Khotbah-Khotbah

Pokok 10: Kitab Wahyu (Komentari dalam Kitab Wahyu)

[Pasal 2-2] (Wahyu 2:1-7) Iman Yang Bisa Menerima Kemartiran 

(Wahyu 2:1-7)
 
Bagi kebanyakan kita, kemartiran adalah sebuah kata yang tidak lazim, tetapi bagi mereka yang dibesarkan di dalam budaya non Kristen, kata ini juga tidak dikenal. Tentu saja kata “kemartiran” bukanlah kata yang kita jumpai setiap hari; kita merasa keluar dan terpisah dari dunia, karena memang nampaknya sulit untuk membayangkan secara nyata mengenai kemartiran kita. Tetapi, pasal 2 dan 3 Kitab Wayhu menuliskan mengenai kemartiran, dan dari Firman ini kita harus memantapkan iman tentang kemartiran di dalam hati kita—yaitu, iman yang di dalamnya kita bisa menjadi martir.
Para kaisar Roma adalah penguasa Kekaisaran yang mutlak atas rakyatnya. Dengan memegang kuasa mutlak atas wilayahnya, mereka bisa melakukan apa saja yang dikehendaki di dalam hatinya. Setelah menang banyak perang, Kekaisaran Romawi menjajah begitu banyak negara di bawah pemerintahannya, memperkaya dirinya dengan upeti dari negara-negara taklukannya. Tanpa pernah mengalami kekalahan, negara yang kecil itu berkembang menjadi salah satu kekaisaran terbesar yang pernah ada di dunia. Hanya langit yang menjadi batas kepada kekuasaan yang dimiliki oleh kaisarnya. Begitu besar kuasa itu sampai pada akhirnya mereka dipuja sebagai dewa yang hidup oleh rakyatnya.
Bukan hal yang tidak lazim, contohnya, bagi kaisar untuk membangun patung dirinya dan menyuruh supaya orang bersujud kepada patung itu. Bagi kaisar yang sudah menyatakan dirinya sebagai dewa, berkembangnya pengikut Yesus tidak bisa tidak dianggap sebagai ancaman yang serius bagi kekuasaan mutlak mereka. Dengan menyebut perkumpulan orang Kristen melanggar hukum, mereka melakukan politik menekan untuk menganiaya orang-orang percaya, menahan, memenjarakan, dan seringkali bahkan membunuh mereka karena iman mereka. Dan di dalam keadaan sejarah yang demikian orang-orang Kristen mula-mula menjalani kehidupan di bawah tanah seperti di Katakombe untuk menghindar dari penganiayaan, dan penganiayaan inilah yang menjadi dasar bagi mereka untuk menerima kemartiran untuk mempertahankan iman kebenaran mereka.
Demikianlah para martir muncul di masa Jemaat Mula-mula. Orang-orang kudus pada jaman itu, tentu saja, bukan menjadi martir hanya karena sekedar menolak mengakui kekuasaan kaisar. Mereka mengakui pemerintahan para kaisar itu, tetapi mereka tidak mau menerima kekuasannya kalau dipaksa untuk menyembah manusia sebagai dewa dan untuk membuang Yesus dari dalam hati mereka, meskipun harus membayar dengan hidup mereka. Kaisar Romawi memerintahkan orang-orang Kristen untuk menyangkal Yesus dan menyembah mereka bukan hanya sebagai kaisar tetapi juga sebagai dewa. Karena tidak bisa dan tidak mau mengikuti perintah yang demikian, orang Kristen Mula-mula terus menghadapi penganiayaan dan menjadi martir untuk mempertahankan iman mereka. Seperti para bapa iman sebelum kita, kita, juga, harus memilih kematian dibandingkan dengan meninggalkan iman kita.
Bagian mengenai tujuh jemaat di Asia Kecil bukan hanya menjelaskan mengenai keadaan pada masa itu, tetapi juga merupakan wahyu mengenai masa yang akan datang. Di dalamnya ditemukan wahyu bahwa para pelayan Allah dan orang-orang kudusNya akan menjadi martir karena mempertahankan iman mereka. Sama seperti pada jaman Kekaisaran Roma, akan datang masanya ketika sebuah pemerintahan yang absolut akan muncul dalam versi dunia modern dari kaisar Roma yang menundukan semua orang di bawah pemerintahan tiraninya, dengan membuat patung yang harus disembah sebagai dewa. Ini tidak jauh dari masa kita sendiri, dan ketika masanya tiba, banyak orang-orang kudus akan mengikuti langkah kaki orang-orang percaya Jemaat Mula-mula yang menuju kepada kemartiran.
Kita karena itu harus memelihara Firman teguran yang diberikan Tuhan kepada ketujuh jemaat di Asia. Dalam salam, pujian, dan teguran kepada ketujuh jemaat di Asia, Allah berjanji bahwa “Barangsiapa menang” akan “Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah,” dan menerima.” mahkota kehidupan,” “makan manna yang tersembunyi,” “bintang fajar,” dan lebih lagi! Ini adalah janji setia Allah kepada mereka yang menang atas kemartiran mereka, Ia akan memberikan berkat kekal dari Surga.
Bagaimana, kemudian, orang-orang kudus di Jemaat Mula-mula menghadapi kemartiran mereka? Hal yang pertama yang harus kita ingat adalah bahwa mereka yang menjadi martir adalah para hamba Allah dan orang-orang kudusNya. Hanya mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, tidak akan menyimpang dalam penganiayaan, dan berpegang kepada iman mereka serta percaya kepada Tuhan bisa menghadapi kemartiran. 
Rasul Yohanes, yang kita lihat di sini menegur Jemaat Efesus dalam masa pembuangannya di Pulau Patmos, adalah yang terakhir masih hidup di antara kedua belas Rasul Yesus. Semua rasul yang lain sudah menjadi martir, dan juga orang-orang kudus lainnya. Secara sejarah, orang-orang kudus di tujuh jemaat di Asia hanyalah sebagian kecil saja di antara begitu banyak orang Kristen yang menjadi martir sampai tahun 313 M. Dengan melarikan diri dari penganiayaan penguasa Roma, mereka sungguh-sungguh berada di bawah tanah, menggali gua-gua untuk melarikan diri dan berkumpul di kuburan-kuburan di bawah tanah yang dikenal sebagai Katakombe untuk beribadah—melalui semua ini dan yang lainnya, mereka tidak pernah mengkhianati iman mereka dan dengan rela menerima kemartiran mereka. 
Para pelayan dan orang-orang kudus di tujuh jemaat di Asia, termasuk Jemaat Efesus, meskipun ditegur oleh Allah di sini, mereka juga menjadi martir. Yang memungkinkan mereka menjadi martir adalah iman mereka kepada Tuhan. Mereka semua percaya bahwa Tuhan adalah Allah, bahwa ia menanggung segala dosa mereka, dan bahwa Ia adalah Gembala yang akan menuntun mereka semua ke Kerajaan Seribu Tahun dan Langit dan Bumi Baru. Iman dan keyakinan akan pengharapan inilah yang memampukan mereka untuk menang atas semua ketakutan serta sakit kematian yang diikuti oleh kemartiran mereka.
Kita sekarang hidup di jaman akhir. Tidak lama lagi dunia akan berada di bawah satu kekuasaan dan bahwa seorang penguasa yang akan memegang kuasa yang mutlak akan muncul. Penguasa mutlak ini, seperti yang tertulis di dalam Wahyu 13, akan mengancam kehidupan orang-orang kudus dan menuntut mereka menyangkali iman mereka. Tetapi kita, orang-orang kudus di jaman akhir ini, akan bisa menang atas ancaman ini dan mempertahankan iman kita melalui kemartiran kita, karena kita memiliki iman yang sama dengan yang dimiliki orang-orang kudus pada masa Jemaat Mula-mula.
Dalam ayat 4-5, Allah menegur Jemaat Efesus, dengan mengatakan, “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” Apa artinya? Artinya adalah bahwa Jemaat Efesus sudah meninggalkan Injil air dan Roh. Semua orang-orang kudus Jemaat Mula-mula, termasuk mereka yang ada di Jemaat Efesus, sudah percaya kepada Injil air dan Roh. Ini adalah karena murid-murid Yesus semuanya menyebarkan dan memberitakan Injil air dan Roh. Jadi Injil yang diterima orang-orang kudus pada masa itu dari para Rasul adalah Injil yang utuh, bukan Injil palsu, yang dibuat oleh manusia yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib saja.
Tetapi dikatakan di sini bahwa pelayan Jemaat Efesus sudah meninggalkan kasihnya yang semula. Ini berarti bahwa pelayan di Jemaat Efesus sudah meninggalkan Injil air dan Roh dalam melayani jemaatnya. Inilah sebabnya Tuhan berkata bahwa Ia akan mengangkat kaki dian dari tempatnya kecuali kalau ada pertobatan. Memindahkan kaki dian berarti memindahkan jemaat, yang, pada gilirannya, berarti Roh Kudus tidak lagi bekerja di Jemaat Efesus.
Bagi pelayan Jemaat Efesus, kembali kepada Injil air dan Roh tentu saja bukan hal yang sulit dilakukan. Yang kemudian menjadi masalah adalah bahwa ia, sementara percaya kepada Injil air dan Roh di dalam hatinya, tidak meemberitakan secara eksplisit apa yang dipercayainya. Ia menerima semua orang ke dalam jemaatnya yang hanya mengaku saja kalau Yesus itu Juruselamat mereka., meskipun mereka tidak percaya kepada Injil air dan Roh, sementara sebenarnya pengakuan iman mereka akan Injil air dan Roh sangat berarti bagi orang-orang percaya dalam mempersiapkan diri menghadapi kemartiran. 
Jadi, ia menerima, dengan kata lain, semua orang yang datang ke gerejanya baik orang itu memiliki iman yang sama kepada Allah dan Injil air dan Roh atau tidak. Karena masuk ke dalam gereja Allah membutuhkan pengorbanan yang besar, dan karena pelayan Jemaat Efesus takut bahwa pengorbanan itu akan membuat orang tidak masuk ke gerejanya, ia tidak bisa mewartakan kebenaran yang mutlak ini dengan menggunakan cara yang tepat.
Tetapi karena Roh Kudus tidak bisa berdiam di tempat dimana tidak ada kebenaran, Allah mengatakan bahwa Ia akan memindahkan kaki dian itu. Itu bukan karena kurang rajinnya hamba Allah dan orang-orang kudus di Jemaat Efesus sehingga Allah mengatakan akan memindahkan jemaat; namun, yang dimaksudkanNya adalah bahwa Ia tidak berdiam di dalam jemaat itu lagi karena kebenaran Allah tidak lagi bisa ditemukan di dalamnya.
Menjadi persyaratan yang mutlak perlu bahwa gereja Allah mengikuti Injil air dan Roh. Pelayan dan orang-orang kudus tidak hanya harus percaya kepada Injil ini tetapi juga harus memberitakan dan mengajarkannya dengan cara dan istilah yang tepat, karena hanya di dalam Injil ini kita bisa menemukan kasih Allah, anugerahNya, dan semua berkat-berkatNya untuk kita.
Bukannya mewartakan Injil ini, pelayan Jemaat Efesus menerima ke dalam anggotanya orang-orang yang hanya percaya kepada darah di kayu Salib. Tetapi bahkan pelayan yang sudah dilahirkan kembali, orang-orang kudus, atau gereja, percaya tetapi tidak mau mewartakan Injil air dan Roh yang sudah menghapus dosa mereka dengan baptisanNya dan darahNya di kayu Salib sudah menjadikan semua karya Tuhan kita itu menjadi tidak berarti. 
Meskipun kita bisa saja memiliki kekurangan dalam pandangan mata Tuhan, kalau kita percaya kepada ini dan mewartakannya, Tuhan akan berdiam dan bekerja di dalam kita sebagai Roh KudusNya. Bahkan meskipun seorang hamba Allah atau orang-orang kudus penuh dengan kelemahan, Tuhan bisa mengajarkan dan menuntun mereka melalui FirmanNya. Di dalam gereja dimana Injil air dan Roh dan Roh Kudus didapati, kehadiran Roh Kudus di dalamnya menunjukkan kalau gereja itu memang kudus.
Tidak ada kesucian di dalam diri hamba Allah atau orang-orang kudus kalau mereka tidak memberitakan Injil air dan Roh lagi. Mungkin mereka bisa mengatakan tidak lagi memiliki dosa, tetapi kesucian hanya bisa ditemukan dimana Injil air dan Roh diwartakan.
Injil air dan Roh ini adalah Injil yang orang-orang Kudus di Gereja Mula-mula percayai, Injil yang menyatakan bahwa Tuhan datang ke bumi ini dengan menyelamatkan umat manusia dengan menanggung segala dosa dunia dengan babtisan-Nya dan menanggung semuanya dengan kematian-Nya di kayu Salib. Dia menanggung segala kelemahan dan kekurangan kita dengan babtisan-Nya. Allah menanggung segala dosa kita dari kelemahan dan kekurangan kita, dan Dia telah menjadi Gembala kekal kita.
Karena sudah diberkati sedemikian kaya, bagaimana bisa ada orang yang menukar Tuhan dengan seorang kaisar Roma dan hanya menyembah makhluk yang fana sebagai dewanya? Karena anugerah Allah begitu besar dan berlimpah, tidak ada kesenangan atau ancaman yang bisa membuat orang-orang kudus meninggalkan kasihNya, dan kemudian dengan rela atau dengan senang menerima kemartiran untuk mempertahankan iman mereka. Mereka mengabaikan ancaman yang berusaha untuk membuat mereka menyangkali iman mereka dan usaha untuk menempatkan mereka dalam kedudukan yang tinggi untuk membuat mereka meninggalkan iman mereka demi keuntungan materi. Tidak ada yang bisa membuat mereka menyangkali iman mereka dan meninggalkan Allah mereka, dan kesetiaan yang tidak pernah mati ini yang membuat mereka mampu menjadi martir. 
Hati para martir dipenuhi dengan ucapan syukur atas anugerah dan kasih Allah yang sudah membebaskan mereka dari dosa-dosa mereka melalui Injil air dan Roh. Mereka yang imannya tidak bisa menyangkali kasih Allah yang sudah sejak kekekalan memerdekakan mereka dari segala dosa mereka bisa menerima kemartiran melebihi kemurtadan. Saatnya akan tiba ketika, sama seperti pemerintahan Roma menuntut orang-orang kudus di Jemaat Mula-mula untuk mengakui keilahian mereka sebagai dewa, kita, juga, akan dipaksa untuk menyangkali iman kita. Ketika hal ini terjadi, kita harus mengikuti jejak kaki para bapa iman kita dan mempertahankan iman itu sampai kemartiran.
Meskipun kita penuh dengan kelemahan, Allah sudah sangat mengasihi kita sampai Ia menanggungkan semua kelemahan itu ke atas diriNya. Bagaimanapun kita kehilangan kemuliaanNya, Ia sudah menerima kita ke dalam tanganNya. Bukan hanya Ia menerima kita, tetapi Ia juga menyelesaikan masalah-masalah dosa dan kebinasaan serta sudah menjadikan kita anakNya serta mempelai wanitaNya untuk selamanya. Inilah sebabnya kita tidak pernah bisa menyangkali iman kita dan sebabnya kita akan dengan rela dan senang hati menerima kemartiran bagi namaNya. Kemartiran ini adalah untuk mempertahankan kasih semula yang diberikan Allah kepada kita. Kasih itu bukan hasil emosi manusia belaka, tetapi karena iman kepada kenyataan bahwa Allah sudah memberikan kepada kita semua berkatNya walaupun ada kelemahan dan kekurangan kita. Kita menjadi martir bukan karena kekuatan kehendak kita, tetapi karena iman kita kepada keagungan Allah kita.
Tentu saja, ada, orang-orang yang mati sebagai martir untuk negara atau ideologinya. Orang-orang ini memiliki keyakinan yang sangat kuat kepada apa yang mereka percayai sebagai kebenaran dan bahkan siap mengorbankan hidupnya demi hal itu. Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana anak-anak Allah yang sudah dilahirkan kembali oleh iman kepada Yesus Kristus dijadikan martir? Kita bisa menjadi martir karena kita begitu bersyukur atas Injil yang denganNya Tuhan kita mengasihi dan menyelamatkan kita. Karena Allah sudah menerima kita meskipun kita memiliki kelemahan yang tidak terhingga, karena Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada kita, dan karena Ia sudah menjadikan kita umatNya serta memberkati kita untuk hidup kekal di dalam hadiratNya, kita tidak akan pernah bisa meninggalkan Dia. 
Allah juga sudah berjanji memberikan Langit dan Bumi Baru kepada kita, dan untuk pengharapan ini saja kita tidak akan bisa meninggalkan iman kita. Apapun yang terjadi—bahkan jika Antikristus mengancam dan menganiaya sampai mati—kita tidak akan pernah menyangkal Tuhan kita dan Injil air dan RohNya. Bahkan kalau kita diseret ke hadapan Antikristus dan dibunuh, kita tidak akan pernah bisa mengkhianati anugerah dan kasih Allah yang sudah menyelamatkan kita. Seperti pepatah mengatakan, “Langkahi mayat saya” kita juga tidak akan pernah mengkhianati Tuhan kita. Kita bisa saja tergoda untuk melakukan hal-hal yang lain, tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah kita lakukan: kita tidak akan pernah meninggalkan atau mengkhianati kasih Kristus yang sudah menyelamatkan kita.
Apakah anda berpikir bahwa Antikristus akan berbelas kasihan kepada kita karena kelemahan kita? Tentu saja tidak! Ia sama sekali tidak perduli! Tetapi Tuhan kita menjadikan kita lengkap dan genap dengan mengangkat semua masalah kita dan dihukum menggantikan kita, bagaimanapun juga kelemahan dan ketidakmampuan kita. Inilah sebabnya kita tidak bisa meninggalkan kasih keselamatan Tuhan yang sudah membebaskan kita melalui Injil air dan Roh, dan sebabnya kita tidak bisa meninggalkan iman kasih yang semula ini. Tidak ada yang bisa ditinggalkan kecuali kalau kita tinggalkan hati kita terlebih dahulu. 
Demikian juga, kalau kita memelihara iman kita di dalam hati kita, kita bisa mempertahankan iman kita sampai kepada akhirnya meskipun ada banyak ancaman, bujukan atau godaan diberikan kepada kita. Kalau kita tahu di dalam hati kita mengenai betapa berharganya kasih Allah kepada kita, dan kalau kita berpegang kepada kasih itu sampai akhir, kita bisa mempertahankan Injil itu sampai hari akhir. Bagi mereka yang hidup oleh iman, kemartiran tidak pernah sulit untuk diterima.
Kita semua harus berpikir secara serius mengenai kemungkinan kemartiran kita sendiri. Kemartiran bukan hanya sekedar menahan sakit dan penderitaan. Daging kita begitu peka sampai tusukan jarum yang sangat kecil saja sudah membuat kita kesakitan. Menahan sakit yang demikian bukanlah makna dari kemartiran. Namun, kemartiran berarti memberikan sepenuh kehidupan kita. Bukan hanya menahan derita fisik, tetapi sungguh-sungguh kehilangan nyawa adalah arti yang benar dari kemartiran itu. Ketika Antikristus menuntut supaya kita menyebut namanya dan menyembahnya sebagai dewa, kita akan menolak sampai kita mati. Karena hanya Tuhan Allah kita dan hanya Dia yang layak untuk menerima penyembahan kita, dan hanya tepat kalau kita menjadi martir untuk mempertahankan namaNya. Kita tidak akan bisa menukarkan iman ini dengan apapun.
Apakah Antikristus, yang menyangkal Allah dan menuntut untuk disembah sebagai dewa layak menerima pujian yang demikian? Tentu saja tidak! Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk menciptakan dunia dan alam semesta ini. Hanya Dia yang memiliki kuasa atas hidup dan mati, dan hanya Dia yang tidak bercacat, tidak berdosa, dan sepenuhnya benar atas semua ciptaan, dan hanya Dia yang memiliki kuasa untuk menghapus dosa seluruh dunia. Lalu bagaimana dengan Antikristus? Yang dimiliki oleh Antikristus hanyalah kuasa dunia. Inilah sebabnya kita tidak bisa menukar Tuhan kita dengan dia, dan inilah sebabnya kita tidak akan bisa mengkhianati iman kita kepada Allah yang Mahakuasa.
Allah adalah Dia yang pasti akan membuat kita bersukacita sampai selamanya. Ia akan membangkitkan mereka yang sudah dijadikannya tidak memiliki dosa dengan percaya kepada Yesus Kristus ke dalam tubuh kemuliaan dan membuka gerbang Kerajaan Seribu Tahun dan Langit dan Bumi Baru bagi mereka. Tetapi mereka yang sujud kepada Antikristus akan menghadapi hukuman kekal dan dilemparkan ke dalam neraka bersama-sama dengan Iblis. Sangat bodoh sekali untuk melakukan hal itu kalau kemudian kita akan dibuang dari sukacita kekal karena berpihak kepada Antikristus karena ketakutan akan kesakitan dan penderitaan yang hanya sementara saja. Dengan mengenali kebenaran ini, mereka yang percaya kepada Injil air dan Roh di dalam hati mereka akan bisa dengan berani berdiri melawan Antikristus, menjadi martir, dan menerima kebahagiaan kekal sebagai upah untuk pengorbanan mereka.
Anda dan saya, kita semua akan dijadikan martir. Jangan salah: ketika masa kuda hitam berakhir, masa kuda hijau kuning akan tiba, dan kemudian, Antikristus akan muncul dan malapetaka tujuh sangkakala akan dimulai. Antikristus sudah pasti akan datang, kita orang-orang kudus sudah pasti akan menjadi martir, dan dengan kebangkitan kita tentu saja kemudian kita akan diangkat. Dan kita pasti akan masuk ke dalam Kerajaan Seribu Tahun. Inilah sebabnya kita semua akan dengan rela menjadi martir ketika Antikristus menganiaya kita dan menuntut kematian kita.
Quo Vadis, salah satu film klasik, menggambarkan banyak orang Kristen yang memberikan hidupnya untuk mempertahankan iman mereka dan menyanyikan pujian bahkan ketika mereka dibunuh. Film itu sendiri adalah sebuah fiksi, tetapi latar belakang sejarahnya adalah kenyataan—yaitu, banyak orang Kristen memang memberikan hidupnya untuk mempertahankan iman mereka. Mengapa mereka melakukan hal itu? Karena yang dituntut oleh penguasa Roma dari mereka—untuk menyangkal Allah, dan kemudian memuja dewa-dewa, dan untuk membuang iman mereka—adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. 
Kalau mereka mengubah ilah mereka seperti tuntutan penguasa Roma, itu berarti mereka sudah mengubah segala sesuatunya. Kaisar kemudian akan menjadi dewa mereka, membuat mereka tunduk kepada kekuasaan tiraninya, dan mereka akan mati dalam peperangan seperti pion saja. Mereka juga tidak akan dibebaskan dari dosa, dan mereka juga tidak akan bisa masuk ke dalam Langit dan Bumi Baru. Inilah sebabnya orang-orang itu tidak bisa mengkhianati iman mereka dan bahkan memilih untuk menghadapi kematian dengan sukacita dan pujian. Mereka bisa menyanyikan pujian kepada Tuhan bahkan meskipun ketika mereka menghadapi maut karena pengharapan mereka lebih besar daripada kesakitan mereka menghadapi maut.
Sangat penting bagi kita untuk mempertahankan Injil air dan Roh. Juga merupakan keharusan bagi kita untuk hidup di dalam pengharapan, percaya bahwa di balik kematian kita menanti kehidupan kekal di dalam dunia baru yang penuh kebahagiaan dan kemuliaan.
Pernahkah anda menderita bagi Tuhan? Pernahkah anda sungguh-sungguh menderita, bukan karena kesalahan atau kelemahan anda sendiri, tetapi bagi Tuhan? Kalau penderitaan kita adalah bagi Tuhan, semua sakit kita akan berubah menjadi sukacita yang lebih besar. Seperti yang diungkapkan Rasul Paulus mengenai sukacita ini, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). Karena sukacita kemuliaan yang akan dinyatakan di dalam kita jauh lebih besar dibandingkan dengan penderitaan karena Tuhan, semua penderitaan kita sekarang akan terkubur di balik kemuliaan dan kebahagiaan yang besar dari iman kita. 
Dengan kata lain, orang-orang kudus dan para martir Jemaat Mula-mula bisa mengalahkan kesakitan mereka dan menyerahkan kehidupan mereka kepada Tuhan karena mereka tahu bahwa sukacita yang menantikan mereka jauh lebih besar daripada penderitaan sesaat mereka. Kemartiran mereka bukanlah hasil dari kemampuan mereka untuk menahan sakit dan mengalami penderitaan, tetapi karena pengharapan mereka akan kemuliaan yang menanti mereka.
Pada umumnya, orang menahan kesakitan mereka dengan berpikir bahwa mereka harus membiasakan diri dengan hal itu. Cara yang demikian adalah perjuangan yang sulit dan melelahkan. Ketika daya tahan mereka sampai kepada hasil yang mengecewakan, rasa frustasi mereka jauh menjadi lebih besar—semua penderitaan mereka menjadi sia-sia saja! Tetapi bagi kita orang-orang Kristen, yang menjadi lebih besar adalah sukacita dan kebahagiaan dari ketekunan kita, karena kita aman di dalam kepastian akan pengharapan dan upah kita. Kalau kita menetapkan pikiran kita untuk melayani Tuhan dengan segenap hati kita sebagai hamba-hambaNya yang setia, kita tahu bahwa sukacita dan kesenangan yang menantikan kita adalah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kesakitan serta pengorbanan sekarang. Karena semua kesulitan kita dikuburkan di balik semua sukacita ini, kita bisa menjalani kehidupan kita bagi Tuhan dan bahkan menerima kemartiran kita bagi Dia.
Manusia memiliki jiwa, emosi, pikiran dan iman. Bagi orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, karena Roh Tuhan berdiam di dalam mereka, dianiaya bagi kebenaran hanya akan mendatangkan sukacita dan bahagia yang tidak terkatakan karena kemuliaan yang menantikan mereka. Tetapi kalau mereka meninggalkan kasih yang semula ini, Tuhan tidak akan ragu-ragu untuk memindahkan kaki dian itu. 
Kalau mereka yang sudah dengan sukacita melayani Injil air dan Roh dengan sepenuh hati mereka kemudian berhenti melakukannya, itu hanya bisa berarti bahwa mereka secara bertahap meninggalkan sukacita melayani Injil, kasih mereka yang semula, bahkan meskipun mereka tidak sepenuhnya membuang Injil ini. Mereka bisa jadi masih berpegang kepada iman pribadi mereka, tetapi mereka tidak lagi bangga dalam memberitakan Injil dan tidak lagi memiliki pemahaman yang jelas mengenai apa artinya diselamatkan—bahwa darah di kayu Salib tidak cukup untuk keselamatan—kemudian iman mereka akan dicemarkan, dan kemartiran akan menjadi sesuatu yang tidak akan mungkin mereka capai. Allah kemudian akan memindahkan kaki dian mereka dari tempat yang semula.
Mereka yang melayani Injil dengan sukacita dan ketekunan akan bisa menerima kemartiran dengan senang karena mereka tidak akan pernah meninggalkan kasih mereka yang semula. Karena orang-orang ini diberkati Allah karena percaya dan memberitakan kasih Kristus, mereka bisa menjadi martir. Tidak peduli bagaimana hebatnya kemampua anda; kalau anda tidak memberitakan Injil air dan Roh, jemaat akan dipindahkan dari tempatnya yang semula. Ini adalah berita yang sangat penting yang dikehendaki Allah supaya kita mengerti. Kalau kita menyadari dan percaya kepada kebenaran ini, kita bisa memperbaharui hati kita di jaman akhir dan bisa menjadi martir bagi nama Tuhan.
Apa sebenarnya inti yang paling penting bagi iman kita? Injil air dan Roh. Kalau bukan karena Injil air dan Roh, apa gunanya pekerjaan iman kita? Alasan mengapa kita bisa mempertahankan iman adalah karena Allah sudah mengasihi kita dan merangkul kita di dalam tanganNya dengan Injil air dan Roh. Karena kasih ini adalah kasih yang tidak pernah berubah yang mempermuliakan kita, kita bisa mempertahankan iman kita, kita bisa mempertahankan iman kita dan terus memberitakan serta mewartakannya.
Meskipun kita memiliki kelemahan, kita bisa lari kepada Allah pada akhirnya, karena Injil air dan Roh sudah menyelamatkan kita, dan karena di dalam Injil ini ditemukan kasih Kristus. Kita penuh dengan kekurangan, tetapi karena kita sudah mengenakan Injil air dan Roh yang penuh dengan kasih dari Tuhan kita, kita bisa mengasihi saudara-saudara kita, para hamba Allah, dan semua manusia yang ada di dunia ini. Pada dasarnya, kasih yang sempurna itu tidak bisa dijangkau oleh manusia. Karena tidak ada kasih di antara kita, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengasihi sesama kita dan hanya bisa mengasihi diri kita sendiri. Banyak orang tertipu oleh apa yang muncul di bagian luarnya saja, tertarik oleh bercahayanya bagian luar yang hanya sebatas kulit saja. Mereka menilai manusia sesuai dengan apa yang kelihatan dan milik bagian luar yang ada di dalam diri orang itu. Tetapi diantara orang-orang yang sungguh-sungguh percaya terdapat kasih Allah. Inilah yang memampukan kita untuk memberitakan Injil, kasih Tuhan kita yang sempurna.
Tuhan datang ke dunia ini, dibaptiskan untuk menerima semua kelemahan kita, dan menyucikan kita dari segala dosa yang kita miliki. Bagaimana, kemudian, kita bisa meninggalkan kasih yang semula dariNya yang sudah menjadikan kita anak-anak Allah? Kita bisa saja memiliki banyak kekurangan di beberapa bidang, tetapi kita jangan sampai kita kekurangan iman kepada kebenaran ini. Kita harus memberitakan Injil ini dengan iman yang mutlak. Yang paling kita butuhkan di dalam masa-masa kesusahan adalah iman kepada Injil air dan Roh yang ini. Ketika kita menghadapi ujian dan pencobaan, kekuatan untuk mempertahankan iman dan menang atas semua kesulitan berasal dari iman kepada Injil air dan Roh. Dengan kuasa Injil inilah wajah kita bisa berseri-seri penuh sukacita meskipun kita menjadi bosan dengan begitu banyak pergumulan yang kita hadapi dalam kehidupan setiap hari kita. Inilah kasih Tuhan kita.
Seringkali manusia gampang terjebak kepada jebakan legalis. Mereka berpikir bahwa Allah memberkati mereka atas apa yang sudah mereka lakukan. Saya tidak akan, tentu saja, mengatakan bahwa ini sepenuhnya salah, karena Tuhan mengatakan bahwa Ia akan mengasihi mereka yang mengasihi Dia. Tetapi bukan karena apa yang sudah kita lakukan sampai Allah begitu mengasihi kita dan menjadikan kita tidak berdosa. Karena Allah tahu semua janjiNya yang sudah diberikanNya kepada kita, dan karena Ia tahu segala dosa kita, Ia sudah, dalam kehendak dan kasihNya yang sempurna, menerima kita dan menjadikan kita lengkap. Semata-mata karena berkatNya sampai kita bisa bersukacita. Karena Allah sudah menjadikan kita umatNya dan hambaNya sehingga kita bisa bekerja bagi Tuhan, mengenakan kemuliaanNya, memberitakan Injil kepada orang lain, dan, ketika saatnya tiba, menjadi martir bagi namaNya. Ia adalah Dia yang memampukan kita melakukan semua hal itu.
Dari manakah para wanita martir di dalam film Quo Vadis menemukan kekuatan untuk memuji Tuhan bahkan ketika mereka akan dibunuh? Mereka menemukan kekuatannya di dalam kasih Tuhan kita. Karena kasih Kristus begitu besar, mereka akan menerima kemartiran mereka dengan pujian.
Prinsip yang sama bisa diterapkan di dalam kehidupan kita sendiri. Kita menjalani kehidupan kita karena Tuhan memampukan kita melakukannya; itu bukan karena pekerjaan kita sehingga kita menjadi anak dan hamba Allah. Kita tidak melakukan apapun yang membuat kita layak menerimanya. Semata karena kasihNya yang tidak berubah dan yang sempurna bagi kita sampai kita bisa mengikuti Dia sampai akhir, meskipun kita juga sering tersandung. Kekuatan ini adalah kekuatan Allah, bukan kekuatan kita. Kemartiran hanya bisa terjadi karena kasih Allah sudah menjadikan kita lengkap—oleh anugerah Allah saja kita bisa menerima kemartiran. Ingat kebenaran ini, yaitu bahwa Allah yang memampukan kita untuk menjadi martir, dan jangan membuang waktu untuk mempersiapkan diri anda menerima kemartiran, seolah-olah ada sesuatu yang bisa anda lakukan. Hanya iman kita kepada Injil air dan Roh yang memampukan kita memuji Tuhan sampai nafas penghabisan kita.
Tuhan berkata kepada ketujuh jemaat di Asia: “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Pohon kehidupan ditemukan di dalam Langit dan Bumi Baru. Di sana ada tahta Allah, rumah yang dibangun dengan batu mulia, dan air kehidupan yang berlimpah. Kepada mereka yang menang, Allah menjanjikan Firdaus milikNya, dimana mereka akan hidup kekal dengan Dia dalam kesempurnaan.
Mereka yang menang mendapatkan kemenangan itu dengan iman kepada Injil air dan Roh. Apa saja selain Injil itu tidak akan mungkin membawa kemenangan, yang hanya bisa diperoleh melalui kekuatan Allah. Bukan oleh kekuatan manusia. Kekuatan yang memampukan kita menang berasal dari Allah. Kita harus menyadari dan menghargai betapa agungnya Injil air dan Roh dan betapa agungnya kasih Allah dan keselamatan dariNya, karena Injil inilah yang akan memberikan kepada kita iman untuk menerima kemartiran. Kita bisa saja lemah, tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki karunia, tidak ahli, bodoh dan tidak tahu, tetapi kita tetap saja memiliki kuasa, karena kita memiliki Injil air dan Roh di dalam hati kita.
Nama-nama mereka yang percaya kepada Injil air dan Roh tertulis di dalam Kitab Kehidupan. Semua orang yang namanya tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan, sebaliknya, akan jatuh dan dilemparkan di hadapan Iblis. Hanya mereka yang namanya tertulis di dalam Kitab Kehidupan dengan percaya kepada Injil air dan Roh tidak akan tunduk di hadapan Iblis. Anda harus yakin bahwa nama anda dengan jelas dan pasti tertulis di dalam Kitab Kehidupan ini.
Ketika kita menjadi martir, itu adalah karena iman kita, kasih yang semula dari Kristus yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita bisa menantikan kemartiran kita tanpa khawatir atau takut karena kita percaya bahwa Roh Kudus yang berdiam di dalam kita akan memberikan kepada kita kekuatan untuk menghadapi kemartiran. Karena penderitaan kemartiran tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan surga yang menantikan kita, kita tidak akan tunduk takut kepada kematian kita dan bahkan dengan berani menerima kemartiran kita untuk mempertahankan Injil yang berharga itu. Kita sekarang harus meninggalkan semua kebingungan tentang bagaimana kita bisa menjadi martir, karena itu bukanlah karena usaha kita tetapi karena Allah kita menjadi martir.
Saya yakin bahwa suatu saat nanti akan ada pengumuman memakai loud speaker yang isinya demikian: “Saudara-saudara, ini adalah hari terakhir untuk menerima tanda. Hanya sedikit yang masih harus menerima tanda hari ini. Kami berterimakasih atas kerjasama anda sampai sekarang. Menerima tanda ini sangat baik untuk anda dan merupakan suatu keharusan, karena hal itu diperlukan untuk merapikan aturan negara kita. Jadi, silahkan datang ke kantor pemerintah dan menerima tanda itu secepat mungkin. Sekali lagi saya katakan, ini adalah hari terakhir bagi anda untuk menerima tanda itu. Mereka yang belum menerima tanda itu sampai waktu yang ditentukan pada hari ini akan menerima hukuman yang keras. Untuk lebih jelasnya, saya akan menyebutkan nama orang-orang yang belum menerima tanda itu.” Tentu saja, ini hanya gambaran saja, tetapi hal itu pasti akan terjadi tidak lama lagi.
Orang-orang percaya di masa Jemaat Mula-mula memperkenalkan dirinya dengan lambang ikan. Itu adalah lambang di antara mereka. Kita, juga, akan memilih memakai lambang yang membuat kita dikenal oleh saudara-saudara kita, sehingga kita bisa saling menguatkan iman sesama untuk menerima kemartiran itu. 
Karena kemartiran bukanlah sesuatu yang bisa kita capai melalui upaya kita, kita bisa membuang kekhawatiran kita dan menghadapi hal itu dengan keberanian. Tidak ada yang perlu ditakutkan dalam kematian karena kebenaran kita. Yang harus kita lakukan hanyalah hidup bagi Tuhan selama kita ada di dunia ini. Kita bisa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan karena kita tahu bahwa kita ditentukan untuk menjadi martir bagi nama Allah kita. Anda harus menyadari bahwa kalau anda berusaha untuk lari dari kemartiran karena takut kehilangan milik anda, anda akan menghadapi kesulitan dan bencana yang lebih besar. Anda harus menjadi manusia iman, yang tahu bahwa mereka akan menjadi martir bagi Kristus, tetapi tetap menjalani kehidupan mereka bagi Tuhan sampai akhir hayat mereka.
Ketika kita menyadari bahwa kita akan menjadi martir, kita akan menjadi lebih bijaksana dalam iman, pikiran, dan tindakan nyata kita. Pengetahuan ini adalah obat untuk kebodohan kita, yang memampukan kita meninggalkan semua ikatan dunia. Itu tidak berarti bahwa kita selalu harus kehilangan nyawa kita, tetapi berarti bahwa kita harus hidup bagi Tuhan. Sampai kuasa Allah menggulingkan kuasa Iblis ke dalam lubang yang tak berdasar, kita hidup bagi Tuhan yang menyelamatkan kita, melawan dan menang atas Iblis dan Antikristus, dan memberikan kemuliaan atas kemenangan itu kepada Allah dan hanya kepadaNya saja. Allah ingin dipermuliakan oleh kita. Saya bersyukur kepada Tuhan yang memungkinkan kita, dengan iman kita, memberikan kemuliaan kepadaNya yang sudah memungkinkan kita menang. 
Kita percaya bahwa Tuhan akan segera kembali untuk membawa kita. Ketika banyak orang kembali kepada Allah di akhir jaman, Allah akan menerima mereka semua ke dalam tanganNya dan membawa mereka. Seperti yang dikatakan Allah kepada Jemaat Filadelpia dalam Wahyu 3:10, “Karena engkau menuruti firmanKu, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.” Allah pasti akan menggenapi Firman perjanjianNya.
Yang dimaksud dengan “engkau menuruti firmanKu untuk tekun,” oleh Allah menunjuk kepada kehidupan orang-orang kudus yang setia. Itu berarti bahwa mereka berdiri teguh di dalam iman mereka apapun yang dikatakan atau dilakukan orang lain terhadap mereka. Ketika Allah mengatakan bahwa Ia akan “melindungi engkau dari hari pencobaan,” adalah bahwa mereka yang menuruti firmanNya untuk tekun akan dibebaskan dari pencobaan iman. 
Ketika masa kesengsaraan dan kemartiran datang, dengan kata lain, Allah akan langsung menyingkirkan kita dari hal itu karena kita setia menjalani kehidupan pelayanan dan doa kita. Ketika kita menetapkan pikiran bahwa kita akan menjalani kemartiran, hati kita akan dibersihkan dari semua kotoran, dan iman kita akan menjadi semakin kuat. Kita harus menghidupi kehidupan iman kita sekarang di hadapan Allah dengan mengingat janji Allah bahwa, dengan kemartiran kita, kita semua akan dilindungi dari hari pencobaan. Kita harus hidup, singkatnya, dengan iman kita.
Masa ini adalah masa Wahyu. Ada banyak orang Kristen yang bodoh, yang mengabaikan firman Allah, dan pada saat yang sama berpegang kepada kepercayaan mereka yang keliru mengenai pengangkatan pretribulasi. Ketika hari akhir datang, mereka akan melihat betapa kelirunya mereka. Hari-hari mereka sebagai orang berkuasa dan berpengaruh sudah terhitung; yang harus kita lakukan hanyalah hidup dalam kepastian pengharapan bahwa Allah akan menggenapi semua Firman PerjanjianNya.
Ketika kita sampai ke pertengahan masa Kesengsaraan Besar, kita akan menjadi martir untuk mempertahankan iman kita, dan tepat sebelum malapetaka ketujuh cawan datang, kita akan diangkat ke angkasa oleh Allah dan masuk Kerajaan Seribu Tahun. Ketika pengharapan kita untuk memerintah bersama dengan Kristus digenapi, semua penderitaan di dunia ini akan dibayar lebih ketika dengan pahala yang menunggu kita, dan masuknya kita ke dalam Langit dan Bumi Baru yang kekal akan meliputi kita dengan sukacita yang sangat besar. Hari ini, kita hidup oleh iman, bagi Tuhan, di dalam pengharapan akan penggenapan janji Allah ini. Percaya bahwa Tuhan kita akan menggenapi semua janjiNya, kita hidup di dalam penantian akan datangnya hari ketika kita akan bisa hidup bersama Dia untuk selamanya dalam tubuh kita yang sudah dimuliakan. 
Saya bersyukur kepada Tuhan yang memberikan kepada kita Injil pengampunan dosa yang sempurna, yang memampukan kita menerima kemartiran untuk mempertahankan iman kita kepadaNya, dan untuk membuat kita berdiri di antara orang-orang keberkatanNya.
 

Latar Belakang Jemaat Efesus 
 
Efesus, sebuah kota pelabuhan besar di wilayah Asia Kecil Kekaisaran Roma, adalah pusat dari kegiatan perdagangan dan keagamaan. Di masa Jemaat Mula-mula, kota ini adalah kota internasional yang berkembang pesat; di sebelah utaranya ada Smirna, dan di sebelah selatannya ada Miletus. Menurut mitos, Amazon, dewi perang yang sangat perkasa, membangun kota ini pada abad 12 sebelum Masehi ketika ia memberikan kota itu kepada Androclus, putera mahkota Athena. 
Efesus, secara materi, adalah kota yang makmur, yang berarti bahwa kota itu juga sangat bersifat dunia. Inilah sebabnya Allah mengatakan bahwa Jemaat Efesus harus melawan sampai akhir dan mengalahkan Iblis sehingga mereka tidak akan kehilangan Injil air dan RohNya. Kita harus menyadari betapa pentingnya firman kebenaran Allah itu, dan kita harus mempertahankan iman kita dengan segala cara.
Melalui Rasul Yohanes Allah menulis kepada Jemaat Efesus: “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kananNya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena namaKu; dan engkau tidak mengenal lelah.” Jemaat Efesus dipuji oleh Allah karena pekerjaan mereka, kesabaran, dan tidak membiarkan kejahatan, dan karena mencoba serta menyingkap nabi palsu, dan tanpa kenal lelah bekerja bagi namaNya dengan ketekunan dan kesabaran.
Tetapi Jemaat Efesus juga ditegur karena tindakan mereka yang salah. Seperti yang bunyi ayat selanjutnya: “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” 
Dikatakan di dalam bagian di atas bahwa Allah membenci para pengikut ajaran Nikolas. Para pengikut ajaran Nikolas adalah orang-orang percaya yang melawan Allah, gerejaNya dan kebenaranNya. Yang dilakukan oleh para pengikut ajaran Nikolas secara lebih jelas ditulis dalam bagian selanjutnya mengenai Jemaat Pergamus.
 

Kekeliruan para pengikut ajaran Nikolas 
 
Wahyu 2:14 mengatakan, “Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.” Padanan ayat untuk bagian ini bisa ditemukan di dalam pasal 22 Kitab Bilangan, dimana kisah mengenai Balak, raja Moab, ditulis. 
Pada masa bangsa Israel mencapai tanah Moab setelah keluar dari Mesir, mereka sudah menaklukan ketujuh suku di daerah itu, “seperti sapi makan rumput di padang.” Mendengar kemenangan ini, Balak menjadi takut kepada Allah mereka, karena ia takut bahwa nasib bangsa Moab juga akan seperti bangsa-bangsa lain yang sudah ditaklukan di Kanaan. Dalam upayanya untuk mencegah bangsa Israel menaklukan mereka juga, Balak memanggil Bileam, seorang nabi palsu, supaya ia bisa mengutuiki bangsa Israel atas permintaannya.
Bileam adalah nabi palsu, tetapi orang-orang non Yahudi menganggap ia sebagai hamba Allah. Ia bukan keturunan Imam Besar Harun, dan juga bukan orang Lewi. Tetapi raja Moab, Balak, percaya bahwa mereka yang diberkati Bileam akan diberkati, dan mereka yang dikutuk akan kena kutuk. Pada masa itu, Bileam, meskipun nabi palsu, sangat terkenal sebagai tukang sihir yang hebat.
Tetapi Bileam tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan Raja Balak kepadanya. Alasannya adalah karena bangsa Israel itu adalah umat Allah, bukan hanya Bileam tidak mendapat ijin dari Allah untuk mengutuki bangsa Israel, tetapi bahkan kutukan itu justru akan menjadi kutuk atas dirinya sendiri. Karena dikuasai oleh kuasa rohani Allah, Bileam tidak bisa melakukan apa-apa kecuali memberkati bangsa Israel. Karena marahnya, Balak menyuruh Bileam untuk mengutuk bangsa Israel dari tempat dimana ia tidak bisa melihat mereka.
Bileam menerima sejumlah besar uang dari Balak dan sebagai balasannya ia memberitahukan bagaimana caranya menjatuhkan kutuk kepada bangsa Israel. Rencananya adalah untuk menggoda bangsa itu melakukan perzinahan dengan mengundang mereka ke pesta bangsa Moab dan menyediakan wanita untuk mereka, sehingga bangsa Israel akan dihukum oleh Allah karena dosa-dosa mereka. Demikianlah nabi palsu Bileam mengajar Balak untuk membawa kebinasaan kepada bangsa Israel.
Allah berkata bahwa Ia membenci Bileam karena ia adalah manusia yang cinta uang. Ada banyak orang Kristen jaman ini yang sama seperti Bileam. Mereka pada dasarnya adalah nabi-nabi palsu, tetapi banyak di antara mereka yang masih dihormati dan dihargai. Tetapi yang dikejar oleh Bileam adalah kepemilikan materi. Ketika ia diberi uang, ia memberkati; kalau tidak, ia mengutuk. Di lingkungan kekristenan jaman sekarang, sedihnya, banyak juga yang seharusnya menjadi hamba Allah justru berlaku seperti Bileam. Ketika mereka yang percaya kepada Yesus hanya mengejar keuntungan materi, mereka akan menjadi nabi palsu. Inilah sebabnya Allah membenci para pengikut ajaran Nikolas.
Apakah anda tahu apa yang membawa kebinasaan bagi geréja Allah dan hambaNya? Cinta akan uang. Mereka yang hanya mengejar keuntungan materi di depan mata mereka akan menghadapi kebinasaan mereka sendiri di hadapan Allah.
 

Jemaat Yang Meniru Bileam
 
Jaman ini, sama seperti pada masa para Rasul, ada banyak gereja duniawi yang mengikuti jalan Bileam. Mereka menggunakan segala macam cara untuk menyedot uang dari pengikutnya. Sebagai contoh, ada yang mendorong jemaatnya untuk saling bersaing di antara mereka untuk memberi kesaksian mengenai iman mereka bukan dalam hal rohani, tetapi dalam jumlah pemberian materi mereka, seolah-olah persembahan dari orang-orang yang percaya itu adalah barometer untuk iman mereka. Dengan menyebutkan bahwa iman mereka yang memberi lebih banyak sebagai yang imannya lebih besar dibandingkan dengan yang memberi sedikit, satu-satunya tujuan adalah hanya untuk mengembangkan keinginan memperkaya gerejanya saja.
Memang, tentu saja, sangat indah kalau ada orang percaya yang memutuskan untuk melayani Allah dan InjilNya dengan hati yang tulus. Tetapi nabi palsu seperti Bileam memangsa orang-orang percaya untuk memuaskan perut mereka. Mereka mendorong pengikutnya untuk berlomba dalam kesaksian tentang hal materi seperti, “Saya memberi persepuluhan secara penuh, dan Allah mengembalikan sepuluh kali lipat lewat usaha saya.” Karena dusta Bileam, orang percaya yang tidak curiga berpikir bahwa ini adalah jalan kepada iman yang benar, sementara pada kenyataannya ini adalah jalan menuju kehancuran mereka, baik rohani maupun materi, kesombongan, dan akhirnya kebinasaan mereka sendiri.
“Perbuatan para pengikut ajaran Nikolas” tidak ada bedanya dengan perbuatan Bileam. Sama seperti Bileam, dalam ketamakannya meletakkan batu sandungan bagi bangsa Israel, banyak yang mengaku sebagai hamba Allah di lingkungan kekristenan jaman ini hanya tertarik dengan isi kantong anggotanya. Mereka yang disesatkan oleh nabi palsu pada akhirnya akan habis-habisan setelah memberi semua milik mereka kepada gembala palsu itu, dan yang lebih buruk adalah bahwa cepat mereka akan sadar dan memahami bahwa apa yang mereka percayai sebenarnya salah besar. Pada akhirnya, mereka akan menyalahkan gereja yang palsu itu dan meninggalkan iman mereka. Sayangnya, kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa keadaan penyelewengan yang seperti ini bukannya jarang terjadi, bahkan di antara gereja-gereja yang disebut Injili. Karena tipu daya Bileam, banyak orang percaya disesatkan oleh kebohongan ini dan kemudian meninggalkan gereja.
Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah membenci perbuatan para pengikut ajaran Nikolas. Kalau kita mengikuti perbuatan para pengikut ajaran Nikolas, kita akan kehilangan iman kita kepada Allah. Kita memiliki banyak kesaksian yang diberikan Allah kepada kita, dan semua itu memperkaya kehidupan rohani kita. Tetapi mengejar keuntungan materi dengan memakai kesaksian adalah sesuatu yang harus kita jauhkan, karena itu adalah jalan para pengikut ajaran Nikolas yang sangat dibenci oleh Allah.
 

Iman yang Memiliki Karakter 
 
Allah memperingatkan mengenai perbuatan para pengikut ajaran Nikolas kepada ketujuh jemaat yang ada di Asia. Dan lagi, Ia juga berjanji bahwa mereka yang menang akan makan buah pohon kehidupan. Ketika kita melayani Tuhan, kita melakukannya dengan iman, karena ucapan syukur kita atas penebusanNya, dan karena pengertian bahwa mewartakan Injil air dan Roh adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan. Kita tidak melayani Allah untuk memamerkannya kepada orang lain, atau untuk membuat kita nampak baik dalam hal apapun. Kalau kita melakukan hal itu, berarti tidak ada pelayanan ataupun iman yang benar. Di dalam gereja Allah, kita harus sangat berhati-hati mengenai perbuatan para pengikut ajaran Nikolas ini. Inilah sebabnya Tuhan memperingatkan kepada ketujuh jemaat di Asia mengenai perbuatan para pengikut ajaran Nikolas.
Apakah anda tahu mengapa banyak gereja, yang tidak dilahirkan kembali, bisa berkembang menjadi sangat besar dalam waktu cepat? Mereka berkembang karena yang membangun gereja itu adalah iman dan kesaksian yang palsu. Hamba Allah jangan sampai mengambil keuntungan dari domba-dombanya untuk memuaskan perut mereka saja.
Iman yang benar adalah percaya bahwa keselamatan yang diberikan Allah kepada kita melalui baptisan Yesus, darahNya di kayu Salib, dan penghukuman atasNya menggantikan kita. Tetapi banyak gereja, yang dilahirkan kembali atau yang tidak, menggunakan kesaksian untuk merenggut isi dompet anggotanya. Anda harus berhati-hati dan bijaksana supaya bisa mengenali kesaksian yang benar dan membangun iman kita serta memuliakan Allah, dan kesaksian yang salah akan menjadi perangkap bagi diri anda sendiri.
Semua gereja yang kaya di jaman ini dipimpin oleh para pelayan yang hampir sama seperti Bileam. Para pemimpin gereja yang mengejar jalan Bileam menggunakan gereja mereka untuk mengejar kepentingan materi mereka. Para pemimpin Kristen seperti Bileam mengambil uang dari para anggotanya dengan mengajak mereka untuk bersaing dalam kesaksian mengenai hal materi. Saya pernah melihat yang seperti itu. 
Kehidupan iman yang sejati tidak lain dimulai dengan iman. Kita harus cukup bijaksana untuk menghindarkan diri dari jebakan para pengikut ajaran Nikolas yang dibuat oleh Iblis. Semua manusia harus tahu apakah perbuatan para pengikut ajaran Nikolas itu, dan tidak pernah ditipu oleh hamba Iblis yang ketamakannya tidak mengenal batas. Hamba Allah secara khusus harus sangat berhati-hati dalam hal ini. Ini termasuk para pelayan. Ketika para pelayan menjadi terlalu perhatian kepada milik materi mereka—mobil apa yang dinaiki, bagaimana besarnya rumahnya, betapa banyaknya real estate mereka, berapa banyaknya tabungan mereka di bank—mereka akhirnya akan mencemari jemaat mereka, dan membawa mereka ke jalan para pengikut ajaran Nikolas. 
Allah berkata kepada ketujuh jemaat di Asia supaya berhati-hati mengenai hal ini. Orang-orang dengan iman seperti Bileam hanya mengejar keuntungan materi, kemuliaan diri dan akhirnya mencoba untuk mendirikan sebuah sekte. Jemaat Allah tidak boleh mengejar sekedar kepemilikan materi saja. Karena Allah berjanji bahwa Ia akan memberkati mereka yang mengejar Injil air dan Roh, kita harus menggunakan kepemilikan materi kita untuk memberitakan Injil ini, bukan untuk menimbunnya di dunia ini.
 

Tolak Para Gembala Palsu 
 
Bahkan orang percaya yang dilahirkan kembali akan bernasib sama kalau mereka jatuh ke dalam jebakan para pengikut ajaran Nikolas. Pada awalnya mungkin mereka berpikir bahwa iman pemimpinnya sangat indah dan kuat, tetapi tipu daya para gembala palsu pada akhirnya akan membawa mereka kepada kebinasaan.
Allah mengatakan kepada malaikat jemaat di Jemaat Efesus bahwa Ia membenci perbuatan para pengikut ajaran Nikolas. Semua manusia yang terjebak kepada ajaran Nikolas akan menghadapi nasib yang sudah pasti. Apakah ia orang percaya yang dilahirkan kembali, hamba Allah, atau siapa saja, kebinasaan sudah pasti kalau mereka terjebak oleh ajaran Nikolas. Seperti gembala yang jahat menuntun dombanya kepada maut, nabi palsu juga mendatangkan kutuk. 
Inilah sebabnya Allah mengatakan kepada hamba-hambaNya supaya “memberi makan domba-dombaKu.” Hamba Allah harus memperhatikan orang-orang percaya sama seperti gembala memperhatikan domba-dombanya, menjaga mereka dari bahaya dan mempedulikan kebutuhan mereka. Sebagai gembala, mereka harus memastikan bahwa anggota mereka tidak tersesat, menemukan bahaya apa yang mungkin mengancam di depan mereka, dan mencegah mereka mendekati bahaya yang demikian. 
Saya mendengar dari orang-orang yang sungguh-sungguh memelihara domba bahwa binatang itu adalah binatang yang sangat keras kepala. Tidakkah kita juga seperti domba yang keras kepala di hadapan Allah? Allah memiliki alasan yang tepat ketika Ia menggunakan perlambang domba untuk menjelaskan mengenai diri kita, karena Ia tahu dengan pasti betapa keras kepalanya kita pada dasarnya. 
Mengapa Allah berulangkali mengatakan mengenai perbuatan para pengikut ajaran Nikolas, Izebel, dan Bileam kepada ketujuh jemaat di Asia? Mengapa Ia berjanji bahwa kepada mereka yang menang, Ia akan memberikan mereka makan dari pohon kehidupan? Ia melakukannya untuk mengajarkan kepada kita supaya berjaga-jaga terhadap tipu daya nabi-nabi palsu. Kita harus merenungkan firman Allah dan bertanya kepada diri kita, “Apakah Injil air dan Roh yang sejati?” Mencampurkan firman Allah dengan pengajaran manusia dan menyusunnya menjadi masuk akal bukan berarti bahwa hal itulah Injil. Ada banyak kotbah yang disusun dan disampaikan dengan sangat indah di dalam kekristenan jaman ini yang tidak ada hubungannya dengan Injil air dan Roh. Banyak pengkhotbah terkenal yang bahkan memiliki penyusun khotbah profesional yang menuliskan khotbah bagi mereka, dan yang mereka lakukan hanya tinggal membaca teks yang disiapkan oleh orang lain.
Kita tidak boleh sampai terjebak kepada ajaran Nikolas. Jemaat yang dilahirkan kembali harus berhati-hati supaya jangan mengejar keuntungan materi; para pelayan secara khusus harus senantiasa waspada, tetapi juga semua orang lain di dalam jemaat. Mencoba untuk mengeruk uang anggota jemaat, menonjolkan kehebatan materi di dalam gereja, dan membangun gereja yang lebih menyerupai istana dibandingkan dengan tempat ibadah—sementara pada saat yang sama mewartakan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat!—semua itu tindakan iman yang palsu, tepat seperti tindakan para pengikut ajaran Nikolas.
Kita harus secara khusus berhati-hati terhadap gembala palsu, dan harus yakin bahwa kita tidak pernah terkena dusta mereka dengan mengikuti iman mereka. Orang-orang kudus jangan sampai mengasihi uang. Namun, yang harus kita kasihi dan pelihara adalah Injil air dan Roh, kasih kepada Allah yang semula. Kita harus menjalani kehidupan kita yang setia dengan berpegang kepada kebenaran bahwa Ia sudah menyelamatkan kita melalui air dan darah Kristus sampai hari ketika kita bertemu dengan Dia. Kita harus percaya kepada firman Allah bahwa Yesus sudah menanggung segala dosa kita dengan baptisan dan kematianNya di kayu Salib.
Mereka yang mengikuti ajaran Nikolas tidak pernah memberitakan Injil air dan Roh. Mereka tidak tertarik kepada pekerjaan Injil air dan Roh, tetapi hanya dalam mencari uang. Mereka adalah Bileam jaman sekarang, yang meletakkan batu sandungan di hadapan orang-orang Israel dan membawa mereka kepada kebinasaan. Anda harus ingat akan hal ini.
Bileam pada akhirnya dibunuh oleh Yosua. Seperti yang tertulis di dalam Kitab Yosua, nabi palsu ini dibunuh oleh pedang Yosua ketika bangsa Israel menaklukan Kanaan. Bileam dibunuh karena ia bukan hamba Allah yang setia. Semua yang memakai nama Kristus untuk mengeksploitasi orang yang tidak bersalah dan memberi makan perut mereka sendiri adalah Bileam jaman sekarang. Kita harus ingat bahwa Bileam menggunakan segala macam cara untuk memenuhi ketamakan mereka. 
Allah mengatakan kepada pelayan Jemaat Efesus, “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Dengan kata lain, bagian ini juga berarti bahwa mereka yang menyimpang dan kalah akan mati. Mengikuti jalan Bileam berarti kekalahan, yang menjadi jalan bagi kematiannya. Allah memberikan Firman peringatanNya kepada kita supaya kita jangan sampai terjebak kepada ajaran Nikolas, dan saya bersyukur kepada Allah untuk hal itu. Dengan tulus saya berdoa dan berharap bahwa anda juga tidak akan tunduk kepada godaan materi yang kemudian akan membuat anda ditinggalkan Allah karena ketamakan anda.