တရားဟောချက်များ

Pokok 9: Kitab Roma (Komentari dalam Surat Roma)

[Pasal 2-3] Sunat adalah Sunat di dalam Hati (Roma 2:17-29)

(Roma 2:17-29)
“Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: “Jangan mencuri,” mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan berzinah,” mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.”


Kita harus disunat di dalam hati 


“Sunat ialah sunat di dalam hati.” Kita diselamatkan ketika kita percaya di dalam hati. Kita harus diselamatkan di dalam hati. Allah berkata, “sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah; Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” (Roma 2:29). Kita harus memiliki pengampunan dosa didalam hati kita. Kalau kita tidak memiliki pengampunan dosa di dalam hati kita, maka hal itu tidak sah. Manusia memiliki “bagian rohani dan bagian lahiriah,” dan setiap orang harus menerima pengampunan dosa di dalam bagian rohaninya.
Rasul Paulus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Sunat ialah sunat di dalam hati.” Lalu bagian mana yang disunatkan oleh orang-orang Yahudi? Orang-orang Yahudi menyunatkan sebagian dari daging. Namun, Rasul Paulus mengatakan, “Sunat ialah sunat di dalam hati.” Orang-orang Yahudi disunat bagian lahiriahnya tetapi Rasul Paulus mengatakan bahwa sunat adalah sunat di dalam hati. Allah berkata di dalam hati kita ketika kita menjadi anak-anakNya.
Paulus tidak berbicara mengenai sunat lahiriah, tetapi sunat dan pengampunan dosa adalah di dalam hati. Karena itu ketika ia berkata, “Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia?” (Roma 3:3). Artinya, “Kalau ada orang-orang yang tidak mau percaya di dalam hatinya.” Ia tidak sedang berbicara mengenai percaya secara lahiriah, tetapi yang dikatakannya adalah “Percaya di dalam hati.” Kita harus tahu bahwa yang dimaksud oleh Rasul Paulus dan apa artinya pengampunan dosa. Kita juga harus belajar bagaimana caranya untuk menerima pengampunan dosa di dalam hati kita melalui firman Allah.
“Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia?” artinya, “Jadi bagaimana kalau orang-orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka, meskipun mereka secara daging adalah keturunan Abraham?” Apakah ketidakpercayaan mereka membatalkan kesetiaan Allah? Apakah kenyataan bahwa Allah menghapus dosa termasuk dosa-dosa keturunan Abraham kemudian dibatalkan? Tidak akan. Paulus mengatakan bahwa bahkan orang-orang Yahudi, yang adalah keturunan Abraham secara daging, bisa diselamatkan ketika mereka percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat, Anak Allah, yang menanggung segala dosa dunia melalui baptisan dan penyalibanNya. Ia juga berkata bahwa keselamatan dan anugerah melalui Yesus Kristus tidak akan pernah dibatalkan.
Roma 3:3-4 mengatakan, “Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi.” Tuhan berjanji dengan firmanNya dan menguduskan orang percaya dengan menggenapi janjiNya sendiri. Allah ingin menunjukkan kebenaranNya dan untuk membenarkan mereka yang memiliki iman kepada Yesus dengan firmanNya dengan menggenapi apa yang dijanjikanNya ketika Ia dihakimi. Bahkan kita, yang menerima pengampunan dosa di dalam hati kita, juga ingin dihakimi dengan firmanNya dan ingin menang melalui firmanNya ketika kita dihakimi. 


Rasul Paulus berkata mengenai manusia lahiriah dan manusia batiniah

Paulus berbicara mengenai “manusia lahiriah dan manusia batiniah.” Kita juga memiliki manusia lahiriah dan manusia batiniah, yaitu daging dan roh kita. Kita sama dengan dia. Sekarang Paulus menyinggung mengenai hal ini.
Roma 3:5 mengatakan, “Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan?” Paulus tidak bermaksud menjelaskan bahwa manusia lahiriahnya bersih. Dagingnya kotor dan terus melakukan dosa sampai ia mati. Ini termasuk juga semua manusia yang ada di dunia ini. Namun, kalau Allah menyelamatkan orang-orang itu, tidakkah itu menunjukkan kebenaranNya? Tidakkah Allah benar kalau Ia menyelamatkan semua manusia, meskipun manusia lahiriah mereka tidak teguh? Karena itu Paulus mengatakan, “Tidak adilkah Allah -- aku berkata sebagai manusia -- jika Ia menampakkan murka-Nya? Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia” (Roma 3:5, 6). Paulus menjelaskan bahwa kita tidak diselamatkan hanya karena manusia lahiriah kita bersih. 
Kita memiliki keberadaan lahiriah dan rohani. Paulus menyebut mengenai hati kita ketika ia berkata, “Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sunat adalah sunat di dalam hati.” Bukan iman yang benar yang menjadikan kita suci seketika dan kemudian keesokan harinya menjadi orang berdosa dan mendasari iman kita degan dasar hal-hal lahiriah yang melakukan dosa dan memiliki kelemahan.


Manusia lahiriah selalu melakukan dosa sampai mati


Rasul Paulus tidak menempatkan pengharapannya kepada hal-hal lahiriah. Mereka yang dosa-dosanya sudah dihapuskan juga memiliki manusia lahiriah dan rohani. Mereka tidak bisa tidak merasa kecewa. Mari kita melihat bagian lahiriah kita. Kadangkala kita baik, tetapi kadangkala kita sangat jahat. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa manusia lahiriah kita sudah disalibkan bersama dengan Yesus Kristus. Manusia lahiriah kita sudah mati, dan Yesus Kristus mengampuni dosa-dosa bagian lahiriah kita.
Kita yang diselamatkan sering merasa kecewa dengan diri kita kalau kita melihat manusia lahiriah kita. Kita merasa bisa mengharap banyak kalau bagian lahiriah kita melakukan yang baik, tetapi menjadi sangat kecewa kalau bagian lahiriah kita tidak sesuai dengan apa yang kita tentukan. Kita cenderung untuk berpikir bahwa iman kita sudah hancur ketika kita kecewa dengan bagian lahiriah kita. Namun hal itu tidak benar. Manusia lahiriah kita sudah disalibkan bersama dengan Kristus. Mereka yang sudah menerima pengampunan dosa juga terus melakukan dosa dengan tubuh jasmani mereka. Jadi apakah itu bukan dosa? Ya, itu dosa, tetapi dosa yang sudah mati. Mati karena dosa-dosa sudah dibawa ke kayu Salib dengan Tuhan. Dosa yang dilakukan manusia lahiriah bukanlah hal yang serius, tetapi akan menjadi masalah yang serius kalau hati kita tidak benar di hadapan Tuhan.


Kita harus percaya kepada Allah dengan hati kita 

Banyak kelemahan yang dinyatakan kepada orang benar setelah mereka menerima pengampunan dosa. Karena itu, keselamatan Allah akan menjadi tidak sempurna kalau dasar keselamatan kita adalah kepada bagian lahiriah kita yang tidak bisa tidak melakukan dosa setiap saat. Iman kita akan menyimpang dari iman kepada Allah, yang dimiliki Abraham, kalau kita meletakkan iman kita atas dasar perbuatan manusia lahiriah kita.
Rasul Paulus mengatakan, “Sunat ialah sunat di dalam hati.” Kita menjadi kudus dan benar dengan percaya di dalam hati, bukan menurut perbuatan manusia lahiriah kita. Pengudusan tidak tergantung kepada apakah manusia lahiriah kita melakukan seperti yang dikatakan Allah atau tidak. Apakah anda mengerti hal ini? Masalahnya adalah karena kita memiliki manusia lahiriah dan manusia batiniah dan keduanya bersama-sama. Karena itu, kita kadangkala cenderung memberikan penekanan yang lebih besar kepada manusia lahiriah kita. Kita menjadi percaya diri kalau manusia lahiriah kita melakukan kebaikan, tetapi kecewa kalau tidak demikian. Paulus mengatakan bahwa ini bukan iman yang benar.
“Sunat ialah sunat di dalam hati.” Apakah kebenaran yang sesungguhnya? Bagaimana kita bisa tahu dan percaya dengan hati kita? Dalam Matius 16, Yesus bertanya kepada Petrus, “Menurutmu, siapakah Aku?” Lalu Petrus mengakui dengan imannya dan berkata, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.” Petrus percaya seperti itu dengan hatinya. Yesus mengatakan, “Diberkatilah engkau, Simon bin Yunus, karena bukan daging dan darah yang menyatakannya kepadamu, tetapi BapaKu yang ada di surga.” Yesus mengatakan bahwa iman Petrus itu benar.
Abraham tidak memiliki anak. Allah memimpin dia dengan firmanNya dan berjanji bahwa Ia akan memberikan seorang anak kepadanya dan bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Ia juga mengatakan bahwa Allah akan menjadi Allah bagi dia dan seluruh keturunannya. Allah memerintahkan agar Abraham, keluarganya dan keturunannya disunat sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham. “Luka pengeratan sebagian dari daging adalah perjanjian bahwa Aku adalah Allah bagimu,” kata Allah. Abraham percaya kepada perjanjian itu di dalam hatinya. Ia percaya bahwa Allah akan menjadi Allah bagi dia dan akan memberkati hatinya. Ia juga percaya bahwa Allah akan menjadi Allah bagi keturunannya juga. Ia percaya kepada Allah sendiri.


Kita dijadikan orang benar dengan percaya kepada Injil air dan Roh di dalam hati

Kita dijadikan orang benar dengan percaya di dalam hati bahwa Allah adalah Allah kita, Juruselamat kita. Kita diselamatkan dengan percaya di dalam hati. Kita tidak diselamatkan dengan sesuatu yang lain. Kita menjadi orang benar dengan percaya di dalam hati bahwa Allah adalah Allah kita dan bahwa Ia menghapus dosa kita dengan baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib. Percaya dengan sepenuh hati kita akan menyelamatkan kita. Karena itu Alkitab berkata, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10).
Kita harus jelas pada saat ini bahwa kita dijadikan orang benar dengan percaya di dalam hati kita, dan tidak dengan perbuatan baik kedagingan kita. Kita tidak akan pernah menjadi orang benar kalau Yesus menambahkan persyaratan manusia lahiriah kita, dengan mengatakan, “Aku akan menghapus dosa-dosamu, tetapi dengan satu syarat. Engkau bisa menjadi anakKu kalau engkau bisa menghindarkan diri dari dosa. Engkau tidak akan bisa menjadi anakKu kalau engkau gagal menghindar.” 
Kita dijadikan orang benar dengan percaya di dalam hati. Bisakah kita menjadi orang benar kalau Allah menambahkan persyaratan untuk manusia lahiriah kita? Apakah anda percaya bahwa Tuhan menyelamatkan anda dengan menanggung dosa anda melalui baptisanNya di sungai Yordan, disalibkan dan menanggung hukuman menggantikan anda? Bagaimana anda mempercayai hal ini? Tidakkah anda percaya di dalam hati anda? Bisakah anda diselamatkan secara sempurna kalau Allah mengatakan, “Aku akan mengampuni kesalahan-kesalahan kecilmu tetapi tidak mengampuni yang besar-besar. Aku akan menganggap keselamatanmu tidak sah kalau engkau tidak bisa menepati hal ini.”


Kita harus memisahkan manusia lahiriah dengan manusia batiniah kita


Daging kita, manusia lahiriah, selalu lemah dan tidak bisa mencapai sendiri kebenaran Allah. Kita menjadi orang benar dengan percaya didalam hati kita di hadirat Allah karena Ia sudah berjanji untuk menyelamatkan mereka yang percaya di dalam hati mereka. Dengan melihat iman dimana kita mengakui apa yang dilakukan Allah dan Yesus menanggung dosa dan menghapus segala dosa dari hati kita, Allah menjadikan kita anak-anakNya yang benar. Inilah perjanjian Allah, dan Ia menyelamatkan kita dengan menggenapi janjiNya.
Allah mengatakan bahwa ketika Ia melihat iman di dalam hati kita, kita menjadi umatNya. Kita harus memisahkan manusia lahiriah dengan manusia batiniah kita. Tidak ada seorangpun di dunia yang akan menerima pengampunan dosa kalau kita mendasari keselamatan kita dengan manusia lahiriah. “Sunat ialah sunat di dalam hati.” Kita diselamatkan dengan percaya kepada Yesus Kristus di dalam hati kita. Apakah anda mengerti hal ini? “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10). Rasul Paulus dengan jelas memisahkan antara manusia lahiriah dengan manusia batiniah kita.
Manusia lahiriah kita lebih kotor daripada kotoran anjing. Tidak ada gunanya sama sekali. Kita tidak perlu memakai Abraham sebagai contoh. Perhatikan diri anda sendiri. Lihat daging anda yang tidak ada gunanya. Kedagingan menempuh kejahatan untuk mendapatkan posisi sosial yang tinggi dan untuk hidup berpengaruh. Tidakkah kedagingan hanya senantiasa mencari kepentingannya sendiri? Daging akan dihukum lebih dari dua puluh kali sehari kalau hukuman itu didasarkan kepada pikiran dan tindakannya. Kedagingan manusia melawan Allah.
Syukurnya, Allah tidak memperhatikan manusia lahiriah kita, tetapi Ia memperhatikan manusia batiniah kita. Ia menyelamatkan kita ketika Ia melihat kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dengan segenap hati kita. Ia mengatakan bahwa Ia menyelamatkan kita dari segala dosa kita.


Kita tidak akan pernah bisa diselamatkan dengan pemikiran kita sendiri

Mari kita menyelidiki pemikiran kita sendiri. Kita berpikir kita hanya percaya dengan pemikiran kita sendiri. Kita bisa percaya dengan pemikiran kedagingan kita, yang berpikir, ‘Aku selamat karena Allah menyelamatkan aku.’ Namun, kita tidak bisa diselamatkan melalui pemikiran kita sendiri. Pikiran duniawi senantiasa berubah dari waktu ke waktu dan selalu melakukan kejahatan. Apakah ini benar? Pemikiran dari pikiran duniawi mau melakukan ini dan itu sesuai dengan hawa nafsunya. 
Mari kita andaikan kalau seseorang meletakkan dasar imannya kepada pemikirannya sendiri. Ia bisa memiliki keyakinan kepada keselamatannya ketika keadaan pemikirannya sekarang cocok dengan pemikirannya sebelumnya, yaitu, ‘Yesus menghapus semua dosa di sungai Yordan.’ Namun, karena pemikiran kedagingan sangat tidak stabil, ia tidak bisa selalu memiliki keyakinan akan keselamatannya, kalau sedikit saja keraguan merasuki pemikirannya yang lemah tentang keselamatan. Iman yang dibangun dengan cara yang salah akan runtuh kalau ada serangan keraguan. 
Kita tidak bisa sungguh-sungguh percaya kepadaNya dan kepada kebenaran kalau kita meletakkan dasar iman kita kepada pemikiran kita sendiri. Iman yang seperti itu adalah seperti iman sebuah rumah yang didirikan di atas pasir, “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius 7:27).
Karena itu, iman seseorang yang hanya percaya kepada pemikirannya sendiri jauh sekali dari iman yang didasarkan kepada firman Allah. Allah mengatakan, “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firmanMu, dan menang, jika Engkau dihakimi” (Roma 3:4). Keselamatan kita haruslah didasarkan kepada firmanNya. Firman menjadi daging dan berdiam di antara kita, dan Firman itu adalah Allah. Firman itu datang ke dalam dunia dalam rupa manusia. Yesus menyelamatkan kita dan diangkat setelah 33 tahun kehidupanNya di bumi dan menuntun para RasulNya menuliskan firman perjanjian, yang adalah penggenapan dari Perjanjian Lama yang juga Ia perintahkan untuk ditulis oleh para hambaNya yang terdahulu. Allah menuliskan apa yang dikatakan dan dilakukanNya di dalam Alkitab. Allah muncul di dalam dan dengan Firman, berbicara dengan Firman dan menyelamatkan kita dengan Firman. 

Kita tidak bisa memiliki pengampunan dosa yang sempurna dengan pemikiran kita sendiri, saat tidak percaya kepada firman Allah, dan berpikir, ‘Kadangkala nampaknya saya diselamatkan, tetapi kadangkala saya tidak bisa percaya kepada keselamatan dari Tuhan.’ Kita tidak bisa diselamatkan karena pemikiran kita karena pemikiran kita senantiasa berubah dan tidak selalu benar. 
Karena itu, Rasul Paulus mengatakan bahwa sunat adalah sunat di dalam hati dan kita mempercayai kebenaranNya dengan hati kita. Ketika hati kita percaya kepada firmanNya, hati kita kemudian akan menyaksikan bahwa Allah sudah menjanjikan hal ini di dalam Perjanjian Lama dan menggenapi perjanjianNya. Ia menyelamatkan kita seperti ini di dalam Perjanjian Baru dengan firmanNya. Kita diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah dengan percaya kepada firmanNya di dalam hati.


Kita diselamatkan dari dosa dengan percaya kepada Injil air dan Roh di dalam hati

Kita diselamatkan dengan iman karena hati bisa mengakui Allah, tetapi pemikiran keduniawian mungkin tidak mengakuiNya. Kita menjadi anak-anak Allah dengan percaya di dalam hati, bukan dengan perbuatan atau pemikiran manusia lahiriah kita. Jelas sekali bahwa kita bisa menjadi anak-anak Allah dengan percaya kepada firmanNya di dalam hati kita. Apakah anda percaya di dalam hati anda? Apakah anda sudah sunat di dalam hati? Apakah anda percaya di dalam hati bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat anda? Apakah anda percaya kepada Anak Allah dan memiliki kesaksian itu sendiri? Apakah anda memiliki kesaksian firman bahwa Yesus secara sempurna menyelamatkan anda, bukan kesaksian atas pengalaman sendiri belaka? Apakah anda memiliki firman Allah di dalam hati anda? Apakah anda memiliki firman yang memberikan kepada anda pengampunan dosa? Memiliki iman yang sejati berarti diselamatkan dengan iman.
Kita menerima pengampunan dosa dengan percaya kepada firman Allah di dalam hati kita. Namun, kita sering merasa kecewa kalau kita memandang kepada kelemahan manusia lahiriah kita. Dan kemudian kita cenderung mundur dari iman kita kepada Allah. Seseorang yang tidak sungguh-sungguh memahami kebenaran berada di bawah ilusi. Kebanyakan orang Kristen mendasarkan iman mereka kepada perbuatan mereka sendiri. Itu kesalahan besar. Kita tidak boleh mengukur iman kita dengan pemikiran kita. Kita tidak boleh meletakkan dasar iman kita kepada kedagingan, karena kedagingan kita tidak ada artinya. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengatakan bahwa seseorang menjadi orang berdosa ketika ia percaya kepada firman Allah dengan hatinya. Kita tidak bisa diselamatkan dengan perbuatan kedagingan. Baik kita melakukan dosa atau berbuat baik, tidak ada hubungannya dengan Allah dan kemuliaanNya. 
Karena itu, iman sejati berarti diselamatkan dengan percaya kepada keselamatan firman Allah dengan hati kita. Iman kita salah kalau hati kita salah dan iman kita benar kalau hati kita benar. Kebiasaan yang benar datang dari iman yang benar. Kebiasaan yang salah mungkin terjadi karena hati memang lemah. Tetapi yang penting adalah bahwa Allah melihat hati. Allah melihat ke dalam hati dan menyelidikinya. Allah melihat apakah hati kita benar atau tidak. Allah melihat apa kita percaya di dalam hati atau tidak. Apakah anda mengerti? Apakah anda tahu bahwa Allah melihat ke dalam hati kita? Allah melihat apakah kita percaya kepada Yesus Kristus di dalam hati atau tidak. Apakah anda percaya di dalam hati anda? 
Allah melihat apakah kita percaya di dalam hati atau tidak. Ia melihat ke dalam hati kita. Kita harus memeriksa hati kita di hadapan Allah. Sunat adalah sunat di dalam hati. Apakah anda percaya di dalam hati? Allah memandang ke dalam hati. Ia melihat apakah kita sungguh-sungguh percaya di dalam hati atau tidak. Ia melihat apakah kita sungguh-sungguh mengenal kebenaran atau tidak dan apakah kita mau mengejar kebenaran itu atau tidak. Ia melihat apakah kita memiliki iman di dalam hati kita atau tidak, dan apakah kita mau taat kepadaNya dan percaya kepada firmanNya.


Ada kelompok keagamaan yang menekankan pentingnya tanggal yang tepat dari saat dilahirkan kembali 

Sangat penting untuk mengerti dengan pasti mengenai apa yang dilakukan Yesus Kristus dan percaya dengan sepenuh hati. Ada kelompok keagamaan yang mengatakan bahwa saudara-saudara yang ada di dalam gereja kita belum diselamatkan. Saya sangat kasihan dengan jiwa-jiwa yang ada di dalam kelompok keagamaan itu. Saya ingin agar mereka bisa mengerti maksud saya dan mengajarkan kepada mereka Injil air dan Roh. Apakah dosa-dosa anda sudah dihapuskan? –Amin.– Apakah anda percaya dengan sepenuh hati? 
Tetapi ada orang-orang yang mengatakan bahwa iman kita tidak benar. Mereka mengatakan bahwa kita tidak boleh percaya kepada sabda sebagaimana yang tertulis dan percaya hanya kepada apa yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Mereka mengatakan bahwa itulah keselamatan yang sempurna dan iman yang sejati. Mereka mengatakan bahwa orang yang dilahirkan kembali harus mengetahui secara pasti kapan mereka dilahirkan kembali (jam, tanggal, bulan). Ketika saudara Hwang bertemu dengan salah seorang dari mereka, orang itu bertanya kepada saudara Hwang kapankah ia dilahirkan kembali, karena itu saudara Hwang menjawab bahwa ia tidak ingat kapan tepatnya tanggal dan jamnya, tetapi ia yakin sudah dilahirkan kembali dengan percaya kepada Injil air dan Roh, sekitar tahun yang lalu. Orang itu kemudian mengatakan bahwa saudara Hwang belum dilahirkan kembali. 
Tentu saja, kita bisa mengatakan jam, tanggal, bulan, dan tahun yang tepat kalau kita melacak kembali kepada saat ketika kita dilahirkan kembali. Kita bisa mengatakan apakah itu siang atau malam; pagi atau sore, waktu makan siang atau waktu makan malam. Namun, keselamatan tergantung kepada kepercayaan di dalam hati. Tidak masalah kalau anda ingat atau tidak ingat saat yang tepat akan hal itu.


Sunat adalah sunat di dalam hati 

Tuhan mengambil semua dosa ke atas diriNya di sungai Yordan dan disalibkan menggantikan kita menanggung hukuman bagi segala dosa kita. Ia tertikam karena pemberontakan kita dan diremukkan karena kejahatan kita. Ia menanggung segala dosa-dosa kita dari manusia lahiriah dan manusia batiniah kita. Semangat kita bangkit kembali dari kematian dan sekarang kita bisa mengikuti Tuhan sebagaimana yang dikehendakiNya, meskipun ada orang-orang yang terus mengatakan bahwa kita belum diselamatkan.
Apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia lahiriah? Kejahatan demi kejahatan nampak dinyatakan setelah kita menerima pengampunan dosa. Semua kejahatan kita belum dinyatakan; akan ada lebih banyak lagi kelemahan yang dinyatakan. Namun, kita diselamatkan kalau kita percaya di dalam hati kita bahwa Allah adalah Allah kita dan bahwa Yesus menghapus dosa kita di sungai Yordan melalui baptisan dan disalibkan.
Kita tidak bisa dibandingkan dengan orang-orang yang menekankan pentingnya tanggal kita dilahirkan kembali dan percaya hanya kepada apa yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Jelasnya, mereka belum diselamatkan. Kita percaya dengan segenap hati kita untuk menjadi orang benar. Apakah anda percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita? –Amin.– Iman dimulai dari titik itu dan Tuhan menuntun hati kita sejak saat itu. Ia memberkati hati kita dan menghendaki agar kita mengikuti Dia dengan hati kita melalui iman. Allah memimpin kita dan memberkati kita ketika kita berjalan dengan Dia melalui iman di dalam hati kita.
“Sunat ialah sunat di dalam hati.” Kita diselamatkan dengan percaya dengan hati kita. Banyak orang di dunia yang mengatakan bahwa percaya kepada Injil dengan sepenuh hati menyelamatkan mereka. Namun, mereka sebenarnya menambahkan perbuatan baik kepada iman mereka. Mereka menganggap perbuatan manusia lahiriah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman mereka. Mereka berkata bahwa memiliki iman kepada Injil air dan Roh tidak bisa membawa mereka kepada keselamatan karena mereka mencampurkan kepercayaan dengan sepenuh hati dengan perbuatan kebaikan mereka sendiri. 
Sebagai akibatnya, mereka lebih memperhatikan bagaimana keadaan manusia lahiriah dan seberapa sering mereka menaikkan doa-doa pertobatan. Mereka jauh dari keselamatan meskipun mereka berpikir bahwa mereka diselamatkan dari dosa-dosa mereka. 


Allah melihat hati

Kita percaya dan kemudian menjadi orang benar di dalam hati kita. Hal itu sepenuhnya terpisah dari manusia lahiriah dan tidak ada hubungannya dengan perbuatan kita. Keselamatan sama sekali tidak ada hubungannya dengan usaha dan perbuatan kita. Apakah anda merasa lega bahwa segala dosa anda sudah dihapuskan? Apakah anda mau melayani Tuhan dengan penuh sukacita? Apakah anda mengabarkan Injil dengan sukacita? Apakah anda mau melibatkan diri di dalam pelayanan yang indah ini? Hati menjadi penuh ucapan syukur dan sukacita karena Allah menerima iman kita ketika kita percaya dengan sepenuh hati kita. Karena itu, hati adalah sesuatu yang sangat penting di hadapan Allah.