Khotbah-Khotbah

Pokok 11: Kemah Suci

[11-7] (Keluaran 25:1-9) Bahan Bangunan Kemah Suci Yang Meletakkan Dasar Untuk Iman 

(Keluaran 25:1-9)
“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain biru, kain ungu, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga; minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada. Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.”
 

Kehidupan yang Malang
 
Dalam sebuah puisi yang berjudul ‘Satu Mazmur Kehidupan,’ Henry Wadsworth Longfellow menuliskan, “Jangan katakan kepadaku, dengan kemurungan, ‘Kehidupan hanya adalah sebuah mimpi kosong!” 
Namun, kalau anda mau memikirkan dengan sungguh-sungguh, kehidupan manusia memang sangat malang. Meskipun kehidupan semua orang nampak seperti hanya kembali menjadi debu secara sia-sia setelah menjalani kehidupan yang sepi dan sementara di belantara dunia, sebenarnya dunia ini bukanlah tujuan terakhir. Tujuan terakhir dari kehidupan semua manusia, karena dosa, adalah neraka yang kekal, yang penuh dengan penderitaan yang sangat mengerikan. 
Namun manusia biasanya tidak memperhatikan mengenai kematian dan kehidupan mereka sesudah mereka mati. Ketika hidup di dunia ini, manusia dengan demikian hidup dengan tidak memiliki tujuan, melangkah menuju neraka, tidak bisa bertemu dengan Allah yang sudah menyelamatkan mereka. Inilah kehidupan. Tetapi kalau memang hanya inilah kehidupan, betapa malang dan menyedihkan kehidupan kita? 
Untuk kehidupan yang demikian, Mesias sedang menunggu. Kalau manusia secara sembarangan masuk ke dunia ini hanya untuk berkeliaran tanpa tujuan dan lenyap ke dalam kegelapan, mereka memang akan menghadapi keberadaan yang menyedihkan dan penuh penderitaan. Kita semua bisa mangakui hal ini kalau kita melihat orang-orang yang ada di sekitar kita.
Suatu hari, ketika saya sedang berada di dalam mobil, saya melihat ada seorang tua, sekitar 60 tahun, berjalan di tepi jalan. Ia berjalan membelakangi saya, kepalanya menunduk dan bahunya terkulai, dan ia nampak sebagai orang yang sangat kesepian. Ketika saya membunyikan klakson saya, ia menengok, dan saya melihat wajahnya penuh dengan kesedihan. Melihat ekspresi orang tua ini, saya termenung sejenak. Orang tua itu barangkali merasakan betapa sepinya kehidupannya. Sunyinya musim gugur mungkin menambahkan perasaan kekosongan itu, membuat dia merasa bertambahnya rasa kesia-siaan di dalam kehidupannya. Bukan hanya hidup orang tua itu, tetapi kehidupan semua orang, pada kenyataannya, memang menyedihkan.
Karena waktu begitu cepat berlalu, manusia bahkan tidak merasakan bahwa mereka sudah menjadi tua, sampai kemudian tiba-tiba mereka mendapati kerut-kerut di wajah mereka. Banyak di antara mereka yang menghadapi begitu banyak kesulitan di dalam kehidupan mereka sampai mereka tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat, berbalik, dan melihat kembali jalan yang sedang mereka lalui. Meskipun semua orang tua sudah hidup dan bekerja keras untuk keluarga dan anak-anak mereka, kata-kata tidak cukup untuk menjelaskan kesedihan mereka, karena ketika menghadapi masa senja mereka sendiri, tidak ada lagi sisa dari kehidupan mereka. 
Terbawa oleh emosi mereka, mereka kemudian akan dipenuhi dengan air mata. Setelah banyak waktu berlalu, dan setelah tahun-tahun lewat, mereka akhirnya memiliki kesempatan untuk menengok ke belakang, dan ketika mereka melakukannya, yang bisa mereka rasakan hanyalah betapa anehnya kejadian yang sangat mengenaskan di musim gugur itu menjadi begitu tepat menggambarkan keadaan diri mereka. Dengan musim gugur, ketika dedaunan gugur, dan menghadapi musim dingin yang suram, mereka menyadari bahwa kehidupan mereka, juga, segera akan lenyap dengan cara yang sama. Mereka akan menyesal, tentu saja, bahwa mereka membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk menyadari hal ini. Apa pengharapan yang akan dimiliki orang-orang itu, kalau mereka akan mati tanpa pernah bertemu dengan Tuhan? Orang-orang yang demikian yang sampai kepada akhir hayatnya tidak pernah bertemu dengan Mesias menjadi orang-orang yang dikasihani sampai selamanya.
Saya sendiri juga akan menjalani kehidupan yang menyedihkan kalau saya belum bertemu dengan Tuhan. Bagaimana dengan anda? Kemana anda sedang menuju sekarang ini, kalau anda juga belum bertemu dengan Tuhan? Terlalu banyak orang di dunia ini, yang karena tidak bisa bertemu dengan Tuhan, sudah menuju kepada ketidakbahagiaan mereka sendiri.
Hati saya terasa hancur ketika saya berpikir mengenai orang-orang itu, yaitu bahwa ada begitu banyak orang yang menuju kepada ketidakbahagiaan mereka sendiri. Yang bisa dilakukan oleh babi hanyalah makan sampai mereka menghadapi akhir hayatnya, tetapi kehidupan kita berbeda dengan babi, karena kita harus merenungkan dan melihat melampaui kekinian kepada masa kekekalan yang akan datang. Banyak orang yang sampai kepada akhir hayatnya dengan penuh penyesalan. Meskipun mereka tahu bahwa ada Kerajaan Surga yang kekal, mereka menyadari bahwa mereka tidak layak untuk masuk ke sana, karena mereka masih berdosa. Bahwa ada begitu banyak kehidupan yang penuh dengan penyesalan demikian hanya membuat saya semakin meratap dan bersedih atas nasib mereka yang sangat mengenaskan.
Ketika kita berpikir tentang kehidupan yang demikian, bahwa mereka tidak bisa pergi ke tempat yang indah yang dipersiapkan Allah, dan bahwa mereka akan lenyap dari dunia ini tanpa menggenapi tujuan yang sebenarnya dari kehidupan mereka, kita hanya bisa mengasihani orang-orang itu dan meratapi nasib mereka. Inilah sebabnya kehidupan sering dibandingkan dengan sebuah perjalanan melalui lautan yang bergelombang dan penuh kesulitan. Ketika menyebut mengenai kehidupan, manusia mengatakan bahwa hal itu seperti berada di atas lautan yang demikian, berusaha untuk bertahan di dalam kepahitan dunia manusia, karena sejak mereka lahir sampai mati, mereka harus menderita, menendang dan menangis hanya untuk bisa bertahan.
Ketika kita mengingatkan diri kita bahwa demikianlah kehidupan, kita menyadari dengan pasti bahwa menjelaskan kebenaran Kemah Suci ini kepada orang lain dan menolong mereka untuk bertemu dengan Tuhan adalah pekerjaan yang sangat penting. Mengapa? Karena melalui korban persembahan, Allah memberikan kepada orang-orang berdosa ini keselamatan dari dosa mereka dengan membawa mereka ke dalam Rumah Allah sendiri. Kemah Suci adalah Bait Allah yang dibangun dipadang gurun. Di dalam Rumah Allah ini, Kemah Suci, Allah bertemu dengan orang-orang berdosa melalui pengampunan dosa yang digenapi dengan korban persembahan. Allah mengatakan kepada kita, “Aku akan membuat kamu membangun RumahKu dimana Aku akan berdiam, dan Aku akan bertemu denganmu di dalam Kemah Suci ini, di atas tutup pendamaian.” Hanya di dalam Kemah Suci, Rumah Allah, semua orang bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan Allah.
Iman di dalam kebenaran Kemah Suci tidak bisa diganti dengan apapun di dunia ini, karena ia sangat berharga yang tidak bisa dibayar dengan harga berapapun. Saya percaya bahwa bagi kita yang memiliki iman Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, untuk memiliki pemahaman yang pasti dan iman yang benar tentang Kemah Suci ini adalah jalan untuk melangkah ke jalan yang semakin diberkati.
 
 
Kita Menjalani Kehidupan Kita Yang Diberkati
 
Hati saya penuh dengan kebahagian, dan membayangkan apakah ada orang lain yang menjalani kehidupan yang diberkati seperti yang kita hidupi. Meskipun hidup ini ada dalam keadaan yang menyedihkan, banyak orang yang menjalani kehidupannya sambil tetap mengabaikan mengenai nasib mereka sendiri. Tetapi Allah mengendaki untuk membuat mereka menyadari betapa keras kepala kehidupan mereka di hadapanNya, dan membuat hati mereka bertobat. Mereka, di pihak lah, masih berusaha untuk menjalani kehidupan mereka tanpa mendengarkan Injil yang sudah diberikan Allah kepada mereka secara cuma-cuma, dan tanpa membuka bahkan tempat yang paling kecil pun di dalam hati mereka. 
Keluaran mengatakan bahwa ada sepuluh tulah yang diberikan Allah kepada Firaun. Keseluruhannya ada sepuluh tulah yang jatuh ke tanah Mesir. Allah sudah memerintahkan kepada Firaun untuk melepaskan umatNya yang saat itu hidup di Mesir. Ia mengatakan kepada Firaun bahwa kalau ia tidak mau taat kepadaNya, Ia akan menjatuhkan sepuluh tulah kepadanya. Tetapi Firaun tidak mau mendengar apa yang dikehendaki Allah kepadanya, menolak perintahNya dengan keras kepala, dan akhirnya menerima semua kesepuluh tulah yang dinubuatkan Allah. Ketegaran Firaun memiliki dasar yang salah. Juga, alasan mengapa ia akhirnya baru membebaskan bangsa Israel setelah ia menerima semua penghukuman Allah adalah karena ia dikendalikan oleh Iblis. Ini menunjukkan kepada perlawanan kita sendiri yang keliru yang bisa ditemukan di dalam setiap diri kita masing-masing.
Orang-orang yang demikian, bagaimanapun, masih bisa menerima pengampunan dosa yang disediakan Allah di dalam Kemah SuciNya, dan hidup dengan Dia di dalam iman. Namun orang-orang itu begitu keras kepala sehingga mereka terus menerus menolak dan tidak percaya kepada kebenaran Allah dengan kebengalan seekor keledai. Inilah sebabnya mengapa banyak orang yang tidak bisa bertemu dengan Allah kebenaran, menjalani kehidupan sebagai orang berdosa, dan akhirnya menghadapi kebinasaan. Ini membuat saya sangat sedih. Terlalu banyak orang yang karena keras kepala menjadi jauh dari Allah. 
Karena orang-orang demikian dengan cepat tunduk kalau menghadapi kesulitan, tetapi kemudian kembali kepada keadaan semula yang menolak kehendak Allah dan sekali lagi menjalani kehidupan yang penuh keras kepala, mereka akan menghadapi tulah yang kedua. Karena tulah kedua, mereka akan tunduk sedikit. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena mereka akan mulai tidak taat kepada Allah lagi dan menentang Dia. Dan karena itu mereka jatuh ke dalam tulah yang ketiga, yang diikuti dengan yang keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, sampai akhirnya mereka sungguh-sungguh menyerah setelah tulah yang kesepuluh dan dibinasakan.
Ketika tulah yang terakhir datang, banyak orang yang akan menanggung penderitaan neraka karena tidak percaya kepada yang dilakukan Mesias kepada mereka. Betapa bodohnya kehidupan yang demikian? Itulah sebabnya kehidupan semua orang begitu menyedihkan.
Meskipun kehidupan manusia hanyalah menyedihkan di hadapan Allah, anda harus menyadari bahwa bertemu dengan Allah di Kemah Suci adalah berkat yang besar untuk anda, dan berdiam di dalam Firman Kemah Suci dengan kesadaran ini. 
 
 
Korban Yang Dituntut Allah dari Kita
 
Allah menyuruh Musa untuk naik ke Gunung Sinai dan memberikan kepadanya seri baru dari HukumNya. Pertama-tama, Ia memberikan kepada Musa Sepuluh Perintah: “Jangan ada ilah lain di hadapanKu; jangan membuat patung atau sujud menyembahnya; jangan menyebut namaKu secara sembarangan; ingat dan kuduskanlah Hari Sabat; hormati orang tuamu; jangan membunuh; jangan berzinah; jangan mencuri; jangan menjadi saksi dusta atas sesamamu; jangan mengingini milik sesamamu.” Sebagai tambahan, Allah juga mengatakan kepada mereka hukum-hukum lain yang harus ditaati oleh bangsa Israel dalam kehidupan mereka setiap hari. Ada 613 perintah dan hukum Allah secara keseluruhan.
613 perintah itu mencakup juga aspek-aspek seperti apa yang harus dilakukan ketika bangsa Israel kehilangan ternak mereka, apa yang harus dilakukan kalau ternak seseorang masuk ke lubang, bahwa mereka tidak boleh melakukan perbuatan zinah, bahwa kalau mereka memiliki hamba mereka harus membebaskannya pada tahun yang ketujuh, bahwa kalau mereka memiliki hamba perempuan yang kawin dengan laki-laki lalu mereka memiliki anak, mereka harus membebaskan hamba laki-laki itu pada tahun yang ketujuh dan sebagainya dan seterusnya. Allah mengatakan kepada Musa semua hukum etika yang harus ditaati oleh bangsa Israel dengan iman di dalam pandangan Allah sepanjang kehidupan mereka sehari-hari.
Allah kemudian menyuruh Musa turun dari gunung, mengumpulkan tua-tua, dan menjelaskan perintah-perintahNya. Setelah mendengar firman Allah, bangsa Israel setuju dan bersumpah dengan darah mereka bahwa mereka akan menaati perintah-perintahNya (Keluaran 24:1-4).
Lalu, Allah menyuruh Musa naik ke gunung sekali lagi, kali ini menyuruhnya untuk membangun Kemah Suci.
Allah berkata kepada Musa, “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu” (Keluaran 25:2). Lalu Ia mendaftarkan apa saja yang dipersembahkan kepadaNya, “Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga; minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada,” (Keluaran 25:3-7).
Ada tujuan yang jelas dibalik perintah Allah supaya mereka membawa korban itu. Tujuannya adalah agar membangun di bumi ini Rumah Allah yang cemerlang, dimana tidak ada dosa dan dimana Allah berdiam, sehingga Ia bisa bertemu dengan bangsa Israel di sana dan membuat segala dosa mereka lenyap. Ini tidak berarti, meski demikian, bahwa Allah memerintahkan supaya mereka mengumpulkan uang untuk membangun tempat peringatan seperti yang dilakukan gereja jaman ini. Nabi-nabi palsu di dalam kekristenan sangat cenderung untuk menyalah artikan bagian ini ketika mereka sedang berusaha untuk membangun bangunan gereja untuk memuaskan keinginan pribadi mereka sendiri. 
Sebaliknya, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk membawa persembahan itu supaya Ia bisa menggunakan untuk membangun rumahNya sendiri dan memberkati mereka secara berkelimpahan di sana. Kenyataannya, alasan mengapa Allah menerima persembahan ini adalah untuk menyelamatkan kita dari dosa kita dan menyelamatkan kita dari penghukuman. Allah sendiri yang menemui kita, yang menjalani kehidupan yang menyedihkan, untuk membuat dosa-dosa kita dilenyapkan, dan untuk menjadikan kita sebagai umatNya.
 

Makna Rohani Yang Tersembunyi Dari Korban Yang Diperintahkan Allah Untuk Dibawa KepadaNya 
 
Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, mari kita terlebih dahulu merenungkan makna rohani dari korban yang Allah perintahkan untuk dibawa kepadaNya. Setelah itu, kita akan melihat iman kita dalam terang itu. 
 

Emas, Perak, dan Tembaga 
 
Kita harus terlebih dahulu menemukan dimana emas, perak, dan tembaga dipakai. Dalam Kemah Suci, emas dipakai untuk Tempat Kudus, Tempat Mahakudus, dan semua perkakas yang ada di dalamnya, termasuk kandil, meja roti sajian, mezbah pembakaran ukupan, tutup pendamaian, dan Tabut Perjanjian. Emas menunjuk kepada iman kepada firman Allah. Dan perak menunjuk kepada anugerah keselamatan. Hal itu menjelaskan bahwa kita harus memiliki iman yang percaya kepada anugerah keselamatan yang diberikan hanya oleh Mesias, dan iman yang percaya bahwa Tuhan kita sudah menanggung segala dosa kita dan dihukum menggantikan kita.
Tembaga, sebaliknya, dipakai untuk alas tiang-tiang, kaitan-kaitan, bejana pembasuhan, dan mezbah korban bakaran. Semua perkakas tembaga harus ditanam atau diletakkan langsung di atas tanah. Ini menunjuk kepada penghukuman atas dosa-dosa manusia, dan tembaga juga menjelaskan bahwa kita akan dihukum Allah karena tidak bisa menaati hukum Taurat dan karena dosa-dosa kita. 
Apa, kemudian makna rohani dari emas, perak, dan tembaga? Semuanya itu menunjukan dasar iman di dalam menerima anugerah keselamatan yang diberikan oleh Allah. Alkitab mengatakan bahwa kita semua adalah orang berdosa yang tidak bisa sepenuhnya menaati hukum Taurat, dan karena itu kita harus mati karena dosa-dosa kita, dan bahwa sebagai ganti kematian kita Tuhan datang ke dunia ini dan dihukum bagi dosa-dosa kita menggantikan diri kita dengan menjadi korban persembahan dari korban penghapus dosa yang diberikan di dalam Kemah Suci. 
Untuk menyelesaikan masalah dosa, orang berdosa membawa hewan yang tak bercacat ke Kemah Suci, dan sesuai dengan sistem korban, menanggungkan dosa-dosa mereka dengan menumpangkan tangan ke atas kepala binatang korban; korban persembahan yang menerima dosa-dosa mereka kemudian mencurahkan darahnya dan disembelih. Dengan melakukan hal itu, bangsa Israel, yang harus masuk neraka (tembaga), bisa menerima pengampunan dosa mereka (perak) dan lepas dari hukuman atas dosa karena iman (emas).
 

Kain Biru Dan Kain Ungu, Kain Kirmizi Dan Lenan Halus Yang Dipintal Benangnya 
 
Bahan-bahan lain yang sering digunakan adalah: kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya. Kain-kain itu dipakai untuk membuat pintu gerbang pelataran Kemah Suci, pintu gerbang Tempat Kudus, dan tabir yang memisahkan antara Tempat Kudus dengan Tempat Mahakudus. Keempat kain itu menjelaskan kepada kita kebenaran yang dinubuatkan di dalam Kejadian 3:15, bahwa Tuhan akan datang sebagai keturunan perempuan, Tuhan kita akan datang ke dunia ini dan menyelamatkan orang berdosa dari dosa dengan dibaptiskan dan disalibkan, dan bahwa Allah sendiri akan menyelamatkan kita. 
Keempat kain itu dipakai bukan hanya untuk pintu gerbang Kemah Suci, tetapi juga untuk pakaian Imam Besar dan penutup Kemah Suci yang pertama. Ini adalah perjanjian Allah bahwa Yesus Kristus akan datang ke dunia ini dan menyelamatkan kita dari dosa dengan menggenapkan karya kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya. Dan Tuhan kita kemudian menepati janji dan memang sudah menyelamatkan kita dari dosa dunia.
Hal yang paling penting dari pintu gerbang Kemah Suci adalah kain biru. Mengapa Yesus Kristus, yang datang ke dunia ini sebagai Mesias, harus mati di kayu Salib? Alasannya adalah karena Ia sudah dibaptiskan. Kain biru menunjuk kepada baptisan Yesus, kain ungu menjelaskan bahwa Yesus adalah Raja, dan kain kirmizi menunjuk kepada penyaliban dan pencurahan darahNya. Kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya adalah bahan bangunan yang penting, yang menjelaskan anugerah keselamatan yang Yesus Kristus sudah berikan kepada kita dengan datang ke dunia ini sebagai Mesias dan menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya.
Banyak orang di dunia ini hanya menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, dan bahwa Ia pada dasarnya adalah Allah sendiri. Tetapi Allah dengan jelas menerangkan melalui Kemah Suci bahwa pengajaran itu bukan kebenaran yang seluruhnya. 
Rasul Petrus mengatakan di dalam 1 Petrus 3:21, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus.”
Ini memberi kesaksian bahwa Yesus Kristus menggenapi janji keselamatanNya dan meletakkan dasar iman yang penuh dengan menerima baptisanNya, kiasan yang menyelamatkan kita. Siapakah Mesias kita? Mesias berarti Juruselamat, yang menjelaskan bahwa Yesus datang ke dunia ini, dibaptiskan untuk menanggung segala dosa kita dan segala dosa dunia ke atas DiriNya, dan pada kenyataannya Ia menanggung semua itu ke atas DiriNya melalui baptisanNya. 
Allah mengatakan kepada bangsa Israel untuk membangun pintu gerbang pelataran Kemah Suci dengan menenun kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya. Dan tujuan bagi Tuhan kita, yang adalah Raja di atas segala raja dan Tuhan Surgawi, yang datang ke dunia ini dalam rupa manusia adalah untuk menggenapi kebenaran kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Tuhan kita datang di dalam rupa manusia dan menerima baptisan yang akan menggenapi seluruh kebenaran Allah dari Yohanes Pembaptis, wakil semua manusia. 
Ini sama seperti korban persembahan di Perjanjian Lama yang menerima dosa-dosa bangsa Israel yang ditanggungkan kepadanya melalui penumpangan tangan Imam Besar ke atas kepalanya dan yang dihukum atas dosa-dosa itu menggantikan mereka. Dengan kata lain, sama seperti korban persembahan di dalam Perjanjian Lama, Yesus datang di jaman Perjanjian Baru sebagai korban persembahan bagi dosa-dosa semua orang berdosa, dibaptiskan, disalibkan dan dengan itu menanggung hukuman segala dosa dunia. Yesus menggenapi kebenaran kain biru dengan dibaptiskan oleh Yohanes sebagai Anak Domba Allah yang dikorbankan. Dengan baptisan ini, Yesus menanggung segala dosa manusia ke atas diriNya sekaligus.
Alasan mengapa kebanyakan orang Kristen berubah menjadi orang-orang yang lebih jahat dibandingkan dengan orang-orang yang beragama dunia adalah karena mereka sudah tidak bisa mengerti dan percaya kepada kebenaran kain biru, baptisan Yesus, dan dengan itu tidak menerima pengampunan dosa sekaligus. Ketika orang Kristen tidak memiliki penafsiran yang benar tentang baptisan yang diterima Yesus untuk menanggung segala dosa ke atas diriNya, dasar iman mereka sendiri tidak diletakkan secara benar sejak awalnya. 
Untuk jelasnya, kain biru adalah cara dan kebenaran bahwa Mesias datang ke dunia ini dan menanggung segala dosa ke atas diriNya. Dan kain kirmizi menunjuk kepada darah Yesus. Alasan mengapa Yesus Kristus disalibkan, mencurahkan darahNya, dan mati di kayu Salib adalah karena segala dosa kita sudah ditanggungkan kepadaNya melalui baptisanNya. Karena Yesus sudah menanggung segala dosa kita ke atas diriNya melalui baptisanNya yang diterimaNya dari Yohanes sehingga kemudian Ia mati di kayu Salib, dan karena kenyataan inilah maka pengorbanan di kayu Salib bagi kita tidaklah sia-sia. Karena Yesus Kristus Mesias menanggung semua kutuk dosa kita sepenuhnya dengan baptisan dan salibanNya sehingga Ia bisa menggenapi keselamatan kita. 
Kain ungu berarti bahwa Yesus Kristus adalah Allah dan Raja atas segala raja. Meskipun Yesus Kristus datang sebagai Raja atas segala raja (kain ungu), kalau Ia tidak dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis, wakil semua manusia, dan dengan demikian tidak menanggung segala dosa kita ke atas diriNya (kain biru), tidak peduli berapapun banyaknya kesakitan dan penderitaan ketika Ia mati di kayu Salib (kain kirmizi), kematianNya hanyalah akan menjadi sia-sia. Kain lenan putih halus mengatakan bahwa Firman nubuatan yang dikatakan di dalam Perjanjian Lama semuanya digenapi di dalam Perjanjian Baru. 
 

Kekristenan jaman Ini Sudah Kehilangan Makna Kain Biru 
 
Ada kecenderungan di dalam kekristenan jaman ini untuk mengabaikan kain biru di antara keempat kain itu dan dengan sekehendak hati menafsirkan firman Allah—dosa besar ini pasti akan dihukum.
Kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya yang dipakai untuk pintu gerbang pelataran Kemah Suci menjelaskan kebenaran keselamatan, bahwa untuk menyelamatkan kita dari dosa kita, Yesus Kristus sang Mesias harus datang ke dunia ini dalam rupa manusia, dan dibaptiskan serta disalibkan. Yesus menanggung segala dosa kita ke atas diriNya.
Bagaimana Yesus menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya? Ia menerima semuanya melalui baptisan yang diterimaNya dari Yohanes. Hanya dengan menanggung segala dosa ke atas DiriNya saja Yesus bisa menjadi Juruselamat kita yang sejati. Inilah sebabnya pintu gerbang Kemah Suci harus terbuat dari empat jenis kain, karena semuanya menjelaskan bahwa Yesus, yang datang ke dunia ini, dibaptiskan, mencurahkan darahNya di kayu Salib, bangkit kembali dari kematian, dan adalah Allah sendiri.
Dengan demikian, pintu gerbang pelataran Kemah Suci dibuat dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Yesus adalah pintu keselamatan yang akan membawa kita ke dalam Kerajaan Surga. Pintu ini terbuat dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Yesus adalah Juruselamat orang berdosa. Baptisan Yesus dan salibanNya adalah anugerah keselamatan yang sudah menyelamatkan orang berdosa dari dosa-dosa mereka.
Karena kekristenan jaman ini tidak bisa memahami baptisan Yesus dengan baik sehingga tidak bisa bertemu dengan Allah dan bahkan akhirnya berubah hanya menjadi salah satu dari agama duniawi saja. Sejauh berhubungan dengan iman kita, kita harus terlebih dahulu meletakan dasar iman yang kuat di atas kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Dasar iman ini adalah kenyataan bahwa Tuhan datang ke dunia ini dan sudah menyelamatkan anda dan saya dari segala dosa dunia melalui kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. 
Yesus datang ke dunia ini dan menggenapi anugerah keselamatan yang sudah menyelamatkan kita dari dosa dengan baptisanNya dan darahNya di kayu Salib. Secara khusus, Yesus datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa dunia ke atas diriNya melalui baptisanNya, memperdamaikan segala dosa kita dengan darahNya di kayu Salib, dan kemudian menanggung penghukuman atas dosa-dosa kita dengan mati di kayu Salib. Yesus ini yang sudah menyelamatkan kita melalui air dan darah (1 Yohanes 5:4-8) adalah pada dasarnya Tuhan atas ciptaan yang menciptakan kita, dan Dia yang memberikan kepada kita anugerah keselamatan yang sudah menyelamatkan kita. Yesus ini yang sudah menyelamatkan kita dari dosa dan penghukuman kita sudah menjadi Juruselamat yang sejati. Inilah yang dijelaskan oleh bahan-bahan yang dipakai untuk membangun Kemah Suci.
Demikianlah, kita harus menegakkan iman kita dengan teguh dengan percaya kepada bahan-bahan itu. Dalam percaya kepada Yesus ini yang menjadi Mesias sebagai Juruselamat pribadi kita, kita harus percaya dengan jelas dan pasti dengan segenap hati kita di dalam baptisan yang diterimaNya, di dalam penghukuman yang ditanggungNya bagi kita di kayu Salib, dan dalam kebangkitanNya dari kematian. Juruselamat yang sudah memberikan kepada kita anugerah keselamatan dari dosa melalui baptisan dan darahNya yang dicurahkan di kayu Salib bukanlah sekedar manusia biasa, tetapi ia adalah sang Pencipta yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. Kita harus mengakui iman kita kepada kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Tanpa pengakuan iman yang demikian, maka kepercayaan kita kepada Yesus sebagai Juruselamat tidak akan bertahan lama.
Pernahkah anda bermain permainan penyampaian pesan tanpa suara? Permainan ini dimulai dari seseorang yang diberi sebuah kalimat yang tertulis. Orang pertama itu membaca di dalam hati, dan kemudian menyampaikan kalimat itu tanpa bersuara, hanya dengan gerakan bibir saja. Lalu, orang kedua yang membaca gerak bibir itu menyampaikan kepada orang ketiga dengan cara yang sama. Orang ketiga yang membaca gerakan bibir orang kedua, dan menyampaikan kepada orang keempat dengan cara yang sama, begitu seterusnya sampai orang terakhir. Inti dari permainan ini adalah agar orang yang terakhir menyebutkan dengan benar kalimat yang sedang disampaikan itu. Alasan mengapa permainan ini menjadi menarik adalah karena kalimat yang semula dengan mudah akan berubah. Sebagai contoh, kalau kalimat yang sebenarnya berbunyi, “Matikan kipas angin” setelah disampaikan kepada beberapa orang, kalimat itu mulai berubah. Akhirnya, orang yang terakhir bisa saja mengatakan, “Matikan keledainya,” yang tentu saja menjadi kalimat yang maknanya sepenuhnya berbeda.
Sama seperti orang terakhir itu akhirnya memiliki kalimat yang sangat berbeda, demikian juga kekristenan jaman ini memiliki iman yang sangat keliru, seperti hasil dari permainan penyampaian pesan tanpa suara. Mengapa bisa demikian? Hal itu karena ia tidak bisa meletakkan dasar imannya kepada kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Kekristenan jaman ini tidak mendasari imannya kepada kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Ketika dasar imannya mulai goyah, tidak peduli bagaimana semangatnya kita percaya kepada Yesus dan bagaimana kita berusaha untuk mengaplikasikan pengajaranNya ke dalam kehidupan kita, kita tidak akan bisa melakukannya.
Ketika Tuhan memerintahkan orang Israel untuk membawa kepadaNya persembahan untuk membangun Kemah Suci, Ia memerintahkan agar mereka membawa emas, perak dan tembaga, dan kemudian membawa kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya. Bahan-bahan ini semuanya menjelaskan bahwa Yesus sudah menyelamatkan kita melalui baptisan yang diterimaNya dari Yohanes, kematianNya yang mencurahkan darahNya di kayu Salib, dan kebangkitanNya.
Kain biru bukan hanya dipakai untuk pintu gerbang Kemah Suci, tetapi juga untuk jubah Imam Besar dan penutup Kemah Suci. Inilah Injil yang menjelaskan bagaimana Tuhan kita datang ke dunia ini dan bagaimana tepatnya Ia menyelamatkan anda dan saya dari dosa-dosa kita. Demikianlah, hal itu menjelaskan kepada kita betapa pentingnya keempat unsur dasar iman itu—yaitu, kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya—bagi iman kita. Hanya sesudah itu kita bisa percaya kepada Allah dan menerima pengampunan dosa kita, menjadi hambaNya yang mengabarkan firman itu, dan ketika Tuhan datang kembali, orang-orang yang memiliki iman yang demikian bisa berdiri dengan yakin di hadapan Allah dengan imannya.
Di Korea, masih nyata sekali adanya pandangan yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang asing itu lebih baik. Kecenderungan ini muncul juga di antara para teologi di negara kami juga, yang memiliki keyakinan besar kepada apa yang dikatakan oleh para teologi Barat, dan lebih percaya kepada apa yang mereka katakan dibandingkan dengan kepada firman Allah. Mereka harus dibebaskan dari ketidaktahuan itu, dan mereka harus sungguh-sungguh percaya kepada firman Allah, percaya dan bersandar kepadaNya, karena kebenaran baptisan Tuhan kita, darahNya, dan kenyataan bahwa Ia sendiri adalah Allah, pada dasarnya sudah menjadi pintu untuk keselamatan kita.
Sama seperti pengakuan Rasul Petrus, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup,” (Matius 16:16) kalau anda percaya kepada Allah, dan kalau anda percaya bahwa Tuhan datang ke dunia ini untuk menyelamatkan kita dari dosa kita, maka anda harus mengenal dan percaya bahwa Tuhan menjadi Allah keselamatan kita yang sesungguhnya dengan menanggung segala dosa ke atas diriNya melalui baptisanNya, mati di kayu Salib, dan bangkit kembali dari kematian. Baptisan Tuhan kita dan darah di kayu Salib adalah dasar iman yang sejati yang memampukan kita menerima anugerah keselamatan. Kalau kita bahkan tidak bisa percaya kepada iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang sesuai dengan firman Allah, lalu bagaimana kita bisa menyebutnya iman yang benar?
 
 
Hukum Taurat adalah Gambaran Akan Hal Baik Yang Akan Datang 
 
Bahan-bahan bangunan Kemah Suci menunjukan bahwa Tuhan kita datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa ke atas DiriNya dengan baptisanNya, menanggung penghukuman segala dosa kita dengan penyalibanNya, bangkit kembali dari kematian dan dengan itu menjadi Juruselamat kita. Dengan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, Tuhan kita berjanji di dalam Perjanjian Lama bahwa Ia akan memberikan kepada kita anugerah keselamatan. Dia yang memberikan perjanjian ini kepada kita tidak lain dari Yesus Kristus, Raja segala raja yang sudah dibaptiskan dan disalibkan bagi orang-orang berdosa. Allah ini, dengan kata lain, datang kepada kita sebagai Allah Mesias kita. Dengan itu, kita harus meletakkan dasar iman kita dengan mengenal dan percaya kepada kebenaran ini secara penuh. Dengan percaya kepada Injil air dan Roh, kita semua harus menerima anugerah keselamatan.
Emas, perak, dan tembaga adalah bahan yang dipakai untuk Kemah Suci. Bahan-bahan ini menunjuk kepada dasar iman kita. Di hadapan Allah, kita tidak bisa tidak dibuang ke dalam neraka karena segala dosa kita. Tetapi untuk orang-orang seperti kita, Tuhan kita sudah memberikan anugerah keselamatan bagi kita yang percaya. Sebagai korban persembahan bagi semua manusia, Yesus Kristus sudah dibaptiskan oleh Yohanes, disalibkan, dan dengan itu sudah menyelamatkan kita dari dosa kita sepenuhnya. Tidak ada cara lain bagi kita untuk menghindar dari neraka, karena kita hanya tahu bahwa kita ditentukan untuk dihukum atas dosa-dosa kita, dan tidak tahu bagaimana kita bisa memiliki iman yang membuat segala dosa kita dilenyapkan. Tetapi di dalam Allah ada anugerah keselamatan. Bahwa Allah datang ke dunia ini, menerima segala dosa kita ke atas diriNya dengan baptisanNya, mati di kayu Salib, dan dengan itu menyelesaikan masalah dosa-dosa dan penghukuman kita—inilah anugerah keselamatan.
Kita diselamatkan dari dosa melalui iman kita, dengan percaya bahwa Allah sudah menggenapkan karya keselamatanNya bagi kita dan sudah memberikan kepada kita anugerah keselamatan ini. Inilah sebabnya Allah memerintahkan agar kita membawa kepadaNya iman emas, perak dan tembaga, karena Ia sudah sepenuhnya menyelamatkan orang-orang yang tidak bisa tidak masuk neraka dengan memberikan kepada mereka anugerah keselamatan. Karena Tuhan kita memang sudah menyelamatkan kita dengan datang ke dunia ini, menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya, dan menanggung semua penghukuman sehingga kita sudah diselamatkan sepenuhnya di hadapan Allah dengan percaya kepada anugerah keselamatan ini. 
Yesus Kristus sekarang sudah menjadi Juruselamat kita yang sempurna. Karena itu kita harus berdiri teguh dengan iman kita kepada anugerah keselamatanNya, karena kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya adalah anugerah iman. Allah tidak menghendaki kita percaya sekehendak hati kita saja dan secara buta tanpa mengetahui apa-apa.
 

Bulu Kambing, Kulit Domba Jantan Yang Diwarnai Merah, Kulit Lumba-Lumba
 
Bahan itu dipakai untuk penutup Kemah Suci. Tutup yang pertama terbuat dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, yang kemudian di atasnya ditutup lagi dengan bulu kambing. Kemudian semua ini ditutup lagi dengan kulit domba jantan yang diwarnai merah, lalu kulit lumba-lumba diletakkan di bagian paling atas. Dengan cara ini, empat lapisan penutup dipakai untuk menutupi Kemah Suci.
Tutup atap yang paling atas dari Kemah Suci terbuat dari kulit luma-lumba. Jadi yang nampak sebagai permukaan dari Kemah Suci adalah warna hitam dari kulit lumba-lumba saja. Lumba-lumba adalah sejenis binatang laut. Masing-masing kulitnya adalah selebar manusia atau sedikit lebih kecil, dan kulitnya bisa menahan resapan air. Ini sebabnya kulit lumba-lumba dipakai sebagai penutup yang paling atas untuk penutup Kemah Suci. Karena ini, tampilan luar Kemah Suci agak kurang menarik, dan tentu saja tidak sedap dipandang. Ini menjelaskan bahwa ketika Yesus datang ke dunia ini, Ia perlu datang dalam rupa yang hina, yang tidak menarik dalam penampilanNya.
Kulit domba jantan yang diwarnai merah menjelaskan bahwa Yesus Kristus datang ke dunia ini dan mengorbankan diriNya bagi kita, sementara bulu kambing menjelaskan bahwa Ia akan menerima baptisan sebagai korban persembahan dan dengan itu menerima dosa-dosa kita ke atas DiriNya, dan dengan disalibkan di kayu Salib. 
Bahan-bahan untuk tutup Kemah Suci ini, dengan kata lain, adalah dasar bagi iman kita. Kebenaran ini adalah bahan-bahan bangunan iman yang sepenuhnya tidak boleh hilang sama sekali. Untuk memberikan anugerah keselamatan kepada kita, Yesus Kristus datang ke dunia ini sebagai korban persembahan kita. Di dalam Perjanjian Lama, Allah menetapkan sistem bagi pengampunan dosa bangsa Israel: korban binatang yang tidak bercacat (kambing, domba jantan, atau sapi) akan menerima dosa-dosa bangsa Israel yang ditanggungkan kepada mereka melalui penumpangan tangan, dan disembelih menggantikan mereka, mencurahkan darah mereka dan dibakar, dan dengan itu menyelamatkan mereka dari segala dosa mereka. 
Yesus Kristus datang ke dunia ini sebagai Anak Domba korban dan menerima segala dosa kita ke atas DiriNya melalui baptisanNya, yaitu, penumpangan tangan. Sama seperti korban persembahan disembelih dan mati dengan mencurahkan darahnya dan dibakar di mezbah korban untuk menerima dosa-dosa bangsa Israel dengan penumpangan tangan, maka, demikian juga, Yesus Kristus menanggung segala penghukuman atas dosa-dosa kita dengan dibaptiskan dan mati di kayu Salib, dan dengan itu menyelamatkan kita dari segala dosa dunia.
Kalau nama-nama di dalam Kitab Penghakiman dihapuskan dengan menaruh darah korban persembahan di tanduk-tanduk mezbah korban bakaran, itu adalah karena Yesus dibaptiskan dan mencurahkan darahNya sehingga Ia menggenapkan pendamaian kekal bagi kita dengan darahNya dan sudah menghapuskan segala dosa dunia. Demikianlah, semua bahan di Kemah Suci berbicara mengenai Yesus Kristus dan pelayananNya, menjelaskan bahwa Ia sudah menyelamatkan kita dari dosa dunia. Dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru, Firman bahwa Yesus sudah menyelamatkan kita dari dosa adalah seluruh kebenaran, yang sepenuhnya bebas dari kesalahan.
Banyak orang Kristen di jaman ini yang tidak percaya bahwa Yesus Kristus datang ke dunia ini sebagai korban persembahan kita dan menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya dengan baptisanNya, namun justru percaya tanpa syarat hanya kepada kematianNya di kayu Salib. Iman Kristen yang demikian adalah tidak benar dan hanya membuat pintu gerbang pelataran dari kain kirmizi dan kain ungu, serta meninggalkan kain birunya. Mereka hanya memiliki iman yang salah paham yang tidak merasa memerlukan penutup yang terdiri dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan justru hanya percaya bahwa yang mereka butuhkan hanyalah dua penutup dari Kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba.
Ketika kita melihat kepada banyak gambar tentang Kemah Suci yang ada, kebanyakan digambar dalam bentuk dimana kita sama sekali tidak menemukan ada warna biru di sana. Karena orang-orang yang menggambar itu tidak mengerti tentang Injil air dan Roh, pintu gerbang pelataran di dalam gambar mereka semuanya berwarna kirmizi dan putih. Tetapi iman yang demikian bukan iman yang benar di hadapan Allah. 
Kain yang paling berguna di pintu gerbang pelataran Kemah Suci adalah kain biru, yang diikuti oleh kain ungu, dan kemudian kain kirmizi, dan kain lenan putih. Jadi ketika memandang pintu gerbang pelataran, keempat warna itu harus nampak sekaligus. Tetapi karena banyak orang di dunia ini yang imannya menghindari baptisan Yesus sepenuhnya, mereka mengabaikan keempat warna yang dipakai untuk Kemah Suci dan bahkan membuat pintu gerbang Kemah Suci hanya dengan dua warna saja. 
Dengan melakukan hal itu, mereka mendustai banyak orang, yang memang memiliki pemahaman yang terbatas tentang Allah dan bahkan tidak terlalu memahami FirmanNya. Mereka adalah nabi-nabi palsu. Menunjuk kepada orang-orang itu, Yesus sendiri menyebut mereka sebagai lalang yang ditabur di antara gandum (Matius 13:25). Mereka sudah menjadi, dengan kata lain, orang-orang yang menyebarkan dusta dengan meninggalkan kain biru dari gambar mereka tentang pintu gerbang pelataran Kemah Suci. Inilah sebabnya banyak orang masih ada di dalam dosa meskipun sudah percaya kepada Yesus, dan sebabnya mengapa iman mereka akan membawa mereka kepada kebinasaan karena dosa-dosa mereka.
Dasar iman kita harus berdiri kokoh. Apa gunanya menjalani kehidupan keagamaan dalam waktu yang lama bagi jiwa anda kalau semuanya itu hanyalah iman keliru yang tidak memiliki dasar? Iman yang salah bisa dan akan runtuh dalam sekejap saja. Tidak peduli bagaimanapun indahnya rumah kita, apa untungnya kalau kita membangun rumah itu di atas dasar pondasi yang salah? Bagaimanapun tekunnya anda melayani Allah, kalau dasar iman anda itu salah, maka anda sedang membangun di atas pasir; ketika badai melanda, angin menimpa, banjir menerpa, maka dalam sekejap semuanya akan runtuh.
Tetapi bagaimana dengan iman yang dasarnya kuat? Iman itu tidak akan pernah runtuh, bagaimanapun goncangan yang terjadi. Allah mengatakan bahwa rumah yang dibangun di atas batu kebenaran yang terdiri dari kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya tidak akan pernah runtuh. Ini kenyataan yang terjadi. Apakah iman batu karang? Iman itu adalah iman yang percaya kepada kebenaran kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Iman dari orang yang membangun rumah iman demikian tidak akan roboh. Inilah sebabnya penting untuk keyakinan kita untuk memiliki dasar yang kokoh dan kuat dasarnya. Kalau kita percaya bahkan tanpa memahami dengan tepat apa yang dilakukan Tuhan bagi kita, maka iman itu akan menjadi iman keagamaan yang keliru, yang tidak dikehendaki Allah.
 

Kayu Penaga, Minyak, Rempah-Rempah 
 
Tiang-tiang Kemah Suci, mezbah korban bakaran, dan papan serta bahan untuk Tempat Kudus semuanya terbuat dari kayu penaga. Kayu di dalam Alkitab sering melambangkan manusia (Hakim-Hakim 9:8-15, Markus 8:24). Kayu di sini juga menunjukkan keadaan kita sebagai manusia; yaitu kayu penaga dibuat menjadi tiang, mezbah korban bakaran, dan Kemah Suci sendiri menunjukkan bahwa sama seperti akar kayu penaga selalu tertanam di dalam tanah, hakekat kita juga sedemikian sampai kita tidak bisa tidak melakukan dosa setiap saat. Manusia harus mengakui bahwa mereka senantiasa menjadi orang berdosa yang melakukan dosa. 
Pada saat yang sama, kayu penaga juga melambangkan kemanusiaan Yesus Kristus. Mesias yang datang dalam rupa manusia menanggung segala dosa, dihukum menggantikan semua manusia. Ia sendiri adalah Allah, dan karena itu, tabut perjanjian, meja roti sajian, mezbah pembakaran ukupan, dan papan-papan Kemah Suci semua terbuat dari kayu penaga yang dilapis dengan emas murni.
Minyak untuk lampu dan rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan menunjuk kepada iman yang kita persembahkan kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Mesias yang sudah menyelamatkan anda dan saya. Arti nama “Yesus” adalah “Dia yang akan menyelamatkan umatNya dari segala dosa mereka,” dan nama “Kristus” berarti “Yang diurapi,” yang menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sendiri dan Imam Besar Surga yang sudah menyelamatkan kita. Dengan taat kepada kehendak Allah, Tuhan kita datang ke dunia ini dalam rupa manusia, dibaptiskan, mengorbankan diriNya di kayu Salib bagi kita, dan dengan itu memberikan karunia keselamatan. Peranan Imam Besar yang diambil oleh Yesus yang sudah memberikan kepada kita keselamatan kita memang merupakan karya yang terindah.
 

Permata Krisopras Dan Permata Tatahan Lainnya Untuk Baju Efod Dan Untuk Tutup Dada Imam Besar
 
Ada dua belas jenis batu berharga disebutkan di sini yang akan diletakkan di baju efod dan penutup dada Imam Besar. Imam Besar pertama memakai baju gamis, kemudian dilapis dengan jubah berwarna biru dan kemudian mengenakan baju efod di atas jubah itu. Setelah itu, tutup dada diletakkan pada efod itu, yang dipakai selama upacara pengorbanan, dan di penutup dada ini diletakkan dua belas jenis batu berharga. Ini menunjukkan kepada kita bahwa peranan sebagai Imam Besar adalah untuk merangkul bangsa Israel dan juga bangsa-bangsa lain di seluruh dunia ini ke dadanya, untuk menghadap Allah, dan memberikan kepadaNya korban persembahan mereka. 
Yesus, Imam Besar Surga yang kekal, juga merangkul semua bangsa di dunia ini ke dadaNya, memberikan tubuhNya untuk menanggung segala dosa mereka ke atas DiriNya dengan baptisanNya dan untuk menjadi korban bagi kita, dan dengan itu menguduskan umatNya kepada Allah Bapa. Kedua belas jenis batu berharga ini ditempatkan di penutup dada menunjukkan semua bangsa yang ada di dunia ini, dan Imam Besar yang mengenakannya menunjuk kepada Yesus Kristus yang sudah dengan cara yang sama menyelamatkan dan merangkul ke dadaNya semua bangsa yang ada di dunia.
Demikianlah persembahan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel untuk dibawa membangun Kemah Suci bagiNya. Ada makna rohani pada kenyataan bahwa Allah memerintahkan agar mereka membangun Kemah Suci, tempat kediamannya, dengan persembahan itu. Orang Israel selalu ada di dalam dosa, karena mereka tidak bisa menaati hukum Taurat yang diberikan Allah kepada mereka. Inilah sebabnya Allah mengatakan kepada mereka melalui Musa untuk membangun Kemah Suci dan memberi mereka sistem pengorbanan, yang melaluinya pengampunan dosa diberikan dengan korban persembahan yang dipersembahkan di Kemah Suci. Allah, dengan kata lain, menghapus segala dosa bangsa Israel dengan menerima persembahan mereka, menggunakan semua persembahan itu untuk membangun RumahNya, dan kemudian membuat mereka mempersembahkan kepadaNya korban persembahan di dalamnya sesuai dengan peraturan dari sistem pengorbanan. Inilah caranya Allah bisa berdiam di dalam Kemah Suci dengan bangsa Israel.
Namun, tetap saja, banyak sekali orang Kristen yang tetap tidak percaya kepada kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya. Ketika Allah memerintahkan agar mereka mempersembahkan emas, perak dan tembaga kepadaNya, mengapa mereka tidak percaya kepada kebenaran yang terkandung di dalam persembahan itu? 
Tidakkah kita ditentukan untuk masuk neraka karena dosa-dosa kita? Sudahkah anda percaya kepada kekristenan seolah-olah kita hanyalah salah satu agama dunia saja karena anda tidak pernah mengakui bahwa diri anda memang ditentukan masuk neraka? Kalau begini cara anda percaya sampai saat ini, maka anda harus bertobat dan kembali kepada iman kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya. Dan anda harus menyadari di hadapan perintah Allah dengan tegas bahwa anda hanyalah bongkahan dosa, dan bahwa anda ditentukan untuk masuk neraka karena dosa-dosa itu, dan bahwa anda harus percaya kepada Injil air dan Roh. 
Sekarang, anda harus percaya kepada Injil kebenaran, bahwa anda juga sebenarnya ditentukan untuk masuk neraka, dan Tuhan kita kemudian datang ke dunia ini sebagai Mesias, menerima dosa-dosa anda ke atas DiriNya dengan baptisanNya, membawa dosa-dosa itu ke atas kayu Salib dan mengorbankan diriNya dengan mencurahkan darahNya di sana, dan dengan itu sudah menyelamatkan anda dan saya dari dosa-dosa dan penghukuman kita. Tanpa percaya kepada Injil air dan Roh yang dinyatakan di dalam kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, kita tidak akan pernah bisa meletakkan dasar iman kita secara utuh.
 
 
Kita Harus Berpikir Tentang Dasar Iman Kita 
 
Allah memerintahkan agar kita memiliki iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi; kita harus bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita sungguh-sungguh memiliki iman kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya atau kita hanya memiliki iman kain ungu, dan kain kirmizi ini, dan meninggalkan iman kain biru. 
Kita perlu melihat diri kita dan melihat tidakkah kita sedang mempersembahkan kepada Allah iman yang salah yang hanya cocok dengan selera kita saja. Ketika Allah memerintahkan kita mempersembahkan kepadaNya kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi tidakkah kita, entah bagaimana, mempersembahkan kepadaNya kain nilon berwarna hitam? “Allah, kain yang Engkau kehendaki tidak ada gunanya untuk Kemah Suci. Warnanya pasti akan luntur apabila terkena hujan. Dan juga melelahkan sekali untuk mencari semua bahan itu dan membawanya ke sini. Coba dahulu kain nilon ini. Saya bisa menjamin bahwa kain ini akan bertahan sampai 50 tahun, atau bahkan 100 tahun kalau Engkau menjaganya dengan baik. Dan bahkan kalau Engkau menguburnya dibawah tanah, kain ini tidak akan lapuk dalam waktu 200 tahun. Luar biasa bukan?” 
Tidakkah ini, yang sebenarnya, sedang kita katakan kepada Allah? Kita juga harus memperhatikan diri kita sendiri dan melihat apakah kita tidak sedang mempersembahkan iman yang mementingkan diri dan penuh takhayul itu kepada Allah. Dan kalau kita memang memiliki iman yang demikian, kita harus bertobat sekarang ini juga. Kita harus, dengan kata lain, berbalik.
Mungkin ada banyak di antara kita yang berpikir bahwa diri kita adalah orang Kristen yang baik, tetapi kalau kita perhatikan lebih seksama, pengetahuan mereka salah dan demikian juga iman mereka.
 

Mistikisme yang Ada di dalam Kekristenan Jaman Ini 
 
Mistikisme adalah yang paling banyak dipercaya oleh orang Kristen. Mereka tidak memiliki ide tentang apa yang dikatakan oleh firman Allah. Karena mereka tidak mengenal Firman kebenaran yang diberikan Mesias kepada mereka, mereka percaya dan mengikuti Tuhan sesuai dengan perasaan dan emosi mereka. Dan mereka yakin bahwa perasaan yang begitu adalah kebenaran. Karena mereka berdoa kepada Allah dengan tekun dari diri sendiri, dan dengan setia mengikuti emosi dan perasaan mereka yang mereka rasakan ketika mereka berdoa, mereka tidak bisa membedakan apakah sesungguhnya iman yang benar kepada Allah.
Demikian juga, percaya kepada Allah sesuai dengan emosi dan perasaannya yang berubah-ubah sesuai dengan pemikirannya sendiri adalah iman mistikisme. Orang-orang yang percaya kepada Allah dengan pedoman perasaan yang mereka dapatkan ketika berpuasa, ketika mereka memuji, ketika mereka percaya, ketika mereka menaikan doa pagi, ketika mereka mendaki gunung untuk berdoa, dan lain-lain—orang-orang itu adalah golongan mistikis. Dengan kata lain, menjalani kehidupan iman dengan berpegang kepada perasaan sendiri bukanlah kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang dikatakan Mesias.
Mungkin sebanyak 99,9 persen orang Kristen jaman ini sejak awalnya sudah menjadi mistikis. Tidak melebih-lebihkan, dengan kata lain, untuk mengatakan bahwa selain Gereja Mula-Mula, seluruh kekristenan sudah mengikuti mistikisme. Orang-orang yang tidak memiliki iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi tertipu oleh pemikiran bahwa perasaan mereka sebenarnya adalah iman itu sendiri. Mereka mengatakan sudah melihat dan bertemu Allah di dalam doa mereka, dan mengatakan betapa indahnya ketika mereka memuji.
Mereka berkata, “Kita berkumpul di tempat pujian ini, dan kita mengangkat tangan kita serta bertobat dari dosa-dosa kita. Kita menghadap kayu Salib dan melakukan ibadah di kaki salib itu, dan kemudian hati kita menjadi membara, dan Kristus menjadi teramat sangat kita kasihi. Kita merasakan ucapan syukur yang besar di dalam hati kita atas darah yang dicurahkan oleh Kristus. Kita percaya bahkan semakin sungguh-sungguh bahwa Tuhan sudah menghapus segala dosa kita, dan semakin menyadari apa sebabnya Ia mencurahkan darahNya. Kita sangat suka dengan semua pengalaman ini.” Tetapi ketika emosi mereka turun di suatu hari, mereka berkata, “Tetapi semua perasaan itu mulai pudar, dan kita memiliki dosa di dalam hati kita.” Tidak lain dari iman seperti inilah iman mistikisme. 
Bagaimanapun perbedaan denominasi atau sekte seseorang, setiap orang Kristen membutuhkan iman yang percaya kepada kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Iman dari semua orang yang tidak percaya kepada iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang dijelaskan oleh Allah adalah mistik dan takhayul saja. Orang-orang ini mempersembahkan kepada Allah bukan iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, tetapi justru iman kain nilon. Mereka membawa kepada Allah iman mistikis mereka, dengan kata lain, sesuatu yang tidak layak, sesuatu yang bahkan tidak akan diperhatikan oleh Allah.
Pernahkah anda melihat tali tebal yang dipakai untuk mengikat kapal di dermaga? Golongan mistikis akan dengan senang hati mempersembahkan kepada Allah barang ini. Ketika Tuhan kita mengatakan kepada kita untuk mempersembahkan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, beberapa orang datang membawa tali tebalnya kepada Allah, dan berkata kepadaNya, “Tuhan, terimalah iman ini!” Dan beberapa orang bahkan membawa rantai besi yang biasa dipakai untuk mengikat beberapa kapal besar yang sedang berada di dermaga sesudah menggulung sekumpulan rantai besi yang tebal, mereka mempersembahkannya di kaki Allah, meminta agar Dia menerimanya. 
Tetapi Allah sudah mengatakan kepada kita untuk mempersembahkan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Ia tidak memerintahkan agar kita membawa kepadaNya rantai besi. Tetapi banyak orang membawa kepadaNya sesuatu yang nampak lebih baik dalam pandangan mereka atau sesuatu yang lebih mudah untuk ditemukan. Meskipun ada di antara umat Allah yang akan datang kepada Allah dengan membawa rantai besi, tali, bahan nilon, atau bahkan rambatan pohon ararut, Allah pada kenyataannya hanya menerima persembahan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Allah sudah menetapkan bahwa Ia hanya akan menerima iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Dengan itu, kita harus membawa iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi ini ke hadapan Allah.
 

Mesias Tidak Menerima Persembahan Apapun
 
Bangsa Israel juga harus membawa kepada Allah emas, perak, tembaga serta dua belas macam batu berharga untuk diletakkan di baju efod dan tutup dada. Tetapi ada beberapa orang yang membawa tembaga atau besi kepada Allah. Apakah Yesus hanya sekedar pemulung, sehingga Ia menerima semua hal itu? Tentu saja tidak!
Yesus bukanlah seseorang yang menerima segala macam sampah. Ia bukanlah pemulung, yang mau menerima barang bekas apa saja yang anda bawa kepadaNya. Yesus adalah Mesias yang ingin mencurahkan kepada kita kasih karuniaNya kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi yang mengampuni segala dosa kita, dan yang ingin memberikan kepada kita kasih sejatiNya. Inilah sebabnya Yesus disebut sebagai Raja kasih. Yesus memang Mesias kita yang sejati. Mesias ini sudah menetapkan iman yang dikehendakiNya dari kita, menjelaskan beberapa karakteristik yang sungguh-sungguh diperlukan. Hanya kalau kita menghadap Allah dengan iman ini, Ia akan memberikan kepada kita apa yang dijanjikanNya kepada kita.
Tetapi kita melihat bahwa di antara orang-orang yang imannya kepada Mesias didasarkan oleh kesalahpahaman mereka akan Dia, bisa nampak ketegaran yang tidak terkatakan. Mereka jahat dan keji. Seperti Firaun yang tetap tegar pada kekeras-kepalaannya di hadapan Allah. Ketika Musa berkata kepadanya; Jehova sudah menyatakan diriNya; biarkan umatNya pergi,” Firaun membalas, “Siapakah Jehovah itu?” 
Ketika keberadaan Allah dijelaskan kepadanya, ia seharusnya cepat menyerah dan tunduk kepadaNya setelah mempertimbangkan kerugian dan keuntungan dari sikap keras kepalanya. Kalau ia sungguh-sungguh tidak bisa percaya dan tetap bertahan kepada ketegarannya, ia bisa berusaha untuk menahannya sementara, tetapi setelah dijatuhkannya beberapa tulah, ia seharusnya menyerah. Betapa bodoh dan mengenaskan bagi Firaun bahwa ia tetap bertahan dalam ketegarannya dan ketidaktaatannya kepada Allah, bahkan meskipun ia terkena tulah katak yang meliputi seluruh negaranya?
Bukan hanya katak tetapi nyamuk juga menjadi tulah di istana Firaun. Di sebelah kanan dan kiri, kemana saja seseorang menoleh, dimana saja di seluruh negeri Mesir menjadi penuh dengan nyamuk, tetapi Firaun belum juga menyerah. Bagaimana seseorang bisa hidup kalau disegala tempat dipenuhi dengan nyamuk? Dalam keadaan seperti ini, seharusnya ia menyadari, “Karena aku sudah tidak taat kepada Allah, Ia sedang menunjukkan siapa yang sebenarnya Raja. Saya bisa saja raja atas seluruh kerajaanku di dunia ini, tetapi aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Dia. Meskipun aku raja atas negara yang terbesar di muka bumi ini, dan meskipun aku memiliki kuasa atas seluruh dunia, Allah jauh lebih berkuasa dibandingkan dengan aku, dan Ia menjatuhkan semua tulah ini karena ketidaktaatanku.” Beginilah seharusnya ia menyerah. 
Sangat bijaksana bagi Firaun kalau ia dengan cepat menyerah setelah ia melihat sendiri harga yang harus ditanggung dari penolakannya. Bagaimanapun berkuasanya Firaun, kalau ia sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada cara bagi dia untuk melawan Allah, yang harus dilakukannya adalah menyerah kepadaNya, dan berkata, “Baik, Allah, Engkau yang paling utama; aku akan menjadi yang kedua.” Tetapi karena Firaun menolak dan keras kepala, seluruh bangsa dan rakyatnya terkena tulah nyamuk.
Karena ini, tidak ada orang Mesir yang bisa berbuat apapun. Kalau semua orang menjadi terganggu tiada hentinya karena nyamuk, bagaimana ada orang yang bisa melakukan sesuatu selain mengusir nyamuk itu? Kita semua bisa membayangkan orang-orang Mesir yang malang itu berusaha mengusir nyamuknya, mungkin bahkan sampai membakar rumah mereka sendiri dalam usahanya, dan bau nyamuk yang terbakar memenuhi penjuru desa.
Ada hal-hal yang bisa dilakukan manusia, dan ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia. Karena Allah adalah Tuhan Balatentara, Allah yang menguasai kehidupan dan kematian, kebahagiaan dan kesedihan, serta berkat dan kutuk. Ketika ini yang terjadi, daripada meletakkan keyakinan kepada diri sendiri dan berusaha untuk melawan Allah, kita semua harus berpikir secara rasional dan mencapai kesimpulan logis bahwa kita harus membuang semua keras kepala kita. Di antara kita, kita bisa saja memaksakan cara hidup kita dan berusaha menerapkannya bagi orang lain, tetapi ketika berhubungan dengan Mesias, hal ini tidak mungkin terjadi.
Kita harus berpikir tentang orang yang bagaimana sebenarnya diri kita di hadapan Allah. Kita harus sungguh-sungguh memperhatikan apakah kita memang harus bertahan melawan Allah, atau hati kita justru harus lemah lembut dan rendah hati. Dan kita harus mencapai kesimpulan yang pasti bahwa kita semua harus merendahkan diri di hadapan Allah. Di hadapan manusia, kita bisa saja mempertahankan keras kepala kita dan kadangkala harus menanggung konsekuensinya, tetapi di hadapan Allah, hati kita harus sepenuhnya lembut.
“Allah, aku sudah melakukan kesalahan”—mereka yang mengakui hal ini adalah orang-orang yang memilih jalan yang benar. Orang-orang ini adalah orang yang bisa diselamatkan dari kehidupan mereka yang penuh kutuk. Bagi orang-orang yang sudah meninggalkan Allah karena dosa-dosa mereka, cara untuk kembali ke tangan Allah dan makan di air kehidupanNya adalah dengan dilahirkan kembali dari air dan Roh. Apa yang bisa kita harapkan di dalam kehidupan kita, kalau kehidupan itu kita jalani dengan tanpa menghasilkan buah di belantara dunia ini, berjalan kesana kemari tanpa tujuan, dan kemudian kembali menjadi segumpal debu? 
Satu-satunya jalan bagi kita, yang akan kembali menjadi debu dan akan dibuang ke dalam lautan api, adalah untuk diselamatkan dengan percaya kepada Injil air dan Roh dan dengan itu menerima pengampunan dosa kita. Ini adalah untuk kehidupan yang sudah putus asa dan tidak ada pengharapan yang ditentukan untuk mengalami kebinasaan kekal karena melawan Allah dan karena dosa-dosa mereka sehingga mereka bisa dengan ajaib dipulihkan kembali di hadapan Allah melalui kasih karuniaNya, kasih keselamatan. Kita harus, karena itu, mengenakan keselamatan ini.
Bagaimana seseorang, yang hanyalah makhluk yang fana, bisa menantang Allah? Ketika Allah memerintahkan agar kita membawa persembahan ini dan itu, kita semua harus taat kepada FirmanNya. Dengan melihat ayat yang kita baca di atas, dimana Allah memerintahkan mengenai persembahan apa yang harus kita berikan kepadaNya, kita semua harus sampai kepada kesadaran, “Akh, jadi inilah jenis iman yang diminta Allah agar kita bawa kepadaNya.”
Di penutup dada Imam Besar, dua belas batu berharga diletakkan. Dan kemudian ada tutup dada keputusan, Urim dan Tumim, yang secara harfiah berarti Terang dan Kesempurnaan, harus diletakkan agar Imam Besar bisa mengambil keputusan yang benar atas orang-orang Israel. 
Ini tidak lain menunjuk kepada kenyataan bahwa hanya hamba Allah yang bisa membuat keputusan yang benar kepada anak-anak rohani imannya dengan memberikan terang Roh Kudus yang berdiam di dalam diri mereka dan firman Allah. 
Kita semua harus menyadari saat ini bahwa di hadapan Allah, kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi adalah kebenaran yang sejati dan keselamatan yang sesungguhnya. Kebenaran kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi ini adalah keselamatan yang sejati yang memberikan kepada kita kehidupan, dan selain ini, tidak ada yang lain yang menggenapkan keselamatan ini. Semua ini didasarkan kepada firman Allah, yang jelas dan benar.
 

Semua Bahan Kemah Suci Terkait dengan Keselamatan Manusia Dari Dosa
 
Tetapi karena kebodohan, banyak orang yang tetap menolak untuk percaya. Apa yang akan terjadi kepada mereka? Sampai kapanpun, mereka tidak akan pernah diselamatkan. Di hadapan Allah, kita harus membuang kebodohan kita juga. Dan kita harus mengosongkan hati kita. Kita harus membuang pemikiran kita sendiri dan keras kepala kita di hadapan Allah, dan kemudian taat kepada FirmanNya dan memberikan hati kita kepadaNya. Kita jangan pernah sampai memberontak kepada Allah, memaksakan cara kita yang memang kepala batu. Kita bisa saja bersikap demikian di hadapan manusia, tetapi sebagai orang Kristen, kita tidak boleh melakukan hal ini, apalagi kepada Allah. Tetapi orang-orang yang bodoh tetap melawan Allah dan mereka justru lemah lembut di hadapan manusia. Itu yang salah dengan kehidupan mereka. Kita harus merendahkan diri kita sampai ke tanah di hadapan Allah dan mengakui bahwa apa yang dikatakan Allah kepada kita semuanya benar.
Dan kita harus percaya dan yakin akan Firman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Iman adalah percaya kepada firman Allah. Ketika kita merendahkan diri di kaki Allah, mengakui semua masalah kita di hadapanNya, dan berserah kepadaNya meminta pertolonganNya, Allah pasti akan menjawab kita. Kita kemudian harus menerima apa yang sudah dilakukanNya dengan ucapan syukur. Inilah yang disebut iman. Di dalam kebebalan dan kegilaan kita, kemudian, bisakah kita menunjukkan kepada Allah hal lain yang bukan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, dan membawa kepadanya tali pancing atau rantai logam? Membawa semua yang tidak berguna bagi Allah dan kemudian berkata, “Inilah imanku sendiri. Beginilah yang saya percaya dengan sangat yakin. Inilah iman yang kokoh yang sudah saya yaikini,”— ini bukanlah iman, tetapi menunjukkan kebodohan kita di hadapan Allah.
Manusia harus menanggalkan sikap keras kepala mereka di hadapan Mesias. Di hadapan Allah, dengan kata lain, manusia harus membentuk kehendaknya. Kita semua harus mengenali diri kita di hadapan Allah. Kita harus mengenal sesuai dengan apa yang dikatakan Allah kepada kita dan bagaimana Ia memutuskan mengenai diri kita. Tidak satupun hal itu yang merupakan iman yang benar. Taat dan percaya kepada firman Allah adalah sikap dan hati orang-orang yang setia. Inilah yang harus senantiasa kita ingat di hadapan Allah.
Di antara diri kita sendiri, tentu saja, kita bisa membanggakan pencapaian kita, saling membandingkan, saling bersaing, dan saling menantang. Bahkan hal ini, juga, adalah tindakan yang tidak ada gunanya kalau mengukur adanya kepentingan yang sama di hadapan Allah, di antara manusia ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dan hanya bisa kita lakukan secara terus menerus. 
Bahkan anak anjing mengenal tuannya, dan tunduk kepada tuannya serta taat kepada mereka. Bahkan anjing, dengan kata lain, taat kepada pemiliknya, mengenali suaranya, dan hanya mengikuti tuannya. Ketika anjing dihukum karena kesalahannya, mereka menyadari kesalahannya, menundukkan kepala dengan taat, dan berusaha mendapatkan kembali kebaikan dengan tuannya dengan melakukan segala macam trik yang kecil. Bahkan ketika binatang bisa melakukan hal ini, manusia justru terus menantang Allah dengan memakai iman sesuai dengan pemikiran mereka saja. Mereka terus, dengan kata lain, berpegang kepada Allah tetapi memaksakan cara mereka dan pemikiran mereka sendiri.
Dengan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmiziNya, Allah sudah menjadikan segala dosa manusia dilenyapkan, dan yang diperintahkanNya kepada kita adalah agar kita memiliki iman yang percaya kepada karya Tuhan kita. Namun manusia selalu melawan dan menentang Allah. 
Tuhan sudah memerintahkan agar kita membawa kepadaNya segala dosa kita, dan dengan melenyapkan semuanya melalui kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, Ia sudah memberikan kepada kita pengampunan dosa. Ketika Allah sudah memerintahkan agar kita mempersembahkan kepadaNya iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, manusia masih tidak percaya kepada hal ini, dan menghina Tuan mereka. Orang-orang itu akan menerima kutukan. 
Ketika mereka mempersembahkan kepada Mesias iman yang tidak dikehendakiNya, Ia pasti akan sangat murka. Mereka terus membawa ketegaran mereka di hadapan Allah dan berkata kepadaNya, “Aku sudah memelihara imanku sampai sekarang dengan baik. Pujilah saya atas pekerjaan kebaikan ini!” Apakah Allah akan memuji mereka hanya karena mereka memelihara iman mereka, ketika pada kenyataannya iman mereka sama sekali tidak berguna?
Ada saat-saat dimana ketegaran memang pantas untuk dilakukan di dalam kehidupan kita. Tetapi ketegaran iman yang keliru sama sekali tidak berguna di hadapan Allah. Allah menggunakan iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi dalam membuat dosa kita lenyap. Alkitab tidak mengatakan bahwa Ia hanya menggunakan kain ungu saja, atau Ia menggunakan kain kirmizi saja, dan apalagi Ia tidak menggunakan rantai logam, sama seperti Ia juga tidak akan menggunakan bahan nilon juga. Di dalam Rumah Allah, dan di dalam Hukum keselamatanNya yang diberikan kepada kita, Mesias sudah menuntut dari kita iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi.
Orang Kristen menunjuk kepada mereka yang percaya dan mengikut Yesus Kristus. Kita, juga, disebut orang Kristen. Namun, ada banyak orang yang belum dilahirkan kembali meskipun mereka percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat mereka, yang belum menerima pengampunan dosa, dan yang tidak memiliki iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi –mereka hanyalah orang Kristen nominal yang ditentukan akan masuk neraka, karena mereka percaya hanya menurut kehendak mereka saja. Allah akan meninggalkan orang-orang yang demikian, karena mereka hanya mengaku beragama, bukan orang Kristen yang sejati.
Paling tidak di hadapan Allah, kita semua harus jujur, dan mengenal diri kita sebagaimana adanya. Setiap saat, tiap menit dan detik, kita harus mengakui bahwa kita ditentukan masuk neraka karena dosa-dosa kita. Di hadapan Mesias, kita semua harus memiliki iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi. Percaya kepada hal itu adalah tindakan yang benar. Dan setiap kali kita mengakuinya, kita harus mengingatkan diri kita sendiri tentang apa yang dilakukan Mesias bagi kita, bahwa Ia sudah dibaptiskan bagi kita dan dihukum bagi dosa-dosa kita dengan penyalibanNya, dan mengenali keselamatan kita setiap saat. Inilah iman yang dituntut Allah dari kita.
Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan Allah kecuali kalau kita melakukan tepat seperti yang dikehendaki oleh Mesias bagi kita. Mengapa? Karena seperti Ia sudah menjadi Juruselamat kita yang kekal melalui kain biru dan kain ungu, dan kain kirmiziNya, kita harus percaya setiap saat kepada apa yang dilakukan Allah bagi kita. Karena iman kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi memang benar, kita semakin memerlukannya bagi pengampunan dosa yang kita sendiri lakukan setiap hari.
 

Apakah Allah akan Berkenan Kalau Kita Mempersembahkan Hasil Usaha Kita Sendiri?
 
Kalau kita mempersembahkan kepada Allah perkara-perkara dunia, kita tidak hanya akan menumpukkan murka Allah atas kita, kita juga sedang melakukan dosa besar dengan senantiasa melawan Dia. Iman yang demikian sangat berbahaya, karena ia melawan Allah. Tidak ada di dalam dunia ini, tidak peduli bagaimanapun indah dan mahal kelihatannya, yang bisa menyenangkan Allah. Mempersembahkan kepada Allah hal-hal materi dunia ini tidak akan pernah menjadi iman yang benar yang bisa dipuji oleh Allah. Tidak peduli betapapun baik semuanya itu dalam pandangan dunia, Allah tidak pernah menerima hal-hal materi yang demikian. Kita harus memiliki iman yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah bagi kita, dan memberikan kepadaNya iman ini.
Iman kita haruslah yang percaya kepada firman Allah sebagaimana adanya, yang mempersembahkan persembahan yang benar yang dikehendaki Allah dari kita. Pada saat yang sama, sejalan dengan waktu, kita juga harus mengakui kelemahan kita dan kekurangan kita juga. Kita harus ingat berlimpahnya berkat yang dicurahkan Allah kepada kita, dan kita harus sungguh-sungguh memahami serta percaya kepada apa yang dilakukan Allah kepada kita, bahwa Ia sudah rela bertemu dengan kita. 
Kita harus membuang semua iman mistikisme, dan kita hanya harus memiliki iman yang percaya kepada Firman yang dikatakan Allah. Pesembahan iman inilah yang harus kita berikan kepada Allah. Hanya kalau kita memberikan kepada Allah persembahan iman yang benar saja maka Ia akan berkenan, bertemu dengan kita, dan menerima iman kita. Dan ketika kita melakukan hal itu Allah akan memberikan kepada kita berkat-berkat yang sudah ditetapkan dan dipersiapkan bagi kita.
Ketika kita berdiam di dalam Firman, kita kemudian harus merenungkan, “Apakah iman yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah dari kita? Doa apa yang sebenarnya doa yang dikehendakiNya?” Kita kemudian menyadari bahwa doa yang dikehendaki Allah dari kita tidak lain dari doa di dalam iman. Tuhan kita menghendaki dari kita doa yang dipersembahkan di dalam iman kepada keselamatan kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi, di dalam iman yang sudah menerima apa yang Allah berikan kepada kita. Yang dikehendaki Allah adalah doa penuh ucapan syukur di dalam iman kita; Ia tidak akan pernah menerima apapun buatan kita yang kita usahakan untuk kita berikan kepadaNya atau kita letakkan di kakiNya. Kita semua harus menyadari bahwa kita tidak boleh melakukan hal ini.
Allah mengatakan kepada kita, “Bukan, bukan, bukan itu iman yang Aku kehendaki darimu. Aku dibaptiskan dan disalibkan untukmu. Aku menerima baptisan untuk membuat segala dosamu dilenyapkan. Karena aku harus menanggung segala dosamu ke atas DiriKu sebelum Aku dihukum atas dosa-dosa itu dan mati di kayu Salib. Aku Juruselamatmu, tetapi Aku pada dasarnya juga Allahmu. Aku Raja segala raja, tetapi Aku juga Allahmu, Aku datang ke dunia ini dan menggenapi semuanya. Aku ingin kamu percaya kepadaKu dengan sungguh-sungguh, untuk mengakui kekuasaanKu di dalam hatimu, dan mengakui dengan sepenuh hati bahwa Aku sungguh-sungguh Allahmu.” Dengan maksud inilah Allah memberikan kepada kita kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Dan inilah iman yang dituntut Allah dari kita.
Kita harus sungguh-sungguh memiliki kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi ini. Anda mungkin berpikir, “Yah, ini bisa dijalani. Aku masih cukup baik-baik saja, dan semuanya juga berjalan dengan baik. Kalau memang tidak rusak, mengapa harus diperbaiki? Mengapa aku harus percaya persis seperti ini? Kalaupun aku percaya begini atau percaya begitu, bukankah itu sama saja?” Tidak, itu bukan sama! Kalau anda memiliki iman yang lain dari iman ini di dalam hati anda, maka anda sama sekali belum diselamatkan. Karena di dalam hati yang demikian dosa masih ditemukan, anda harus membalikkan hati anda dan kembali kepada iman yang sungguh-sungguh percaya kepada Injil air dan Roh.
Hati orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Injil yang sejati dan yang pada dasarnya tidak percaya sangat berbeda satu dengan lainnya. Allah tahu akan hal ini, dan kita juga tahu, kita yang sudah dilahirkan kembali. Ketika anda mengenal diri anda sendiri, anda harus berbalik, “Allah, aku memang penuh dosa. Tolong selamatkan aku.” Ketika anda kemudian membalikkan hati anda dan mencari keselamatan anda, Allah akan bertemu dengan anda dengan kebenaranNya.
 

Tuhan Kita Sudah Menyelamatkan Kita Dari Dosa Kita 
 
Tuhan kita dibaptiskan dan disalibkan bagi kita. Sama seperti yang tertulis di dalam Matius 3, inilah yang dilakukan Tuhan bagi kita. Kita percaya kepada hal itu. Kita bersyukur untuk itu. Ketika Yesus dibaptiskan, segala dosa kita ditanggungkan kepadaNya. Ketika Ia disalibkan, itu adalah karena Ia menanggung segala dosa sehingga Ia bisa membawa dosa-dosa itu ke atas kayu Salib. Ia dihukum bukan hanya untuk dosa-dosa kita saja, tetapi segala dosa dari seluruh dunia.
Ketika Tuhan kita memerintahkan kita untuk membawa kepadaNya persembahan berupa bahan-bahan untuk Kemah Suci, atau kapan saja Ia memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, Ia selalu menyebutkan secara berurutan. Ia mengatakan kepada kita, “Bawa kepadaKu kain biru dan kain ungu, dan kain kirmizi.” Kain biru selalu disebut terlebih dahulu. Dan ia meneruskannya dengan menyebutkan kain lenan halus, yang menjelaskan supaya kita percaya kepada firman Allah. Percaya darah di kayu Salib terlebih dahulu dan kemudian kepada baptisan Yesus nampaknya secara sepintas tidak masalah, tetapi ini sebenarnya keliru. Karena Yesus terlebih dahulu dibaptis sehingga Ia bisa mencurahkan darahNya di kayu Salib. Saya mengatakan lagi kepada anda bahwa tidak pernah benar kalau percaya kepada darah di kayu Salib terlebih dahulu dan kemudian kepada baptisanNya. Allah tidak menghendaki iman yang demikian.
Datang ke dunia ini dalam rupa manusia, ketika Tuhan berusia 30 tahun, Ia terlebih dahulu dibaptiskan untuk menanggung segala dosa keatas DiriNya. Setelah melakukan hal itu, Ia kemudian membawa segala dosa dunia ke atas kayu Salib, dihukum dengan penyalibanNya, dan kemudian bangkit kembali dari kematian, dengan itu menjadi Juruselamat kita. Demikian, kita harus percaya kepada apa yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita sesuai dengan urutan Ia menyelesaikan karyaNya. Inilah cara kita harus percaya. Hanya dengan itu iman kita senantiasa utuh, tidak bingung, dan tidak terguncang. Dan ketika kita memberitakan Injil kepada orang lain, kita juga harus melakukannya demikian. Kita harus percaya, dengan kata lain, sesuai dengan apa yang menyenangkan Allah, sesuai dengan bagaimana Ia menetapkannya bagi kita.
Persembahan iman yang bagaimana yang dikehendaki Allah untuk kita berikan kepadaNya? Bukankah Ia memerintahkan anda membawa iman kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya? Apakah anda memiliki iman ini? Tidakkah anda, entah karena apa, sedang membalikan urutannya? “Apakah saya percaya dengan cara ini atau cara lainnya tidak masalah. Saya masih percaya, dan itu saja yang penting. Saya percaya kepada kain kirmizi dulu, dan kemudian kain biru, dan yang terakhir kain ungu.” Kalau begitu cara anda percaya, maka anda harus percaya sekali lagi. Tuhan tidak akan menerima iman anda yang terbalik ini.
Tuhan kita adalah Allah keadilan dan Allah kebenaran. Ia tidak menerima iman yang salah. Karena iman tidak bisa menjadi benar kalau urutannya dicampur-adukkan, Allah tidak bisa menerima iman ini kalaupun Ia mau. Sama seperti kita tidak bisa membuat pondasi sesudah bangunannya jadi, demikian juga karena Yesus sudah menanggung segala dosa kita baru Ia kemudian disalibkan. 
Karena itu kita harus percaya sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan kepada kita. Inilah meletakkan batu penjuru iman yang benar. Karena Allah sudah menyelamatkan kita dengan benar, adil, dan tepat, kita tidak bisa mengubah urutanNya sekehendak hati kita. Kalau kita percaya kepada darah di kayu Salib terlebih dahulu dan kemudian kepada baptisan Yesus, maka iman ini keliru. Dan dosa masih bisa ditemukan di dalam hati mereka yang percaya demikian, karena dosa-dosa mereka tidak dibasuh akibat iman mereka yang salah urutannya. Ini sungguh-sungguh luar biasa. Kebenaran yang luar biasa tidak lain dari kebenaran ini.
Di hadapan Mesias, banyak di antara kita yang biasa percaya hanya kepada darah Yesus di kayu Salib. Kita percaya, “Yesus menanggung segala dosa kita dan menanggung semua penghukuman saya dengan mencurahkan darahNya di kayu Salib. Kita dengan itu sepenuhnya diselamatkan. Keselamatan kita datang dari Kristus yang mati di kayu Salib. Siapa saja yang percaya kepada hal ini sekarang diselamatkan.” Kita kemudian menyadari makna yang sebenarnya dari baptisan Yesus. Jadi di atas iman kita yang semula, yang salah, kita hanya menambahkan iman kebenaran. Apa yang kemudian terjadi? Dosa-dosa kita tidak sungguh-sungguh dilenyapkan. Karena jenis iman yang begini hanyalah iman intelektual dan doktrinal saja, ia tidak bisa menjadi iman yang nyata dan benar di dalam hati kita. 
Kalau iman anda seperti ini, anda harus sungguh-sungguh berbalik dan mengubahnya. Pertama-tama, anda harus mengaku secara jelas bahwa iman anda tidak benar. Dan kemudian, anda harus memperbaharui dasar iman anda sekaligus. Yang harus anda lakukan adalah mengubah urutannya lagi. “Setelah datang ke dunia ini, ketika Tuhan dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, Ia menanggung segala dosa saya. Karena Yesus dibaptiskan sehingga segala dosa dunia ditanggungkan kepadaNya, dan karena segala dosa dunia ditanggungkan kepadaNya, segala dosa saya juga ditanggungkan kepada Yesus. Dan kemudian, Ia mencurahkan darahNya di kayu Salib untuk membayar upah dosa saya.” Inilah cara anda seharusnya percaya. 
“Siapa yang peduli apakah saya percaya begini atau begitu? Yang penting adalah bahwa saya percaya kepada keempat pelayanan Tuhan. Mengapa terlalu memaksa dan berpegang kepada urutan ini?” Apakah anda, entah karena apa, masih berpegang kepada pandangan ini? Anda harus menerima di dalam hati kebenaran ini: Yesus mati di kayu Salib hanya setelah Ia dibaptiskan. Dan inilah kebenaran yang harus anda percayai.
Roh Kudus tidak pernah menerima ketidakbenaran. Allah sang Roh Kudus menerima iman kita hanya kalau kita percaya kepada apa yang dilakukan Mesias bagi kita di dunia sebagaimana adanya. Roh Kudus tidak mengatakan, “Jadi kamu percaya kepada keempat karya Yesus. Amin. Apakah kamu percaya dengan urutan yang benar atau terbalik, apakah kamu percaya begini atau begitu, tidak masalah kalau kamu percaya. Amin. Baik, sekarang kamu adalah anakKu.”
Yesus sang Mesias datang ke dunia ini sesuai dengan kehendak Allah Bapa dan sesuai dengan waktu Bapa. Demikianlah Ia menjalani 33 tahun kehidupanNya di dunia ini. Dengan datang ke dunia ini, Ia menggenapi karya keselamatan dengan dibaptiskan, disalibkan, dan dibangkitkan, dan naik ke Surga. Dan Ia mengutus Roh Kudus kepada kita.
Allah sang Roh Kudus berdiam di dalam hati mereka yang sudah menerima pengampunan dosa, dan Ia menerima iman mereka yang percaya kepada apa yang sudah dikerjakan Tuhan bagi mereka sebagaimana adanya. Inilah sebabnya mengapa kita tidak boleh percaya sekehendak pikiran kita. Meskipun anda dan saya sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, tidakkah anda, entah karena apa, percaya dalam urutan yang terbalik? Kalau ya, anda harus percaya kembali dengan urutan yang benar.
Ketika anda melakukan hal itu, Roh Kudus bekerja di dalam hati anda. Meskipun kita penuh kelemahan, Roh Kudus memegang hati anda dengan kuat, diam di dalam kita, dan mencurahkan anugerahNya ketika kita kekurangan di hadapanNya. Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita. Ia menghibur kita. Ia memberkati kita. Ia menjanjikan masa depan yang cemerlang. Dan bagi kita yang percaya, Ia memimpin kita dari iman kepada iman agar tidak kehilangan kelayakan masuk ke dalam Kerajaan KekalNya. 
Inilah yang kita butuhkan ketika kita percaya kepada apa yang sudah dilakukan Tuhan bagi kita, atau ketika Ia memerintahkan agar kita membawa persembahan kita kepadaNya—yaitu, kita harus percaya bahwa Ia sudah menyelamatkan kita dengan air dan Roh. Semua perkakas di dalam Kemah Suci adalah penting karena semuanya senantiasa menjelaskan kepada kita rahasia tentang dilahirkan kembali dari air dan Roh. Melalui berbagai hal di dalam Kemah Suci, dengan kata lain, Allah ingin menjelaskan kepada kita satu hal—Injil air dan Roh. 
 

Bagi Iman Kita, Dasarnya Sangat Penting
 
Kalau kita membangun rumah iman kita tanpa terlebih dahulu meletakkan dasar imannya secara kokoh, semakin lama kita percaya kepada Yesus, semakin bertambah banyak dosa kita, semakin banyak doa pertobatan yang harus kita naikkan, dan semakin munafik kehidupan dosa kita. Tetapi ketika kita percaya kepada anugerah keselamatan, bahwa Tuhan kita sudah menyelamatkan kita dengan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, maka kita semua bisa menjadi anak-anak Allah yang sempurna. Karena itu, kita semua harus percaya kepada kebenaran kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan dengan demikian kita harus menjadi anak-anak Allah.
Orang-orang yang dasar imannya penuh bisa senantiasa membawa keimaman mereka dengan terang yang benderang, meskipun mereka memiliki banyak kekurangan. Mereka bisa, dengan kata lain, menggenapi semua tugas keimaman pada saat memeluk semua manusia di dunia ini, berdoa kepada Allah untuk pengampunan dosa mereka, dan melayani Injil di hadapan Allah. 
Sebaliknya, bagi mereka yang dasar imannya tidak jelas, semakin lama, mereka menjadi semakin munafik. Mereka menjadi jahat. Mereka menjadi orang beragama yang semakin munafik. Seperti yang dikatakan Tuhan bahwa kita bisa mengenal pohon dari buahnya, buah yang dihasilkan oleh orang-orang itu semuanya menjijikan, kotor, dan munafik. Namun, orang-orang yang sudah dilahirkan kembali sama sekali tidak munafik. Mereka penuh kebenaran. Meskipun mereka memiliki kelemahan, mereka sungguh-sungguh tulus. Mereka mengakui kelemahan dan kesalahan mereka, dan mereka senantiasa hidup di tengah cahaya terang. Karena Tuhan kita sudah dibaptiskan untuk menghapuskan dosa-dosa kita, dan karena Ia memang sudah membuat dosa-dosa kita terhapus, dengan percaya kepada kebenaran ini kita sudah menerima pengampunan dosa kita. Karena dasar dari iman kita kokoh, meskipun kita lemah, meskipun kita melakukan dosa, dan meskipun kita tidak mampu, hidup kita tetap bercahaya, karena hati kita senantiasa tidak berdosa. Karena kekurangan kita mungkin kadangkala kita menyimpang, tetapi karena kita sungguh-sungguh tidak berdosa, kita tidak menyimpang untuk membawa orang lain dan diri kita sendiri kepada kebinasaan. Meskipun kita tidak mampu, kita tetap berjalan di jalan yang menyenangkan Allah, maju ke depan selangkah demi selangkah dan semakin melayani Injil. Ini semua bisa terjadi karena Yesus sudah menyelamatkan kita secara sempurna.
Kalau Yesus Kristus, Mesias kita, dan Juruselamat kita tidak menyelamatkan kita secara sempurna dengan keempat tenunan, kita tidak akan pernah bisa diselamatkan sama sekali. Karena Ia sudah menyelamatkan kita sehingga kita bisa selamat, dan karena kita percaya, memberitakan Injil dan memuji Allah di dalam iman kita. Dengan iman kita saja kita bersyukur kepada Allah, dengan iman kita melayani Dia, dan dengan iman kita mengikuti Dia. Ini adalah keadaan kita yang sekarang. Kita sudah, dengan kata lain, menjadi orang yang berkenan kepada Allah dengan iman kita. Kita sudah menjadi orang yang dasar imannya berdiri teguh.
Orang yang dasar imannya tidak diletakkan dengan baik harus meletakannya lagi. Itulah sebabnya Ibrani 6:1-2 mengatakan, “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal.” 
Apa yang dijelaskan dalam ayat itu? Dijelaskan agar kita bisa mengerti dan memastikan, dan untuk dengan kokoh meletakkan dasar bagi pertanyaan seperti: “Mengapa Yesus dibaptiskan?”, “Apakah baptisan adalah sama dengan penumpangan tangan di Perjanjian Lama?”; “Apakah kita akan hidup kembali?”; dan “Apakah penghukuman kekal?” Dijelaskan bahwa kita harus memiliki iman yang penuh dan meletakkan dasarnya dengan kokoh dari sejak awalnya, sehingga kita tidak akan tergoncang ataupun dipaksa untuk mengulangi lagi meletakkan dasar sekali lagi. Iman yang percaya kepada kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya adalah iman yang penuh yang percaya bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita sepenuhnya dengan sempurna. Kita harus berdiri teguh di atas dasar iman ini, dan kita harus memulai dari sana dalam perlombaan kita. Kita harus berlari dalam perlombaan iman.
Beberapa orang mengartikan ayat dari surat Ibrani di atas dengan menyebutkan bahwa kita tidak bisa mengatakan kalau dosa-dosa kita ditanggungkan kepada Yesus melalui baptisanNya, dan bahwa ayat di atas menjelaskan bahwa kita tidak perlu membangun dasar iman lagi. Tetapi apakah Allah akan mengatakan kepada kita untuk tidak membangun kembali dasar iman kita kalau memang sudah dibangun dengan benar? Ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang tidak mamiliki dasar iman yang benar harus meletakkan dasarnya, dan bahwa mereka yang memiliki dasar iman yang benar harus membuatnya semakin kokoh dan teguh, dan maju kedepan.
Untuk menyelamatkan kita, Allah memerintahkan Musa untuk membangun Kemah Suci dan menerima persembahan dari umatNya. Untuk bangsa Israel, Ia memerintahkan mereka membawa emas, perak, dan tembaga, kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, bulu kambing jantan, Kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba, dan kayu penaga. Sama seperti yang dilambangkan oleh semua bahan itu, Tuhan kita memang memberikan kepada kita anugerah keselamatan dengan membebaskan anda dan saya dari segala dosa dunia. Dengan cara ini, Allah sudah sungguh-sungguh memerintahkan bangsa Israel untuk membawa persembahan itu kepadaNya, membangun Kemah Suci, menetapkan sistem korban, dan mengampuni dosa-dosa orang Israel yang memberikan kepadaNya korban persembahan sesuai dengan persyaratan di dalam sistem korban.
 

Iman Kita Dilengkapi Dalam Kain Biru Dan Kain Ungu, Kain Kirmizi Dan Dari Lenan Halus Yang Dipintal Benangnya Yang Menubuatkan Penggenapan Keselamatan Kita Oleh Yesus Kristus 
 
Kalau kita, tidak percaya kepada kebenaran sempurna yang digenapi oleh Yesus Kristus, tidak meletakkan dasar iman kita dengan kokoh sekaligus, iman kita akan senantiasa terguncang. Tanpa pengetahuan, kesadaran, dan iman kepada kenyataan bahwa Tuhan kita sudah menyelamatkan kita secara sempurna, kita akhirnya akan berusaha mencapai keselamatan dengan upaya kita sendiri. Iman yang demikian tidak lengkap, tetapi salah.
Mari kita membuka Ibrani 10:26-31: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.” Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa kalau kita sengaja berdosa setelah kita menerima pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak akan ada lagi korban untuk dosa kita, tetapi hanya ada penghukuman yang mengerikan. Di sini, orang yang sengaja melakukan dosa setelah menerima pengetahuan tentang kebenaran menunjuk kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Injil air dan Roh meskipun mereka sudah mengenalnya. Kita harus percaya kepada kebenaran bahwa Allah menyelamatkan kita dengan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan bahwa Ia menyelamatkan kita dengan emas, perak, dan tembaga, dan bahwa Ia membuat atap Kemah Suci dengan penutup kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, bulu kambing jantan, kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan kulit lumba-lumba. Kita semua harus mengenal semua itu dengan jelas dan meletakkan dasar iman kita secara tegas. 
Tuhan kita berjanji bahwa Ia akan menyelamatkan kita sepenuhnya, dan ketika saatnya tiba, Ia dibaptiskan untuk menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya, mati di kayu Salib, bangkit kembali dari kematian, dan dengan itu menyelamatkan kita sepenuhnya. Kita kemudian diselamatkan secara sempurna di dalam Yesus Kristus yang meletakkan dasar bagi keselamatan kita sepenuhnya. 
Tetapi mereka yang tahu kebenaran ini dan tetap tidak percaya pasti akan menghadapi penghukuman Allah yang mengerikan di hari penghakiman terakhir. Tubuh mereka tidak akan mati tetapi menderita sampai selamanya. Alkitab menjelaskan bahwa akan ada penyiksaan yang mengerikan untuk mereka, dan penderitaan mereka di neraka akan begitu besar yang digambarkan seperti dibumbui dengan api (Markus 9:49). Disana dikatakan bahwa hanya akan ada penghukuman yang menakutkan, dan penyiksaan yang mengerikan yang akan menimpa para penyesat itu.
Ketika kegagalan untuk taat kepada hukum Taurat membawa kepada penghukuman yang mengerikan, betapa besarnya hukuman bagi mereka yang tidak percaya kepada keselamatan yang diberikan oleh Anak Allah? Inilah sebabnya kita semua harus percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat kita, di dalam Tuhan yang datang ke dunia dalam rupa manusia, yang menanggung segala dosa ke atas DiriNya melalui baptisanNya, yang membawa segala dosa dunia ke atas kayu Salib dan menanggung penghukuman atas dosa dengan penyalibanNya, yang bangkit dari kematian, dan yang sekarang hidup.
 

Dasar Iman Kita Harus Diletakkan Dengan Kokoh 
 
Mengapa Allah memerintahkan Musa untuk membangun Kemah Suci? Ketika kita memperhatikan masing-masing dan setiap bahan yang dipakai untuk Kemah Suci, kita bisa melihat bahwa semuanya menyatakan kebenaran bahwa Yesus Kristus datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya dengan baptisan yang diterimaNya dari Yohanes Pembaptis, membawa dosa-dosa dunia ke kayu Salib dan mati di sana, bangkit kembali dari kematian, naik ke Surga, dan duduk di sebelah kanan tahta Allah Bapa, dan sekarang sudah menjadi Allah kekal kita. Dari tiang-tiang dan alas tembaga untuk tiang itu, semua bahan di Kemah Suci menunjukkan kepada kita kebenaran Injil. Seluruh Perjanjian Lama, dengan kata lain, menjelaskan kepada kita tentang baptisan Yesus Kristus, pengorbananNya, identitasNya, dan karyaNya bagi keselamatan.
Dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru, karena kulit lumba-lumba menjelaskan kepada kita Injil air dan Roh—yaitu, Injil kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya—semua yang percaya kepada kebenaran ini selalu berbicara tentang kebenaran kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya setiap kali mendapatkan kesempatan. Karena mereka begitu sering memberitakan dan mendengarnya, kadangkala kita sampai lupa betapa berharganya kebenaran ini. Tetapi bagaimana pentingnya kebenaran ini? Seperti kalau kita hidup di jaman pemerintahan Raja Salomo dimana emas dan perak yang sangat berharga begitu berlimpah sehingga hampir dianggap seperti batu biasa, karena kita mendengar Firman kebenaran ini setiap hari di dalam gereja Allah, kita mungkin kadangkala memperlakukan keselamatan ini dengan begitu saja. Tetapi anda harus senantiasa mengingat hal ini: kebenaran ini tidak bisa didengar dimanapun kecuali di dalam Gereja Allah, dan tanpa keselamatan ini tidak ada seorangpun yang bisa diselamatkan, atau yang bisa meletakkan dasar imannya dengan kokoh.
Iman yang dengannya anda dan saya sudah diselamatkan adalah percaya kepada kenyataan bahwa Tuhan kita sudah menyelamatkan kita secara sempurna dan meletakkan dasar iman kita dengan kokoh dengan keempat kain yaitu kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Saya akan mengulangi penegasan saya bahwa kita semua harus percaya kepada hal ini di dalam hati kita. Allah berjanji kepada kita, dan sama seperti janjiNya, Ia datang ke dunia ini sebagai Keturunan perempuan (Kejadian 3:15), menanggung segala dosa kita ke atas DiriNya dengan baptisanNya, bangkit kembali dari kematian, dan dengan itu menyelamatkan kita secara sempurna. Karena kebenaran ini sebenarnya sangat mudah untuk dijelaskan dan dipahami, kita bisa mewartakan Injil ini ke seluruh dunia setiap hari. Tentu saja, masih ada orang-orang yang layak dikasihani yang tidak mengetahui kebenaran ini. Namun, yang lebih memelas dibandingkan dengan orang yang tidak mengetahui kebenaran ini adalah orang-orang yang tidak percaya meskipun mereka berada di dalam Gereja Allah.
Meskipun anda sudah sungguh-sungguh menerima pengampunan dosa, pikiran anda mungkin masih jahat, tetapi paling tidak hati anda sudah menjadi sangat lembut. Tetapi orang-orang yang munafik tidak demikian, meskipun mereka berusaha menggambarkan diri sebagai orang yang lembut di luarnya, tetapi begitu jahat batiniahnya sehingga mereka berusaha mendustai Allah dan orang yang tidak terhitung banyaknya setiap hari. Anda dan saya harus meletakkan dasar iman kita secara kokoh. Dan di dalam keselamatan yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita begitu kokoh, kita harus berdiri di hadapan Allah dengan percaya kepada hal itu.
 
 
Iman Yang Berdiri Kokoh Seperti Unsur-Unsur dalam Kemah Suci
 
Allah memerintahkan agar kita membawa korban yang demikian dan untuk membangun Kemah SuciNya. Anda dan saya harus menjadi orang beriman yang percaya bahwa Yesus datang ke dunia ini dan sudah menyelamatkan kita secara rohani. Kita harus berdiri kokoh di hadapan Allah dengan memiliki jenis iman yang seperti bahan-bahan yang dipakai untuk membangun Kemah Suci. Apakah anda percaya? Apakah anda memiliki iman yang demikian? Dengan Gereja Allah, Injil air dan Roh masih sedang diberitakan. Karena inilah dasar dari iman yang sejati, saya tidak akan bisa cukup memberi penekanan akan hal ini.
Begitu banyak gereja dan denominasi di dunia ini yang tetap mengabaikan kebenaran bahwa Yesus menerima segala dosa ke atas diriNya, dan justru hanya percaya kepada darah di kayu Salib. Bahkan dalam keadaan demikian, Tuhan kita masih memungkinkan kita menemukan kebenaran. Alasan mengapa Yesus dipakukan dan diremukkan di kayu Salib adalah karena Ia dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Semua itu adalah karena Ia sudah menerima segala dosa dunia ke atas DiriNya dengan baptisanNya sehingga Ia disalibkan dan diremukkan di kayu Salib. 
Demikian, iman orang-orang yang mengaku sudah menerima pengampunan dosa hanya dengan percaya kepada darah Yesus saja adalah iman yang keliru, yang bagaimanapun keadaannya, akhirnya akan runtuh juga. Tidak peduli bagaimanapun tekunnya mereka berkhotbah kepada orang banyak dengan suara keras untuk percaya kepada Yesus, iman mereka, yang percaya hanya kepada darah di kayu Salib saja, hanya menawarkan doa pertobatan, dan tidak akan bisa menyelesaikan masalah dosa mereka sendiri, dan dibangun di atas dasar yang salah yang akan langsung runtuh ketika hujan menerpa, angin bertiup, dan banjir melanda.
Saya sendiri belum pernah mendengar tentang baptisan Yesus secara terperinci selama lebih dari 10 tahun sejak pertama kali saya percaya kepada Yesus. Namun, Yesus menemui saya dengan Firman kebenaranNya, dan saya bisa dilahirkan kembali dari air dan Roh. Sekarang, saya tahu bahwa ada banyak orang di seluruh dunia yang sedang mencari kebenaran tetapi belum menemukannya. Saya ingin berbicara dengan mereka semua, supaya mereka bisa mendengar kebenaran air dan Roh, dan supaya mereka bisa menerima pengampunan dosa dengan percaya kepada hal ini di dalam hati mereka. 
Sebelum anda dilahirkan kembali, anda, juga, mungkin sudah menjalani kehidupan agama. Pada saat itu, anda mungkin belum mendengar tentang kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Bukan hanya itu, anda mungkin belum pernah mendengar tentang Injil air dan Roh juga, apalagi tentang segala dosa kita ditanggungkan kepada Yesus ketika Ia dibaptiskan.
Teramat sangat penting bagi orang Kristen untuk percaya kepada kebenaran kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya sebagaimana adanya. Hanya ketika dasar iman kita diletakkan dengan kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya kita bisa berdiri kokoh dan kuat di dalam iman kita. Kalau anda masih belum percaya, masih belum terlambat—yang harus anda lakukan hanyalah percaya mulai dari sekarang. Hanya ketika anda percaya maka anda bisa diselamatkan sepenuhnya, letakkan dasar iman anda secara kokoh, dan mantapkan iman anda di atas dasar ini.
 

Orang-orang Yang Ada Didalam Gereja Allah Juga Harus Meletakan Dasar Iman Mereka Dengan Teguh
 
Matius 24:40 mengatakan, “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” Ketika kita semua percaya kepada kebenaran yang sama dan melayani Injil bersama di dalam Gereja Allah, apa yang lebih tragis daripada kalau kita ditinggalkan? 
Karena firman Allah itu ilmiah dan sopan, iman tidak bisa dijejalkan kepada orang lain dengan cara paksa. Kalau anda mendengar firman Allah yang disampaikan dengan sopan kepada anda, anda harus percaya kepada hal itu dengan akal yang sehat, memusatkan pikiran anda kepada kenyataan bahwa anda memang sedang mendengarkan firman Allah. Ketika bangsa Israel mendengar apa yang dikatakan Musa kepada mereka, mereka menganggapnya bukan sebagai perkataan Musa sendiri tetapi firman Allah. Demikian juga, ketika anda diberitahu tentang apa yang dikatakan firman Allah, anda perlu meneliti apakah anda percaya sesuai dengan firman Allah ini. Anda perlu mempertimbangkan Firman itu dengan kepala dingin, dan kemudian percaya kepada apa yang sesungguhnya dikatakan di sana. 
Alkitab memerintahkan orang-orang percaya yang ada di Berea mengenai akal sehat yang dipakai terhadap firman Allah. Orang-orang percaya di Berea “lebih memakai akal sehatnya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kisah Para Rasul 17:11). Singkatnya, mereka percaya secara rasional kepada FirmanNya ketika mereka diajar.
Iman yang benar datang dari rasio dan akal sehat yang menyelidiki Firman. Apakah anda memakai akal sehat anda sendiri ketika anda dipaksa untuk percaya bertentangan dengan kehendak anda? Kalaupun seseorang memaksa orang lain untuk percaya, maka hal itu sebenarnya sia-sia sama sekali, karena orang yang dipaksa itu tidak selalu benar-benar percaya kepada apa yang dipaksakan kepadanya. Di hadapan Allah, semuanya tergantung kepada apakah seseorang percaya dengan kehendak bebasnya. Kalau seseorang tidak percaya ketika ia sudah diberitahu berulangkali mengenai hal ini, maka tidak ada yang lain yang bisa dilakukan kecuali membuang orang itu ke dalam neraka. 
Karena itu, semua orang berdosa di seluruh dunia ini layak dikasihani, tetapi kalau ada di antara kita yang tidak percaya kepada Firman Allah meskipun kita sama-sama di dalam Gereja Allah, maka orang yang demikian lebih harus dikasihani. Bagaimana mungkin ada orang yang layak dikasihi melebihi orang-orang yang akan masuk neraka, meski mereka secara fisik ada di dalam Gereja Allah yang sama dengan kita?
Yesus memiliki dua belas murid, dan di antara mereka hanya Yudas yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruselamat. Jadi Yudas selalu memanggil Yesus dengan sebutan guru. Petrus, juga, biasa memanggil Yesus sebagai guru, tetapi akhirnya ia percaya dan berkata, “Tuhan, Engkau adalah Kristus dan Anak Allah. Engkau adalah Anak Allah, Juruselamat yang datang untuk melenyapkan segala dosaku. Engkau adalah Allah keselamatan.” 
Iman Petrus, dengan kata lain, berbeda dengan iman Yudas. Setelah Yudas mengkhianati Yesus dan menjualNya, ia bunuh diri. Meskipun Yudas selalu bersama dengan sebelas murid yang lain, pada akhirnya, ia tidak bisa mengenal Yesus Kristus sebagaimana adanya, dan kemudian berakhir dengan masuk neraka. Petrus, sebaliknya, diselamatkan dengan mengenali Yesus Kristus dan percaya kepadaNya sebagai JuruselamatNya, meskipun ia memang orang yang tidak sabar karena kelemahannya.
Demikian juga, keselamatan bergantung kepada apakah seseorang mengenal kebenaran dan percaya kepada hal itu di dalam hatinya atau tidak. Seseorang tidak bisa percaya kepada kebenaran kalau ia tidak mengenalnya. Namun, kalau orang tidak percaya kepada kebenaran meskipun mereka mengenalnya, mereka akan menghadapi penghukuman yang lebih besar (Lukas 12:48). Inilah sebabnya Allah mengatakan bahwa dasar iman kita haruslah kokoh dan benar.
 

Bagaimanakah Iman Kita?
 
Apakah dasar iman kita sudah dikuatkan sekarang? Apakah dasarnya sudah kokoh? Apakah anda percaya bahwa Tuhan sudah sungguh-sungguh menyelamatkan anda? Melalui air dan Roh, Tuhan kita memang sudah sangat pasti menyelamatkan kita. Ini bukan hanya sesuatu yang khusus diajarkan oleh denominasi kami saja, tetapi inilah yang dijanjikan Allah di dalam Perjanjian Lama dan yang sungguh-sungguh digenapi oleh Yesus di dalam Perjanjian Baru—yaitu, beginilah caranya Kristus sungguh-sungguh menyelamatkan kita. 
Yesus adalah Raja segala raja (kain ungu) yang datang ke dunia ini dalam rupa manusia, menanggung segala dosa ke atas diriNya dengan baptisanNya (kain biru), membawa segala dosa itu ke kayu Salib dan disalibkan (kain kirmizi), bangkit kembali dari kematian, dan dengan itu menyelamatkan kita. Ia berjanji bahwa Ia akan melakukan hal itu di dalam Perjanjian Lama, dan Ia sudah menyelamatkan kita dengan menggenapi janji itu di dalam Perjanjian Baru. Apakah anda percaya? Hal ini tidak lain dari meletakkan dasar yang teguh untuk iman.
Ada ratusan juta orang Kristen di dunia ini, tetapi kebanyakan di antara mereka, dasar imannya sangat rapuh. Kita bisa menemukan apakah seseorang memiliki iman yang benar atau tidak hanya dengan melihat buku-buku Kristen yang ada saat ini. Penulis-penulis buku itu biasanya para pemimpin di dalam lingkungan Kristen, dan dengan membaca buku-buku mereka, kita bisa melihat apakah mereka memiliki pemahaman yang benar akan kebenaran atau tidak. Kalau bahkan ada satu saja pemimpin itu yang tidak mengetahui atau tidak percaya kepada kebenaran kalaupun ia mengetahuinya, maka semua orang yang mengikuti pemimpin itu bisa dipastikan akan masuk neraka. Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa hanya sedikit saja orang yang mengenal kebenaran itu, yang jumlahnya hanya sekitar satu juta saja. Inilah sebabnya kita yang sedikit yang mengenal kebenaran harus memberitakan Injil dengan setia ke seluruh dunia.
Allah sedang bekerja melalui kita. Anda dan saya tidak bisa menghindar dari memberitakan Injil, karena tidak memberitakan Injil air dan Roh ke seluruh dunia adalah sama dengan melakukan dosa yang besar di hadapan Allah. Bahkan, kalau kita tidak sungguh-sungguh mengikuti dan melayani pekerjaan ini dengan iman, maka kita memang sedang melakukan dosa yang besar di hadapan Allah. Inilah dosa yang membawa manusia ke dalam neraka padahal kita tahu bagaimana menghentikannya; sebuah dosa yang tidak bisa diampuni bahwa manusia akan masuk neraka di dalam ketidaktahuan mereka karena kita yang mengetahui kebenaran telah menutup mulut kita. 
Kalau kita tidak melaksanakan tugas yang diberikan kepada kita, orang-orang itu akan memprotes kita, karena itu adalah tugas yang merupakan kewajiban. Alkitab memperingatkan kita, dan mengatakan, “Sebaliknya penjaga, yang melihat pedang itu datang, tetapi tidak meniup sangkakala dan bangsanya tidak mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang dari antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari penjaga itu” (Yehezkiel 33:6). Kita yang sudah terlebih dahulu tahu dan percaya harus menjalankan tugas kita sebagai penjaga itu.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang memberikan Injil ini kepada kita dan memampukan kita mengenal kebenaran ini. Saya semakin bersyukur kepadaNya ketika saya menyadari bahwa kita termasuk di antara sedikit orang yang terpilih di dunia ini yang mengenal kebenaran ini dan percaya kepada Injil ini. Kita sudah memberitakan Injil air dan Roh ke banyak pendeta dan orang awam yang percaya di seluruh dunia ini, tetapi setiap hari kami mendapatkan konfirmasi akan kenyataan bahwa tidak ada yang sebelumnya sudah sungguh-sungguh mengerti dan percaya kepada kebenaran ini. Melalui kami, para pemberita Injil kebenaran air dan Roh sudah bermunculan di seluruh dunia. Seperti kami, mereka, juga, memiliki dasar iman yang kokoh, dan sedang menyebarkan iman yang kokoh ini. 
Kalau ada banyak orang yang memberitakan Injil ini, mungkin kita bisa bernapas agak mudah dan santai sedikit di dalam pemberitaan Injil kita, namun, sayangnya, tidak begitu banyak orang di dunia ini yang mengenal dan percaya kepada kebenaran ini. Banyak yang terlalu mengagungkan pencapaian Reformasi di sejarah dunia. Ketika kita menyelidikinya secara terperinci, kita bisa menemukan bahwa para reformis sudah salah menempatkan tombol yang pertama dari dasar iman alkitabiah pada saat Reformasi, dan bahwa semua yang mengikuti mereka juga melakukan kesalahan yang sama. Meskipun ada usaha untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang ada, tetapi karena tombol yang pertama sudah salah tempat, maka tetap ada cacarnya; dengan itu, sejarah kekristenan harus disusun ulang.
Saya berharap dan berdoa agar anda semua berdiri di hadapan Allah dengan dasar iman yang kokoh, anda akan menjalani kehidupan anda bagi kepentingan pelayanan Injil yang sejati. Ketika anda hidup bagi Injil, hati anda tentu saja akan dipenuhi dengan sukacita. Ketika seseorang hidup bagi Injil, hatinya diubahkan menjadi hati yang rohani. Dan saat Roh Kudus memenuhi hati anda dan bekerja di dalamnya, anda akan mengalami kelimpahan sukacita. 
Tetapi kalau anda tidak percaya kepada Injil dan mengejar kehendak daging anda meskipun anda sudah menerima pengampunan dosa dan mengenal Injil air dan Roh, anda kemudian akan menjalani kehidupan yang tidak berarti, dan kosong.
Saya bersyukur kepada Allah yang memberikan Injil yang berharga ini kepada kita, dan karena Ia memberikan keselamatan kita secara cuma-cuma. Doa saya adalah agar anda akan menguji iman anda sekali lagi, dan menerima keselamatan yang sempurna melalui kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya.