Khotbah-Khotbah

Pokok 9: Kitab Roma (Komentari dalam Surat Roma)

[Pasal 7-2]Inti Iman Paulus: Dipersatukan dengan Kristus Setelah Mati bagi Dosa (Roma 7:1-4)

(Roma 7:1-4)
“Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, -- sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum -- bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.”
 

Pernahkah anda melihat benang yang kusut? Kalau anda mencoba memahami pasal ini tanpa mengenal kebenaran baptisan Yesus yang dipercayai oleh Paulus, iman anda hanya akan lebih bingung dibandingkan dengan sebelumnya.
Paulus mengatakan di dalam pasal ini bahwa karena semua orang memang berdosa di hadapan hukum Allah, manusia bisa datang kepada Yesus Kristus dan dilahirkan kembali hanya setelah mengalami kematian rohani.
 
 


Kebenaran yang disadari oleh Paulus 

 
 
Roma 7:7 mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa.” Paulus melanjutkan, “Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!” Lalu ia melanjutkan lagi, “Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan.” Paulus menyadari bahwa ia sudah melanggar semua 613 perintah Allah. Dengan kata lain, ia tidak lebih dari bongkahan dosa yang tidak bisa tidak melakukan dosa, karena ia adalah keturunan manusia pertama, Adam, dibuahi dalam kesalahan, dan dikandung dalam dosa.
Semua manusia yang dilahirkan ke dalam dunia ini berdosa, mulai kelahiran sampai kematiannya. Mereka tidak bisa mentaati perintah Allah. Bagaimana mungkin bongkahan dosa itu bisa mentaati seluruh 613 perintah hukum Allah? Hanya kalau kita menyadari bahwa kita berdosa di hadapan hukum Allah kita bisa datang kepada Yesus Kristus, dan sampai kepada kesadaran bahwa kita bisa dibebaskan dari dosa melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus menjadi kebenaran Allah. Ia membawa kepada kita kebenaran Allah ini melalui baptisanNya oleh Yohanes dan darahNya di kayu Salib. Karena itu kita semua harus mengenal dan percaya kepada kebenaran Allah. Alasan mengapa kita harus percaya kepada Yesus adalah karena kebenaran Allah ditemukan di dalam Dia. 
Apakah anda mengenal dan percaya kepada kebenaran Allah? Kebenaran Allah adalah rahasia yang tersembunyi di dalam Injil air dan Roh. Rahasia ini semuanya ada di dalam baptisan yang diterima Yesus dari Yohanes di sungai Yordan. Apakah anda mau mengenal rahasia ini? Kalau anda mau percaya kepada kebenaran ini, anda akan mendapatkan kebenaran Allah melalui iman anda.
Sebelum kita mengenal hukum dan perintah Allah, nampaknya kita bukan orang berdosa, meskipun kita melakukan dosa setiap hari. Tetapi setelah kita mulai datang ke gereja, kita sampai kepada kesadaran bahwa kita memang penuh dosa, dan bahwa kita akan mencapai kematian rohani karena dosa dinyatakan di dalam kita. Karena itu, supaya bisa membawa jiwa kepada Yesus Kristus, Rasul Paulus menjelaskan masa lalunya ketika ia salah percaya karena salah paham akan hukum dan perintah Allah.
Ini adalah contoh yang akan menolong anda mengerti peranan hukum Allah. Saya memegang Alkitab sekarang ini. Kalau saya menyelipkan sesuatu yang penting di dalam Alkitab dan berkata, “Jangan pernah melihat ke dalam untuk mencari apa yang tersembunyi di dalamya,” dan meninggalkan Alkitab itu di meja di hadapan anda, bagaimana reaksi anda? Saat anda mendengar perkataan saya, anda merasakan keinginan untuk tahu apa yang tersembunyi di dalam Alkitab itu, dan karena rasa ingin tahu itu, anda akan melanggar larangan saya. Saat anda mulai berpikir apa yang ada di dalam Alkitab itu, anda tidak memiliki pilihan lain kecuali berusaha untuk tahu. Tetapi kalau saya tidak melarang anda melihat ke dalam Alkitab itu, anda tidak akan pernah tergoda. Demikian juga, ketika Allah memerintahkan kita, dosa-dosa yang sudah tersimpan akan menyatakan diri sesuai dengan situasinya.
Hukum yang diberikan Allah kepada manusia memiliki peranan menyatakan dosa yang ada di dalam hati manusia. Ia tidak memberikannya untuk kita taati atau ikuti; justru, hukum diberikan kepada kita untuk menyatakan dosa-dosa kita dan menjadikan kita orang berdosa. Kita semua akan binasa kalau tidak datang kepada Yesus Kristus dan percaya kepada kebenaran Allah yang ditemukan di dalam baptisan yang Yesus terima dari Yohanes dan darah yang dicurahkanNya di kayu Salib. Kita harus mengingat bahwa peranan hukum Taurat adalah untuk membawa kita kepada Kristus dan menolong kita percaya kepada kebenaran Allah melalui Dia.
Inilah sebabnya Rasul Paulus bersaksi, “Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati” (Roma 7:8). Melalui hukum Allah, Rasul Paulus menunjukkan kepada kita apakah dasar yang paling mendasar mengenai dosa. Ia mengakui bahwa pada dasarnya ia adalah orang berdosa, tetapi ia sampai kepada kehidupan kekal dengan percaya kepada kebenaran Allah yang diberikan oleh Yesus Kristus.
 

Ratapan dan iman Paulus
 
Paulus kemudian mengatakan, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Roma 7:24-25)
Paulus mengakui kenyataan bahwa dia, yang memiliki kebenaran Allah, masih berdosa, dan dengan demikian, kebenaran Allah semakin dibutuhkan bukan hanya oleh dia tetapi juga bagi semua umat manusia.
Kita harus menerima kebenaran Allah dengan secara benar mengenal rahasia yang tersembunyi di dalam baptisan yang diterima Yesus dan percaya kepada hal itu. Anda dan saya harus mengenal dan percaya kepada kebenaran Allah yang ditemukan di dalam baptisan Kristus dan darahNya di kayu Salib. Hanya sesudah itu jiwa dan daging kita yang tidak memiliki pilihan selain melakukan dosa, dilepaskan dari dosa kita. Kita tidak boleh lupa akan kenyataan bahwa baptisan Kristus dan darahNya di kayu Salib menggenapi kebenaran Allah.
Mereka yang tidak mengenal kebenaran Allah pada akhirnya akan tetap menjadi orang berdosa, bagaimanapun kerasnya mereka berusaha mentaati hukum Taurat. Kita harus menyadari bahwa hukum Allah diberikan bukan untuk ditaati. Tetapi orang legalis tidak menyadari bahwa rahasia dari penebusan terletak di dalam “baptisan” yang Yesus terima bersama dengan darahNya di kayu Salib. Sebagai akibatnya, mereka salah paham akan hukum Allah dan berpikir bahwa hal itu diberikan kepada mereka untuk ditaati, dan mereka terus hidup dalam kebingungan. Tetapi kita harus mengenal dosa-dosa kita melalui hukum Taurat dan hidup dengan iman kita kepada kebenaran Allah. Kita tidak boleh melawan kebenaran Allah dengan cara mengejar kebenaran kita sendiri. Namun, kita harus percaya kepada kebenaran yang digenapi Allah dengan baptisan Kristus dan darahNya di kayu Salib. Kita perlu, dengan kata lain, belajar untuk berterima kasih kepada Tuhan kita, yang menggenapi kebenaran Allah.
Inilah sebabnya Paulus, dengan memandang dagingnya sendiri, kemudian berseru, “Aku manusia celaka!” tetapi masih bersyukur kepada Allah melalui Yesus Kristus. Alasan Paulus membuat pengakuan ini adalah semakin ia berdosa, semakin penuh baptisan dan darah Yesus di kayu Salib menggenapi kebenaran Allah. Kita, juga, bisa bersorak dalam sukacita dan kemenangan, karena kita sudah diselamatkan oleh iman kita kepada Yesus Kristus, meskipun kita juga menjalani kesulitan hidup antara hukum daging dengan kebenaran Allah. Iman yang dimiliki Paulus adalah yang percaya kepada baptisan dan darah Yesus di kayu Salib. Inilah cara Paulus berdiam di dalam imannya kepada kebenaran Allah, dan dengan percaya kepada kebenaran Allah ini, ia bisa menjadi orang yang menaikkan pujian kepada-Nya.
Dalam Roma pasal 7, Paulus berbicara mengenai keadaannya yang celaka dahulu, dibandingkan dengan kemenangan imannya sekarang di dalam kebenaran Allah. Kemenangan iman Paulus adalah karena imannya kepada kebenaran Allah ini.
“Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, -- sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum -- bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup?” (Roma 7:1). 
Dalam Roma pasal 6, Paulus berbicara mengenai iman yang membawa kita dikuburkan dan dibangkitkan bersama dengan dipersatukan dengan Kristus. Dengan dipersatukan dengan Kristus di dalam baptisan dan kematianNya di kayu Salib, kita bisa memperoleh iman ini.
Paulus menyadari bahwa ia adalah manusia celaka, yang dagingnya begitu terbatas sehingga ia melanggar hukum Allah bukan hanya sebelum ia bertemu Yesus tetapi juga terus melanggarnya bahkan setelah ia bertemu Yesus. Kemudian ia meratap, “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Ia kemudian menyimpulkan bahwa ia bisa dibebaskan dari tubuh maut itu dengan percaya kepada kebenaran Allah, dan berkata, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” Paulus dibebaskan dari dosa-dosa daging dan pikiran dengan percaya kepada kebenaran Allah melalui Kristus dan dipersatukan dengan Dia. 
Pengakuan akhir Paulus adalah, “Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa” (Roma 7:25). Dan di awal pasal 8, ia mengakui, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Roma 8:1-2). 
Pada dasarnya ada dua hukum yang diberikan Allah: hukum dosa dan maut serta hukum Roh kehidupan. Hukum Roh kehidupan menyelamatkan Paulus dari hukum dosa dan maut. Ini berarti bahwa dengan percaya kepada baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib, yang menghapus segala dosa, ia mempersatukan dirinya dengan Yesus dan kemudian diselamatkan dari dosanya. Kita semua harus memiliki iman yang mempersatukan kita dengan baptisan Tuhan dan kematianNya di kayu Salib. 
Paulus mengakui didalam Roma pasal 7 bahwa ia sebelumnya ditetapkan untuk dihukum di bawah hukum Taurat, tetapi melalui Yesus Kristus, ia bisa dibebaskan dari kutuk ini. Dengan demikian, ia bisa melayani Allah melalui Roh Kudus, yang berdiam di dalam dirinya. 
 
 


Kebenaran yang disadari Paulus 

 
 
Paulus mengakui, “Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Roma 7:7). Ia tidak akan bisa tahu bahwa ia mengingini milik orang lain kalau hukum Taurat tidak mengatakan, “Jangan mengingini.” Paulus menjelaskan hubungan antara hukum Taurat dengan dosa, dan mengatakan, “Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan.” Ini berarti bahwa hati manusia pada dasarnya penuh dengan dosa. Sejak saat manusia dikandung di dalam rahim ibu mereka, mereka dikandung di dalam dosa, dan akan lahir dengan dua belas macam dosa.
Kedua belas macam dosa itu adalah, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua manusia melakukan dosa itu sampai mereka mati. Bagaimana seseorang bisa taat kepada hukum dan perintah Allah kalau ia dilahirkan ke dalam dunia ini dengan membawa dua belas macam dosa ini? Pada saat kita mendengar firman hukum Taurat dan perintah yang mengatakan apa yang “harus” dan yang “tidak boleh dilakukan,” dosa mulai berkarya di dalam kita. 
Ketika kita tidak mengenal hukum dan perintah Allah, dosa-dosa di dalam kita tidur dengan tenang. Tetapi setelah mendengar perintah itu, yang mengatakan mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan, dosa-dosa itu keluar dan membuat kita semakin berdosa. 
Siapa saja yang belum dilahirkan kembali atau tidak percaya kepada dan memahami kebenaran Injil air dan Roh memiliki dosa di dalam dirinya. Dosa ini, yang menjadi aktif karena firman perintah, kemudian menghasilkan semakin banyak dosa. Hukum Taurat, yang mengatakan mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan, seperti pelatih yang berusaha menjinakkan dosa. Tetapi, dosa melawan perintah Allah dan tidak mentaatinya. Ketika orang berdosa mendengar perintah itu, dosa-dosa di dalam hatinya menjadi aktif, membuatnya melakukan lebih banyak dosa. 
Kita bisa menyadari melalui Dasa Titah bahwa kita memiliki dosa di dalam diri kita. Peranan hukum Taurat adalah untuk menyatakan dosa-dosa di dalam hati kita, membuat kita menyadari bahwa perintah Allah itu kudus, dan mengingatkan kita akan keberdosaan kita. Pada dasarnya, kita dilahirkan dengan keinginan yang tamak atas segala sesuatu yang diciptakan Allah, termasuk milik atau pasangan yang bukan milik kita. Karena itu, perintah itu mengingatkan, “Jangan mengingini,” yang mengatakan bahwa kita dilahirkan sebagai orang berdosa dan ditentukan untuk masuk neraka sejak hari kelahiran kita. Ini juga menunjukkan pentingnya Juruselamat bagi kita, yang menggenapi kebenaran Allah. 
Itulah sebabnya Paulus mengaku bahwa dosa mengambil kesempatan di dalam perintah itu untuk menghasilkan di dalam kehidupannya semua kehendak dosa. Paulus menyadari bahwa ia sudah menjadi pendosa besar yang melanggar perintah Allah, karena ia pada dasarnya dilahirkan penuh dosa dan berdosa sebelum ia percaya kepada kebenaran Allah. 
Ketika kita melihat pasal 7, kita menemukan bahwa Rasul Paulus adalah orang yang sangat rohani, memiliki pemahaman Alkitab yang sangat luas, dan memiliki pemahaman serta pengalaman rohani yang hebat. Ia dengan jelas memahami melalui hukum Taurat bahwa ada dosa di dalam dirinya, yang karena perintah itu menghasilkan segala macam kehendak dosa. Ia sampai kepada pemahaman bahwa hukum Allah memiliki peranan menyatakan dosa di dalam dirinya. Ketika dosa-dosa itu dibangkitkan, ia juga mengakui bahwa perintah itu, yang seharusnya membawa kehidupan, membawanya kepada kematian. 
Bagaimana dengan iman anda? Apakah sama dengan iman Paulus? Tidakkah ada dosa di dalam hati meski anda percaya kepada Yesus atau tidak? Kalau ya, itu berarti bahwa anda masih belum mengenal kebenaran Allah, belum menerima Roh Kudus, dan orang berdosa yang ditentukan untuk masuk neraka dan dihakimi atas dosa-dosa anda sendiri. Apakah anda mengakui kenyataan ini? Kalau ya, percayalah kepada Injil air dan Roh, yang didalamnya kebenaran Allah dinyatakan. Anda akan diselamatkan dari dosa anda, menerima kebenaran Allah, dan Roh Kudus datang ke dalam kehidupan anda. Kita harus percaya kepada Injil air dan Roh. 
 
 


Dosa, mengambil kesempatan dari perintah, mendustai Paulus

 
 
Rasul Paulus mengatakan, “Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku” (Roma 7:10-11). Dosa, dengan kata lain, menipu Paulus dengan mengambil keuntungan dari perintah. Paulus percaya bahwa di dalam perintah hanya ada kebaikan dan keadilan, tetapi dua belas macam dosa itu justru menjadi hidup dan memburuk di dalam hatinya. Ini berarti bahwa ia sudah ditipu oleh dosa karena ia tidak bisa mengerti tujuan dari perintah Allah. 
Pada awalnya, Paulus berpikir bahwa Allah memberikan hukum Taurat kepadanya untuk ditaati. Tetapi kemudian, ia menyadari bahwa hukum Taurat bukan diberikan untuk ditaati, tetapi untuk menyatakan dosa di dalam hati manusia, bersama dengan kekudusan Allah, dan membuat orang yang tidak percaya dihukum oleh Allah. Inilah sebabnya Paulus berpikir bahwa ia ditipu oleh dosa, karena ia tidak mengerti perintah dan hukum Allah dengan benar. Kebanyakan orang jaman ini juga ditipu dengan cara yang sama. 
Kita harus menyadari bahwa alasan Allah memberikan perintah dan hukum kepada kita bukanlah supaya kita taati, tetapi supaya kita menyadari dosa-dosa kita sendiri dan mencapai kebenaran Allah dengan percaya kepada Injil air dan Roh. Tetapi karena kita berusaha hidup seturut dengan hukum Taurat dengan dosa-dosa kita, kita justru akan menyatakan hakekat keberdosaan kita. 
Jadi, orang berdosa menyadari melalui hukum Taurat bahwa meskipun hukum Taurat itu kudus, ia tidak memiliki kuasa atau kapasitas untuk menjalani kehidupan kudus. Di saat itu, ia menjadi orang berdosa yang tidak memiliki pilihan selain masuk neraka karena hukum Taurat. Tetapi orang berdosa yang tidak percaya kepada Injil air dan Roh terus mengira bahwa Allah memberikan hukum Taurat kepada mereka untuk ditaati. Mereka terus berusaha mentaati hukum Taurat, tetapi mereka akan menipu diri mereka sendiri dan jatuh ke dalam kehancuran pada akhirnya.
Mereka yang tidak dilahirkan kembali dengan terus tidak memperdulikan kebenaran Allah melakukan dosa dan kemudian berusaha menerima pengampunan dengan menaikan doa pertobatan. Namun, pada akhirnya, mereka sampai kepada kesadaran bahwa mereka salah paham akan tujuan hukum Allah dan menipu diri mereka sendiri. Hukum Allah itu kudus, tetapi dosa-dosa di dalam diri mereka justru membawa mereka kepada kematian.
Paulus mengatakan, “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa” (Roma 7:12-13). Mereka yang memahami kebenaran ini menyadari kebutuhan mereka akan kebenaran Allah, dan kemudian, percaya bahwa Injil air dan Roh adalah kebenaran yang sejati. Seseorang yang percaya kepada Injil air dan Roh juga percaya kepada kebenaran Allah. Mari kita dibebaskan dari segala dosa kita dan mencapai kekudusan Allah dengan percaya kepada kebenaranNya. Saya harap agar anda semua diberkati dengan Injil ini.
 

Bagaimana daging dan pikiran Paulus?
 
Paulus penuh dengan Roh dan memiliki pemahaman yang dalam mengenai Firman Allah. Namun, ia mengatakan demikian mengenai daging: “Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Roma 7:14-17). Ia mengatakan bahwa ia melakukan dosa karena ia pada dasarnya bersifat daging. Karena bersifat daging, ia melihat dirinya mencari keinginan daging, meskipun ia ingin melakukan kebaikan. 
Paulus kemudian menyadari, “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Roma 7:22-23). Inilah sebabnya ia meratapi dagingnya, dan berkata, “Aku manusia celaka!” (Roma 7:24). Bahkan setelah Paulus dilahirkan kembali, ia masih tertekan karena kejahatan yang ada di dalam dirinya, meskipun ia ingin melakukan apa yang baik. Ketika Paulus mengatakan bahwa kejahatan ada di dalam dirinya, ia menunjuk kepada dagingnya. Ia melihat hukum lain di dalam anggota tubuhnya, yang berperang melawan hukum Roh, yang membuatnya kalah terhadap daging, dan membawanya melakukan dosa. Ia hanya bisa mengakui bahwa ia tidak memiliki pilihan selain tunduk kepada penghukuman karena ia melihat daging mengendalikannya untuk melakukan dosa. Karena Paulus, juga, memiliki daging, ia meratapi dosa-dosa yang timbul dari dagingnya.
Inilah sebabnya Paulus mengatakan, “Aku manusia celaka!” Tetapi ia juga bersyukur kepada Yesus Kristus karena menggenapi kebenaran Allah. Ini adalah karena ia percaya bahwa Yesus datang ke dunia ini, dibaptiskan, dan disalibkan untuk memberikan pengampunan dosa kepada semua manusia. Ia bisa mengucap syukur sepenuh hatinya kepada Allah, karena ia memiliki iman yang mempersatukannya dengan baptisan dan darah Yesus Kristus.
Paulus tahu bahwa ketika Yohanes membaptiskan Yesus, segala dosanya, juga segala dosa dunia, ditanggungkan kepada Yesus sekali untuk seterusnya. Ia juga tahu bahwa ketika Yesus mati di kayu Salib, kita juga mati terhadap dosa. Karena itu kita harus dipersatukan dalam iman bersama dengan kebenaran air dan Roh. Apakah hati anda dipersatukan dengan baptisan dan darah Yesus Kristus? Sudahkah anda, dengan kata lain, mempersatukan hati anda dengan Injil air dan Roh, yang menggenapi kebenaran Allah? Kita harus memiliki iman yang dipersatukan dengan baptisan yang diterima Tuhan kita dari Yohanes dan darah yang dicurahkanNya di kayu Salib. Sangat penting bagi kita untuk memiliki iman yang dipersatukan karena bersatu dengan Injil air dan Roh adalah bersatu dengan kebenaran Tuhan. 
Roma 6:3 mengatakan, “kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya.” Ini berarti bahwa dengan percaya kepada baptisan Yesus, kita juga dibaptiskan bersama dengan Dia, berarti bahwa kita sudah dipersatukan dengan kematian Tuhan kita. Demikianlah, dengan dibaptiskan dalam persatuan melalui iman, kita secara rohani dibaptis dalam kematianNya. Dipersatukan dengan Tuhan adalah dipersatukan dengan baptisanNya dan mati dalam kematianNya.
Karena itu kita harus percaya dan dipersatukan dengan baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib yang menggenapi kebenaran Allah. Kalau anda tidak percaya kepada Injil air dan Roh, yang mengandung kebenaran Allah, anda tidak dipersatukan dengan baptisan Yesus dan kematianNya. Dan di dalam Injil ini kebenaran Allah dinyatakan. 
Kalau hati kita tidak dipersatukan dengan baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib, iman kita hanyalah teori dan tidak ada gunanya. Persatukan diri anda dengan baptisan dan darah Yesus di kayu Salib dan percaya kepada kepadanya. Demikianlah kita seharusnya percaya. Iman teoritis itu tidak ada gunanya. Apa gunanya rumah yang bagus, contohnya, kalau itu bukan milik anda? Untuk menjadikan kebenaran Allah sebagai milik kita, kita harus mengerti tujuan dari baptisan Yesus yaitu untuk menghapus segala dosa kita, dan bahwa kematianNya di kayu Salib adalah kematian daging kita. Melalui iman kita kepada kebenaran Allah yang digenapi oleh Tuhan kita, kita harus ditebus sekali untuk seterusnya dan berjalan di dalam pembaharuan kehidupan. 
Melalui iman anda yang sudah dipersatukan dengan baptisan dan darah Yesus di kayu Salib, kebenaran Allah akan sungguh-sungguh menjadi milik anda. Kita harus dipersatukan dengan baptisan dan kematian Yesus, karena kalau tidak, iman kita tidak akan berarti apa-apa. 
“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Ini bukan sekedar ratapan Paulus, tetapi juga anda dan saya, dan juga semua orang yang masih terpisah dari Yesus Kristus. Yang membebaskan kita dari semua tekanan ini adalah Yesus, dan itu bisa diatasi hanya dengan percaya kepada Tuhan, yang dibaptiskan, disalibkan dan bangkit bagi kita. 
Paulus berkata, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” Ini menunjukkan bahwa Paulus mempersatukan dirinya dengan Tuhan. Kita harus percaya bahwa kalau kita dipersatukan dan memiliki iman bahwa Tuhan menyelamatkan kita dari segala dosa melalui baptisan dan darahNya, kita akan diampuni dan menerima kehidupan kekal. Segala dosa anda akan ditanggungkan kepada Yesus Kristus ketika anda percaya kepada baptisan Yesus dengan hati yang dipersatukan. Anda akan mati dan bangkit dengan Dia setelah mendapatkan iman di dalam persekutuan dengan kematianNya di kayu Salib.
Yesus memulai pelayananNya di dunia pada usia tiga puluh tahun. Hal yang pertama dilakukanNya dalam missiNya untuk menghapus segala dosa kita adalah dengan dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis. Mengapa Ia dibaptiskan? Itu adalah supaya Ia menanggung segala dosa manusia. Karena itu, ketika kita mempersatukan hati kita dengan kebenaran Allah, yang dibawa oleh Yesus, segala dosa kita sungguh-sungguh ditanggungkan kepada Yesus melalui baptisanNya. Segala dosa kita dipindahkan kepada Yesus dan dihapus sekali untuk selamanya.
Tuhan kita memang sudah datang ke dunia dan dibaptiskan untuk menanggung segala dosa kita dan mati untuk membayar upah dosa. Yesus mengatakan kepada Yohanes tepat sebelum Ia dibaptiskan, “Demikianlah kita menggenapi segala kebenaran” (Matius 3:15). “Segala kebenaran” menunjuk kepada Yesus menerima baptisan, yang menghapus segala dosa manusia, yang ditentukan masuk neraka, dan juga kepada kematian dan kebangkitanNya. Apakah kebenaran Allah? Sesuai dengan janji Allah di dalam Perjanjian Lama, baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib, yang menyelamatkan semua orang berdosa, adalah kebenaranNya. Alasan Yesus datang ke dunia ini dalam rupa manusia dan menerima baptisan adalah untuk menanggung segala dosa ke atas diriNya dan menghapuskan semuanya. 
Mengapa Yohanes membaptis Yesus? Untuk menggenapi kebenaran Allah dengan menanggung dosa manusia. Kita, yang dibaptiskan dalam Kristus Yesus, juga dibaptiskan ke dalam kematianNya dan sekarang hidup dalam pembaharuan kehidupan, karena Dia bangkit dari kematian. Beriman kepada kebenaran Allah adalah untuk percaya dan mempersatukan hati kita dengan baptisan Yesus, kematianNya di kayu Salib, dan kebangkitanNya. Sangat penting bagi kita untuk percaya bahwa Yesus menanggung segala dosa kita ke atas diriNya ketika Ia dibaptiskan. Kita dikuburkan dengan Dia ketika Dia mati di kayu Salib sebab kita dipersatukan denganNya melalui baptisanNya. Sangat penting bagi kita untuk mempersatukan hati kita dengan Tuhan dengan percaya kepada kebenaran Allah, bahkan setelah kita dibebaskan dari segala dosa kita. Kita bisa bersyukur kepada Allah karena kita semua sudah mati dengan Kristus ketika Ia mati di kayu Salib, karena Ia sudah menanggung segala dosa kita melalui baptisanNya. 
Dipersatukan dengan Yesus dengan iman sangat penting bahkan setelah menerima kebenaran Allah melalui penebusan kita. Setelah menerima anugerah penebusan, iman kita bisa menurun hanya sekedar menjadi kebiasaan saja. Tetapi, kalau kita mempersatukan hati kita dengan kebenaran Tuhan, hati kita akan hidup dengan Allah. Kalau kita mempersatukan diri dengan kebenaran Allah, kita akan hidup dengan Dia, tetapi kalau tidak, maka kita tidak bisa tidak menjadi tidak ada hubungan denganNya. Kalau kita tidak bersatu dengan Tuhan Allah dan hanya menjadi penonton bagiNya, sama seperti kita melihat taman yang bagus milik tetangga, kita menjadi tidak ada hubungannya dengan Allah dengan terpisah dariNya. Karena itu, kita harus bersatu dengan firman Tuhan dan kebenaran Allah di dalam iman. 
 

Kalau kita memiliki iman dalam persekutuan dengan baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib, kita adalah orang Kristen yang dipersatukan dengan Tuhan 
 
Percaya kepada kebenaran Allah adalah dipersatukan dengan Tuhan dan memiliki iman untuk mengenal kebenaranNya. Semua aspek dalam kehidupan kita harus dipersatukan dengan kebenaran Allah. Demikianlah kita harus hidup. Kalau kita tidak dipersatukan dengan kebenaranNya, kita akan menjadi hamba daging kita dan mati, tetapi saat kita mempersatukan diri kita dengan kebenaran Allah, segala dosa kita akan diampuni. Hanya ketika kita mempersatukan hati kita dengan kebenaran Tuhan kita bisa menjadi hamba Allah. Semua pekerjaan Allah akan selalu berhubungan dengan kita, dan, dengan itu, semua pekerjaan dan kuasaNya akan menjadi milik kita. Namun, kalau kita tidak dipersatukan dengan Dia, kita tidak memiliki hubungan dengan kebenaranNya. 
Kita memiliki banyak kekurangan dan kelemahan di dalam daging, sama seperti Paulus, sehingga kita harus mempersatukan hati kita dengan kebenaran Allah. Kita harus mempersatukan dan percaya bahwa Yesus dibaptiskan oleh Yohanes dan disalibkan untuk menyelamatkan kita dari segala dosa. Inilah jenis iman yang berkenan kepada Allah dan memberi berkat kepada tubuh dan jiwa kita. Kalau kita percaya kepada pekerjaan Tuhan dengan hati yang dipersatukan dalam iman, semua janji berkat surga akan menjadi milik kita. Inilah sebabnya kita harus dipersatukan denganNya. 
Sebaliknya, kalau kita tidak mempersatukan hati kita dengan kebenaran Allah, kita tidak akan melayani Dia. Orang-orang Kristen yang tidak dipersatukan hatinya dengan kebenaran Allah mengasihi nilai-nilai duniawi lebih dari yang lainnya. Mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak percaya di dunia ini. Mereka mengakui nilai kebenaran Allah hanya kalau milik mereka, yang sangat mereka kasihi dalam hidup mereka, diambil dari mereka. Materi tidak memiliki harga atau kuasa untuk mengendalikan kehidupan manusia. Hanya kebenaran Allah memberikan kepada kita pengampunan dosa, kehidupan dan berkat kekal. Materi tidak seharga kehidupan kita. Kita harus menyadari bahwa kalau kita dipersatukan dengan kebenaran Tuhan, kita, dan juga tetangga kita, akan hidup. 
Hati kita harus dipersatukan dalam kebenaran Tuhan. Kita harus hidup oleh iman dan mempersatukan hati kita dengan Kristus. Iman yang dipersatukan dengan kebenaran Kristus itu indah. Yang akhirnya dikatakan Paulus dalam pasal 7 yaitu bahwa kita harus menghidupi kehidupan rohani dalam persekutuan dengan Tuhan. 
Pernahkah anda melihat seseorang yang menjadi hamba Allah tanpa hatinya dipersatukan dengan kebenaranNya? Tidak ada! Pernahkah anda mengenal seseorang yang menerima Injil air dan Roh sebagai syarat yang penting bagi pengampunan dosa tanpa dipersatukan dengan kebenaran Allah? Tidak ada. Tidak peduli berapa banyaknya anda mengenal Alkitab, iman kita tidak ada gunanya kecuali kalau kita bergabung kepada kebenaran Allah dan percaya bahwa dengan percaya kepada baptisan dan darah Yesus di kayu Salib, kita bisa dibebaskan dari segala dosa kita. 
Meskipun kita pernah menerima pengampunan dosa dan hadir di gereja, kalau kita tidak dipersatukan dengan kebenaranNya, kita orang berdosa yang tidak ada bagian di dalam rencana Tuhan. Meskipun kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Allah, kita akan terpisah dari Tuhan kalau tidak bergabung dengan kebenaranNya. Kita harus dipersatukan dengan kebenaran Allah kalau kita mau dihibur, ditolong, dan dipimpin oleh Kristus. 
Pernahkah anda menerima kebenaran Allah dan pengampunan dosa dengan percaya kepada Injil air dan Roh? Apakah anda melayani, seperti Paulus, hukum Allah dengan pikiran anda sementara daging anda melayani hukum dosa setiap hari? Kita harus bergabung dengan kebenaran Allah setiap waktu. Apa yang akan terjadi kalau kita tidak mempersatukan diri dengan kebenaran Allah? Kita akan binasa. Tetapi mereka yang dipersatukan dengan kebenaran Allah akan menjalani kehidupan yang bersatu dengan gereja Allah. 
Percaya kepada kebenaran Allah berarti bergabung dengan gereja dan hamba Allah. Kita bisa melanjutkan kehidupan iman hanya kalau kita bersatu dengan kebenaran Allah setiap hari. Mereka yang diampuni dari dosa-dosanya dengan percaya kepada kebenaranNya harus dipersatukan dengan gereja Allah setiap hari. Karena daging senantiasa ingin melayani hukum dosa, kita harus selalu merenungkan hukum Allah dan hidup oleh iman. Kita bisa dipersatukan dengan Tuhan kalau kita senantiasa merenungkan dan memperhatikan kebenaran Allah. 
Kita, yang percaya kepada kebenaran Allah, harus dipersatukan dengan gereja dan hamba Allah setiap hari. Untuk itu, kita harus senantiasa ingat akan kebenaran Allah. Kita harus berpikir dan bersatu dengan Allah setiap hari. Kita harus merenungkan kenyataan bahwa Tuhan dibaptiskan untuk menanggung segala dosa kita. Ketika kita bergabung kepada iman ini dan kebenaran Allah, kita akan memiliki damai dari Allah, dan anda akan diperbaharui, diberkati dan diberi kuasa olehNya. 
Persatukan diri anda dengan kebenaran Allah. Kemudian anda akan menemukan kekuatan baru. Persatukan diri anda dengan baptisan Yesus dalam kebenaran Allah sekarang. Dosa-dosa anda akan dihapuskan. Persatukan hati anda dengan kematian Kristus di kayu Salib. Anda, juga, akan mati dengan Dia. Persatukan diri anda dengan kebangkitanNya. Anda, juga, akan hidup kembali. Singkatnya, ketika anda dipersatukan dengan Kristus di dalam hati anda, anda akan mati dan dibangkitkan dengan Kristus, dan kemudian dibebaskan dari segala dosa anda. 
Apa yang terjadi kalau kita tidak bersatu dengan Kristus? Kita mungkin bingung dan bertanya, “Mengapa Yesus dibaptiskan? Perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hanyalah bahwa yang pertama mengatakan mengenai ‘penumpangan tangan’ dan yang kedua mengenai baptisan. Jadi? Apa pentingnya?” Iman yang berpusatkan kepada pengetahuan atau teoritis bukanlah iman yang sebenarnya, dan akan membawa orang percaya menjauh dari Allah. 
Mereka yang percaya dengan cara demikian adalah seperti murid yang menerima hanya pengetahuan dari gurunya. Kalau murid itu sungguh-sungguh menghormati gurunya, ia juga akan belajar mengenai karakternya yang terpuji, kepemimpinannya, dan kepribadiannya yang hebat. Kita tidak boleh menerima Firman Allah hanya sekedar sebagai pengetahuan, tetapi harus belajar juga mengenai kepribadian, kasih, belas kasihan, dan keadilan Allah di dalam hati kita. Kita harus membuang ide hanya belajar FirmanNya sebagai pengetahuan saja, tetapi dipersatukan dengan kebenaranNya. Dipersatukan dengan kebenaran Allah membawa orang percaya kedalam kehidupan yang sejati. Dipersatukanlah dengan Tuhan! Iman yang dipersatukan adalah iman yang sejati. Iman yang teoritis dan berpusat kepada pengetahuan saja bukanlah iman yang dipersatukan, tetapi yang dangkal. 
“Belas kasihan Allah,” seperti yang dinyanyikan di dalam lagu, “sebuah samudera ilahi, dalamnya tidak terbatas dan tak terukur.” Ketika hati kita dipersatukan dengan kebenaran Allah, akan ada damai yang tidak terbatas dan tidak terukur sebagai belas kasihan Allah yang memberikan kebenaranNya kepada kita. Tetapi iman yang teoritis dan berpusat kepada pengetahuan yang tidak bersatu dengan Allah adalah seperti air yang dangkal. Kalau lautan dangkal, cepat muncul riak. Tetapi aliran air yang biru, dimana lautnya dalam, sangat tidak terkatakan. Tetapi di air yang dangkal, ketika ombak sampai ke pantai, akan menggulung, memecah, beriak, dan bercampur aduk bergumpal. Iman mereka yang tidak dipersatukan dengan Allah adalah seperti ombak di laut yang dangkal. 
Hati mereka yang dipersatukan dengan Firman Allah adalah dalam, berpusat di sekitar Tuhan, teguh dan tidak goyah dalam segala situasi. Hati mereka bergerak ke arah kehendak Yang Mahatinggi. Tetapi mereka yang hatinya tidak dipersatukan dengan kebenaranNya mudah goyah, kalau ada masalah yang sedikit saja. 
Kita harus memiliki iman yang dipersatukan dengan Tuhan. Kita harus dipersatukan dengan Firman Allah. Kita tidak boleh goncang oleh hal kecil. Mereka yang dipersatukan dengan Tuhan dibaptiskan dengan Kristus, mati dengan Kristus, dan bangkit kembali dengan Kristus dari kematian. Karena kita bukan lagi milik dunia, kita harus dipersatukan dengan kebenaran Allah untuk menyenangkanNya, yang sudah menerima kita menjadi hamba kebenaran. 
Kalau kita dipersatukan dengan kebenaran Allah, kita selalu merasa damai, bahagia dan penuh kekuatan karena kekuatan Tuhan akan menjadi milik kita. Dengan kuasa dan berkatNya menjadi milik kita, kita akan hidup dengan berkat yang besar. Ketika kita dipersatukan dalam baptisan Yesus dan kematianNya di kayu Salib dengan iman, semua kuasa-Nya akan menjadi milik kita. 
Persatukan hati anda dengan Tuhan. Kalau anda dipersatukan dengan Tuhan, anda juga akan dipersatukan dengan gereja Allah. Dan mereka yang dipersatukan dengan kehendak Allah akan saling bersatu, dan, dalam persekutuan mereka, melakukan pekerjaanNya dan bertumbuh bersama dalam iman kepada FirmanNya.
Kalau kita tidak mempersatukan hati kita dengan Kristus, kemudian, kita akan kehilangan segala sesuatu. Meskipun iman kita sekecil biji sesawi, Tuhan sudah mengampuni dosa kita sekali untuk seterusnya. Kita akan dipersatukan dengan kebenaranNya setiap hari, meskipun kita memiliki kelemahan. Hanya iman yang dipersatukan yang akan membuat anda hidup dan bersyukur kepada Allah melalui Yesus Kristus. 
Ketika kita dipersatukan dengan kebenaran Tuhan, kita menemukan kekuatan baru dan hati kita menjadi teguh. Hati kita menjadi benar ketika kita dipersatukan dengan Firman Allah. Sangat tidak mungkin untuk mendapatkan tekad untuk melayani Tuhan dengan mengikuti pikiran kita sendiri. Ketika kita dipersatukan dengan baptisan Yesus, salib dan kebangkitanNya, iman kita akan bertumbuh dan berdiri teguh di atas Kitab Suci. 
Kita akan mempersatukan hati kita dengan Tuhan. Hanya iman yang dipersatukan denganNya yang adalah iman yang benar; yang tidak dipersatukan denganNya adalah iman palsu.
Kita mengucap syukur kepada Allah karena mengijinkan kita untuk mempersatukan iman kita dengan Tuhan dengan memberikan kepada kita baptisan dan darah Yesus di kayu Salib. Kita harus mempersatukan hati kita denganNya sejak hari ini, sampai hari akhir, ketika kita akan bertemu lagi dengan Tuhan. Mari kita dipersatukan denganNya. 
Kita perlu mempersatukan hati kita dengan Allah karena kita lemah di hadapanNya. Paulus juga dipersatukan dengan Allah dan dibebaskan dari segala dosanya. Ia menjadi hamba Allah yang berharga, yang memberitakan Injil ke seluruh dunia, dengan mengenal dan percaya kepada Injil air dan Roh yang diberikan oleh Yesus Kristus, kebenaran Allah. Karena kita lemah, melayani hukum Allah dengan pikiran kita tetapi hukum dosa dengan daging kita, kita hanya bisa hidup dengan dipersatukan dengan Tuhan. 
Sudahkah anda belajar mengenai iman yang mempersatukan dengan kebenaran Yesus? Apakah iman anda dipersatukan dengan baptisan Yesus? Sekaranglah saatnya bagi anda untuk iman anda dipersatukan dan percaya kepada baptisan dan darah Yesus. Mereka yang imannya tidak dipersatukan dengan kebenaran Allah sudah gagal dalam iman mereka, keselamatan mereka dan saya gagal untuk kehidupan mereka. 
Karena itu, kebenaran Tuhan adalah persyaratan yang tidak bisa dilepaskan bagi pembebasan anda. Dipersatukan dengan Tuhan adalah berkat yang akan membawa kita semua untuk menerima pengampunan dosa dan menjadi anak-anak Allah. Terimalah kebenaran Allah dengan mempersatukan diri anda dan percaya kepada kebenaranNya. Kebenaran Allah kemudian akan menjadi milik anda, dan berkat Allah akan menyertai anda. 
 

Syukur Kepada Allah atas Yesus Kristus!
 
Rasul Paulus mengatakan bahwa ia mengucap syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Ia bersyukur atas kebenaran Allah yang diterima oleh iman melalui Yesus Kristus. Meskipun setelah Paulus percaya kepada kebenaran Allah, ia tidak bisa tidak melayani hukum Allah dengan pikiran dan hukum dosa dengan dagingnya. Tetapi karena ia percaya kepada kebenaran Allah dengan segenap hatinya, hatinya tidak memiliki dosa. 
Paulus mengakui bahwa ia sudah dihukum oleh hukum Taurat dalam Yesus Kristus, dan diselamatkan dari dosa melalui iman kepada kebenaran Allah. Ia juga mengatakan bahwa mereka yang menghadapi murka Allah dan hukuman hukumNya akan masih bisa menghasilkan buah keselamatan dengan percaya kepada kebenaran Allah di dalam hati mereka. Didalam hati orang yang dilahirkan kembali, ada kehendak Roh Kudus dan juga keinginan daging. Tetapi seseorang yang tidak dilahirkan kembali hanya memiliki hawa nafsu kedagingan. Karena itu, orang berdosa hanya ingin melakukan dosa, dan lebih lagi, melalui naluri alamiah mereka, mereka berusaha mempercantik dosa-dosa mereka di hadapan mata orang lain.
Diakon dan tua-tua yang tidak dilahirkan kembali biasa mengatakan, “Saya ingin hidup benar, tetapi saya tidak tahu mengapa sulit sekali.” Kita harus berpikir mengapa mereka tidak bisa tidak hidup demikian. Ini karena mereka orang berdosa yang tidak menerima keselamatan dengan percaya kepada kebenaran Allah. Di dalam hati mereka dosa karena kebenaran Allah tidak ada di dalamnya. Tetapi di dalam hati orang yang dilahirkan kembali ada kebenaran Allah dan Roh Kudus, tetapi tidak ada dosa.
Ketika Paulus memiliki dosa di dalam hatinya, ia meratap, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Namun, Paulus langsung melanjutkan, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Roma 7:19, 24-25). Ini berarti bahwa ia menerima keselamatan atas dosa dengan percaya kepada Yesus Kristus, yang sudah menggenapi kebenaran Allah.
Yang dicoba untuk dijelaskan Paulus di dalam pasal 7 adalah bahwa sebelumnya, ketika ia menjadi orang beragama tanpa dilahirkan kembali, ia tidak tahu apa peranan hukum Taurat itu. Tetapi ia mengatakan bahwa Dia yang menyelamatkannya dari keadaan celakanya, karena dosa, adalah Yesus Kristus, yang sudah menggenapi kebenaran Allah. Siapa saja yang percaya bahwa Yesus Kristus menggenapi kebenaran Allah untuk membebaskan kita dari dosa akan diselamatkan. 
Mereka yang percaya kepada kebenaran Allah melayani hukum Allah dengan pikirannya tetapi melayani hukum dosa dengan dagingnya karena itu belum belum berubah. Daging mereka masih cenderung kepada dosa, tetapi pikiran, yang percaya kepada kebenaran Allah, ingin mengikuti kebenaran Allah. Sebaliknya, mereka yang tidak menerima pengampunan dosa hanya akan dipimpin baik oleh pikiran maupun dagingnya untuk melakukan dosa, karena pada dasarnya memang di dalam hati mereka ada dosa. Tetapi mereka yang mengenal dan percaya kepada kebenaran Allah berdiam di dalam kebenaranNya. 
Kita bersyukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, karena Kristus sudah menggenapi semua kebenaran Allah. Syukur kepada Tuhan karena memberikan kepada kita kebenaranNya dan menuntun kita untuk percaya kepada hal itu.