidupan bukanlah hanya mimpi kosong!”
Namun, kalau anda mau memikirkan dengan sungguh-sungguh,
kehidupan manusia memang sangat malang. Meskipun kehidupan semua orang nampak
seperti hanya kembali menjadi debu secara sia-sia setelah menjalani kehidupan
yang sepi dan sementara di belantara dunia, sebenarnya dunia ini bukanlah tujuan
terakhir. Tujuan terakhir dari kehidupan semua manusia, karena dosa, adalah
neraka yang kekal, yang penuh dengan penderitaan yang sangat mengerikan.
Namun manusia biasanya tidak memperhatikan mengenai
kematian dan kehidupan mereka sesudah mereka mati. Ketika hidup di dunia ini,
manusia kemudian hidup dengan tidak memiliki tujuan, melangkah menuju neraka,
tidak bisa bertemu dengan Jahweh yang sudah menyelamatkan mereka. Inilah kehidupan.
Tetapi kalau memang hanya inilah kehidupan, betapa malang dan memelas kehidupan
kita?
Untuk kehidupan yang demikian, Mesias sedang menunggu.
Kalau manusia secara sembarangan masuk ke dunia ini hanya untuk berkeliaran
tanpa tujuan dan lenyap ke dalam kegelapan, mereka memang akan menghadapi keberadaan
yang memelas dan penuh penderitaan. Kita semua bisa melihat hal ini kalau kita
melihat orang-orang yang ada di sekitar kita.
Suatu hari, ketika saya sedang berada di dalam
mobil, saya melihat ada seorang tua, sekitar 60 tahun, berjalan di tepi jalan.
Ia berjalan membelakangi saya, kepalanya menunduk dan bahunya terkulai, dan
ia nampak sebagai orang yang sangat kesepian. Ketika saya membunyikan klakson
saya, ia menengok, dan saya melihat wajahnya penuh dengan kesedihan. Melihat
ekspresi orang tua ini, saya tertegun sejenak. Orang tua itu barangkali merasakan
betapa sepinya kehidupannya. Sunyinya musim gugur mungkin menambahkan perasaan
kekosongan itu, membuat dia merasa bertambahnya rasa kesia-siaan di dalam kehidupannya.
Bukan hanya hidup orang tua itu, tetapi kehidupan semua orang, pada kenyataannya,
memang memelas.
Karena waktu begitu cepat berlalu, manusia bahkan
tidak merasakan bahwa mereka sudah menjadi tua, sampai kemudian tiba-tiba mereka
mendapati kerut-kerut di wajah mereka. Banyak di antara mereka yang menghadapi
begitu banyak kesulitan di dalam kehidupan mereka sampai mereka tidak memiliki
kesempatan untuk beristirahat, berbalik, dan melihat kembali jalan yang sedang
mereka lalui. Meskipun semua orang tua sudah hidup dan bekerja keras untuk keluarga
dan anak-anak mereka, kata-kata tidak cukup untuk menjelaskan kesedihan mereka,
karena ketika menghadapi masa senja mereka sendiri, tidak ada lagi sisa dari
kehidupan mereka.
Terbawa oleh emosi mereka, mereka kemudian akan
dipenuhi dengan air mata. Setelah banyak waktu berlalu, dan setelah tahun-tahun
lewat, mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk menengok ke belakang, dan ketika
mereka melakukannya, yang bisa mereka rasakan hanyalah betapa anehnya kejadian
yang sangat mengenaskan di musim gugur itu menjadi begitu tepat menggambarkan
keadaan diri mereka. Dengan musim gugur, ketika dedaunan gugur, dan menghadapi
musim dingin yang suram, mereka menyadari bahwa kehidupan mereka, juga, segera
akan lenyap dengan cara yang sama. Mereka akan menyesal, tentu saja, bahwa mereka
membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk menyadari hal ini. Apa pengharapan
yang akan dimiliki orang-orang itu, kalau mereka akan mati tanpa pernah bertemu
dengan Tuhan? Orang-orang yang demikian yang sampai kepada akhir hayatnya tidak
pernah bertemu dengan Mesias menjadi orang-orang yang memelas sampai selamanya.
Saya sendiri juga akan menjalani kehidupan yang
memelas kalau saya belum bertemu dengan Tuhan. Bagaimana dengan anda? Kemana
anda sedang menuju sekarang ini, kalau anda juga belum bertemu dengan Tuhan?
Terlalu banyak orang di dunia ini, yang karena tidak bisa bertemu dengan Tuhan,
sudah menuju kepada ketidakbahagiaan mereka sendiri.
Saya merasa hancur hati ketika saya berpikir mengenai
orang-orang itu, yaitu bahwa ada begitu banyak orang yang menuju kepada ketidakbahagiaan
mereka sendiri. Yang bisa dilakukan oleh babi hanyalah makan sampai mereka menghadapi
akhir hayatnya, tetapi kehidupan kita berbeda dengan babi, karena kita harus
merenungkan dan melihat melampaui kekinian kepada masa kekekalan yang akan datang.
Banyak orang yang sampai kepada akhir hayatnya dengan penuh penyesalan. Meskipun
mereka tahu bahwa ada Kerajaan Surga yang kekal, mereka menyadari bahwa mereka
tidak layak untuk masuk ke sana, karena mereka masih berdosa. Bahwa ada begitu
banyak kehidupan yang penuh dengan penyesalan demikian hanya membuat saya semakin
meratap dan bersedih atas nasib mereka yang sangat mengenaskan.
Ketika kita berpikir tentang kehidupan yang demikian,
bahwa mereka tidak bsisa pergi ke tempat yang indah yang dipersiapkan Jahweh,
dan bahwa mereka akan lenyap dari dunia ini tanpa menggenapi tujuan yang sebenarnya
dari kehidupan mereka, kita hanya bisa mengasihani orang-orang itu dan meratapi
nasib mereka. Inilah sebabnya kehidupan sering dibandingkan dengan sebuah perjalanan
melalui lautan yang bergelombang dan penuh kesulitan. Ketika menyebut mengenai
kehidupan, manusia mengatakan bahwa hal itu seperti berada di atas lautan yang
demikian, berusaha untuk bertahan di dalam kepahitan dunia manusia, karena sejak
mereka lahir sampai mati, mereka harus menderita, menendang dan menangis hanya
untuk bisa bertahan.
Ketika kita mengingatkan diri kita bahwa demikianlah
kehidupan, kita menyadari dengan pasti bahwa menjelaskan kebenaran Kemah Suci
ini kepada orang lain dan menolong mereka untuk bertemu dengan Tuhan adalah
pekerjaan yang sangat penting. Mengapa? Karena melalui korban persembahan, Jahweh
memberikan kepada orang-orang berdosa ini keselamatan dari dosa mereka dengan
membawa mereka ke dalam Rumah Jahweh sendiri. Kemah Suci adalah Bait Jahweh
yang dibangun dipadang gurun. Di dalam Rumah Jahweh ini, Kemah Suci, Jahweh
bertemu dengan orang-orang berdosa melalui pengampunan dosa yang digenapi dengan
korban persembahan. Jahweh mengatakan kepada kita, “Aku akan membuat kamu membangun
RumahKu dimana Aku akan berdiam, dan Aku akan bertemu denganmu di dalam Kemah
Suci ini, di atas tutup pendamaian.” Hanya di dalam Kemah Suci, Rumah Jahweh,
semua orang bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan Jahweh.
Iman di dalam kebenaran Kemah Suci tidak bisa
diganti dengan apapun di dunia ini, karena ia sangat berharga yang tidak bisa
dibayar dengan harga berapapun. Saya percaya bahwa bagi kita yang memiliki iman
Kristen yang percaya kepada Jahshua Kristus sebagai Juruselamat kita, untuk
memiliki pemahaman yang pasti dan iman yang benar tentang Kemah Suci ini adalah
jalan untuk melangkah ke jalan yang semakin keberkatan.
Kita Menghidupi Hidup Keberkatan
Hati saya penuh dengan kebahagian, dan membayangkan
apakah ada orang lain yang menjalani kehidupan yang keberkatan seperti yang
kita hidupi. Meskipun hidup ini ada dalan keadaan yang memelas, banyak orang
yang menjalani kehidupannya sambil tetap mengabaikan mengenai nasib mereka sendiri.
Tetapi Jahweh mengendaki untuk membuat mereka menyadari betapa keras kepala
kehidupan mereka di hadapanNya, dan membuat hati mereka bertobat. Mereka, di
lain pihak, masih berusaha untuk menjalani kehidupan mereka tanpa mendengarkan
Injil yang sudah diberikan Jahweh kepada mereka secara cuma-cuma, dan tanpa
membuka bahkan tempat yang paling kecilpun di dalam hati mereka.
Keluaran mengatakan bahwa ada sepuluh tulah yang
diberikan Jahweh kepada Firaun. Keseluruhannya ada sepuluh tulah yang jatuh
ke tanah Mesir. Jahweh sudah memerintahkan kepada Firaun untuk melepaskan umatNya
yang saat itu hidup di Mesir. Ia mengatakan kepada Firaun bahwa kalau ia tidak
mau taat kepadaNya, Ia akan menjatuhkan sepuluh tulah kepadanya. Tetapi Firaun
tidak mau mendengar apa yang dikehendaki Jahweh kepadanya, menolak perintahNya
dengan keras kepala, dan akhirnya menerima semua kesepuluh tulah yang dinubuatkan
Jahweh. Ketegaran Firaun memiliki dasar yang salah. Juga, alasan mengapa ia
akhirnya baru membebaskan bangsa Israel juga hanya setelah ia menerima semua
penghukuman Jahweh adalah karena ia dikendalikan oleh Iblis. Ini menunjuk kepada
perlawanan kita sendiri yang keliru yang bisa ditemukan di dalam setiap diri
kita masing-masing.
Orang-orang yang demikian, bagaimanapun, masih
bisa menerima pengampunan dosa yang disediakan Jahweh di dalam Kemah SuciNya,
dan hidup dengan Dia di dalam iman. Namun orang-orang itu begitu keras kepala
sehingga mereka terus menerus menolak dan tidak percaya kepada kebenaran Jahweh
dengan ketegaran seekor keledai. Inilah sebabnya mengapa banyak orang yang tidak
bisa bertemu dengan Jahweh kebenaran, menjalani kehidupan sebagai orang berdosa,
dan akhirnya menghadapi kebinasaan. Ini semakin menyedihkan saya. Terlalu banyak
orang yang karena keras kepala menjadi jauh dari Jahweh.
Karena orang-orang demikian dengan cepat tunduk
kalau menghadapi kesulitan, tetapi kemudian kembali kepada keadaan semula yang
menolak kehendak Jahweh dan sekali lagi menjalani kehidupan yang penuh keras
kepala, mereka akan menghadapi tulah yang kedua. Karena tulah kedua, mereka
akan tunduk sedikit. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena mereka akan mulai
tidak taat kepada Jahweh lagi dan menentang Dia. Dan karena itu mereka jatuh
ke dalam tulah yang ketiga, yang diikuti dengan yang keempat, kelima, keenam,
ketujuh, kedelapan, kesembilan, sampai akhirnya mereka sungguh-sungguh menyerah
setelah tulah yang kesepuluh dan dibinasakan.
Ketika tulah yang terakhir datang, banyak orang
yang akan menanggung penderitaan neraka karena tidak percaya kepada yang dilakukan
Mesias kepada mereka. Bagaimana bodohnya kehidupan yang demikian? Itulah sebabnya
kehidupan semua orang begitu memelas.
Meskipun kehidupan manusia hanyalah memelas di
hadapan Jahweh, anda harus menyadari bahwa bertemu dengan Jahweh di Kemah Suci
adalah berkat yang besar untuk anda, dan berdiam di dalam Firman Kemah Suci
dengan kesadaran ini.
Korban Yang Dituntut Jahweh dari Kita
Jahweh menyuruh Musa untuk naik ke Gunung Sinai
dan memberikan kepadanya seri baru dari HukumNya. Pertama-tama, Ia memberikan
kepada Musa Sepuluh Perintah: “Jangan ada ilah lain di hadapanKu; jangan membuat
patung atau sujud menyembahnya; jangan menyebut namaKu secara sembarangan; ingat
dan kuduskanlah Hari Sabat; hormati orang tuamu; jangan membunuh; jangan berzinah;
jangan mencuri; jangan menjadi saksi dusta atas sesamamu; jangan mengingini
milik sesamamu.” Sebagai tambahan, Jahweh juga mengatakan kepada mereka hukum-hukum
lain yang harus ditaati oleh bangsa Israel dalam kehidupan mereka setiap hari.
Ada 613 perintah dan hukum Jahweh secara keseluruhan.
613 peraturan itu mencakup juga aspek-aspek seperti
apa yang harus dilakukan ketika bangsa Israel kehilangan ternak mereka, apa
yang harus dilakukan kalau ternak seseorang masuk ke lubang, bahwa mereka tidak
boleh melakukan incest, bahwa kalau mereka memiliki hamba mereka harus membebaskannya
pada tahun yang ketujuh, bahwa kalau mereka memiliki hamba perempuan yang kawin
dengan laki-laki lalu mereka memiliki anak, mereka harus membebaskan hamba laki-laki
itu pada tahun yang ketujuh dan sebagainya dan seterusnya. Jahweh mengatakan
kepada Musa semua hukum etika yang harus ditaati oleh bangsa Israel dengan iman
di dalam pandangan Jahweh sepanjang kehidupan mereka sehari-hari.
Jahweh kemudian menyuruh Musa turun dari gunung,
mengumpulkan tua-tua, dan menjelaskan perintah-perintahNya. Setelah mendengar
firman Jahweh, bangsa Israel setuju dan bersumpah dengan darah mereka bahwa
mereka akan mentaati perintah-perintahNya (Keluaran 24:1-4).
Lalu, Jahweh menyuruh Musa naik ke gunung sekali
lagi, kali ini menyuruhnya untuk membangun Kemah Suci.
Jahweh berkata kepada Musa, “Katakanlah kepada
orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap
orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku
itu” (Keluaran 25:2). Lalu Ia mendaftarkan apa saja yang dipersembahkan
kepadaNya, “Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka:
emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus,
bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan
kayu penaga; minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk
ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju
efod dan untuk tutup dada,” (Keluaran 25:3-7).
Ada tujuan yang jelas dibalik perintah Jahweh
supaya mereka membawa korban itu. Tujuannya adalah agar membangun di bumi ini
Rumah Jahweh yang cemerlang, dimana tidak ada dosa dan dimana Jahweh berdiam,
sehingga Ia bisa bertemu dengan bangsa Israel di sana dan membuat segala dosa
mereka lenyap. Ini tidak berarti, meski demikian, bahwa Jahweh memerintahkan
supaya mereka mengumpukan uang untuk membangun tempat peringatan seperti yang
dilakukan gereja jaman ini. Nabi-nabi palsu di dalam kekristenan sangat cenderung
untuk menyalah artikan bagian ini ketika mereka sedang berusaha untuk membangun
bangunan gereja untuk memuaskan keinginan pribadi mereka sendiri.
Sebaliknya, Jahweh memerintahkan bangsa Israel
untuk membawa persembahan itu supaya Ia bisa menggunakan untuk membangun rumahNya
sendiri dan memberkati mereka secara berkelimpahan di sana. Kenyataannya, alasan
mengapa Jahweh menerima persembahan ini adalah untuk menyelamatkan kita dari
dosa kita dan menyelamatkan kita dari penghukuman. Jahweh sendiri yang menemui
kita, yang menjalani kehidupan yang memelas, untuk membuat dosa-dosa kita dilenyapkan,
dan untuk menjadikan kita sebagai umatNya.
Makna Rohani Yang Tersembunyi Dari Korban Yang Diperintahkan
Jahweh Untuk Dibawa KepadaNya
Sebelum kita majuh lebih jauh, mari kita terlebih
dahulu merenungkan makna rohani dari korban yang Jahweh perintahkan untuk dibawa
kepadaNya. Setelah itu, kita akan melihat iman kita dalam kerangka pemikiran
itu.
Emas, Perak, dan Perunggu
Kita harus terlebih dahulu menemukan dimana dipakai
emas, perak, dan perunggu. Dalam Kemah Suci, emas dipakau untuk Tempat Kudus,
Tempat Mahakudus, dan semua perkakas yang ada di dalamnya, termasuk kaki dian,
meja roti sajian, mezbah ukupan, tutup pendamaian, dan Tabut Perjanjian. Jahweh
menunjuk kepada iman kepada firman Jahweh. Dan perak menunjuk kepada anugerah
keselamatan. Hal itu menjelaskan bahwa kita harus memiliki iman yang percaya
kepada anugerah keselamatan yang diberikan hanya oleh Mesias, dan iman yang
percaya bahwa Tuhan kita sudah menanggung segala dosa kita dan dihukum menggantikan
kita.
Perunggu, sebaliknya, dipakai untuk Bronze, dipakai
untuk alas tiang-tiang, kaitan-kaitan, bejana pembasuhan, dan mezbah korban
bakaran. Semua perkakas tembaga harus ditanam atau diletakkan langsung di atas
tanah. Ini menunjuk kepada penghukuman atas dosa-dosa manusia, dan perunggu
juga menjelaskan bahwa kita akan dihukum Jahweh karena tidak bisa mentaati hukum
Taurat dan karena dosa-dosa kita.
Apa, kemudian makna rohani dari emas, perak, dan
perunggu? Semuanya itu menunjukan dasar iman di dalam menerima anugerah keselamatan
yang diberikan oleh Jahweh. Alkitab mengatakan bahwa kita semua adalah orang
berdosa yang tidak bisa sepenuhnya mentaati hukum Taurat, dan karena itu kita
harus mati karena dosa-dosa kita, dan bahwa sebagai ganti kematian kita Tuhan
datang ke dunia ini dan dihukum bagi dosa-dosa kita menggantikan diri kita dengan
menjadi korban persembahan dari korban penghapus dosa yang diberikan di dalam
Kemah Suci.
Untuk menyelesaikan masalah dosa, orang berdosa
membawa hewan yang tak bercacat ke Kemah Suci, dan sesuai dengan cara korban,
menanggungkan dosa-dosa mereka dengan menumpangkan tangan ke atas kepala binatang
korban; korban persembahan yang menerima dosa-dosa mereka kemudian mencurahkan
darahnya dan disembelih. Dengan melakukan hal itu, bangsa Israel, yang harus
masuk neraka (perunggu), bisa menerima pengampunan dosa mereka (perak) dan lepas
dari hukuman atas dosa karena iman (emas).
Kain Biru Dan Kain Ungu, Kain Kirmizi Dan Dari Lenan Halus Yang
Dipintal Benangnya
Bahan-bahan
yang lain yang sering digunakan adalah: kain biru dan kain ungu,
kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Kain-kain
itu dipakai untuk membuat pintu gerbang pelataran Kemah Suci, pintu
gerbang Tempat Kudus, dan tabir yang memisahkan antara Tempat Kudus
dengan Tempat Mahakudus. Keempat kain itu menjelaskan kepada kita
kebenaran yang dinubuatkan di dalam Kejadian 3:15, bahwa Tuhan akan
datang sebagai keturunan perempuan, Tuhan kita akan datang ke dunia
ini dan menyelamatkan orang berdosa dari dosa dengan dibaptiskan
dan disalibkan, dan bahwa Jahweh sendiri akan menyelamatkan kita.
Keempat kain itu dipakai bukan hanya untuk pintu
gerbang Kemah Suci, tetapi juga untuk pakaian Imam Besar dan penutup Kemah Suci
yang pertama. Ini adalah perjanjian Jahweh bahwa Jahshua Kristus akan datang
ke dunia ini dan menyelamatkan kita dari dosa dengan menggenap karya kain biru
dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Dan
Tuhan kita kemudian menepati janji dan memang sudah menyelamatkan kita dari
dosa dunia.
Hal yang paling penting dari pintu gerbang Kemah
Suci aalah kain biru. Mengapa Jahshua Kristus, yang datang ke dunia ini sebagai
Mesias, harus mati di kayu Salib? Alasannya adalah karena Ia sudah dibaptiskan.
Kain biru menunjuk kepada baptisan Jahshua, kain ungu menjelaskan bahwa Jahshua
adalah Raja, dan kain kirmizi menunjuk kepada penyaliban dan pencurahan darahNya.
Kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya
adalah bahan bangunan yang penting, yang menjelaskan anugerah keselamatan yang
Jahshua Kristus sudah berikan kepada kita dengan datang ke dunia ini sebagai
Mesias dan menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya.
Banyak orang di dunia ini hanya menekankan bahwa
Jahshua Kristus adalah Anak Jahweh, dan bahwa Ia pada dasarnya adalah Jahweh
sendiri. Tetapi Jahweh dengan jelas menerangkan melalui Kemah Suci bahwa pengajaran
itu bukan kebenaran yang seluruhnya.
Rasul Petrus mengatakan di dalam 1 Petrus 3:21,
“Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya
bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati
nurani yang baik kepada Jahweh -- oleh kebangkitan Jahshua Kristus.”
Ini memberi kesaksian bahwa Jahshua Kristus menggenapi
janji keselamatanNya dan meletakkan dasar iman yang penuh dengan menerima baptisanNya,
kiasan yang menyelamatkan kita. Siapakah Mesias kita? Mesias berarti Juruselamat,
yang menjelaskan bahwa Jahshua datang ke dunia ini, dibaptiskan untuk menanggung
segala dosa kita dan segala dosa dunia ke atas DiriNya, dan pada kenyataannya
Ia menanggung semua itu ke atas DiriNya melalui baptisanNya.
Jahweh mengatakan kepada bangsa Israel untuk membangun
pintu gerbang pelataran Kemah Suci dengan menenun kain biru dan kain ungu, kain
kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Dan tujuan bagi Tuhan
kita, yang adalah Raja di atas segala raja dan Tuhan Surgawi, yang datang ke
dunia ini dalam rupa manusia adalah untuk menggenapi kebenaran kain biru dan
kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Tuhan
kita datang di dalam rupa manusia dan menerima baptisan yang akan menggenapi
seluruh kebenaran Jahweh dari Yohanes Pembaptis, wakil semua manusia.
Ini sama seperti korban persembahan di Perjanjian
Lama yang menerima dosa-dosa bangsa Israel yang ditanggungkan kepadanya melalui
penumpangan tangan Imam Besar ke atas kepalanya dan yang dihukum atas dosa-dosa
itu menggantikan mereka. Dengan kata lain, sama seperti korban persembahan di
dalam Perjanjian Lama, Jahshua datang di jaman Perjanjian Baru sebagai korban
persembahan bagi dosa-dosa semua orang berdosa, dan dengan itu menanggung hukuman
segala dosa dunia. Jahshua menggenapi kebenaran kain biru dengan dibaptiskan
oleh Yohanes sebagai Anak Domba Jahweh yang dikorbankan. Dengan baptisan ini,
Jahshua menanggung segala dosa manusia ke atas diriNya sekaligus.
Alasan mengapa kebanyakan orang Kristen berubah
menjadi orang-orang yang lebih jahat dibandingkan dengan orang-orang yang beragama
dunia adalah karena mereka sudah tidak bisa mengerti dan percaya kepada kebenaran
kain biru, baptisan Jahshua, dan dengan itu tidak menerima pengampunan dosa
sekaligus. Ketika orang Kristen tidak memiliki penafsiran yang benar tentang
baptisan yang diterima Jahshua untuk menanggung segala dosa ke atas diriNya,
dasar iman mereka sendiri tidak diletakkan secara benar sejak awalnya.
Untuk jelasnya, kaing biru adalah cara dan kebenaran
bahwa Mesias datang ke dunia ini dan menanggung segala dosa ke atas diriNya.
Dan kain kirmizi menunjuk kepada darah Jahshua. Alasan mengapa Jahshua Kristus
disalibkan, mencurahkan darahNya, dan mati di kayu Salib adalah karena segala
dosa kita sudah ditanggungkan kepadaNya melalui baptisanNya. Karena Jahshua
sudah menanggung segala dosa kita ke atas diriNya melalui baptisanNya yang diterimaNya
dari Yohanes sehingga kemudian Ia mati di kayu Salib, dan karena kenyataan inilah
maka pengorbanan di kayu Salib bagi kita tidaklah sia-sia. karena Jahshua Kristus
Mesias menanggung semua kutuk dosa kita sepenuhnya dengan baptisan dan salibanNya
sehingga Ia bisa menggenapi keselamatan kita.
Kain ungu berarti bahwa Jahshua Kristus adalah
Jahweh atas segala ilah dan Raha atas segala raja. Meskipun Jahshua Kristus
datang sebagai Raja atas segala raja (kain ungu), kalau Ia tidak dibaptiskan
oleh Yohanes Pembaptis, wakil semua manusia, dan dengan demikian tidak menanggung
segala dosa kita ke atas diriNya (kain biru), tidak peduli berapapun banyaknya
kesakitan dan penderitaan ketika Ia mati di kayu Salib (kain kirmizi), kematianNya
hanyalah akan menjadi sia-sia. Kain lenan putih halus mengatakan bahwa Firman
nubuatan yang dikatakan di dalam Perjanjian Lama semuanya digenapi di dalam
Perjanjian Baru.
Kekristenan jaman Ini Sudah Kehilangan Makna Kain Biru
Ada kecenderungan di dalam kekristenan jaman ini
untuk mengabaikan kain biru di antara keempat kain itu dan dengan sekehendak
hati menafsirkan firman Jahweh—dosa besar ini pasti akan dihukum.
Kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari
lenan halus yang dipintal benangnya yang dipakai untuk pintu gerbang pelataran
Kemah Suci menjelaskan kebenaran keselamatan, bahwa untuk menyelamatkan kita
dari dosa kita, Jahshua Kristus sang Mesias harus datang ke dunia ini dalam
rupa manusia, dan dibaptiskan serta disalibkan. Jahshua menanggung segala dosa
kita ke atas diriNya.
Bagaimana Jahshua menanggung segala dosa kita
ke atas DiriNya? Ia menerima semuanya melalui baptisan yang diterimaNya dari
Yohanes. Hanya dengan menanggung segala dosa ke atas DiriNya saja Jahshua bisa
menjadi Juruselamat kita yang sejati. Inilah sebabnya pintu gerbang Kemah Suci
harus terbuat dari empat jenis kain, karena semuanya menjelaskan bahwa Jahshua,
yang datang ke dunia ini, dibaptiskan, mencurahkan darahNya di kayu Salib, bangkit
kembali dari kematian, dan adalah Jahweh sendiri.
Dengan demikian, pintu gerbang pelataran Kemah
Suci dibuat dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus
yang dipintal benangnya. Jahshua adalah pintu keselamatan yang akan membawa
kita ke dalam Kerajaan Surga. Pintu ini adalah terbuat dari kain biru dan kain
ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Jahshua adalah
Juruselamat orang berdosa. Baptisan Jahshua dan salibanNya adalah anugerah keselamatan
yang sudah menyelamatkan orang berdosa dari dosa-dosa mereka.
Karena kekristenan jaman ini tidak bisa memahami
baptisan Jahshua dengan baik sehingga tidak bisa bertemu dengan Jahweh dan bahkan
akhirnya berubah hanya menjadi salah satu dari agama duniawi saja. Sejauh berhubungan
dengan iman kita, kita harus terlebih dahulu meletakan dasar iman yang kuat
di atas kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Dasar iman ini adalah kenyataan
bahwa Tuhan datang ke dunia ini dan sudah menyelamatkan anda dan saya dari segala
dosa dunia melalui kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus
yang dipintal benangnya.
Jahshua datang ke dunia ini dan menggenapi anugerah
keselamatan yang sudah menyelamatkan kita dari dosa dengan baptisanNya dan darahNya
di kayu Salib. Secara khusus, Jahshua datang ke dunia ini dalam rupa manusia,
menanggung segala dosa dunia ke atas diriNya melalui baptisanNya, memperdamaikan
segala dosa kita dengan darahNya di kayu Salib, dan kemudian menanggung penghukuman
atas dosa-dosa kita dengan mati di kayu Salib. Jahshua ini yang sudah menyelamatkan
kita melalui air dan darah (1 Yohanes 5:4-8) adalah pada dasarnya Tuhan atas
ciptaan yang menciptakan kita, dan Dia yang memberikan kepada kita anugerah
keselamatan yang sudah menyelamatkan kita. Jahshua ini yang sudah menyelamatkan
kita dari dosa dan penghukuman kita sudah menjadi Juruselamat yang sejati. Inilah
yang dijelaskan oleh bahan-bahan yang dipakai untuk membangun Kemah Suci.
Demikianlah, kita harus memantapkan iman kita
dengan kokoh dengan percaya kepada bahan-bahan itu. Dalam percaya kepada Jahshua
ini yang menjadi Mesias sebagai Juruselamat pribadi kita, kita harus percaya
dengan jelas dan pasti dengan segenap hati kita di dalam baptisan yang diterimaNya,
di dalam penghukuman yang ditanggungNya bagi kita di kayu Salib, dan bagi kebangkitanNya
dari kematian. Juruselamat yang sudah memberikan kepada kita anugerah keselamatan
dari dosa melalui baptisan dan darahNya yang dicurahkan di kayu Salib bukanlah
sekedar manusia biasa, tetapi ia adalah sang Pencipta yang menciptakan manusia
dan seluruh alam semesta. Kita harus mengakui iman kita kepada kain biru dan
kain ungu, dan kain kirmizi. Tanpa pengakuan iman yang demikian, maka kepercayaan
kita kepada Jahshua sebagai Juruselamat tidak akan bertahan lama.
Pernahkah anda bermain permainan penyampaian pesan
tanpa suara? Permainan ini dimulai dari seseorang yang diberi sebuah kalimat
yang tertulis. Orang pertama itu membaca di dalam hati, dan kemudian menyampaikan
kalimat itu tanpa bersuara, hanya dengan gerakan bibir saja. Lalu, orang kedua
yang membaca gerak bibir itu menyampaikan kepada orang ketiga dengan caea yang
sama. Orang ketiga yang membaca gerakan bibir orang kedua, dan menyampaikan
kepada orang keempat dengan cara yang sama, begitu seterusnya sampai orang terakhir.
Inti dari permainan ini adalah agar orang yang terakhir menyebutkan dengan benar
kalimat yang sedang disampaikan itu. Alasan mengapa permainan ini menjadi menarik
adalah karena kalimat yang semula dengan mudah akan berubah. Sebagai contoh,
kalau kalimat yang sebenarnya berbunyi, “Matikan kipas angin” setelah disampaikan
kepada beberapa orang, kalimat itu mulai berubah. Akhirnya, orang yang terakhir
bisa saja mengatakan, “Matikan keledainya,” yang tentu saja menjadi kalimat
yang maknanya berbeda sama sekali.
Sama seperti orang terakhir itu akhirnya memiliki
kalimat yang sangat berbeda, demikian juga kekristenan jaman ini memiliki iman
yang sangat keliru, seperti hasil dari permainan penyampaian pesan tanpa suara.
Mengapa bisa demikian? Hal itu karena ia tidak bisa meletakkan dasar imannya
kepada kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Kekristenan jaman ini tidak
mendasari imannya kepada kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Ketika dasar
imannya mulai goyah, tidak peduli bagaimana semangatnya kita percaya kepada
Jahshua dan bagaimana kita berusaha untuk mengaplikasikan pengajaranNya ke dalam
kehidupan kita, kita tidak akan bisa melakukannya.
Ketika Tuhan memerintahkan orang Israel untuk
membawa kepadaNya persembahan untuk membangun Kemah Suci, Ia memerintahkan agar
mereka membawa emas, perak dan perunggu, dan untuk membawa kain biru dan kain
ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Bahan-bahan
ini semuanya menjelaskan bahwa Jahshua sudah menyelamatkan kita melalui baptisan
yang diterimaNya dari Yohanes, kematianNya yang mencurahkan darahNya di kayu
Salib, dan kebangkitanNya.
Kain ungu bukan hanya dipakai untuk pintu gerbang
Kemah Suci, tetapi juga untuk jubah Imam Besar dan penutup Kemah Suci. Inilah
Injil yang menjelaskan bagaimana Tuhan kita datang ke dunia ini dan bagaimana
tepatnya Ia menyelamatkan anda dan saya dari dosa-dosa kita. Demikianlah, hal
itu menjelaskan kepada kita netapa pentingnya keempat unsur dasar iman itu—yaitu,
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya—bagi
iman kita. Hanya sesudah itu kita bisa percaya kepada Jahweh dan menerima pengampunan
dosa kita, menjadi hambaNya yang mengabarkan firman itu, dan ketika Tuhan datang
kembali, orang-orang yang memiliki iman yang demikian bisa berdiri dengan yakin
di hadapan Jahweh dengan imannya.
Di Korea, masih nyata sekali adanya pandangan
yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang asing itu lebih baik. Kecenderungan
ini muncul juga di antara para teolog di negara kami juha, yang memiliki keyakinan
besar kepada apa yang dikatakan oleh para teolog Barat, dan lebih percaya kepada
apa yang mereka katakan dibandingkan dengan kepada firman Jahweh. Mereka harus
dibebaskan dari ketidaktahuan itu, dan mereka harus sungguh-sungguh percaya
kepada firman Jahweh, percaya dan bersandar kepadaNya, karena kebenaran baptisan
Tuhan kita, darahNya, dan kenyataan bahwa Ia sendiri adalah Jahweh, pada dasarnya
sudah menjadi pintu untuk keselamatan kita.
Sama seperti pengakuan Rasul Petrus, “Engkau
adalah Kristus, Anak Jahweh yang hidup,” (Matius 16:16) kalau anda percaya
kepada Jahweh, dan kalau anda percaya bahwa Tuhan datang ke duniaini untuk menyelamatkan
kita dari dosa kita, maka anda harus mengenal dan percaya bahwa Tuhan menjadi
Jahweh keselamatan kita yang sesungguhnya dengan menanggung segala dosa ke atas
diriNya melalui baptisanNya, mati di kayu Salib, dan bengkit kembali dari kematian.
Baptisan Tuhan kita dan darah di kayu Salib adalah dasar iman yang sejati yang
memampukan kita menerima anugerah keselamatan. Kalau kita bahkan tidak bisa
percaya kepada iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang sesuai dengan
firman Jahweh, lalu bagaimana kita bisa menyebutnya iman yang benar?
Hukum Taurat adalah Gambaran Akan Hal Baik Yang Akan Datang
Bahan-bahan bangunan Kemah Suci menunjukan bahwa
Tuhan kita datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa ke
atas DiriNya dengan baptisanNya, menanggung penghukuman segala dosa kita dengan
penyalibanNya, bangkit kembali dari kematian dan dengan itu menjadi Juruselamat
kita. Dengan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, Tuhan kita berjanji
di dalam Perjanjian Lama bahwa Ia akan memberikan kepada kita anugerah keselamatan.
Dia yang memberikan perjanjuan ini kepada kita tidal lain dari Jahshua Kristus,
Raja segala raja yang sudah dibaptiskan dan disalibkan bagi orang-orang berdosa.
Jahweh ini, dengan kata lain, darang kepada kita sebagai Jahweh Mesias kita.
Dengan itu, kita harus meletakkan dasar iman kita dengan mengenal dan percaya
kepada kebenaran ini secara penuh. Dengan percaya kepada Injil air dan Roh,
kita semua harus menerima anugerah keselamatan.
Emas, perak, dan perunggu adalah bahan yang dipakai
untuk Kemah Suci. Bahan-bahan ini menunjuk kepada dasar iman kita. Di hadapan
Jahweh, kita tidak bisa tidak dibuang ke dalam neraka karena segala dosa kita.
Tetapi untuk orang-orang seperti kita, Tuhan kita sudah memberikan anugerah
keselamatan bagi kita yang percaya. Sebagai korban persembahan bagi semua manusia,
Jahshua Kristus sudah dibaptiskan oleh Yohanes, disalibkan, dan dengan itu sudah
menyelamatkan kita dari dosa kita sepenuhnya. Tidak ada cara lain bagi kita
untuk menghindar dari neraka, karena kita hanya tahu bahwa kita ditentukan untuk
dihukum atas dosa-dosa kita, dan tidak tahu bagaimana kita bisa memiliki iman
yang membuat segala dosa kita dilenyapkan. Tetapi di dalam Jahweh ada anugerah
keselamatan. Bahwa Jahweh datang ke dunia ini, menerima segala dosa kita ke
atas diriNya dengan baptisanNya, mati di kayu Salib, dan dengan itu menyelesaikan
masalah dosa-dosa dan penghukuman kita—inilah anugerah keselamatan.
Kita diselamatkan dari dosa melalui iman kita,
dengan percaya bahwa Jahweh sudah menggenapkan karya keselamatanNya bagi kita
dan sudah memberikan kepada kitaa anugerah keselamatan ini. Inilah sebabnya
Jahweh memerintahkan agar kita membawa kepadaNya iman emas, perak dan perunggu,
karena Ia sudah sepenuhnya menyelamatkan orang-orang yang tidak bisa tidak masuk
neraka dengan memberikan kepada mereka anugerah keselamatan. Karena Tuhan kita
memang sudah menyelamatkan kita dengan datang ke dunia ini, menanggung segala
dosa kita ke atas DiriNya, dan menanggung semua penghukuman sehingga kita sudah
diselamatkan sepenuhnya di hadapan Jahweh dengan percaya kepada anugerah keselamatan
ini.
Jahshua Kristus sekarang sudah menjadi Juruselamat
kita yang sempurna. Karena itu kita harus berdiri teguh dengan iman kita kepada
anugerah keselamatanNya, karena kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari
lenan halus yang dipintal benangnya adalah anugerah iman. Jahweh tidak menghendaki
kita percaya sekehendak hati kita saja dan secara buta tanpa mengetahu apa-apa.
Bulu Kambing, Kulit Domba Jantan Yang Diwarnai Merah, Kulit
Lumba-Lumba
Bahan
itu dipakai untuk penutup Kemah Suci. Tutup yang pertama terbuat
dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus
yang dipintal benangnya, yang kemudian di atasnya ditutup lagi dengan
bulu kambing. Kemudian semua ini ditutup lagi dengan kulit domba
jantan yang diwarnai merah, lalu kulit lumba-lumba diletakkan di
bagian paling atas. Dengan cara ini, empat lapisan penutup dipakai
untuk menutupi Kemah Suci.
Tutup atap yang paling atas dari Kemah Suci terbuat
dari kulit luma-lumba. Jadi yang nampak sebagai permukaan dari Kemah Suci adalah
warna hitam dari kulit lumba-lumba saja. Lumba-lumba adalah sejenis binatang
laut. Kulit masing-masingnya adalah selebar manusia atau sedikit lebih kecil,
dan kulitnya bisa menahan resapan air. Ini sebabnya kulit lumba-lumba dipakai
sebagai penutup yang paling atas untuk penutup Kemah Suci. Karena ini, tampilan
luar Kemah Suci agak kurang menarik, dan tentu saja tidak sedap dipandang. Ini
menjelaskan bahwa ketika Jahshua datang ke dunia ini, Ia perlu datang dalam
rupa yang hina, yang tidak menarik dalam penampilanNya.
Kulit domba jantan yang diwarnai merah menjelaskan
bahwa Jahshua Kristus datang ke dunia ini dan mengorbankan diriNya bagi kita,
sementara bulu kambing menjelaskan bahwa Ia akan menerima baptisan sebagai korban
persembahan dan dengan itu menerima dosa-dosa kita ke atas DiriNya, dan dengan
disalibkan di kayu Salib.
Bahan-bahan untuk tutup Kemah Suci ini, dengan
kata lain, adalah dasar bagi iman kita. Kebenaran ini adalah bahan-bahan bangunan
iman yang sepenuhnya tidak boleh tidak ada. Untuk memberikan anugerah keselamatan
kepada kita, Jahshua Kristus datang ke dunia ini sebagai korban persembahan
kita. Di dalam Perjanjian Lama, Jahweh menetapkan cara korban bagi pengampunan
dosa bangsa Israel: korban binatang yang tidak bercacat (kambing, domba jantan,
atau sapi) akan menerima dosa-dosa bangsa Israel yang ditanggungkan kepada mereka
melalui penumpangan tangan, dan disembelih menggantikan mereka, mencurahkan
darah mereka dan dibakar, dan dengan itu menyelamatkan mereka dari segala dosa
mereka.
Jahshua Kristus datang ke dunia ini sebagai Anak
Domba korban dan menerima segala dosa kita ke atas DiriNya melalui baptisanNya,
yaitu, penumpangan tangan. Sama seperti korban persembahan disembelih dan mati
dengan mencurahkan darahnya dan dibakar di mezbah korban untuk menerima dosa-dosa
bangsa Israel dengan penumpangan tangan, maka, demikian juga, Jahshua Kristus
menanggung segala penghukuman atas dosa-dosa kita dengan dibaptiskan dan mati
di kayu Salib, dan dengan itu menyelamatkan kita dari segala dosa dunia.
Kalau nama-nama di dalam Kitab Penghakiman dihapuskan
dengan menorehkan darah korban persembahan di tanduk-tanduk mezbah korban bakaran,
itu adalah karena Jahshua dibaptiskan dan mencurahkan darahNya sehingga Ia menggenapkan
pendamaian kekal bagi kita dengan darahNya dan sudah menghapuskan segala dosa
dunia. Demikianlah, semua bahan di Kemah Suci berbicara mengenai Jahshua Kristus
dan pelayananNya, menjelaskan bahwa Ia sudah menyelamatkan kita dari dosa dunia.
Dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru, Firman bahwa Jahshua sudah menyelamatkan
kita dari dosa adalah kebenaran yang sepenuhnya, yang sama sekali bebas dari
kesalahan.
Banyak orang Kristen di jaman ini yang tidak percaya
bahwa Jahshua Kristus datang ke dunia ini sebagai korban persembahan kita dan
menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya dengan baptisanNya, namun justru
percaya tanpa syarat hanya kepada kematianNya di kayu Salib. Iman Kristen yang
demikian adalah tidak benar dan hanya membuat pintu gerbang pelataran dari kain
kirmizi dan kain ungu, serta meninggalkan kain birunya. Mereka hanya memiliki
iman yang salah paham yang tidak merasa memerlukan penutup yang terdiri dari
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya,
dan justru hanya percaya bahwa yang mereka butuhkan hanyalah dua penutup dari
Kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba.
Ketika kita melihat kepada banyak gambar tentang
Kemah Suci yang ada, kebanyakan digambar dalam bentuk dimana kita sama sekali
tidak menemukan ada warna biru di sana. Karena orang-orang yang menggambar itu
tidak mengerti tentang Injil air dan Roh, pintu gerbang pelataran di dalam gambar
mereka semuanya berwarna kirmizi dan putih. Tetapi iman yang demikian bukan
iman yang benar di hadapan Jahweh.
Kain yang paling berguna di pintu gerbang pelataran
Kemah Suci adalah kain biru, yang diikuti oleh kain ungu, dan kemudian kain
kirmizi, dan kain lenan putih. Jadi ketika memandang pintu gerbang pelataran,
keempat warna itu harus nampak sekaligus. Tetapi karena banyak orang di dunia
ini yang imannya menghindari sama sekali baptisan Jahshua, mereka mengabaikan
keempat warna yang dipakai untuk Kemah Suci dan bahkan membuat pintu gerbang
Kemah Suci hanya dengan dua warna saja.
Dengan melakukan hal itu, mereka mendustai banyak
orang, yang memang memiliki pemahaman yang terbatas tentang Jahweh dan bahkan
tidak terlalu memahami FirmanNya. Mereka adalah nabi-nabi palsu. Menunjuk kepada
orang-orang itu, Jahshua sendiri menyebut mereka sebagai ilalang yang ditabur
di antara gandum (Matius 13:25). Mereka sudah menjadi, dengan kata lain, orang-orang
yang menyebarkan dusta dengan meninggalkan kain biru dari gambar mereka tentang
pintu gerbang pelataran Kemah Suci. Inilah sebabnya banyak orang masih ada di
dalam dosa meskipun sudah percaya kepada Jahshua, dan sebabnya mengapa iman
mereka akan membawa mereka kepada kebinasaan karena dosa-dosa mereka.
Dasar iman kita harus berdiri kokoh. Apa gunanya
menjalani kehidupan keagamaan dalam waktu yang lama bagi jiwa anda kalau semuanya
itu hanyalah iman keliru yang tidak memiliki dasar? Iman yang salah bisa dan
akan runtuh dalam sekejap saja. Tidak peduli bagaimanapun indahnya rumah kita,
apa untungnya kalau kita membangun rumah itu di atas dasar pondasi yang salah?
Bagaimanapun tekunnya anda melayani Jahweh, kalau dasar iman anda itu salah,
maka anda sedang membangun di atas pasir; ketika badai melanda, angin menimpa,
banjir menerpa, maka dalam sekejap semuanya akan runtuh.
Tetapi bagaimana dengan iman yang dasarnya kuat?
Iman itu tidak akan pernah runtuh, bagaimanapun goncangan yang terjadi. Jahweh
mengatakan bahwa rumah yang dibangun di atas batu kebenaran yang terdiri dari
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya
tidak akan pernah runtuh. Ini kenyataan yang terjadi. Apakah iman batu karang?
Iman itu adalah iman yang percaya kepada kebenaran kain biru dan kain ungu,
kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Iman dari orang yang
membangun rumah iman demikian tidak akan roboh. Inilah sebabnya penting sekali
bahwa iman kita untuk tetapi kokoh dan kuat dasarnya. Kalau kita percaya tanpa
sungguh-sungguh memahami dengan tepat apa yang dilakukan Tuhan bagi kita, maka
iman itu akan menjadi iman keagamaan yang keliru, yang tidak dikehendaki Jahweh.
Kayu Penaga, Minyak, Rempah-Rempah
Tiang-tiang Kemah Suci, mezbah korban bakaran,
dan papan serta bahan untuk Tempat Kudus semuanya terbuat dari kayu penaga.
Kayu di dalam Alkitab sering melambangkan manusia (Hakim-Hakim 9:8-15, Markus
8:24). Kayu di sini juga menunjukkan keadaan kita sebagai manusia; yaitu kayu
penaga dibuat menjadi tiang, mezbah korban bakaran, dan Kemah Suci sendiri menunjukkan
bahwa sama seperti akar kayu penaga selalu tertanam di dalam tanah, hakekat
kita juga sedemikian sampai kita tidak bisa tidak melakukan dosa setiap saat.
Manusia harus mengakui bahwa mereka senantiasa menjadi orang berdosa yang melakukan
dosa.
Pada saat yang sama, kayu penaga juga melambangkan
kemanusiaan Jahshua Kristus. Mesias yang datang dalam rupa manusia menanggung
segala dosa, dihukum menggantikan semua manusia. Ia sendiri adalah Jahweh, dan
karena itu, tabut perjanjian, meja roti sajian, mezbah ukupan, dan papan-papan
Kemah Suci semua terbuat dari kayu penaga yang dilapis dengan emas murni.
Minyak untuk lampu dan rempah-rempah untuk mintak
urapan dan untuk ukupan menunjuk kepada iman yang kita persembahkan kepada Jahshua
Kristus. Jahshua Kristus adalah Mesias yang sudah menyelamatkan anda dan saya.
Arti nama “Jahshua” adalah “Dia yang akan menyelamatkan umatNya dari segala
dosa mereka,” dan nama “Kristus” berarti “Yang diurapi,” yang menjelaskan bahwa
Jahshua Kristus adalah Jahweh sendiri dan Imam Besar Surga yang sudah menyelamatkan
kita. Dengan taat kepada kehendak Jahweh, Tuhan kita datang ke dunia ini dalam
rupa manusia, dibaptiskan, mengorbankan diriNya di kayu Salib bagi kita, dan
dengan itu memberikan any keselamatan. Peranan Imam Besar yang diambil oleh
Jahshua yang sudah memberikan kepada kita keselamatan kita memang merupakan
karya yang terindah.
Permata Krisopras Dan Permata Tatahan Lainnya Untuk Baju Efod
Dan Untuk Tutup Dada Imam Besar
Ada dua belas jenis batu berharga disebutkan di
sini yang akan diletakkan di baju efod dan penutup dada Imam Besar. Imam Besar
memakai baju gamis, kemudian dilapis dengan jubah berwarna biru, dan kemudian
mengenakan baju efod di atas jubah itu, yang dipakai selama upacara pengorbanan,
dan di penutup dada ini diletakkan dua belas jenis batu berharga. Ini menunjukkan
bahwa peranan sebagai Imam Besar adalah untuk merangkul bangsa Israel dan juga
bangsa-bangsa lain di seluruh dunia ini ke dadanya, untuk menghadap Jahweh,
dan memberikan kepadaNya korban persembahan mereka.
Jahshua, Imam Besar Surga yang kekal, juga merangkul
semua bangsa di dunia ini ke dadaNya, memberikan tubuhNya untuk menanggung segala
dosa mereka ke atas DiriNya dengan baptisanNya dan untuk menjadi korban bagi
kita, dan dengan itu menguduskan umatNya kepada Jahweh Bapa. Kedua belas jenis
batu berharga ini ditempatkan di penutup dada untuk menunjuk kepada semua bangsa
yang ada di dunia ini, dan Imam Besar yang mengenakannya menunjuk kepada Jahshua
Kristus yang sudah dengan cara yang sama menyelamatkan dan merangkul ke dadaNya
semua bangsa yang ada di dunia.
Jadi ada persembahan yang diperintahkan Jahweh
untuk dibawa oleh orang Israel untuk membangun Kemah Suci, rumah kediamanNya,
dengan persembahan itu. Ada makna rohani dalam kenyataan bahwa Jahweh memerintahkan
agar mereka membangun Kemah Suci, tempat kediamanNya, dengan semua persembahan
itu. Orang Israel selalu ada di dalam dosa, karena mereka tidak bisa mentaati
hukum Taurat yang diberikan Jahweh kepada mereka. Inilah sebabnya Jahweh mengatakan
kepada mereka melalui Musa untuk membangun Kemah Suci dan memerintahkan cara
pengorbanan, yang melaluinya pengampunan dosa diberikan dengan korban persembahan
yang dipersembahkan di Kemah Suci. Jahweh, dengan kata lain, menghapus segala
dosa bangsa Israel dengan menerima persembahan mereka, menggunakan semua persembahan
itu untuk membangun RumahNya, dan kemudian membuat mereka mempersembahkan kepadaNya
korban persembahan di dalamnya sesuai dengan peraturan dari cara pengorbanan.
Inilah caranya Jahweh bisa berdiam di dalam Kemah Suci dengan bangsa Israel.
Namun, tetap saja, banyak sekali orang Kristen
yang tetap tidak percaya kepada kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari
lenan halus yang dipintal benangnya. Ketika Jahweh memerintahkan agar mereka
mempersembahkan emas, perak dan perunggu kepadaNya, mengapa mereka tidak percaya
kepada kebenaran yang terkandung di dalam persembahan itu?
Tidakkah kita ditentukan untuk masuk neraka karena
dosa-dosa kita? Sudahkah anda percaya kepada kekristenan seolah-olah kita hanyalah
salah satu agama dunia saja karena anda tidak pernah mengakui bahwa diri anda
memang ditentukan masuk neraka? Kalau begini cara anda percaya sampai saat ini,
maka anda harus bertobat dan kembali kepada iman kain biru dan kain ungu, kain
kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Dan anda harus mnyadari
di hadapan perintah Jahweh yang tegas bahwa anda hanyalah bongkahan dosa, dan
bahwa anda ditentukan untuk masuk neraka karena dosa-dosa itu, dan bahwa anda
harus percaya kepada Injil air dan Roh.
Sekarang, anda harus percaya kepada Injil kebenaran,
bahwa anda juga sebenarnya ditentukan untuk masuk neraka, dan Tuhan kita kemudian
datang ke dunia ini sebagai Mesias, menerima dosa-dosa anda ke atas DiriNya
dengan baptisanNya, membawa dosa-dosa itu ke atas kayu Salib dan mengorbankan
diriNya dengan mencurahkan darahNya di sana, dan sudah dengan itu menyelamatkan
anda dan saya dari dosa-dosa dan penghukuman kita. Tanpa percaya kepada Injil
air dan Roh yang dinyatakan di dalam kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi,
kita tidak akan pernah bisa meletakkan dasar iman kita secara utuh.
Kita Harus Berpikir Tentang Dasar Iman Kita
Jahweh memerintahkan agar kita memiliki iman kain
biru dan kain ungu, dan kain kirmizi; kita harus bertanya kepada diri kita sendiri
apakah kita sungguh-sungguh memiliki iman kain biru dan kain ungu, kain kirmizi
dan dari lenan halus yang dipintal benangnya atau kita hanya memiliki iman kain
ungu, dan kain kirmizi ini, dan meninggalkan iman kain biru.
Kita perlu melihat diri kita dan melihat tidakkah
kita sedang mempersembahkan kepada Jahweh iman yang salah yang hanya cocok dengan
selera kita saja. Ketika Jahweh memerintahkan kita mempersembahkan kepadaNya
kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi tidakkah kita, entah bagaimana, mempersembahkan
kepadaNya kain nilon berwarna hitam? “Jahweh, kain yang Engkau kehendaki tidak
ada gunanya untuk Kemah Suci. Warnanya pasti akan luntur apabila terkena hujan.
Dan juga melelahkan sekali untuk mencari semua bahan itu dan membawanya ke sini.
Coba dahulu kain nilon ini. Saya bisa menjamin bahwa kain ini akan bertahan
sampai 50 tahun, atau bahkan 100 tahun kalau Engkau menjaganya dengan baik.
Dan bahkan kalau Engkau menguburnya dibawah tanah, kain ini tidak akan lapuk
dalam waktu 200 tahun. Luar biasa bukan?”
Tidakkah ini, yang sebenarnya, sedang kita katakan
kepada Jahweh? Kita juga harus memperhatikan diri kita sendiri dan melihat apakah
kita tidak sedang mempersembahkan iman yang mementingkan diri dan penuh takhayul
itu kepada Jahweh. Dan kalau kita memang memiliki iman yang demikian, kita harus
bertobat sekarang ini juga. Kita harus, dengan kata lain, berbalik.
Mungkin ada banyak di antara kita yang berpikir
bahwa diri kita adalah orang Kristen yang baik, tetapi kalau kita perhatikan
lebih seksama, pengetahuan mereka salah dan demikian juga iman mereka.
Mistikisme yang Ada di dalam Kekristenan Jaman Ini
Mistikisme adalah yang paling banyak dipercaya
oleh orang Kristen. Mereka tidak memiliki ide tentang apa yang dikatakan oleh
firman Jahweh. Karena mereka tidak mengenal Firman kebenaran yang diberikan
Mesias kepada mereka, mereka percaya dan mengikuti Tuhan sesuai dengan perasaan
dan emosi mereka. Dan mereka yakin bahwa perasaan yang begitu adalah kebenaran.
Karena mereka berdoa kepada Jahweh dengan tekun dari diri sendiri, dan dengan
setia mengikuti emosi dan perasaan mereka yang mereka rasakan ketika mereka
berdoa, mereka tidak bisa membedakan apakah sesungguhnya iman yang benar kepada
Jahweh.
Demikian juga, percaya kepada Jahweh sesuai dengan
emosi dan perasaannya yang berubah-ubah sesuai dengan pemikirannya sendiri adalah
iman mistikisme. Orang-orang yang percaya kepada Jahweh dengan pedoman perasaan
yang mereka dapatkan ketika berpuasa, ketika mereka memuji, ketika mereka percaya,
ketika mereka menaikan doa pagi, ketika mereka mendaki gunung untuk berdoa,
dan lain-lain—orang-orang itu adalah golongan mistikis. Dengan kata lain, menjalani
kehidupan iman dengan berpegang kepada perasaan sendiri bukanlah kain biru dan
kain ungu, dan kain kirmizi yang dikatakan Mesias.
Mungkin sebanyak 99.9 persen orang Kristen jaman
ini sudah sejak awalnya menjadi mistikis. Tidak melebih-lebihkan, dengan kata
lain, untuk mengatakan bahwa selain Gereja Mula-Mula, seluruh kekristenan sudah
mengikuti mistikisme. Orang-orang yang tidak memiliki iman kain biru dan kain
ungu, dan kain kirmizi tertipu oleh pemikiran bahwa perasaam mereka sebenarnya
adalah iman itu sendiri. Mereka mengatakan sudah melihat dan bertemu Jahweh
di dalam doa mereka, dan mengatakan betapa indahnya ketika mereka memuji.
Mereka berkata, “Kita berkumpul ddi tempat pujian
ini, dan kita mengangkat tangan kita serta bertobat dari dosa-dosa kira. Kita
menghadap kayu Salib dan melakukan ibadah di kaki salib itu, dan kemudian hati
kita menjadi membara, dan Kristus menjadi teramat sangat kita kasihi. Kita merasakan
ucapan syukur yang besar di dalam hati kita atas darah yang dicurahkan oleh
Kristus. Kita percaya bahkan semakin sungguh bahwa Tuhan sudah menghapus segala
dosa kita, dan semakin menyadari apa sebabnya Ia mencurahkan darahNya. Kita
sangat suka dengan semua pengalaman ini.” Tetapi ketika emosi mereka turun di
suatu hari, mereka berkata, “Tetapi semua perasaan itu mulai pudar, dan kita
memiliki dosa di dalam hati kita.” Tidak lain dari iman seperti inilah iman
mistikisme.
Bagaimanapun perbedaan denominasi atau sekte seseorang,
setiap orang Kristen membutuhkan iman yang percaya kepada kain biru dan kain
ungu, dan kain kirmizi. Iman dari semua orang yang tidak percaya kepada iman
kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang dijelaskan oleh Jahweh adalah
mistik dan takhayul saja. Orang-orang ini mempersembahkan kepada Jahweh bukan
iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, tetapi justru iman kain nilon.
Mereka membawa kepada Jahweh iman mistikis mereka, dengan kata lain, sesuatu
yang tidak layak, sesuatu yang bahkan tidak akan diperhatikan oleh Jahweh.
Pernahkah anda melihat tali tebal yang dipakai
untuk mengikat kapal di dermaga? Golongan mistikis akan dengan senang hati mempersembahkan
kepada Jahweh barang ini/ ketika Tuhan kita mengatakan kepada kita untuk mempersembahkan
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya,
beberapa orang datang membawa tali tebalnya kepada Jahweh, dan berkata kepadaNya,
“Tuhan, terimalah iman ini!” Dan beberapa orang bahkan membawa rantai besi yang
biasa dipakai untuk mengikat beberapa kapal besar yang sedang berada di dok.
Sesudah menggulung sekumpulan rantai besi yang tebal, mereka mempersembahkannya
di kaki Jahweh, meminta agar Dia menerimanya.
Tetapi Jahweh sudah mengatakan kepada kita untuk
mempersembahkan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Ia tidak memerintahkan
agar kita membawa kepadaNya rantai besi. Tetapi banyak orang membawa kepadaNya
sesuatu yang nampak lebih baik dalam pandangan mereka atau sesuatu yang lebih
mudah untuk ditemukan. Meskipun ada di antara umat Jahweh yang akan datang kepada
Jahweh dengan membawa rantai besi, tali, bahan nilon, atau bahkan rambatan pohon
ararut, Jahweh pada kenyataannya hanya menerima persembahan kain biru dan kain
ungu, dan kain kirmizi. Jahweh sudah menetapkan bahwa Ia hanya akan menerima
iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Dengan itu, kita harus membawa
iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi ini ke hadapan Jahweh.
Mesias Tidak Menerima Persembahan Apapun
Bangsa Israel juga harus membawa kepada Jahweh
emas, perak, perunggu serta dua belas macam batu berharga untuk diletakkan di
baju efod dan tutup dada. Tetapi ada beberapa orang yang membawa tembaga atau
besi kepada Jahweh. Apakah Jahshua hanya sekedar pemulung, sehingga Ia menerima
semua hal itu? Tentu saja tidak!
Jahshua bukanlah seseorang yang menerima segala
macam sampah. Ia bukanlah pemulung, yang mau menerima barang bekas apa saja
yang anda bawa kepadaNya. Jahshua adalah Mesias yang ingin mencurahkan kepada
kita kasih karuniaNya kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang mengampuni
segala dosa kita, dan yang ingin memberikan kepada kita kasih sejatiNya. Inilah
sebabnya Jahshua disebut sebagai Raja kasih. Gembala kita memang adalah Raja
pengasih. Jahshua memang Mesias kita yang sejati. Mesias ini sudah menetapkan
iman yang dikehendakiNya dari kita, menjelaskan beberapa karakteristik yang
sungguh-sungguh diperlukan. Hanya kalau kita menghadap Jahweh dengan iman ini,
Ia akan memberikan kepada kita apa yang dijanjikanNya kepada kita.
Tetapi kita melihat bahwa di antara orang-orang
yang imannya kepada Mesias didasarkan oleh kesalahpahaman mereka akan Dia, bisa
nampak ketegaran yang tidak terkatakan. Mereka jahat dan keji. Seperti Firaun
yang tetap tegar pada kekeras-kepalaannya di hadapan Jahweh. Ketika Musa berkata
kepadanya; Jehova sudah menyatakan diriNya; biarkan umatNya pergi,” Firaun menukas,
“Siapakah Jehovah itu?”
Ketika keberadaan Jahweh dijelaskan kepadanya,
ia seharusnya cepat menyerah dan tunduk kepadaNya setelah mempertimbangkan kerugian
dan keuntungan dari sikap keras kepalanya. Kalau ia sungguh-sungguh tidak bisa
percaya dan tetap bertahan kepada ketegarannya, ia sudah bisa berusaha untuk
menahannya sementara, tetapi setelah dijatuhkannya beberapa tulah, ia seharusnya
menyerah. Betapa bodoh dan mengenaskan bagi Firaun bahwa ia tetap bertahan dalam
ketegarannya dan ketidaktaatannya kepada Jahweh, bahkan meskipun ia terkena
tulah katak yang meliputi seluruh negaranya?
Bukan hanya kegelapanm tetapi nyamuk juga menjadi
tulah di istana Firaun. Di sebelah kanan dan kiri, kemana saja seseorang menoleh,
dimana saja di seluruh negeri Mesir menjadi penuh dengan nyamuk, tetapi Firaun
belum juga menyerah. Bagaimana seseorang bisa hidup kalau disegala tempat dipenuhi
dengan nyamuk? Dalam keadaan seperti ini, seharusnya ia menyadari, “Karena aku
sudah tidak taat kepada Jahweh, Ia sedang menunjukkan siapa yang sebenarnya
Raja. Saya bisa saja raja atas seluruh kerajaanku di dunia ini, tetapi aku tidak
ada apa-apanya dibandingkan dengan Dia. Meskipun aku raja atas negara yang terbesar
di muka bumi ini, dan meskipun aku memiliki kuasa atas seluruh dunia, Jahweh
jauh lebih berkuasa dibandingkan dengan aku, dan Ia menjatuhkan semua tulah
ini karena ketidaktaatanku.” Beginilah seharusnya ia menyerah.
Sangat bijaksana bagi Firaun kalau ia dengan cepat
menyerah setelah ia melihat sendiri harga yang harus ditanggung dari penolakannya.
Bagaimanapun berkuasanya Firaun, kalau ia sampai kepada kesipmpulan bahwa tidak
ada cara bagi dia untuk melawan Jahweh, yang harus dilakukannya adalah menyerah
kepadaNya, dan berkata, “Baik, Jahweh, Engkau yang paling utama; aku akan menjadi
yang kedua.” Tetapi karena Firaun menolak dan keras kepala, seluruh bangsa dan
rakyatnya terkena tulah nyamuk.
Karena ini, tidak ada orang Mesir yang bisa berbuat
apapun. Kalau semua orang menjadi terganggu tiada hentinya karena nyamuk, bagaimana
ada orang yang bisa melakukan sesuatu selain mengusir nyamuk itu? Kita semua
bisa membayangkan orang-orang Mesir yang malang itu berusaha mengusir nyamuknya,
mungkin bahkan sampai membakar rumah mereka sendiri dalam usahanya, dan bau
nyamuk yang terbakar memenuhi penjuru desa.
Ada hal-hal yang bisa dilakukan manusia, dan ada
hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia. Karena Jahweh adalah Tuhan Balatentara,
Jahweh yang menguasa kehidupan dan kematian, kebahagiaan dan kesedihan, serta
berkat dan kutuk. Ketika ini yang terjadi, daripada meletakkan keyakinan kepada
diri sendiri dan berusaha untuk melawan Jahweh, kita semua harus berpikir secara
rasional dan mencapai kesimpulan logis bahwa kita harus membuang semua keras
kepala kita. Di antara kita, kita bisa saja memaksakan cara hidup kita dan berusaha
menerapkannya bagi orang lain, tetapi ketika berhubungan dengan Mesias, hal
ini tidak mungkin terjadi.
Kita harus berpikir tentang orang yang bagaimana
sebenarnya diri kita di hadapan Jahweh. Kita harus sungguh-sungguh memperhatikan
apakah kita memang harus bertahan melawan Jahweh, atau hati kita justru harus
lemah lembut dan rendah hati. Dan kita harus mencapai kesimpulan yang pasti
bahwa kita semua harus merendahkan diri di hadapan Jahweh. Di hadapan manusia,
kita bisa saja mempertahankan keras kepala kita dan kadangkala harus menanggung
konekwensinya, tetapi di hadapan Jahweh, hati kita harus sepenuhnya lembut.
“Jahweh, aku sudah melakukan kesalahan”—mereka
yang mengakui hal ini adalah orang-orang yang memilih jalanyang benar. Orang-orang
ini adalah orang yang bisa diselamatkan dari kehidupan mereka yang penuh kutuk.
Bagi orang-orang yang sudah meninggalkan Jahweh karena dosa-dosa mereka, cara
untuk kembali ke tangan Jahweh dan makan di air kehidupanNya adalah dengan dilahirkan
kembali dari air dan Roh. Apa yang bisa kita harapkan di dalam kehidupan kita,
kalau kehidupan itu kita jalani dengan tanpa menghasilkan buah di belantara
dunia ini, berjalan kesana kemari tanpa tujuan, dan kemudian kembali menjadi
segumpal debu?
Satu-satunya jalan bagi kita, yang akan kembali
menjadi debu dan akan dibuang ke dalam lautan api, adalah untuk diselamatkan
dengan percaya kepada Injil air dan Roh dan dengan itu menerima pengampunan
dosa kita. Ini adalah untuk kehidupan yang sudah putus asa dan tidak ada pengharapan
yang ditentukan untuk mengalami kebinasaan kekal karena melawan Jahweh dan karena
dosa-dosa mereka sehingga mereka bisa dengan ajaib dipulihkan kembali dhk melalui
kasih karuniaNya, kasih keselamatan. Kita harus, karena itu, mengenakan keselamatan
ini.
Bagaimana seseorang, yang hanyalah makhluk yang
fana, bisa menantang Jahweh? Ketika Jahweh memerintahkan agar kita membawa persembahan
ini dan itu, kita semua harus taat kepada FirmanNya. Dengan melihat ayat yang
kita baca di atas, dimana Jahweh memerintahkan mengenai persembahan apa yang
harus kita berikan kepadaNya, kita semua harus sampai kepada kesadaran, “Akh,
jadi inilah jenis iman yang diminta Jahweh agar kita bawa kepadaNya.”
Di penutup dada Imam Besar, dua belas batu berharga
diletakkan. Dan kemudian ada tutup dada keputusan, Urim dan Tumim, yang secara
literal berarti Terang dan Kesempurnaan, harus diletakkan agar
Imam Besar bisa mengambil keputusan yang benar atas orang-orang Israel.
Ini tidak lain menunjuk kepada kenyataan bahwa
hanya hamba Jahweh yang bisa membuat keputusan yang benar kepada anak-anak rohani
imannya dengan memberikan terang Roh Kudus yang berdiam di dalam diri mereka
dan firman Jahweh.
Kita semua harus menyadari saat uini bahwa di
hadapan Jahweh, kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi adalah kebenaran yang
sejati dan keselamatan yang sesungguhnya. Kebenaran kain biru dan kain ungu,
dan kain kirmizi ini adalah keselamatan yang sejati yang memberikan kepada kita
kehidupan, dan selain ini, tidak ada yang lain yang menggenapkan keselamatan
ini. Semua ini didasarkan kepada firman Jahweh, yang jelas dan benar.
Semua Bahan Kemah Suci Terkait dengan Keselamatan Manusia Dari
Dosa
Tetapi karena kebodohan, banyak orang yang tetap
menolak untuk percaya. Apa yang akan terjadi kepada mereka? Mereka tidak akan
pernah, sampi kapanpun tidak akan diselamatkan. Di hadapan Jahweh, kita harus
membuang kebodohan kita juga. Dan kita harus mengosongkan hati kita. Kita harus
membuang pemikiran kita sendiri dan keras kepala kita di hadapan Jahweh, dan
kemudian taat kepada FirmanNya dan memberikan hati kita kepadaNya. Kita jangan
pernah sampai memberontak kepada Jahweh, memaksakan cara kita yang memang kepala
batu. Kita bisa saja bersikap demikian di hadapan manusia, tetapi sebagai orang
Kristen, kita tidak boleh melakukan hal ini, apalagi kepada Jahweh. Tetapi orang-orang
yang bodoh tetap melawan Jahweh dan mereka justru lemah lembut di hadapan manusia.
Itu yang salah dengan kehidupan mereka. Kita harus merendahkan diri kita sampai
ke tanah di hadapan Jahweh dan mengakui bahwa apa yang dikatakan Jahweh kepada
kita semuanya benar.
Dan kita harus percaya dan yakin akan Firman kain
biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Iman adalah percaya kepada firman Jahweh.
Ketika kita merendahkan diri di kaki Jahweh, mengakui semua masalah kita di
hadapanNya, dan berserah kepadaNya meminta pertolonganNya, Jahweh pasti akan
menjawab kita. Kita kemudian harus menerima apa yang sudah dilakukanNya dengan
ucapan syukur. Inilah yang disebut iman. Di dalam kebebalan dan kegilaan kita,
kemudian, bisakah kita menunjukkan kepada Jahweh hal lain yang bukan kain biru
dan kain ungu, dan kain kirmizi, dan membawa kepadanya tali pancing atau rantai
logam? Membawa semua yang tidak berguna bagi Jahweh dan kemudian berkata, “Inilah
imanku sendiri. Beginilah saya percaya dengan sangat yakin. Inilah iman yang
kokoh yang sudah saya yaikini,”— ini bukan iman sama sekali, tetapi menunjukkan
kebodohan kita di hadapan Jahweh.
Manusia harus menanggalkan ketegaran mereka di
hadapan Mesias. Di hadapan Jahweh, dengan kata lain, manusia harus membentuk
kehendaknya. Kita semua harus mengenali diri kita di hadapan Jahweh. Kita harus
mengenal sesuai dengan apa yang dikatakan Jahweh kepada kita dan bagaimana Ia
memutuskan mengenai diri kita. Tidak satupun hal itu yang merupakan iman yang
benar. Taat dan percaya kepada firman Jahweh adalah sikap tubuh dan hati orang-orang
yang setia. Inilah yang harus senantiasa kita ingat di hadapan Jahweh.
Di antara diri kita sendiri, tentu saja, kita
bisa membanggakan pencapaian kita, saling membandingkan, saling bersaing, dan
saling menantang. Bahkan hal ini, juga, adalah tindakan yang tidak ada ada gunanya
kalau mengukur adanya kepentingan yang sama di hadapan Jahweh, di antara manusia
ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dan hanya bisa kita lakukan
secara terus menerus.
Bahkan anak anjing mengenal tuannya, dan tunduk
kepada tuannya serta taat kepada mereka. Bahkan anjing, dengan kata lain, taat
kepada pemiliknya, mengenali suaranya, dan hanya mengikuti tuannya. Ketika anjing
dihukum karena kesalahannya, mereka menyadari kesalahannya, menundukkan kepala
dengan taat, dan berusaha mendapatkan kembali kebaikan dengan tuannya dengan
melakukan segala macam trik yang kecil. Bahkan ketika binatang bisa melakukan
hal ini, manusia justru terus menantang Jahweh dengan memakai iman sesuai dengan
pemikiran mereka saja. Mereka terus, dengan kata lain, berpegang kepada Jahweh
tetapi memaksakan cara mereka dan pemikiran mereka sendiri.
Dengan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmiziNya,
Jahweh sudah menjadikan segala dosa manusia dilenyapkan, dan yang diperintahkanNya
kepada kita adalah agar kita memiliki iman yang percaya kepada karya Tuhan kita.
Namun manusia selalu melawan dan menentang Jahweh.
Tuhan sudah memerintahkan agar kita membawa kepadaNya
segala dosa kita, dan dengan melenyapkan semuanya melalui kain biru dan kain
ungu, dan kain kirmizi, Ia sudah memberikan kepada kita pengampunan dosa. Ketika
Jahweh sudah memerintahkan agar kita mempersembahkan kepadaNya iman kain biru
dan kain ungu, dan kain kirmizi, manusia masih tidak percaya kepada hal ini,
dan menghina Tuan mereka. Orang-orang itu akan menerima kutukan.
Ketika mereka mempersembahkan kepada Mesias iman
yang tidak dikehendakiNya, Ia pasti akan sangat murka. Mereka terus membawa
ketegaran mereka di hadapan Jahweh dan berkata kepadaNya, “Aku sudah memelihara
imanku sampai sekarang dengan baik. Pujilah saya atas pekerjaan kebaikan ini!”
Apakah Jahweh akan memuji mereka hanya karena mereka memelihara iman mereka,
ketika pada kenyataannya iman mereka sama sekali tidak berguna?
Ada saat-saat dimana ketegaran memang pantas untuk
dilakukan di dalam kehidupan kita. Tetapi ketegaran iman yang keliru sama sekali
tidak berguna di hadapan Jahweh. Jahweh menggunakan iman kain biru dan kain
ungu, dan kain kirmizi dalam membuat dosa kita lenyap. Alkitab tidak mengatakan
bahwa Ia hanya menggunakan kain ungu saja, atau Ia menggunakan kain kirmizi
saja, dan apalagi Ia tidak menggunakan rantai logam, sama seperti Ia juga tidak
akan menggunakan bahan nilon juga. Di dalam Rumah Jahweh, dan di dalam Hukum
keselamatanNya yang diberikan kepada kita, Mesias sudah menuntut dari kita iman
kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi.
Orang Kristen menunjuk kepada mereka yang percaya
dan mengikut Jahshua Kristus. Kita, juga, disebut orang Kristen. Namun, ada
banyak orang yang belum dilahirkan kembali meskipun mereka percaya kepada Jahshua
sebagai Juruselamat mereka, yang belum menerima pengampunan dosa, dan yang tidak
memiliki iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi –mereka hanyalah orang
Kristen nominal yang ditentukan akan masuk neraka, karena mereka percaya hanya
menurut kehendak mereka saja. Jahweh akan meninggalkan orang-orang yang demikian,
karena mereka hanya mengaku beragama, bukan orang Kristen yang sejati.
Paling tidak di hadapan Jahweh, kita semua harus
jujur, dan mengenal diri kita sebagaimana adanya. Setiap saat, tiap menit dan
detik, kita harus mengakui bahwa kita ditentukan masuk neraka karena dosa-dosa
kita. Di hadapan Mesias, kita semua harus memiliki iman kain biru dan kain ungu,
dan kain kirmizi. Percaya kepada hal itu adalah tindakan yang benar. Dan setiap
kali kita mengakuinya, kita harus mengingatkan diri kita sendiri tentang apa
yang dilakukan Mesias bagi kita, bahwa Ia sudah dibaptiskan bagi kita dan dihukum
bagi dosa-dosa kita dengan penyalibanNya, dan mengenalo keselamatan kita setiap
saat. Inilah iman yang dituntut Jahweh dari kita.
Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan Jahweh
kecuali kalau kita melakukan tepat seperti yang dikehendaki oleh Mesias bagi
kita. Mengapa? Karena seperti Ia sudah menjadi Juruselamat kita yang kekal melalui
kain biru dan kain ungu, dan kain kirmiziNya, kita harus percaya setiap saat
kepada apa yang dilakukan Jahweh bagi kita. Karena iman kain biru dan kain ungu,
dan kain kirmizi memang benar, kita semakin memerlukannya bagi pengampunan dosa
yang kita sendiri lakukan setiap hari.
Apakah Jahweh akan Berkenan Kalau Kita Mempersembahkan Hasil
Usaha Kita Sendiri?
Kalau kita mempersembahkan kepada Jahweh perkara-perkara
dunia, kita tidak hanya akan menumpukkan murka Jahweh atas kita, kita juga sedang
melakukan dosa besar dengan senantiasa melawan Dia. Iman yang demikian sangat
berbahaya, karena ia melawan Jahweh. Tidak ada di dalam dunia ini, tidak peduli
bagaimanapun indah dan mahal kelihatannya, yang bisa menyenangkan Jahweh. Mempersembahkan
kepada Jahweh hal-hal materi dunia ini tidak akan pernah menjadi iman yang benar
yang bisa dipuji oleh Jahweh. Tidak peduli betapapun baik semuanya itu dalam
pandangan dunia, Jahweh tidak pernah menerima hal-hal materi yang demikian.
Kita harus memiliki iman yang sungguh-sungguh dikehendaki Jahweh bagi kita,
dan memberikan kepadaNya iman ini.
Iman kita haruslah yang percaya kepada firman
Jahweh sebagaimana adanya, yang mempersembahkan persembahan yang benar yang
dikehendaki Jahweh dari kita. Pada saat yang sama, sejalan dengan waktu, kita
juga harus mengakui kelemahan kita dan kekurangan kita juga. Kita harus ingat
berlimpahnya berkat yang dicurahkan Jahweh kepada kita, dan kita harus sungguh-sungguh
memahami serta percaya kepada apa yang dilakukan Jahweh kepada kita, bahwa Ia
sudah rela bertemu dengan kita.
Kita harus membuang semua iman mistikisme, dan
kita hanya harus memiliki iman yang percaya kepada Firman yang dikatakan Jahweh.
Pesembahan iman inilah yang harus kita berikan kepada Jahweh. Hanya kalau kita
memberikan kepada Jahweh persembahan iman yang benar saja maka Ia akan berkenan,
bertemu dengan kita, dan menerima iman kita. Dan ketika kita melakukan hal itu
Jahweh akan memberikan kepada kita berkat-berkat yang sudah ditetapkan dan dipersiapkan
bagi kita.
Ketika kita berdiam di dalam Firman, kita kemudian
harus merenungkan, “Apakah iman yang sungguh-sungguh dikehendaki Jahweh dari
kita? Doa apa yang sebenarnya doa yang dikehendakiNya?” Kita kemudian menyadari
bahwa doa yang dikehendaki Jahweh dari kita tidak lain dari doa di dalam iman.
Tuhan kita menghendaki dari kita doa yang dipersembahkan di dalam iman kepada
keselamatan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, di dalam iman yang sudah
menerima apa yang Jahweh berikan kepada kita. Yang dikehendaki Jahweh adalah
doa penuh ucapan syukur di dalam iman kita; Ia tidak akan pernah menerima apapun
buatan kita yang kita usahakan untuk kita berikan kepadaNya atau kita letakkan
di kakiNya. Kita semua harus menyadari bahwa kita tidak boleh melakukan hal
ini.
 |
 |
Jahweh mengatakan kepada kita, “Bukan,
bukan, bukan itu iman yang Aku kehendaki darimu. Aku dibaptiskan
dan disalibkan untukmu. Aku menerima baptisan untuk membuat segala
dosamu dilenyapkan. Karena aku harus menanggung segala dosamu ke
atas DiriKu sebelum Aku dihukum atas dosa-dosa itu dan mati di kayu
Salib. Aku Juruselamatmu, tetapi Aku pada dasarnya juga Jahwehmu.
Aku Raja segala raja, tetapi Aku juga Jahwehmu, Aku datang ke dunia
ini dan menggenapi semuanya. Aku ingin kamu percaya kepadaKu dengan
sungguh-sungguh, untuk mengakui wewenangKu di dalam hatimu, dan
mengakui dengan sepenuh hati bahwa Aku sungguh-sungguh Jahwehmu.”
Dengan maksud inilah Jahweh memberikan kepada kita kain biru dan
kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya.
Dan inilah iman yang dituntut Jahweh dari kita.
Kita harus sungguh-sungguh memiliki kain biru
dan kain ungu, dan kain kirmizi ini. Anda mungkin berpikir, “Yah, ini bisa dijalani.
Aku masih cukup baik-baik saja, dan semuanya juga berjalan dengan baik. Kalau
memang tidak rusak, mengapa harus diperbaiki? Mengapa aku tidak percaya saja
dengan cara ini? Kalaupun aku percaya begini atau percaya begitu, bukankah itu
sama saja?” Tidak, itu bukan sama! Kalau anda memiliki iman yang lain dari iman
ini di dalam hati anda, maka anda sama sekali belum diselamatkan. Karena di
dalam hati yang demikian dosa masih ditemukan, anda harus membalikkan hati anda
dan kembali kepada iman yang sungguh-sungguh percaya kepada Injil air dan Roh.
Hati orang-orang yang sungguh-sungguh percaya
kepada Injil yang sejati dan yang pada dasarnya tidak percaya sangat berbeda
satu dengan lainnya. Jahweh tahu akan hal ini, dan kita juga tahu, kita yang
sudah dilahirkan kembali. Ketika anda mengenal diri anda sendiri, anda harus
berbalik, “Jahweh, aku memang penuh dosa. Tolong selamatkan aku.” Ketika anda
kemudian membalikkan hati anda dan mencari keselamatan anda, Jahweh akan bertemu
dengan anda dengan kebenaranNya.
Tuhan Kita Sudah Menyelamatkan Kita Dari Dosa Kita
Tuhan kita dibaptiskan dan disalibkan bagi kita.
Sama seperti yang tertulis di dalam Matius 3, inilah yang dilakukan Tuhan bagi
kita. Kita percaya kepada hal itu. Kita bersyukur untuk iru. Ketika Jahshua
dibaptiskan, segala dosa kita ditanggungkan kepadaNya. Ketika Ia disalibkan,
itu adalah karena Ia menanggung segala dosa sehingga Ia bisa membawa dosa-dosa
itu ke atas kayu Salib. Ia dihukum bukan hanya untuk dosa-dosa kita saja, tetapi
segala dosa dari seluruh dunia.
Katika Tuhan kita memerintahkan kita untuk membawa
kepadaNya persembahan berupa bahan-bahan untuk Kemah Suci, atau kapan saja Ia
memerintahkan kita untuk melakukan ssuatu, Ia selalu menyebutkan secara berurutan.
Ia mengataan kepada kita, “Bawa kepadaKu kain biru dan kain ungu, kain dan kirmizi.”
Kain biru selalu disebut terlebh dahulu. Dan ia meneruskannya dengan menyebutkan
kain lenan halus, yang menjelaskan supaya kita percaya kepada firman Jahweh.
Percaya darah di kayu Salib terlebih dahulu dan kemudian kepada baptisan Jahshua
nampaknya secara sepintas tidak masalah, tetapi ini sebenarnya keliru. Karena
Jahshua terlebih dahulu dibaptis sehingga Ia bisa mencurahkan darahNya di kayu
Salib. Saya mengatakan lagi kepada anda bahwa tidak pernah benar kalau percaya
kepada darah di kayu Salib terlebih dahulu dan baru kepada baptisanNya. Jahweh
tidak menghendaki iman yang demikian.
Datang ke dunia ini dalam rupa manusia, ketika
Tuhan berusia 30 tahun, Ia terlebih dahulu dibaptiskan untuk menanggung segala
dosa keatas DiriNya. Setelah melakukan hal itu, Ia kemudian membawa segala dosa
dunia ke atas kayu Salib, dihukum dengan penyalibanNya, dan kemudian bangkit
kembali dari kematian, dengan itu menjadi kur kita. Demikian, kita harus percaya
kepada apa yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita sesuai dengan urutan Ia menyelesaikan
karyaNya. Inilah cara kita harus percaya. Hanya dengan itu iman kita senantiasa
utuh, tidak bingung, dan tidak terguncang. Dan ketika kita memberitakan Injil
kepada orang lain, kita juga harus melakukannya demikian. Kita harus percaya,
dengan kata lain, sesuai dengan apa yang menyenangkan Jahweh, sesuai dengan
bagaimana Ia menetapkannya bagi kita.
Persembahan iman yang bagaimana yang dikehendaki
Jahweh kita berikan kepadaNya? Bukankah Ia memerintahkan anda membawa iman kain
biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya?
Apakah anda memiliki iman ini? Tidakkah anda, entah karena apa, sedang membalikan
urutannya? “Apakah saya percaya dengan cara ini atau cara lainnya tidak masalah.
Saya masih percaya, dan itu saja yang penting. Saya percaya kepda kain kirmizi
dulu, dan kemudian kain biru, dan yang terakhir kain ungu.” Kalau begitu cara
anda percaya, maka anda harus percaya sekali lagi. Tuhan tidak akan menerima
iman anda yang terbalik ini.
Tuhan kita adalah Jahweh keadilan dan Jahweh kebenaran.
Ia tidak menerima iman yang salah. Karena iman tidak bisa menjadi benar kalau
urutannya dicampur-adukkan, Jahweh tidak bisa menerima iman ini kalaupun Ia
mau. Sama seperti kita tidak bisa membuat pondasi sesudah bangunannya jadi,
demikian juga karena Jahshua sudah menanggung segala dosa kita baru Ia kemudian
disalibkan.
Karena itu kita harus percaya sesuai dengan apa
yang dikatakan Tuhan kepada kita. Inilah meletakkan batu penjuru iman yang benar.
Karena Jahweh sudah menyelamatkan kita dengan benar, adil, dan tepat, kita tidak
bisa mengubah urutanNya sekehendak hati kita. Kalau kita percaya kepada darah
di kayu Salib terlebih dahulu dan kemudian kepada baptisan Jahshua, maka iman
ini keliru. Dan dosa masih bisa ditemukan di dalam hati mereka yang percaya
demikian, karena dosa-dosa mereka tidak dibasuh akibat iman mereka yang salah
urutannya. Ini sungguh-sungguh luar biasa. Kebenaran yang luar biasa tidak lain
dari kebenaran ini.
Di hadapan Mesias, banyak di antara kita yang
biasa percaya hanya kepada darah Jahshua di kayu Salib. Kita percaya, “Jahshua
menanggung segala dosa kita dan menanggung semua penghukuman saya dengan mencurahkan
darahNya di kayu Salib. Kita dengan itu sepenuhnya diselamatkan. Keselamatan
kita datang dari Kristus yang mati di kayu Salib. Siapa saja yang percaya kepada
hal ini sekarang diselamatkan.” Kita kemudian menyadari makna yang sebenarnya
dari baptisan Jahshua. Jadi di atas iman kita yang semula, yang salah, kita
hanya menambahkan iman kebenaran. Apa yang kemudian terjadi? Dosa-dosa kita
tidak sungguh-sungguh dilenyapkan. Karena jenis iman yang begini hanyalah iman
intelektual dan doktrinal saja, ia tidak bisa menjadi iman yang nyata dan benar
di dalam hati kita.
Kalau iman anda seperti ini, anda harus sungguh-sungguh
berbalik dan mengubahnya. Pertama-tama, anda harus mengaku secara jelas bahwa
iman anda tidak benar. Dan jemudian, anda harus memperbaharui dasar iman anda
sekaligus. Yang harus anda lakukan adalah mengubah urutannya lagi. “Setelah
datang ke dunia ini, ketika Tuhan dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis di sungai
Yordan, Ia menanggung segala dosa saya. Karena Jahshua dibaptiskan sehingga
segala dosa dunia ditanggungkan kepadaNya, dan karena segala dosa dunia ditanggungkan
kepadaNya, segala dosa saya juga ditanggungkan kepada Jahshua. Dan kemudian,
Ia mencurahkan darahNya di kayu Salib untuk membayar upah dosa saya.” Inilah
cara anda seharusnya percaya.
“Siapa yang peduli apakah saya percaya begini
atau begitu? Yang penting adalah bahwa saya percaya kepada keempat pelayanan
Tuhan. Mengapa terlalu memaksa dan berpegang kepada urutan ini?” Apakah anda,
entah karena apa, masih berpegang kepada pandangan ini? Anda harus menerima
di dalam hati kebenaran ini: Jahshua mati di kayu Salib hanya setelah Ia dibaptiskan.
Dan inilah kebenaran yang harus anda percayai.
Roh Kudus tidak pernah menerima ketidakbenaran.
Jahweh sang Roh Kudus menerima iman kita hanya kalau kita percaya kepada apa
yang dilakukan Mesias bagi kita di dunia sebagaimana adanya. Roh Kudus tidak
mengatakan, “Jadi kamu percaya kepada keempat karya Jahshua. Amin. Apakah kamu
percaya dengan urutan yang benar atau terbalik, apakah kamu percaya begini atau
begitu, tidak masalah kalau kamu percaya. Amin. Baik, sekarang kamu adalah anakKu.”
Jahshua sang Mesias datang ke dunia ini sesuai
dengan kehendak Jahweh Bapa dan sesuai dengan waktu Bapa. Demikianlah Ia menjalani
33 tahun kehidupanNya di dunia ini. Dengan datang ke dunia ini, Ia menggenapi
karya keselamatan dengan dibaptiskan, disalibkan, dan dibangkitkan, dan naik
ke Surga. Dan Ia mengutus Roh Kudus kepada kita.
Jahweh sang Roh Kudus berdiam di dalam hati mereka
yang sudah menerima pengampunan dosa, dan Ia menerima iman mereka yang percaya
kepada apa yang sudah dikerjakan Tuhan bagi mereka sebagaimana adanya. Inilah
sebabnya mengapa kita tidak boleh percaya sekehendak pikiran kita. Meskipun
anda dan saya sungguh-sungguh percaya kepada Jahshua, tidakkah anda, entah karena
apa, percaya dalam urutan yang terbalik? Kalau ya, anda harus percaya kembali
dengan urutan yang benar.
Ketika anda melakukan hal itu, Roh Kudus bekerja
di dalam hati anda. Meskipun kita penuh kelemahan, Roh Kudus memegang hati anda
dengan mantap, diam di dalam kita, dan mencurahkan anugerahNya ketika kita kekurangan
di hadapanNya. Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita. Ia menghibur kita. Ia
memberkati kita. Ia menjanjikan masa depan yang cemerlang. Dan bagi kita yang
percaya, Ia memimpin kita dari iman kepada iman agar tidak kehilangan kelayakan
masuk ke dalam Kerajaan KekalNya.
Inilah yang kita butuhkan ketika kita percaya
kepada apa yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita, atau ketika Ia memerintahkan
agar kita membawa persembahan kita kepadaNya—yaitu, kita harus percaya bahwa
Ia sudah menyelamatkan kita dengan air dan Roh. Semua perkakas di dalam Kemah
Suci adalah penting karena semuanya senantiasa menjelaskan kepada kita rahasia
tentang dilahirkan kembali dari air dan Roh. Melalui berbagai hal di dalam Kemah
Suci, dengan kata lain, Jahweh ingin menjelaskan kepada kita satu hal—Injil
air dan Roh.
Bagi Iman Kita, Dasarnya Sangat Penting
Kalau kita membangun rumah iman kita tanpa terlebih
dahulu meletakkan dasar imannya secara kokoh, semakin lama kita percaya kepada
Jahshua, semakin bertambah banyak dosa kita, semakin banyak doa pertobatan yang
harus kita naikkan, dan semakin munafik kehidupan dosa kita. Tetapi ketika kita
percaya kepada anugerah keselamatan, bahwa Tuhan kita sudah menyelamatkan kita
dengan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal
benangnya, maka kita semua bisa menjadi anak-anak Jahweh yang sempurna. Karena
itu, kita semua harus percaya kepada kebenaran kain biru dan kain ungu, kain
kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan dengan demikian kita
harus menjadi anak-anak Jahweh.
Orang-orang yang dasar imannya penuh bisa senantiasa
membawa keimaman mereka dengan terang yang benderang, meskipun mereka memiliki
banyak kekurangan. Mereka bisa, dengan kata lain, menggenapi semua tugas keimaman
pada saat memeluk semua manusia di dunia ini, berdoa kepada Jahweh untuk pengampunan
dosa mereka, dan melayani Injil di hadapan Jahweh.
Sebaliknya, bagi mereka yang dasar imannya tidak
jelas, semakin lama, mereka menjadi semakin munafik. Mereka menjadi jahat. Mereka
menjadi orang beragama yang semakin munafik. Seperti yang dikatakan Tuhan bahwa
kita bisa mengenal pohon dari buahnya, buah yang dihasilkan oleh orang-orang
itu semuanya menjijikan, kotor, dan munafik. Namun, orang-orang yang sudah dilahirkan
kembali sama sekali tidak munafik. Mereka penuh kebenaran. Meskipun mereka memiliki
kelemahan, mereka sungguh-sungguh tulus. Mereka mengakui kelemahan dan kesalahan
mereka, dan mereka senantiasa hidup di tengah cahaya terang. Karena Tuhan kita
sudah dibaptiskan untuk menghapuskan dosa-dosa kita, dan karena Ia memang sudah
membuat dosa-dosa kita terhapus, dengan percaya kepada kebenaran ini kita sudah
menerima pengampunan dosa kita. Karena dasar dari iman kita kokoh, meskipun
kita lemah, meskipun kita melakukan dosa, dan meskipun kita tidak mampu, hidup
kita tetap bercahaya, karena hati kita senantiasa tidak berdosa. Karena kekurangan
kita mungkin kadangkala kita menyimpang, tetapi karena kita sungguh-sungguh
tidak berdosa, kita tidak menyimpang untuk membawa orang lain dan diri kita
sendiri kepada kebinasaan. Meskipun kita tidak mampu, kita tetap berjalan di
jalan yang menyenangkan Jahweh, maju ke depan setapak demi setapak dan semakin
melayani Injil. Ini semua bisa terjadi karena Jahshua sudah menyelamatkan kita
secara sempurna.
Kalau Jahshua Kristus, Mesias kita, dan Juruselamat
kita tidak menyelamatkan kita secara sempurna dengan keempat tenunan, kita tidak
akan pernah bisa diselamatkan sama sekali. Karena Ia sudah menyelamatkan kita
sehingga kita bisa selamat, dan karena kita percaya, memberitakan Injil dan
memuji Jahweh di dalam iman kita. Dengan iman kita saja kita bersyukur kepada
Jahweh, dengan iman kita melayani Dia, dan dengan iman kita mengikuti Dia. Ini
adalah keadaan kita yang sekarang. Kita sudah, dengan kata lain, menjadi orang
yang berkenan kepada Jahweh dengan iman kita. Kita sudah menjadi orang yang
dasar imannya berdiri teguh.
Orang yang dasar imannya tidak diletakkan dengam
baik harus meletakannya lagi. Itulah sebabnya Ibrani 6:1-2 mengatakan, “Sebab
itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan
beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar
pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada
Jahweh, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan
orang-orang mati dan hukuman kekal.”
Apa yang dijelaskan dalam ayat itu? Dijelaskan
agar kita bisa mengerti dan memastikan, dan untuk dengan kokoh meletakkan dasar
bagi pertanyaan seperti: “Mengapa Jahshua dibaptiskan?”; “Apakah baptisan adalah
sama dengan penumpangan tangan di Perjanjian Lama?”; “Apakah kita akan hidup
kembali?”; dan “Apakah penghukuman kekal?” Dijelaskan bahwa kita harus memiliki
iman yang penuh dan meletakkan dasarnya dengan kokoh dari sejak awalnya, sehingga
kita tidak akan tergoncang ataupun dipaksa untuk mengulangi lagi meletakkan
dasar sekali lagi. Iman yang percaya kepada kain biru dan kain ungu, kain kirmizi
dan dari lenan halus yang dipintal benangnya adalah iman yang penuh yang percaya
bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita sepenuhnya dengan sempurna. Kita harus
berdiri teguh di atas dasar iman ini, dan kita harus memulai dari sana dalam
perlombaan kita. Kita harus berlari dalam perlombaan iman.
Beberapa orang mengartikan ayat dari surat Ibrani
di atas dengan menyebutkan bahwa kita tidak bisa mengatakan kalau dosa-dosa
kita ditanggungkan kepada Jahshua melalui baptisanNya, dan bahwa ayat di atas
menjelaskan bahwa kita tidak lagi perlu membangun dasar iman lagi. Tetapi apakah
Jahweh akan mengatakan kepada kita untuk tidak membangun kembali dasar iman
kita kalau memang sudah dibangun dengan benar? Ayat ini menjelaskan bahwa mereka
yang tidak mamiliki dasar iman yang benar harus meletakkan dasarnya, dan bahwa
mereka yang memiliki dasar iman yang benar harus membuatnya semakin kokoh dan
teguh, dan berlari dalam perlombaan.
Untuk menyelamatkan kita, Jahweh memerintahkan
Musa untuk membangun Kemah Suci adan menerima persembahan dari umatNya. Untuk
bangsa Israel, Ia memerintahkan mereka membawa emas, perak, dan perunggu, kain
biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya,
bulu kambing jantan, Kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba,
dan kayu penaga. Sama seperti yang dilambangkan oleh semua bahan itu, Tuhan
kita memang memberikan kepada kita anugerah keselamatan dengan membebaskan anda
dan saya dari segala dosa dunia. Dengan cara ini, Jahweh sudah sungguh-sungguh
memerintahkan bangsa Israel untuk membawa persembahan itu kepadaNya, membangun
Kemah Suci, menetapkan cara korban, dan mengampuni dosa-dosa orang Israel yang
memberikan kepadaNya korban persembahan sesuai dengan persyaratan di dalam cara
korban.
Iman Kita Dilengkapi Dalam Kain Biru Dan Kain Ungu, Kain Kirmizi
Dan Dari Lenan Halus Yang Dipintal Benangnya Yang Menubuatkan Penggenapan Keselamatan
Kita Oleh Jahshua Kristus
Kalau kita, tidak percaya kepada kebenaran sempurna
yang digenapi oleh Jahshua Kristus, tidak meletakkan dasar iman kita dengan
kokok sekaligus, iman kita akan senantiasa terguncang. Tanpa pengetahuan, kesadaran,
dan iman kepada kenyataan bahwa Tuhan kita sudah menyelamatkan kita secara sempurna,
kita akhirnya akan berusaha mencapai keselamatan dengan upaya kita sendiri.
Iman yang demikian bukan penuh, tetapi kesalahan.
Mari kita membuka Ibrani 10:26-31: “Sebab jika
kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran,
maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian
yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan
semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati
tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih
beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Jahweh,
yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina
Roh kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah
hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi
umat-Nya.” Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Jahweh yang hidup.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa kalau kita sengaja
berdosa setelah kita menerima pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak akan
ada lagi korban untuk dosa kita, tetapi hanya ada penghukuman yang mengerikan.
Di sini, orang yang sengaja melakukan dosa setelah menerima pengetahuan tentang
kebenaran menunjuk kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Injil air dan
Roh meskipun mereka sudah mengenalnya. Kita harus percaya kepada kebenaran bahwa
Jahweh menyelamatkan kita dengan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari
lenan halus yang dipintal benangnya, dan bahwa Ia menyelamatkan kita dengan
emas, perak, dan perunggu, dan bahwa Ia membuat atap Kemah Suci dengan penutup
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya,
bulu kambing jantan, kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan kulit lumba-lumba.
Kita semua harus mengenal semua itu dengan jelas dan meletakkan dasar iman kita
secara tegas.
Tuhan kita berjanji bahwa Ia akan menyelamatkan
kita sepenuhnya, dan ketika saatnya tiba, Ia dibaptiskan untuk menanggung segala
dosa kita ke atas DiriNya, mati di kayu Salib, bangkit kembali dari kematian,
dan dengan itu menyelamatkan kita sepenuhnya. Kita kemudian diselamatkan secara
sempurna di dalam Jahshua Kristus yang meletakkan dasar bagi keselamatan kita
sepenuhnya.
Tetapi mereka yang tahu kebenaran ini tetapi menolak
untuk percaya pasti akan menghadapi penghukuman Jahweh yang mengerikan di hari
penghakiman terakhir. Tubuh mereka tidak akan mati tetapi menderita sampai selamanya.
Alkitab menjelaskan bahwa akan ada penyiksaan yang mengerikan untuk mereka,
dan penderitaan neraka mereka akan begitu hebat sampai dijelaskan bahwa di sana
disiksa dengan api (Markus 9:49). Disana dikatakan bahwa hanya akan ada penghukuman
yang menerikan, dan penyiksaan yang mengerikan yang akan menimpa para penyesat
itu.
Ketika kegagalan untuk taat kepada hukum Taurat
membawa kepada penghukuman yang mengerikan, betapa besarnya hukuman bagi mereka
yang tidak percaya kepada keselamatan yang diberikan oleh Anak Jahweh? Inilah
sebabnya kita semua harus percaya kepada Jahshua sebagai Juruselamat kita, di
dalam Tuhan yang datang ke dunia dalam rupa manusia, yang menanggung segala
dosa ke atas DiriNya melalui baptisanNya, yang membawa segala dosa dunia ke
atas kayu Salib dan menanggung penghukuman atas dosa dengan penyalibanNya, yang
bangkit dari kematian, dan yang sekarang hidup.
Dasar Iman Kita Harus Diletakkan Dengan Kokoh
Mengapa Jahweh memerintahkan Musa untuk membangun
Kemah Suci? Ketika kita memperhatikan masing-masing dan setiap bahan yang dipakai
untuk Kemah Suci, kita bisa melihat bahwa semuanya menyatakan kebenaran bahwa
Jahshua Kristus datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa
kita ke atas DiriNya dengan baptisan yang diterimaNya dari Yohanes Pembaptis,
membawa dosa-dosa dunia ke kayu Salib dan mati di sana, bangkit kembali dari
kematian, naik ke Surga, dan duduk di sebelah kanan tahta Jahweh Bapa, dan sekarang
sudah menjadi Jahweh kekal kita. Dari tiang-tiang dan alas perunggu untuk tiang
itu, semua bahan di Kemah Suci menunjukkan kepada kita kebenaran Injil. Seluruh
Perjanjian Lama, dengan kata lain, menjelaskan kepada kita tentang baptisan
Jahshua Kristus, pengorbananNya, identitasNya, dan karyaNya bagi keselamatan.
Dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru,
karena kulit lumba-lumba menjelaskan kepada kita Injil air dan Roh—yitu, Injil
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya—semua
yang percaya kepada kebenaran ini selalu berbicara tentang kebenaran kain biru
dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya setiap
kali mendapatkan kesempatan. Karena mereka memberitakan dan mendengarnya begitu
sering, kadangkala kita sampai lupa betapa berharganya kebenaran ini. Tetapi
bagaimana pentingnya kebenaran ini? Seperti kalau kita hidup di jaman pemerintahan
Raja Salomo dimana emas dan perak yang sangat berharga begitu berlimpah sehingga
hampir dianggap seoerti batu biasa, karena kita mendengar Firman kebenaran ini
setiap hari di dalam gereja Jahweh, kita mungkin kadangkala agak menggampangkan
keselamatan ini. Tetapi anda harus senantiasa mengingat hal ini: kebenaran ini
tidak bisa didengar dimanapun kecuali di dalam Gereja Jahweh, dan tanpa keselamatan
ini tidak ada seorangpun yang bisa diselamatkan, atau yang bisa meletakkan dasar
imannya dengan kokoh.
Iman yang dengannya anda dan saya sudah diselamatkan
adalah percaya kepada kenyataan bahwa Tuhan kita sudah menyelamatkan kita secara
sempurna dan meletakkan dasar iman kita dengan kokoh dengan keempat kain yaitu
kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya.
Saya akn mengulangi penegasan saya bahwa kita semua harus percaya kepada hal
ini di dalam hati kita. Jahweh berjanji kepada kita, dan sama seperti janjiNya,
Ia datang ke dunia ini sebagai Keturunan perempuan (Kejadian 3:15), menanggung
segala dosa kita ke atas DiriNya dengan baptisanNya, bangkit kembali dari kematian,
dan dengan itu menyelamatkan kita secara sempurna. Karena kebenaran ini sebenarnya
sangat mudah untuk dijelaskan dan dipahami, kita bisa mewartakan Injil ini ke
sluruh dunia setiap hari. Tentu saja, masih ada orang-orang yang layak dikasihani
yang tidak mengetahui kebenaran ini. Namun, yang lebih memelas dibandingkan
dengan orang yang tidak mengetahui kebenaran ini adalah orang-orang yang tidak
percaya meskipun mereka berada di dalam Gereja Jahweh.
Meskipun anda sudah sungguh-sungguh menerima pengampunan
dosa, pikiran anda mungkin masih jahat, tetapi paling tidak hati anda sudah
menjadi sangat lembut. Tetapi orang-orang yang munafik tidak demikian, meskipun
mereka berusaha menggambarkan diri sebagai orang yang lembut di luarnya, tetapi
begitu jahat batiniahnya sehingga mereka berusaha mendustai Jahweh dan orang
yang tidak terhitung banyaknya setiap hari. Anda dan saya harus meletakkan dasar
iman kita secara kokoh. Dan di dalam keselamatan yang sudah Tuhan tetapkan bagi
kita begitu kokoh, kita harus berdiri di hadapan Jahweh dengan percaya kepada
hal itu.
Iman Yang Berdiri Kokoh Seperti Unsur-Unsur dalam Kemah Suci
Jahweh memerintahkan agar kita membawa korban
yang demikian dan untuk membangun Kemah SuciNya. Anda dan saya harus menjadi
orang beriman yang percaya bahwa Jahshua datang ke dunia ini dan sudah menyelamatkan
kita secara rohani. Kita harus berdiri kokoh di hadapan Jahweh dengan memiliki
jenis iman yang seperti bahan-bahan yang dipakai untuk membangunn Kemah Suci.
Apakah anda percaya? Apakah anda memiliki iman yang demikian? Oleh Gereja Jahweh,
Injil air dan Roh masih sedang diberitakan. Karena inilah dasar dari iman yang
sejati, saya tidak akan bisa cukup memberi penekanan akan hal ini.
Begitu banyak gereja dan denominasi di dunia ini
yang tetap mengabaikan kebenaran bahwa Jahshua menerima segala dosa ke atas
diriNya, dan justru hanya percaya kepada darah di kayu Salib. Bahkan dalam keadaan
demikian, Tuhan kita masih memungkinkan kita menemukan kebenaran. Alasan mengapa
Jahshua dipakukan dan diremukkan di kayu Salib adalah karena Ia dibaptiskan
oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Semua itu adalah karena Ia sudah menerima
segala dosa dunia ke atas DiriNya dengan baptisanNya sehingga Ia disalibkan
dan diremukkan di kayu Salib.
Demikian, iman orang-orang yang mengaku sudah
menerima pengampunan dosa hanya dengan percaya kepada darah Jahshua saja adalah
iman yang keliru, yang bagaimanapun keadaannya, akhirnya akan runtuh juga. Tidak
peduli bagaimanapun tekunnya mereka berkhotbah kepada orang banyak dengan suara
keras untuk percaya kepada Jahshua, iman mereka, yang percaya hanya kepada darah
di kayu Salib saja, hanya menawarkan doa pertobatan, dan tidak akan bisa menyelesaikan
masalah dosa mereka sendiri, dan dibangin di atas dasar yang salah yang akan
langsung runtuh ketika hujan menerpa, angin bertiup, dan banjir melanda.
Saya sendiri belum pernah mendengar tentang baptisan
Jahshua secara terperinci selama lebih dari 10 tahun sejak pertama kali saya
percaya kepada Jahshua. Namun, Jahshua menemui saya dengan Firman kebenaranNya,
dan saya bisa dilahirkan kembali dari air dan Roh. Sekarang, saya tahu bahwa
ada banyak orang di seluruh dunia yang sedang mencari kebenaran tetapi belum
menemukannya. Saya ingin berbicara dengan mereka semua, supaya mereka bisa mendengar
kebenaran air dan Roh, dan supaya mereka bisa menerima pengampunan dosa dengan
percaya kepada hal ini di dalam hati mereka.
Sebelum anda dilahirkan kembali, anda, juga, mungkin
sudah menjalani kehidupan agama. Pada saat itu, anda mungkin belum mendengar
tentang kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal
benangnya. Bukan hanya itu, anda mungkin belum pernah mendengar tentang Injil
air dan Roh juga, apalagi tentang segala dosa kita ditanggungkan kepada Jahshua
ketika Ia dibaptiskan.
Teramat sangat penting bagi orang Kristen untuk
percaya kepada kebenaran kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan
halus yang dipintal benangnya sebagaimana adanya. Hanya ketika dasar iman kita
diletakkan dengan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus
yang dipintal benangnya kita bisa berdiri kokoh dan kuat di dalam iman kita.
Kalau anda masih belum percaya, masih belum terlambat—yang harus anda lakukan
hanyalah percaya mulai dari sekarang. Hanya ketika anda percaya maka anda bisa
diselamatkan sepenuhnya, letakkan dasar iman anda secara kokoh, dan mantapkan
iman anda di atas dasar ini.
Orang-orang Yang Ada Didalam Gereja Jahweh Juga Harus Meletakan
Dasar Iman Mereka Dengan Teguh
Matius 24:40 mengatakan, “Pada waktu itu kalau
ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
Ketika kita semua percaya kepada kebenaran yang sama dan melayani Injil
bersama di dalam Gereja Jahweh, apa yang lebih tragis daripada kalau kita ditinggalkan?
Karena firman Jahweh itu ilmiah dan sopan, iman
tidak bisa dijejalkan kepada orang lain dengan cara paksa. Kalau anda mendengar
firman Jahweh yang disampaikan dengan sopan kepada anda, anda harus percaya
kepada hal itu dengan akal yang sehat, memusatkan pikiran anda kepada kenyataan
bahwa anda memang sedang mendengarkan firman Jahweh. Ketika bangsa Israel mendengar
apa yang dikatakan Musa kepada mereka, mereka menganggapnya bukan sebagai perkataan
Musa sendiri tetapi firman Jahweh. Demikian juga, ketika anda diberitahu tentang
apa yang dikatakan firman Jahweh, anda perlu meneliti apakah anda percaya sesuai
dengan firman Jahweh ini. Anda perlu mempertimbangkan Firman itu dengan kepala
dingin, dan kemudian percaya kepada apa yang sesungguhnya dikatakan di sana.
Alkitab memerintahkan orang-orang percaya yang
ada di Berea mengenai akal sehat yang dipakai terhadap firman Jahweh. Orang-orang
percaya di Berea “lebih memakai akal sehatnya dari pada orang-orang Yahudi
di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati
dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya
itu benar demikian” (Kisah Para Rasul 17:11). Singkatnya, mereka percaya
secara rasional kepada FirnmanNya ketika mereka diajar.
Iman yang benar datang dari rasio dan akal sehat
yang menyelidiki Firman. Apakah anda memakai akal sehat anda sendiri ketika
anda dipaksa untuk percaya bertentangan dengan kehendak anda? Kalaupun seseorang
memaksa orang lain untuk percaya, maka hal itu sebenarnya sia-sia sama sekali,
karenaorang yang dipaksa itu tidak selalu benar-benar percaya kepada apa yang
dipaksakan kepadanya. Di hadapan Jahweh, semuanya tergantung kepada apakah seseorang
percaya dengan kehendak bebasnya. Kalau seseorang tidap percaya ketika ia sudah
diberitahu berulangkali mengenai hal ini, maka tidak ada yang lain yang bisa
dilakukan kecuali membuang orang itu ke dalam neraka.
Karena itu, semua orang berdosa di seluruh dunia
ini layak dikasihani, tetapi kalau ada di antara kita yang tidak percaya kepada
Firman Jahweh meskipun kita sama-sama di dalam Gereja Jahweh, maka orang yang
demikian lebih harus dikasihani. Bagaimana mungkin ada orang yang layak dikasihi
melebihi orang-orang yang akan masuk neraka, meski mereka secara fisik ada di
dalam Gereja Jahweh yang sama dengan kita?
Jahshua memiliki dua belas murid, dan di antara
mereka hanya Yudas yang tidak percaya bahwa Jahshua adalah Mesias dan Juruselamat.
Jadi Yudas selalu memanggil Jahshua dengan sebutan guru. Petrus, juga, biasa
memanggil Jahshua sebagai guru, tetapi akhirnya ia percaya dan berkata, “Tuhan,
Engkau adalah Kristus dan Anak Jahweh. Engkau adalah Anak Jahweh, juryang datang
untuk melenyapkan segala dosaku. Engkau adalah Jahweh keselamatan.”
Iman Petrus, dengan kata lain, berbeda dengan
iman Yudas. Setelah Yudas mengkhianati Petrus dan menjualNya, ia bunuh diri.
Meskipun Yudas selalu bersama dengan sebelas murid yang lain, pada akhirnya,
ia tidak bisa melihat Jahshua Kristus sebagaimana adanya, dan kemudian berakhir
dengan masuk neraka. Petrus, sebaliknya, diselamatkan dengan mengenali Jahshua
Kristus dan percaya kepadaNya sebagai JuruselamatNya, meskipun ia memang orang
yang tidak sabar karena kelemahannya.
Demikian juga, keselamatan bergantung kepada apakah
seseorang mengenal kebenaran dan percaya kepada hal itu di dalam hatinya atau
tidak. Seseorang tidak bisa percaya kepada kebenaran kalau ia tidak mengenalnya.
Namun, kalau orang tidak percaya kepada kebenaran meskipun mereka mengenalnya,
mereka akan menghadapi penghukuman yang lebih besar (Lukas 12:48). Inilah sebabnya
Jahweh mengatakan bahwa dasar iman kita haruslah kokoh dan benar.
Bagaimanakah Iman Kita?
Apakah dasar iman kita sudah dikuatkan sekarang?
Apakah dasarnya sudah kokoh? Apakah anda percaya bahwa Tuhan sudah sungguh-sungguh
menyelamatkan anda? Melalui air dan Roh, Tuhan kita memang sudah sangat pasti
menyelamatkan kita. Ini bukan hanya sesuatu yang khusus diajarkan oleh denominasi
kami saja, tetapi inilah yang dijanjikan Jahweh di dalam Perjanjian Lama dan
yang sungguh-sungguh digenapi oleh Jahshua di dalam Perjanjian Baru—yaitu, beginilah
caranya Kristus sungguh-sungguh menyelamatkan kita.
Jahshua adalah Raja segala raja (kain ungu) yang
datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa ke atas diriNya
dengan baptisanNya (kain biru), membawa segala dosa itu ke kayu Salib dan disalibkan
(kain kirmizi), bangkit kembali dari kematian, dan dengan itu menyelamatkan
kita. Ia berjanji bahwa Ia akan melakukan hal itu di dalam Perjanjian Lama,
dan Ia sudah menyelamatkan kita dengan menggenapi janji itu di dalam Perjanjian
Baru. Apakah anda percaya? Hal ini tidak lain dari meletakkan dasar yang teguh
unuk iman.
Ada ratusan juta orang Kristen di dunia ini, tetapi
kebanyakan di antara mereka, dasar imannya sangat rentan. Kita bisa menemukan
apakah seseorang memiliki iman yang benar atau tidak hanya dengan melihat buku-buku
Kristen yang ada saat ini. Penulis-penulis buku itu biasanya para pemimpin di
dalam lingkungan Kristen, dan dengan membaca buku-buku mereka, kita bisa melihat
apakah mereka memiliki pemahaman yang benar akan kebenaran atau tidak. Kalau
bahkan ada satu saja pemimpin itu yang tidak mengetahui atau tidak percaya kepada
kebenaran kalaupun ia mengetahuinya, maka semua orang yang mengikuti pemimpin
itu bisa dipastikan akan masuk neraka. Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa
hanya sedikit saja orang yang mengenal kebenaran itu, yang jumlahnya hanya sekitar
satu juta saja. Inilah sebabnya kita yang sedikit yang mengenal kebenaran sudah
memberitakan Injil dengan setia ke seluruh dunia.
Jahweh sedang bekerja melalui kita. Anda dan saya
tidak bisa menghindar dari memberitakan Injil, karena tidak memberitakan Injil
air dan Roh ke seluruh dunia adalah sama dengan melakukan dosa yang besar di
hadapan Jahweh. Bahkan, kalau kita tidak sungguh-sungguh mengikuti dan melayani
pekerjaan ini dengan iman, maka kita memang sedang melakukan dosa yang besar
di hadapan Jahweh. Inilah dosa yang membawa manusia ke dalam neraka padahal
kita tahu bagaimana menghentikannya; sebuah dosa yangtidak terampunkan bahwa
manusia akan masuk neraka di dalam ketidaktahuan mereka karena kita yang mengetahuk
kebenaran sudah menutup mulut kita.
Kalau kita tidak melaksanakan tugas yang diberikan
kepada kita, orang-orang itu akan memprotes kita, karena itu adalah tugas yang
merupakan kewajiban. Alkitab memperingatkan kita, dan mengatakan, “Sebaliknya
penjaga, yang melihat pedang itu datang, tetapi tidak meniup sangkakala dan
bangsanya tidak mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang
dari antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, tetapi
Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari penjaga itu” (Yehezkiel
33:6). Kita yang sudah terlebih dahulu tahu dan percaya harus menjalankan
tugas kita sebagai penjaga itu.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang memberikan Injil
ini kepada kita dan memampukan kita mengenal kebenaran ini. Saya semakin bersyukur
kepadaNya ketika sata menyadari bahwa kita termasuk di antara sedikit orang
yang terpilih di dunia ini yang mengenal kebenaran ini dan percaya kepada Injil
ini. Kita sudah memberitakan Injil air dan Roh ke banyak pendeta dan orang awam
yang percaya di seluruh dunia ini, tetapi setiap hari kami mendapatkan konfirmasi
akan kenyataan bahwa tidak ada yang sebelumnya sudah sungguh-sungguh mengerti
dan percaya kepada kebenaran ini. Melalui kami, para pemberita Injil kebenaran
air dan Roh sudah bermunculan di seluruh dunia. Seperti kami, mereka, juga,
memiliki dasar iman yang kokoh, dan sedang menyebarkan iman yang kokoh ini.
Kalau ada banyak orang yang memberitakan Injil
ini, mungkin kita bisa bernapas agak mudah dan santai sedikit di dalam pemberitaan
Injil kita, namun, sayangnya, tidak begitu banyak orang di dunia ini yang mengenal
dan percaya kepada kebenaran ini. Banyak yang terlalu mengagungkan pencapaian
Reformasi di sejarah dunia. Ketika kita menyelidikinya secara terperindi, kita
bisa menemukan bahwa para reformis sudah salah menempatkan tombol yang pertama
dari dasar iman yang alkitabiah pada saat Reformasi, dan bahwa semua yang mengikuti
mereka juga melakukan kesalahan yang sama. Meskipun ada usaha untuk memperbaiki
kekeliruan-kekeliruan yang ada, tetapi karena tombol yang pertama sudah salah
tempat, maka tetap ada cacarnya; dengan itu, sejarah kekristenan harus disusun
ulang.
| Ingin
tahu lebih banyak tentang Kemah Suci?
Silahkan klik banner di bawah untuk mendapatkan buku gratis
tentang Kemah Suci. |
|
 |
Saya berharap dan berdoa agara nda
semua berdiri di hadapan Jahweh dengan dasar iman yang kokoh, anda
akan menjalani kehidupan anda bagi kepentingan pelayanan Injil yang
sejati. Ketika anda hidup bagi Injil, hati anda akan secara alami
dipenuhi dengan sukacita. Ketika seseorang hidup bagi Injil, hatinya
diubahkan menjadi hati yang rohani. Dan saat Roh Kudus memenuhi
hati anda dan bekerja di dalamnya, anda akan mengalami kelimpahan
sukacita.
Tetapi kalau anda tidak percaya kepada Injil dan
mengejar kehendak daging anda meskipun anda sudah menerima pengampunan dosa
dan mengenal Injil air dan Roh, anda kemudian akan menjalani kehidupan yang
tidak berarti, dan kosong.
Saya bersyukur kepada Jahweh yang memberikan Injil
yang berharga ini kepada kita, dan karena Ia memberikan keselamatan kita secara
cuma-cuma. Doa saya adalah agar anda akan menguji iman anda sekali lagi, dan
menerima keselamatan yang sempurna melalui kain biru dan kain ungu, kain kirmizi
dan dari lenan halus yang dipintal benangnya.
Kembali ke Daftar
|