Khotbah-Khotbah

Pokok 9: Kitab Roma (Komentari dalam Surat Roma)

[PASAL 1-1] Pendahuluan kepada Roma Pasal 1

“Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma” bisa dianggap sebagai harta yang sangat berharga di dalam Alkitab. Surat ini lebih banyak membahas mengenai bagaimana seseorang bisa mendapatkan kebenaran Allah dengan percaya kepada Injil air dan Roh. Dibandingkan dengan Surat Yakobus, ada yang mengatakan surat Roma sebagai “firman harta berharga” dan surat Yakobus “firman jerami.” Namun, Yakobus juga firman Allah sama seperti surat Roma juga. Satu-satunya perbedaan adalah surat Roma sangat berharga karena menuliskan pemahaman umum yang menyeluruh akan Alkitab, sedangkan Yakobus berharga karena firman ini yang menjadikan orang benar hidup sesuai dengan kehendak Allah.


Siapakah tokohnya, Paulus? 

Mari kita membaca Roma 1:1-7 terlebih dahulu. “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.
Bagian ini bisa dianggap sebagai “Salam Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma.” Paulus memberi salam kepada mereka sebagai hamba Yesus Kristus, yang menjadi kebenaran Allah.
Ayat 1 berbicara mengenai pertanyaan, ‘Siapakah Paulus?’ Ia adalah seorang Yahudi yang bertemu dengan Tuhan yang bangkit di jalan menuju ke Damsyik, dan yang menjadi alat pilihan Tuhan (Kisah Para Rasul 9:15) untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi.

Paulus mengabarkan Injil yang benar yang didasarkan kepada sistem korban dan nubuat dalam Perjanjian Lama 

 

Dalam ayat 2, Rasul Paulus mengabarkan Injil yang didasarkan kepada firman Perjanjian Lama. Ia menjelaskan “Injil Allah” sebagai “dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” Dari ayat itu kita bisa melihat bahwa rasul Paulus mengabarkan Injil air dan Roh yang didasarkan kepada sistem korban di dalam Perjanjian Lama. Juga di dalam ayat 2 ada indikasi bahwa Paulus dipilih untuk melakukan pekerjaan itu. 
Dalam ayat ‘dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci’ mengandung implikasi bahwa Allah berjanji untuk mengutus Yesus Kristus, yang tampak di dalam sistem kurban dan nubuat di dalam Perjanjian Lama. Semua nabi dalam Perjanjian Lama, termasuk Musa, Yesaya, Yehezkiel, Yeremia dan Daniel, memberikan kesaksian mengenai kenyataan bahwa Yesus Kristus akan datang ke dunia ini dan mati di kayu Salib setelah menerima semua dosa dunia.
Injil yang bagaimana yang dikabarkan oleh Paulus? Ia mengabarkan Injil air dan Roh yang berbicara tentang Anak Allah, Yesus Kristus.
Ada orang-orang yang berkata bahwa firman di dalam Perjanjian Lama sudah lewat, dan yang lainnya mendukung dengan menunjuk kepada apa yang dikatakan di dalam Matius 11:11 sebagai bukti pendukung. Beberapa Penginjil bahkan mengabaikan seluruh isi Perjanjian Lama.
Namun, Allah memberikan janji kepada kita melalui Perjanjian Lama dan Ia menggenapi janji itu melalui Yesus Kristus di dalam orang berdosa. Karena itu, dengan kacamata iman, Perjanjian Baru tidak bisa ada tanpa Perjanjian Lama, dan demikian juga, apa yang dikatakan Perjanjian Lama tidak bisa digenapi tanpa firman dalam Perjanjian Baru.

Rasul Paulus dipilih untuk Injil Allah. Kemudian, pertanyaannya adalah, “Injil bagaimana yang diberitakan?” Ia mengabarkan kenyataan bahwa Yesus Kristus datang ke dunia ini dan menyelamatkan kita dari semua dosa kita melalui Injil air dan Roh, yang didasarkan kepada Perjanjian Lama. Karena itu, setiap kali kita mengabarkan Injil air dan Roh, kita harus melakukannya dengan didasarkan kepada nubuat dan sistem kurban dalam Perjanjian Lama. Hanya dengan itulah orang bisa percaya bahwa Injil air dan Roh yang adalah kebenaran, dan bahwa Perjanjian Baru menjadi penggenapan dari janji yang ada di dalam Perjanjian Lama.
Dari awal Perjanjian Baru, kita bisa melihat bahwa ada penekanan terhadap baptisan yang diterima Yesus dari Yohanes dan darahNya di kayu Salib. Sementara sebagai inti dari Perjanjian Lama, ada sistem korban, yang menjadi cara penebusan bagi orang-orang berdosa. Seseorang harus menyerahkan dosa-dosanya melalui peletakan tangan ke atas kepala korban penghapus dosa dan menyembelihnya untuk bisa diampuni dosa-dosanya.
Lalu, kalau ada peletakkan tangan dan darah binatang korban untuk penghapusan dosa di dalam Perjanjian Lama, bagaimana dengan di dalam Perjanjian Baru? Di sini ada baptisan yang diterima Yesus dan darahNya di kayu Salib. Lalu, Imam Besar yang disebutkan di dalam Perjanjian Lama (Imamat 16:21) sejajar dengan Yohanes Pembaptis yang ada di dalam Perjanjian Baru.
Ayat 3 dan 4 berbicara mengenai pertanyaan “Pribadi yang bagaimana Yesus itu?” Ayat-ayat itu memberikan penjelasan mengenai karakternya secara umum. Yesus Kristus secara fisik dilahirkan dari jalur keturunan Daud dan oleh Roh Kudus, ia disebut sebagai Anak Allah dengan kuasa kebangkitanNya dari kematian. Karena itu, Ia menjadi Juruselamat dengan memberikan air dan darah kepada mereka yang percaya kepadaNya. Yesus Kristus menjadi Tuhan keselamatan, Raja segala raja, dan Imam Besar yang kekal di surga bagi mereka yang percaya.
Dalam beberapa teologi Kristen, keilahian Yesus disangkali. Para teolog itu berkata, “Ia hanya seorang pemuda yang menonjol.” Juga menurut Teologi Baru “Ada keselamatan di dalam semua agama.” Kemudian, di seminari-seminari liberal, orang-orang yakin bahwa mereka harus menerima klenik, Budha, Katolik dan semua agama lain di dunia. Teologi yang disebut sebagai Teologi Liberal atau Teologi Baru ini mengatakan bahwa semua aliran harus dihormati, semua manusia harus bersatu dan kemudian menjadi ‘satu’.
Namun, sangat jelas dikatakan di dalam Alkitab bahwa pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi. Lalu, Tuhan yang manakah ini? Ini adalah Yesus Kristus. Nama ‘Kristus’ memiliki arti diurapi dengan minyak. Pada masa Perjanjian Lama, seorang raja atau seorang nabi diurapi kepala mereka oleh Imam Besar. Karena itu, Yesus disebut sebagai Raja di atas segala raja. Seseorang yang menyangkal Yesus itu Allah berarti tidak percaya kepada Allah. 
Saat-saat ini, iman manusia banyak menyimpang kepada Ekumenisisme yang didasarkan kepada pluralisme agama. Mereka berdoa dan memberikan penyembahan dengan menggabungkan semua jenis elemen dari agama dunia seperti halnya Budha dan Konghucu. Kadangkala, jemaat menyembah dengan cara Budha, dan saat yang lain mereka melakukannya dengan cara Kristen. Memang, mungkin saja gado-gado itu makanan enak. Tetapi kalau berhubungan dengan iman, semakin murni semakin baik.
Karena itu, jawaban dari pertanyaan yang ada di dalam ayat 3 dan 4, ‘Siapakah Yesus?’ adalah bahwa Dia itu adalah yang dikenal sebagai Anak Allah karena kuasaNya untuk bangkit dari kematian. Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat kita.
Ayat 5 dan 6 berbicara mengenai bagaimana Paulus menjadi Rasul karena Allah. Ia menjadi seorang saksi yang mengabarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi supaya mereka bisa menerima keselamatan dengan percaya kepada Yesus Kristus.

 

Otoritas apa yang dimiliki Rasul Paulus?

 

Seperti yang tertulis di dalam ayat 7, Rasul Paulus memiliki otoritas untuk memberkati orang-orang percaya kepada Yesus dengan nama Allah. Otoritas seorang Rasul berarti kuasa rohani untuk memberkati semua orang dengan nama Yesus Kristus.
Karena itu, Paulus bisa berkata, “Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.” 
Di sini, saya mau menjelaskan sedikit mengenai berkat itu. Nampak bahwa Rasul Paulus memiliki otoritas untuk memberikan berkat kepada orang lain, dan setiap kali kita selesai kebaktian, kita menutupnya dengan berkat, “Allah ingin mengaruniakan berkat ini kepada orang-orang kudus.” Kata-kata asli untuk berkat adalah demikian.
Mari kita melihat Bilangan 6:22. “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.’”
Harun sang Imam Besar dan anak-anaknya diberitahu “Beginilah harus kamu memberkati orang Israel.” Kalau mereka mau memberkati orang-orang Israel dengan cara demikian, Allah akan sungguh-sungguh memberkati mereka seperti yang dikatakan di dalam Alkitab. Ketika kita melihat ke dalam surat-surat Paulus, kita bisa melihat bahwa ia sering berkata, “Anugerah Tuhan kita kiranya menyertai kamu.” Ini mengindikasikan bahwa bukan dia sendiri yang memberikan berkat, tetapi Allah yang memberikannya. Karena itu, Rasul Paulus selalu memberikan berkat kepada orang-orang kudus setiap kali ia mengakhiri suratnya.

Paulus memiliki otoritas untuk memberikan berkat kepada umat Allah. Otoritas ini tidak diberikan kepada semua pelayan Kristen. Tetapi, hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah. Ketika hamba-hamba Allah mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh ingin memberikan berkat, maka Allah memberikan berkat-berkat seperti yang mereka katakan.
Allah memberikan otoritas surgawi bukan hanya kepada hamba-hambaNya, tetapi juga kepada semua orang-orang kudus yang sudah dilahirkan kembali. Allah berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yohanes 20:23). Ia memberikan otoritas semacam itu kepada semua orang benar. Karena itu, orang harus berpikir panjang kalau mau melawan orang-orang kudus yang sudah dilahirkan kembali atau hamba-hambaNya, karena itu sama dengan melawan Allah. Karena Allah sudah memberikan otoritas untuk memberkati dan mengutuk bagi para RasulNya dan juga kepada hamba-hambaNya dan orang-orang benar.


Rasul Paulus adalah rasul yang ingin membagikan karunia roh kepada orang-orang kudus

Mari kita membaca Roma 1:8-12. “Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia. Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu: Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.”
Pertama-tama, untuk apa Rasul Paulus bersyukur kepada Allah? Ia bersyukur kepada Allah bagi orang-orang Kristen di Roma karena mereka percaya kepada Yesus dan melalui mereka, Injil diwartakan kepada orang-orang lain. 
Di dalam ayat 9 dan 10, ada yang menanyakan, “Mengapa Rasul Paulus mau pergi ke Roma dalam perjalanan misinya?” Alasannya adalah karena kalau Injil air dan Roh diwartakan di Roma pada saat itu, maka Injil itu akan tersebar ke seluruh dunia. Sama seperti seluruh dunia sekarang memandang kepada Amerika, di masa itu Roma menjadi pusat dunia sehingga ada pepatah mengatakan, “Semua jalan menuju Roma.”
Kita sedang melakukan banyak pekerjaan mengabarkan Injil di Amerika. Kalau kita mengabarkan Injil air dan Roh di Amerika, akan bangkit banyak missionaris yang akan mengabarkan Injil yang indah itu kepada orang-orang lain di dunia ini. Itulah sebabnya, Paulus pergi ke Roma.


Karunia rohani yang dibicarakan Paulus


Di dalam ayat 11, tertulis, “Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu”
Apa yang dimaksud oleh Paulus dengan memberikan karunia rohani untuk menguatkan orang-orang itu? Karunia rohani yang dibicarakannya adalah Injil air dan Roh, yang diberitakannya. Di dalam ayat 12, tertulis, “yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” Mengatakan bahwa beberapa karunia rohani akan diberikan kepada mereka untuk menguatkan mereka dengan iman yang sama di antara iman mereka dengan iman Paulus, adalah karena dengan memberikan Injil air dan Roh, Paulus ingin agar orang-orang itu mendapat kelegaan, mendapat penguatan, menerima berkat-berkat, dan memiliki persekutuan di dalam iman yang sama.
Rasul Paulus mengatakan bahwa ia ingin dikuatkan bersama dengan mereka dengan iman yang sama menunjukkan bahwa ia ingin mengabarkan Injil air dan Roh Kudus sekali lagi kepada Gereja Roma. Sekarang, semua anggota gereja itu mengerti dan percaya secara konkret kepada Injil air dan Roh, tetapi nampaknya ada orang-orang yang menyebut diri Kristen yang tidak percaya kepada Injil yang sejati sejalan dengan berjalannya waktu. Dalam keadaan itu, Gereja di Roma mungkin membutuhkan kesegaran Injil. 
Karena itu, Rasul Paulus mengatakan bahwa ia mungkin dikuatkan dengan iman yang sama di dalam dirinya. Bahkan kita menerima penghiburan di hadapan Allah dan hati kita bisa tenang karena iman kepada Injil air dan Roh. Kita tidak akan bisa memiliki ketenangan tanpa memiliki Injil air dan Roh.
Di situ juga tertulis, “Aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu.” Karunia rohani ini adalah Injil air dan Roh. Seseorang bisa menjadi anak Allah dan menerima berkat hanya kalau ia percaya kepada Injil air dan Roh.
Namun, apa gunanya bagi seseorang untuk hidup baik atau setia dengan cara berhenti merokok dan minum minuman keras dan tidak melakukan kesalahan kalau mereka tidak mengenal Injil air dan Roh, meskipun mereka sudah percaya kepada Allah? Apa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan kebenaran Allah. Kebenaran Allah jauh lebih besar daripada manusia. Mudah untuk membawa orang lain ke dalam gereja, tetapi yang lebih penting adalah mengabarkan Injil air dan Roh kepada orang-orang yang baru percaya itu supaya mereka bisa diampuni dari segala dosa mereka dan menjadi anak-anak Allah dan mengenakan berkat-berkat rohani dari Surga.
Rasul Paulus ingin agar orang-orang kudus di Roma dikuatkan melalui imannya. Karena itu ia berkata, “yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” Dengan demikian, Rasul Paulus harus mengabarkan Injil yang benar itu kepada seluruh jemaat gereja itu untuk membuat mereka memiliki iman, sehingga mereka bisa dikuatkan melalui imannya kepada Injil air dan Roh. Ia harus menyampaikan kepada orang-orang percaya di gereja Roma Injil air dan Roh Kudus dan mengajarkan apa sebenarnya yang terkandung di dalamnya.
Itu yang membuat Rasul Paulus berbeda dengan para penginjil masa sekarang ini. Di dalam surat kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus mengatakan bahwa ia ingin agar mereka dikuatkan dengan memberikan kepada mereka karunia rohani, dan untuk menghibur mereka dengan iman yang sama di antara mereka dengan imannya. Inilah yang harus sungguh-sungguh dipelajari oleh para pengkhotbah zaman ini dari apa yang dilakukan Rasul Paulus. Rasul Paulus biasa mengabarkan Injil air dan Roh yang bisa dipakai untuk memilah-milah apakah seseorang itu saudara seiman atau memiliki iman yang keliru. 
Di zaman ini, gereja-gereja membiarkan sekelompok anggota baru menerima pengajaran doktrin selama 6 bulan, dan kemudian dalam waktu satu tahun, akhirnya mereka dibaptiskan. Begitu saja. Mereka dibaptiskan tanpa mempedulikan apakah mereka mengenal Injil air dan Roh yang digenapi Yesus atau tidak. Dengan kata lain, meskipun mereka sudah menjadi anggota gereja, mereka tidak menjadi anak-anak Allah yang sudah mendapatkan kebenaranNya. Satu-satunya yang diminta oleh para hamba Tuhan kepada orang-orang yang baru percaya adalah supaya mereka menghafalkan Sepuluh Hukum Allah dan Pengakuan Iman Rasuli. Kalau orang yang baru percaya itu bisa lulus dalam ujian hafalan itu, lalu mereka ditanya, “Apakah anda mau berhenti minum minuman keras? Berhenti merokok? Apakah anda siap memberikan perpuluhan setiap bulan? Apakah anda mau menjalani kehidupan yang baik?”

Alasan bahwa gereja-gereja di Eropa, Asia dan di seluruh penjuru dunia menjadi jauh dari kebenaran Allah adalah karena mereka mengejar kebenaran manusia. Di saat ini, bahkan di Korea, yang biasa disebut sebagai “Yerusalemnya Asia,” populasi orang Kristen mulai menurun. Sekarang, saatnya sudah tiba dimana orang tidak mau datang ke gereja kecuali kalau ada acara khusus yang diadakan di gereja, seperti festival pujian atau konser lagu rohani. Bahkan kalaupun mereka datang, maka khotbah yang biasa diberikan kepada kaum muda adalah, “Jangan merokok, jalani kehidupan yang baik, kuduskan Hari Minggu, dan lakukan banyak pekerjaan pelayanan,” yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kebenaran Allah.
Karena manusia itu sangat cepat untuk berbuat dosa dan susah berhenti, ia harus bersandar kepada Allah. Karena itu, ketika orang-orang datang ke dalam gereja Allah, kita harus memberikan kepada mereka Injil air dan Roh supaya mereka bisa mendapatkan kebenaran Allah. Bagi mereka, kita harus sungguh-sungguh memberitakan kebenaran Allah yang mengatakan bahwa kalau anda dan saya sudah menjadi tidak berdosa meskipun kita masih memiliki kelemahan. 
Yakinkan untuk tetap mengingat hal ini. Seseorang hanya bisa hidup sesuai dengan kehendak Allah setelah ia menjadi tidak berdosa dengan percaya kepada kebenaran Allah. Dan ia bisa mengabarkan Injil saat masalah dosa-dosa sudah diselesaikan. Pekerjaan kita untuk mengabarkan Injil kepada orang lain tidak boleh mendahului penyelesaian masalah dosa-dosa kita. Seseorang tidak akan bisa mengabarkan Injil yang benar sebelum masalah dosa-dosanya diselesaikan.
Dikatakan bahwa Rasul Paulus sungguh-sungguh membagikan beberapa karunia rohani kepada orang lain. Karunia rohani yang dimaksud oleh Paulus di sini bukanlah karunia bahasa Roh atau penyembuhan yang dibicarakan oleh golongan Gerakan Pantekosta yang muncul di dalam kekristenan zaman ini. Kebanyakan orang Kristen menganggap bahwa fenomena yang aneh seperti mendapat penglihatan, bernubuat, berbicara dalam bahasa lain atau menyembuhkan suatu penyakit sebagai karunia. 
Namun, hal-hal itu bukanlah karunia rohani dari Surga. Melihat penglihatan saat berdoa bukan sebuah karunia rohani. Seseorang yang berteriak-teriak dengan liar atau seseorang yang ada di dalam gua ketika mendengar suara yang aneh ketika tidak bisa tidur selama tiga hari-tiga malam, bukanlah karunia rohani. Seseorang yang mengaku bisa berbicara dalam bahasa asing dan jatuh tanpa sadar ke lantai setelah meneriakkan kata-kata aneh ‘la-la-la-la’ dengan lidah yang terpuntir bukanlah seorang yang sedang menerima Roh Kudus. Tetapi, hal itu justru sama dengan pasien yang secara mental tidak stabil di dalam rumah sakit jiwa yang sedang mengamuk. Namun, ada yang disebut sebagai ‘kebangunan rohani karismatik’ yang sangat yakin bahwa mereka bisa mengajar orang-orang Kristen untuk berbicara dalam bahasa asing atau bagaimana bisa menerima Roh Kudus. Mereka melakukan sesuatu yang keliru dan iman yang mereka miliki tentu saja sama sekali tidak benar.
Air hidup dari Roh Kudus mengalir dari hati kita saat kita dengan setia melakukan pekerjaan rohani dari Allah dan mengikuti Tuhan. Injil air dan Roh Kudus mengalir akan mengalir dari hati kita ketika kita menghentikan tindakan duniawi dan berusaha mengikuti tindakan rohani.
Orang-orang Kristen harus mendapatkan karunia rohani berupa pengampunan dosa dengan percaya kepada Injil air dan Roh. Ada yang mengatakan bahwa banyak sekali orang Kristen yang sedang menuju ke neraka melalui bangku-bangku gereja zaman ini. Ini menandakan bahwa gereja zaman ini mendorong diangkatnya kebenaran manusia dan bukannya memberitakan kebenaran Allah.
Saudara-saudara, bahkan kalau seandainya ada orang yang bisa mengumpulkan banyak sekali kebenaran manusia setelah datang ke gereja, ini tidak berarti bahwa ia bisa menerima karunia rohani dengan perbuatan-perbuatan itu. Kita harus menerima kebenaran Allah ke dalam hati kita dengan iman kepada Injil air dan Roh sehingga kita bisa menerima karunia rohani.
Mari kita membaca ayat 13 sampai 17. “Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu -- tetapi hingga kini selalu aku terhalang -- agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain. Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”” 
Rasul Paulus sangat ingin pergi ke Roma. Namun, ia tidak bisa melakukannya karena selalu terhalang. Karena itu, ia berdoa meminta agar pintu bagi pekerjaan missi bisa terbuka. Demikian juga, kita harus menaikkan doa yang sama saat kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia melalui pelayanan literatur. Hanya pada saat Allah membuka pintu dan jalan bagi kita sajalah kita bisa mengabarkan Injil air dan Roh ke seluruh dunia.


Paulus yang berhutang kepada semua orang

Kepada siapa Rasul Paulus berkata bahwa ia berhutang dan hutang apakah yang dimaksudkannya di dalam ayat 14 dan 15? Ia berkata bahwa ia sudah berhutang kepada orang-orang Yunani dan orang-orang barbar, dan ia berhutang pengabaran Injil air dan Roh. Ia menambahkan bahwa ia berhutang baik kepada orang terpelajar maupun orang yang tidak terpelajar. Karena itu, ia berharap agar bisa mengabarkan Injil kepada orang-orang di Roma dengan seluruh kemampuannya. 
Karena itu, tujuan Rasul Paulus menulis kepada jemaat adalah agar ia mengabarkan Injil yang benar. Ia mendapati bahwa bahkan di dalam hati orang-orang yang ada di dalam gereja di Roma, Injil air dan Roh tidak bertahan kuat di dalam iman, dan karena itu ia menyebutkan Injil itu sebagai karunia rohani. Karena itu, ia mengabarkan Injil air dan Roh bahkan kepada mereka yang sudah berada di dalam gereja, sama seperti kepada orang-orang dunia. Ia berkata bahwa ia berhutang baik kepada orang-orang terpelajar maupun orang yang tidak terpelajar, orang-orang Yunani dan juga orang-orang barbar.
Hutang apa yang dimiliki Paulus? Ia berhutang keharusan mengabarkan Injil air dan Roh Kudus kepada semua orang di dunia ini. Ia bertekad untuk membayar semua hutang miliknya kepada semua orang di dunia ini. Demikian juga, orang-orang yang memiliki Injil air dan Roh berhutang pemberitaan Injil. Hutang yang harus dibayar adalah pekerjaan pemberitaan Injil. Inilah alasan mengapa kita harus mengabarkan Injil air dan Roh kepada seluruh dunia saat ini juga.
Banyak orang yang salah mengira bahwa hanya darah dan Salib sudah cukup untuk keselamatan. Namun, Injil surgawi yaitu Alkitab mencakup kesaksian kepada Injil air dan Roh, yang disaksikan juga oleh Rasul Paulus. Karena itu, di dalam Roma pasal 6, Paulus mengatakan bahwa ia dibaptis ke dalam Kristus Yesus dan juga ke dalam kematianNya. Karena ada orang-orang Kristen nominal di dalam gereja Roma yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib, Paulus ingin memberikan kepada mereka rahasia yang tersembunyi mengenai baptisan yang diterima oleh Yesus. Demikian juga, kita harus mengabarkan Injil air dan Roh kepada orang-orang yang tidak bisa mendengarnya, meskipun mereka sudah begitu lama berada di dalam gereja.
Ketika orang-orang Kristen ditanya apakah mereka memiliki dosa atau tidak, mereka berpikir bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tidak ada gunanya dan tidak menghargai kepribadian mereka. Namun, pertanyaan ini pada kenyataannya adalah sebuah pertanyaan yang sangat penting dan sangat bernilai. Kalau memang manusia ditentukan untuk masuk neraka karena dosa-dosa mereka, siapakah yang bisa menanyakan pertanyaan seperti ini dan menyediakan jawabannya? Hanya seseorang yang tidak berdosa di dalam hatinya setelah dilahirkan kembali dari Injil air dan Roh bisa menanyakan pertanyaan seperti itu dan juga memberikan jawaban yang benar kepada orang lain. Hanya orang-orang kudus yang sudah dilahirkan kembali dengan membagikan Injil yang benar, yaitu Injil air dan Roh Kudus, yang tidak pernah didengar oleh orang-orang berdosa sebelumnya. 
Saudara-saudara, bahkan kalau seseorang percaya kepada Yesus, tetapi kalau belum dilahirkan kembali dari Injil air dan Roh, maka orang itu tidak akan masuk ataupun melihat Kerajaan Allah. Karena itu, bersyukurlah bahwa anda bertemu dengan orang-orang yang memungkinkan orang-orang berdosa untuk menerima pengampunan dosa dengan memberitakan Injil air dan Roh kepada anda. Saat itu anda akan menerima berkat yang sangat besar.


Injil yang atasnya Paulus tidak merasa malu

Di dalam ayat 16, seperti apakah Injil yang atasnya Rasul Paulus tidak merasa malu? Injil itu adalah Injil air dan Roh. Karena inilah Injil kuasa Allah untuk keselamatan semua manusia yang percaya. Paulus menyebutnya sebagai “Injil yang kuberitakan” (Roma 2:16, 16:25), dan ia merasa bangga dan menganggapnya hebat dan sama sekali tidak malu atasnya. Alasan mengapa ia tidak malu atas Injil air dan Roh adalah karena Injil ini membuat manusia sepenuhnya tidak berdosa dan menghancurkan tembok pemisah dosa yang memisahkan manusia dari Allah.
Apakah pembasuhan dosa mungkin terjadi kalau seseorang hanya percaya kepada Injil darah di kayu Salib? Nampaknya mungkin untuk membasuh dosa-dosa yang dilakukan sampai saat ini tetapi tidak mungkin untuk membasuh dosa-dosa masa yang akan datang. Karena itu, orang-orang dengan iman seperti ini akan berusaha membasuh dosa-dosa mereka dengan mengatakan doa-doa pertobatan setiap hari. Mereka mengakui bahwa hati mereka penuh dengan dosa-dosa dan bahwa mereka tidak bisa menyangkali keadaan sebagai orang berdosa. Orang-orang Kristen berdosa ini tidak bisa berbicara mengenai Injil dengan tulus kepada orang lain, karena ‘Injil’ yang mereka bawa bukanlah ‘kabar baik’ untuk orang-orang itu. 
Injil adalah ‘euaggelion’ dalam bahasa Yunani, dengan kata lain, Injil yang memiliki kemampuan untuk membuang segala dosa dunia ini. Satu-satunya Injil yang benar itu seperti dinamit. Injil yang benar inilah yang menghapuskan segala dosa dunia ini. Karena itu, seorang seperti Paulus, yang percaya kepada Injil air dan Roh yang memiliki kemampuan untuk menghapuskan dosa, tidak merasa malu atasnya. Saat ini, bahkan orang-orang Kristen nampaknya malu untuk mengabarkan Injil. Namun, mereka yang memiliki kebenaran Allah adalah orang-orang yang berdiri tegak dengan penuh kehormatan dan kemuliaan saat mereka mengabarkan Injil. 
Rasul Paulus sama sekali tidak merasa malu saat mengabarkan Injil. Itu adalah karena ia Injil yang dikabarkannya adalah Injil air dan Roh. Itu adalah karena Injil yang indah ini adalah kuasa Allah bagi keselamatan semua orang yang percaya.
Injil ini adalah Injil yang penuh kuasa yang memampukan semua orang yang percaya kepadanya mendapatkan pengampunan dosa, siapapun yang mewartakan Injil itu kepadanya. Dosa-dosa dunia sepenuhnya dibasuh kalau pendengarnya memasukkan Injil itu ke dalam hatinya. Namun, Injil yang hanya terdiri dari darah dan kayu Salib membawa keselamatan yang tidak sempurna kepada manusia, bisa dikatakan, Injil itu mengatakan bahwa hanya dosa asal yang dihapuskan dan pelanggaran-pelanggaran tambahannya harus dibasuh dengan doa-doa pertobatan setiap hari. Itu berarti meninggalkan dosa yang tersisa di dalam pendengarnya. 
Apakah Yesus hanya mengangkat sebagian dosa saja karena kuasaNya tidak cukup? Karena Yesus sangat mengenal manusia, Ia tidak meninggalkan sedikitpun dosa. Ia membawa serta semua dosa dengan air, darah dan Roh Kudus. Saya percaya bahwa Injil yang indah itu memberikan keselamatan yang sempurna dari dosa kepada semua orang yang mendengar dan percaya kepada Injil baptisan, darah dan Salib Yesus. 
Jadi, Injil memiliki kuasa yang sama bagi semua manusia termasuk orang-orang Yahudi dan Yunani. Injil air dan Roh memberikan keselamatan yang sama dari dosa kepada semua orang yang percaya kepada Yesus ketika Injil Ini diberitakan kepadaNya. Sebaliknya, ketika seseorang mewartakan Injil yang lain yang bukan Injil air dan Roh, ia akan menerima murka Allah. Karena itu Paulus berkata, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Galatia 1:8). Rasul Paulus dengan jelas mengatakan bahwa hanya ada satu Injil air dan Roh yang benar dari semua Injil yang lain.
Baik orang itu Yahudi atau bukan Yahudi, atau baik ia beragama Islam, Konghucu, Budha, Tao, menyembah dewa matahari atau apapun, setiap manusia mendapatkan kesempatan untuk mendengar Injil. Bahkan, Injil air dan Roh ini memberikan kepada mereka kesempatan untuk diselamatkan dari segala dosa mereka. Jadi, kita harus memberitakan bahwa Yesus Kristus itu Allah, bahwa Ia menciptakan alam semesta, bahwa Ia datang ke dunia ini dalam rupa manusia untuk menyelamatkan kita, bahwa Ia menanggung segala dosa kita dengan dibaptiskan oleh Yohanes, dan bahwa Ia menerima hukuman bagi dosa-dosa kita dengan mati di kayu Salib.
Karena itu, Rasul Paulus tidak merasa malu atas Injil air dan Roh itu. Meskipun Injil yang hanya mengenai Salib pastilah Injil yang membuat malu, Injil air dan Roh sama sekali bukan Injil yang memalukan; tetapi Injil yang benar dan berkuasa yang melimpahkan kebanggaan dan kehormatan. Semua orang yang percaya kepada Injil ini menerima kepenuhan Roh Kudus dengan iman kepada kenyataan bahwa ia sudah menjadi anak-anak Allah. Sekali lagi saya mengatakan bahwa Injil air dan Roh yang indah itu tidak akan pernah menjadi Injil yang memalukan. Namun, Injil yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib akan menjadi Injil yang memalukan. 
Orang-orang Kristen, apakah anda malu ketika anda mengabarkan Injil yang hanya terdiri atas darah di kayu Salib? Anda merasa malu ketika anda mengabarkan dan percaya akan Injil yang hanya mencakup darah serta tidak mengandung baptisan Yesus. Karena anda merasa malu untuk mengabarkan Injil yang tidak berguna seperti itu, anda harus selalu berseru kepada Tuhan dan menaikkan doa-doa fanatik dengan bahasa asing dan memenuhi perasaan anda sebelum anda keluar ke jalan dan berseru, “Percaya kepada Yesus. Percaya kepada Yesus!” 
Hal ini adalah sesuatu yang bisa dilakukan kalau orang itu meluap perasaannya tetapi yang tidak akan bisa dilakukan oleh orang-orang yang pikirannya normal. Inilah sebabnya mengapa orang-orang yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib berseru dengan keras dan menyebabkan adanya gangguan setiap kali mereka ada di jalanan untuk penginjilan. Dengan menggunakan megaphone dekat dengan bibirnya, mereka hanya menyerukan kata-kata, “Yesus membawa ke surga, tidak percaya membawa ke neraka.” Namun, seorang yang percaya kepada Injil air dan Roh mengabarkan Injil dengan cara yang sopan; dan sambil membuka Alkitabnya, ia meminum teh dan bercakap-cakap satu dengan yang lain.


Apa yang dikatakan mengenai Injil kebenaran Allah?

Di dalam ayat 17, apa yang dikatakan sebagai dinyatakan di dalam Injil Kristus? Dikatakan bahwa “Kebenaran Allah” dinyatakan di dalam Injil Allah. Kebenaran Allah dinyatakan sepenuhnya di dalam Injil yang sejati. Karena itu, dikatakan bahwa kebenaran Allah dinyatakan di dalamnya dengan dari iman kepada iman dan bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Injil yang hanya memberikan darah Kristus tidak mengandung kebenaran Allah.
Saudara-saudara, kalau dikatakan bahwa seseorang harus menaikkan doa pertobatan setiap hari untuk dosa-dosanya meskipun dosa asalnya sudah diampuni, dan bahwa seseorang bisa secara bertahap menjadi orang yang sempurna kebenarannya, apakah iman yang semacam ini mengandung kebenaran Allah? Ini bukanlah pernyataan kebenaran Allah. Injil yang menyatakan kebenaran Allah senantiasa berbicara mengenai hal-hal yang sempurna. Injil air dan Roh Kudus berbicara mengenai Injil yang sempurna dari awal sampai akhirnya.
Anda menaikkan doa-doa pertobatan setiap hari karena anda melakukan dosa setiap hari adalah seperti anda memakai daun pohon ara untuk menurupi sisi yang memalukan dari kehidupan anda setiap hari, atau mungkin setiap minggu, atau mungkin setiap bulan. Seseorang yang berulang kali menjadi orang berdosa dan menaikkan doa-doa pertobatan adalah seperti menutupi tubuhnya yang memalukan dengan sejelai daun ara. Inilah keadaan rohani dari orang-orang yang percaya kepada Injil yang hanya mencakup darah di kayu Salib. Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak mau memakai kulit penutup yang sudah diberikan secara cuma-cuma oleh Allah, tetapi justru senang memakai penutup dari daun pohon ara.
Darah di kayu Salib adalah hasil dari baptisan Yesus, dan bukan karena darah di kayu Salib yang membuat Yesus bisa mengangkat segala dosa kita. Ia menanggung segala dosa kita saat Ia dibaptiskan, kemudian Ia naik ke kayu Salib dengan menanggung segala dosa dunia, dan mati untuk memperdamaikan dosa-dosa dunia. Karena itu, kayu Salib menjadi hasil dari baptisan yang diterimaNya. Karena Yesus telah menanggung segala dosa kita melalui baptisanNya, curahan darahNya menjadi tindakan terakhir untuk memperdamaikan segala dosa kita. Yesus menerima semua kutuk dosa di kayu Salib karena Ia sudah dibaptiskan.
Lalu bagaimana kita bisa memperoleh kebenaran Allah? Kita bisa mendapatkannya dengan mengenal dan percaya kepada Injil air dan Roh. Anda akan bertanya, “Apakah anda juga percaya kepada Injil air dan Roh?” Lalu saya bisa dengan langsung dan jelas menjawab ‘Ya’ atas pertanyaan itu. Rahasia dari mendapatkan kebenaran Allah adalah percaya kepada Injil air dan Roh. 
Alasan untuk hal itu adalah karena Injil air dan Roh adalah kebenaran dan karena Injil itu menyatakan kasih dan kebenaran Allah. Juga karena Injil air dan Roh mengandung pengampunan dosa yang diberikan Allah kepada manusia secara cuma-cuma, cara untuk menjadi anak-anakNya, berkat kehidupan kekal dengan mana seseorang bisa menerima Roh Kudus, dan berkat fisik serta rohani selama ada di dunia ini.
Rasul Paulus mengatakan bahwa kebenaran Allah secara penuh dinyatakan di dalam Injil air dan Roh yang ia wartakan. Karena itu mengangkat kebenaran manusia tanpa mengetahui kebenaran Allah adalah semacam dosa di hadapan Allah. Selanjutnya, Injil yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib, tetapi tidak mengandung kebenaran Allah, adalah palsu.
Kebenaran Allah menunjuk kepada Injil air dan Roh yang diberikanNya. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru saling melengkapi dalam menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Perjanjian Lama mempersiapkan jalan untuk Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru menggenapi janji-janji yang ada di dalam Perjanjian Lama. Allah menyelamatkan kita dari dosa-dosa dunia dengan memberikan kepada kita Injil yang sejati yang menyatakan kebenaranNya secara lengkap. Demikianlah Ia menyelamatkan manusia dari dosa.
Sekarang ini, seluruh dunia seharusnya kembali kepada Injil air dan Roh. Satu-satunya Injil yang menyelamatkan manusia dari dosa adalah Injil yang asli yaitu Injil air dan Roh. Saudara-saudara seluruh dunia harus kembali kepada Injil air dan darah. Mereka harus kembali kepada Injil air dan Roh ini, yang mengandung kebenaran Allah. 
Alasannya adalah karena Injil air dan Roh adalah satu-satunya kebenaran yang bisa menyelamatkan kita dari dosa. Hanya Injil yang mengandung kebenaran Allah yang bisa menyelamatkan kita, membuat kita tidak berdosa dan menjadikan kita anak-anak Allah. Selanjutnya, Roh Kudus yang ada di dalam hati kita melindungi umat Allah dan berdoa untuk kita, memberkati kita, dan selalu berdiam di dalam kita serta memberikan kepada kita kehidupan kekal sebagai karunia.
Sangat menyedihkan bahwa ada begitu banyak orang yang tidak mau peduli kepada Injil ini. Saya harap bahwa semua orang akan percaya kepada Injil air dan Roh Kudus ini dengan memiliki pemahaman yang jelas akan baptisan Yesus. Baptisan yang diterima Yesus dari Yohanes bukanlah sesuatu yang Ia terima karena Ia rendah hati. Alasan Ia dibaptiskan adalah untuk menanggung dosa dunia ini. Yohanes, yang adalah manusia terbesar yang pernah dilahirkan, menumpangkan tangan di atas kepala Yesus ketika ia membaptiskanNya. Hal itu menjadi paralel dengan penempatan tangan Imam Besar di kepala korban yang tanpa cacat di dalam Perjanjian Lama (Imamat 16:21). Kematian Yesus di kayu Salib menjadi akibat dari ditanggungkannya dosa-dosa ke atas diriNya, dan hal itu paralel dengan korban penghapus dosa yang mencurahkan darah dan mati setelah melewati penumpangan tangan. 
Karena Injil air dan Roh Kudus ini sudah disebutkan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, semua orang yang percaya kepada Injil yang lain dan mengabaikan Injil yang sejati berada dalam iman yang salah. Hal yang terpenting dan yang pertama kali dilakukan Yesus ketika Ia datang ke dunia ini adalah dibaptiskan oleh Yohanes. Salah sekali untuk mengira bahwa baptisan Yesus hanyalah karena kerendahan hatinya.
Orang yang bagaimanakah yang digolongkan sebagai sesat? Dalam Titus 3:10 tertulis demikian, “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri.” Seorang bidat adalah seseorang yang menghukum dirinya sendiri. Orang yang menghukum dirinya sendiri berarti orang yang mengakui bahwa dirinya memiliki dosa. Karena itu, seorang Kristen yang mengatakan, “Aku seorang berdosa” adalah seorang bidat, yaitu orang sesat. Ada tertulis demikian, “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.” 
Karena orang Kristen semacam ini adalah orang yang sesat, seorang kudus seharusnya tidak berada dekat-dekat dengan orang-orang yang sesat demikian. Orang yang demikian adalah orang yang menghukum dirinya sendiri karena iman dan agamanya yang menuju ke arah kesesatan. Seseorang yang melakukan dosa yang tidak bisa diampuni di hadapan Allah adalah orang-orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak lagi berdosa dengan percaya kepada Injil air dan Roh, tetapi yang justru terus menerus berdosa menolak keselamatan mutlakNya di hadapan Allah sementara pada saat yang sama mengatakan bahwa dirinya berdosa. Seseorang yang menghukum dirinya sendiri saat berpikir bahwa ia percaya kepada Yesus, ia memiliki dosa dan karena itu menyebut dirinya sebagai orang berdosa, adalah seorang bidat yang sedang menuju ke neraka.
Beberapa orang Kristen menempelkan stiker di belakang mobilnya dengan tulisan, ‘Itu salahku.’ Itu nampaknya seperti pernyataan yang sopan dan hangat kalau dipandang dari kacamata manusia, tetapi sebenarnya, itu berarti bahwa karena semua itu adalah kesalahan saya, yang akan dibawa ke neraka, menjadi manusia pemecah-belah, dan mendapatkan kutukan karena kesalahannya itu. ‘Itu salahku’ adalah sebuah pepatah paradoksial yang mengatakan adanya orang-orang yang ingin hidup benar. Namun, mengatakan bahwa orang-orang yang setuju dengan slogan itu, yang berpikir bahwa mereka bisa hidup secara benar, mereka sedang secara langsung menentang firman Allah yang menjelaskan bahwa manusia adalah benih ketidakbenaran. Orang-orang yang mengejar pemikiran manusia seperti itu pada akhirnya akan menerima segala macam kutukan. 
Apakah ada di antara anda yang kebetulan sedang menghukum diri anda sendiri? Kalau ya, anda perlu mendengar sekali lagi khotbah saya dalam Roma pasal 3 yang mengatakan bahwa pengampunan dosa tidak ada sangkut pautnya dengan Doktrin Pembenaran. Rasul Paulus tahu sejak semula mengenai ini dengan sangat terperinci. Paulus mengatakan bahwa suatu saat akan ada orang-orang yang mengatakan bahwa menjadi orang yang sungguh-sungguh tidak berdosa adalah sungguh-sungguh tanpa dosa dan bukan sekedar menyebut orang berdosa sebagai orang benar. Dia juga dengan jelas memberi kesaksian bahwa Injil yang benar adalah Injil air dan Roh. Karena itu, sangat wajar bahwa orang-orang yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib adalah orang-orang yang bodoh dan tidak tahu saat membaca surat Roma.
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma adalah bagian yang sangat penting karena menyaksikan juga mengenai Injil air dan Roh. Seseorang hanya bisa menjadi benar setelah percaya kepada Yesus meskipun dia pada dasarnya adalah orang berdosa sebelum ia percaya. Seseorang harus sungguh-sungguh menjadi orang benar yang tidak memiliki dosa di dalam hatinya. Demikianlah cara seseorang bisa memiliki iman yang benar. 
Saya harap bahwa meskipun sekarang ini iman orang-orang belum sempurna, iman mereka pada akhirnya akan mencapai kesempurnaan saat mereka mau mendengarkan firman air dan Roh melalui gereja yang sudah dilahirkan kembali. Mari belajar secara lebih banyak mengenai khotbah-khotbah ini dan meyakinkan diri akan firman kebenaran.
Saya yakin bahwa Allah akan menganugerahkan kepada anda kekayaan berkat-berkat surgawi.