דרשות

Pokok 11: Kemah Suci

[11-17] (Keluaran 25:10-22) Korban Penghapus Dosa Yang Diberikan di atas Tutup Pendamaian

(Keluaran 25:10-22)
“Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya. Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya. Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya. Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu. Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.”
 

Tutup Pendamaian 
 
Satu hasta adalah ukuran panjang rentangan antara ujung jari tangan sampai ke siku. Di dalam Alkitab, satu hasta ukurannya adalah sekitar 45 cm dalam ukuran jaman ini. Panjang tutup pendamaian adalah dua setengah hasta, jadi kalau dikonversikan ke cara meteran, panjangnya adalah sekitar 112,5 cm. Dan lebarnya adalah satu setengah hasta, seukuran sekitar 67,5 cm. Ini memberikan kepada kita pemahaman umum tentang ukuran dari tutup pendamaian.
Tabut Perjanjian pertama-tama dibuat dari kayu penaga dan kemudian disaput dengan emas di bagian dalam dan luarnya. Tetapi tutup pendamaian, yang letaknya di atas Tabut, terbuat semata-mata dari emas murni. Dan di kedua ujungnya, dibuat ukiran kerub yang merentangkan sayap mereka ke atas, menutupi tutup dari Tabut itu—yaitu, tutup pendamaian—dan kerub itu saling berhadapan ke arah tutup pendamaian. Tutup pendamaian ini adalah tempat dimana Allah(Jahweh) memberikan anugerah-Nya kepada mereka yang datang kepada-Nya dengan iman.
Empat gelang emas ditempatkan di masing-masing sudut Tabut. Dua gelang emas diletakkan di masing-masing sisi, dan kayu pengusung diletakkan di dalam gelang itu sehingga Tabut bisa diusung. Kayu pengusung itu terbuat dari kayu penaga dan disaput dengan emas. Dengan menempatkan kayu pengusung di dua gelang pada satu sisi dan dua gelang di sisi lainnya, Allah(Jahweh) memastikan bahwa dua orang bisa mengangkat dan memikulnya. Dan Tuhan kita mengatakan, “Aku akan bertemu denganmu di atas tutup pendamaian ini.” 
Allah(Jahweh) membuat bangsa Israel mengusung Tabut Perjanjian bersama dengan tutup pendamaian dengan memasukkan kayu pengusung ke gelang Tabut. Ini berarti bahwa Allah(Jahweh) menghendaki kita untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Hal yang sama juga terjadi dengan Mezbah Pembakaran Ukupan—yaitu, gelang-gelang diletakkan di kedua sisinya, kayu pengusung dimasukkan ke gelang-gelang itu, dan dua orang bisa mengusung mezbah itu. Ini, juga, berarti bahwa kita harus meminta pertolongan Allah(Jahweh) setiap kali kita menghadapi kesulitan, dan bahwa kita juga harus berdoa untuk penyebaran Injil di seluruh dunia kemana saja kita pergi.
Di dalam Tabut Perjanjian, ada tiga hal yang diletakkan di sana: buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang bertunas, dan dua loh batu Perjanjian. Apa artinya? Pertama, buli-buli emas berisi manna berarti bahwa Yesus Kristus memberikan kehidupan baru kepada orang percaya. Dia pernah mengatakan, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35). 
Tongkat Harun yang bertunas menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atas kebangkitan dan bahwa Dia memberikan kehidupan kekal kepada kita. Loh batu Perjanjian memberitahukan bahwa kita tidak bisa menghindar dari hukuman maut di hadapan Hukum. Namun, anugerah Allah(Jahweh) begitu besar sampai menutupi semua penghukuman atas dosa-dosa kita yang sudah dikutuk oleh Hukum. Tutup pendamaian secara tepat cocok menjadi penutup untuk Tabut sehingga penghukuman dari Hukum itu tidak perlu keluar. Allah(Jahweh) sudah menggenapi tutup pendamaian itu dengan korban yang sempurna dari Anak-Nya Yesus. Semua orang yang percaya kepada Injil air dan Roh dengan itu bisa dengan berani datang ke tahta kasih karunia, tutup pendamaian itu. 
 

Darah Yang Berharga Yang Dipercikkan di atas Tutup Pendamaian!
 
Kita harus terlebih dahulu menemukan apakah rahasia yang tersembunyi di balik tutup pendamaian. Sekali setahun, Imam Besar mengambil darah korban persembahan dan masuk ke Tempat Maha Kudus. Dia kemudian memercikkan darah korban persembahan ini ke atas tutup pendamaian sebanyak tujuh kali. Allah(Jahweh) mengatakan bahwa Dia akan bertemu dengan bangsa Israel di atas tutup pendamaian pada saat itu. Allah(Jahweh) menjumpai siapa saja yang memiliki iman yang sama dengan iman Imam Besar, yaitu, iman kepada pengampunan dosa yang dinyatakan-Nya di dalam tata cara korban.
Darah korban dipercikkan di atas tutup pendamaian menunjukkan akan penghakiman yang adil dari Allah(Jahweh) atas dosa dan juga kasih karunia-Nya kepada manusia. Pada Hari Raya Pendamaian, hari ke sepuluh bulan ketujuh, Harun sang Imam Besar menumpangkan tangannya ke atas korban persembahan untuk menanggungkan seluruh dosa tahunan bangsa Israel. Dia kemudian menyembelihnya dan mengeluarkan darah-Nya, dan kemudian dia membawa darah itu ke dalam tabir dan memercikkannya di atas tutup pendamaian (Imamat 16:11-16). 
Melalui darah yang sudah dipercikkan, Allah(Jahweh) menemui bangsa Israel dan memberikan kepada mereka berkat pengampunan dosa. Itu adalah kasih karunia Allah(Jahweh) kepada bangsa Israel bahwa Dia sudah menetapkan tata cara korban. Dengan penumpangan tangan di atas binatang korban dan darahnya, Allah(Jahweh) sudah dengan adil menghapuskan segala dosa mereka dan memberikan kasih karunia kepada mereka, pengampunan dosa atas kasih karunia. 
Bagaimana, kemudian, kita bisa menerima kasih karunia ini? Dengan Firman apa Allah(Jahweh) sudah menghapuskan segala dosa kita sekaligus? Allah(Jahweh) sudah memampukan kita untuk memahami bahwa kita harus memiliki iman yang mengerti dan percaya kepada kebenaran yang dinyatakan di dalam tata cara korban supaya kita bisa menerima anugerah yang Dia telah berikan kepada kita. Allah(Jahweh) memungkinkan kebenaran-Nya dipenuhi dengan dua unsur itu; penumpangan tangan ke atas kepala korban dan darahnya. Korban di dalam Perjanjian Lama menunjuk tidak lain kepada baptisan yang diterima Yesus Kristus dan darah yang dicurahkan-Nya di atas kayu Salib. 
Untuk dosa-dosa kita, Yesus Kristus Anak Allah(Jahweh) adalah dibaptiskan oleh Yohanes untuk menanggung dosa-dosa dunia, menjadi korban persembahan di atas kayu Salib untuk membayar upah bagi dosa-dosa ini, mati bagi kita, dan bangkit kembali dari kematian untuk memberikan kehidupan kepada kita. Baptisan yang diterima Yesus Kristus dan curahan darah-Nya di atas kayu Salib adalah untuk memberikan kepada kita pengampunan dosa, dan semua itu adalah kasih karunia berkat sejati yang memampukan orang-orang yang memiliki iman yang demikian untuk bertemu dengan Allah(Jahweh). Kebenaran ini adalah gambaran dari Injil air dan Roh. Injil air dan Roh adalah kebenaran yang sudah meletakkan dasar dari iman sejati yang memungkinkan orang-orang berdosa untuk menerima pengampunan dosa dari Allah(Jahweh). Yesus Kristus menjadi korban persembahan bagi dosa-dosa kita. Dia menjadi jembatan kebenaran yang memungkinkan kita untuk menghadap Allah(Jahweh) Bapa yang Kudus. 
Lagi, kita bisa menemukan bukti yang menentukan untuk kebenaran ini di dalam warna dari keempat tirai yang dipakai untuk pintu gerbang Kemah Suci: kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Keempat tirai pintu Kemah Suci, dengan kata lain, memberikan petunjuk akan Injil yang sejati. 
Petunjuk yang pertama adalah dari rahasia kain biru yang dinyatakan di pintu Kemah Suci. Rahasia ini adalah bahwa Yesus Kristus dibaptiskan oleh Yohanes, artinya Dia menanggung segala dosa dunia. Tuhan kita, dengan kata lain, menerima dosa-dosa kita yang ditanggungkan oleh Yohanes kepada-Nya. Inilah sebabnya Dia mendorong Yohanes untuk membaptiskan-Nya dengan mengatakan, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kebenaran Allah” (Matius 3:15).
Petunjuk kedua adalah kain ungu yang dinyatakan di Kemah Suci. Warna “ungu” adalah warna kerajaan. Yesus Kristus adalah Raja atas segala raja yang datang ke bumi ini sebagai Juruselamat manusia untuk membebaskan mereka dari dosa. Dia meninggalkan kemuliaan Surga dan datang ke bumi ini untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Yesus Kristus adalah Allah(Jahweh) sendiri dalam hakekat-Nya, tetapi untuk menyelamatkan kita dari segala dosa kita, Dia datang ke bumi ini, dan adalah dibaptiskan dan disalibkan di dalam ketaatan kepada kehendak Allah(Jahweh) Bapa. Untuk menghapuskan semua dosa kita, dengan kata lain, Allah(Jahweh) meninggalkan tahta kemuliaan Surga dan lahir dari anak dara Maria ke bumi ini untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Karena itu kita harus percaya bahwa Allah(Jahweh) sendiri harus dilahirkan melalui rahim seorang anak dara, dibaptiskan, dan mencurahkan darah-Nya di atas kayu Salib, semuanya seturut dengan janji yang dibuatNya kepada nabi Yesaya lebih dari 700 tahun sebelumnya.
Petunjuk yang ketiga adalah kain kirmizi. Ini menunjuk kepada darah Yesus. Kebenaran ini menyatakan bahwa Yesus menggenapkan missi keselamatan dari Allah(Jahweh) dengan mencurahkan darah-Nya di atas kayu Salib. Curahan darah-Nya di atas kayu Salib adalah penghukuman yang disediakan bagi penjahat yang paling jahat. Dengan penghakiman atas dosa-dosa yang ditanggung Yesus melalui baptisan-Nya, segala dosa manusia dihakimi. Dengan disalibkan dan mencurahkan darah-Nya, Dia menanggung penghukuman atas segala dosa dunia dan dengan itu sudah membebaskan kita dari dosa. Dengan menerima dosa-dosa kita dari Yohanes melalui baptisan-Nya dan mentaati Bapa sampai mati, Allah(Jahweh) sudah menyelamatkan orang berdosa dari semua pelanggaran mereka. 
Apakah anda memahami bahwa Yesus mengakhiri semua penghukuman atas dosa dan sudah menjadikan orang percaya menjadi anak-anak Allah(Jahweh) dengan menggantikan kita menanggung penghukuman kita sendiri dengan penghukuman penyaliban-Nya? Allah(Jahweh) melakukan semuanya itu sehingga kita bisa percaya kepada kebenaran ini dan menerima kehidupan kekal. Bahwa Yesus dibaptiskan dan kemudian dihukum di atas kayu Salib berarti bahwa Dia sudah menyelamatkan kita dari dosa. Inilah sebabnya Dia berseru ketika menghembuskan nafas terakhir-Nya, “Sudah selesai!” (Yohanes 19:30) Yesus menyatakan dengan sukacita besar bahwa Dia sudah menggenapkan keselamatan kita dari dosa sesuai dengan kehendak Allah(Jahweh) Bapa. 
Yang terakhir, kain lenan halus menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah(Jahweh) atas Firman. Dia menyatakan kehendak Allah(Jahweh) dengan Firman yang sangat terperinci dan penuh kebenaran. Di sepanjang Perjanjian Lama, Dia mengatakan sebelumnya bahwa Dia akan datang ke bumi ini untuk menyelamatkan semua manusia dengan baptisan dan penyaliban-Nya. Dia kemudian menggenapi semua janji-Nya secara tepat di dalam Perjanjian Baru. Itulah sebabnya Alkitab menegaskan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:1, 14).
Kebenaran ini yang memampukan kita untuk dibasuh dari segala dosa kita menjadi seputih salju. Baptisan yang diterima Yesus dan curahan darah-Nya tidak lain dari penumpangan tangan dan pendamaian dari penghukuman di dalam tata cara korban. Adalah karena Yesus memikul segala dosa dunia ke atas tubuh-Nya sehingga Dia mencurahkan darah-Nya di atas kayu Salib. Itu adalah karena Yesus dibaptiskan untuk memikul dosa-dosa bagi kita, dan kemudian naik ke kayu Salib serta mencurahkan darah-Nya di sana, kebenaran inilah yang sudah menjadi pendamaian yang membasuhkan dosa-dosa kita.
Baptisan yang diterima Tuhan kita ketika Dia datang ke bumi ini dalam rupa manusia dan darah yang dicurahkan-Nya di atas kayu Salib adalah kebenaran yang dinyatakan di dalam kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi. Yesus adalah dilahirkan ke atas bumi ini 2.000 tahun yang lalu, menanggung segala dosa dunia dengan dibaptiskan, mati di atas kayu Salib, bangkit kembali dari kematian pada hari yang ketiga, menanggung kesaksian selama 40 hari sesudah itu, dan kemudian naik serta duduk di sebelah kanan tahta Allah(Jahweh)—inilah kebenaran yang dinyatakan di dalam kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi. Allah(Jahweh) memerintahkan supaya kita percaya kepada kebenaran ini, bahwa Dia sudah menyelamatkan kita dari segala dosa kita dengan menghapuskan dosa-dosa kita. 
Ketika kita percaya kepada kebenaran ini, Allah(Jahweh) mengatakan kepada kita, “Sekarang, kamu sudah menjadi anak-anak-Ku. Kamu bukan lagi orang-orang berdosa. Aku sudah menyelamatkan kami dari segala dosa, penghukuman dan kutukmu. Aku sudah menyelamatkan kamu dengan kasih-Ku yang tidak bersyarat. Karena kamu begitu Aku kasihi, Aku sendiri sudah menyelamatkan kamu tanpa syarat. Karena Aku mengasihi kamu, Aku sendiri sudah menyelamatkan kamu. Bukan hanya Aku mengasihimu, tetapi Aku sungguh-sungguh melaksanakan kasih-Ku kepadamu dengan cara ini. Lihatlah darah korban-Ku. Inilah bukti kasih-Ku kepadamu. Aku sudah menunjukkan kepadamu bukti ini.”
Ketika kita datang menghadap Tuhan dengan miskin di dalam roh, Dia menunjukkan bahwa Dia sudah menyelamatkan kita dengan kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi. Tuhan datang ke bumi ini, dibaptiskan, dihina dan dihukum sampai mati di atas kayu Salib, bangkit kembali dari kematian, dan naik ke Surga. Allah(Jahweh) menemui siapa saja yang percaya kepada kasih keselamatan-Nya.
Allah(Jahweh) mencurahkan kasih karunia keselamatan kepada orang-orang yang percaya. Keselamatan-Nya sudah menjadikan makhluk yang rendah menjadi anak-anak Allah(Jahweh) sendiri. Allah(Jahweh) sedang mengatakan kepada kita, “Kamu sekarang anak-anak-Ku. Kamu adalah anak laki-laki dan perempuan-Ku. Kamu bukan lagi anak-anak Iblis, tetapi anak-anak-Ku. Kamu bukan lagi sekedar makhluk hina, tetapi umat-Ku sendiri. Aku sudah memperdamaikan dosa-dosamu melalui Anak-Ku Yesus. Aku sekarang sudah menjadikan kamu sebagai umat-Ku, dan kamu sudah menjadi umat-Ku oleh iman.” Allah(Jahweh) tidak hanya sudah menyelamatkan orang-orang berdosa, tetapi Dia juga sudah mencurahkan kepada mereka kasih karunia dengan menjadikan mereka anak-anak-Nya sendiri.
Allah(Jahweh) menyebut tutup di Tabut Perjanjian di dalam Kemah Suci sebagai tutup pendamaian. Dua kerub diletakkan di atas tutup itu menghadap ke bawah. Mengapa Allah(Jahweh) mengatakan bahwa Dia akan menemui bangsa Israel di atas tutup pendamaian? Alasan untuk ini adalah karena Allah(Jahweh) menebus segala dosa bangsa Israel dengan menerima darah binatang korban yang keatasnya segala dosa mereka sudah ditanggungkan melalui penumpangan tangan. 
Allah(Jahweh) mengatakan demikian, dengan kata lain, karena Dia menghendaki untuk memberikan kepada bangsa Israel pengampunan dosa sebagai anugerah dengan membuat mereka menanggungkan segala dosa mereka kepada korban persembahan mereka dengan menumpangkan tangan mereka ke atas kepalanya, dan dengan membuat korban persembahan ini membayar upah bagi dosa-dosa itu menggantikan mereka, semua dalam rangka untuk menghapuskan semua pelanggaran umat-Nya. Karena Allah(Jahweh) tidak bisa menemui orang berdosa tanpa adanya korban pendamaian, maka melalui korban persembahan ini Dia menghapuskan segala dosa mereka dan menemui mereka.
Setiap orang dilahirkan ke dunia ini dengan dosa sebagai keturunan Adam. Setiap orang karena itu memiliki dosa, dan tidak ada orang yang bisa menemui Allah(Jahweh) tanpa ada korban persembahan. Inilah sebabnya Allah(Jahweh) mengatakan bahwa Dia akan menerima korban persembahan yang memperdamaikan segala dosa bangsa Israel dan menemui mereka di atas tutup pendamaian.
Allah(Jahweh) membuat bangsa Israel menetapkan hari kesepuluh bulan ketujuh sebagai Hari Raya Pendamaian. Dia membuat Imam Besar menanggungkan dosa-dosa bangsa Israel selama satu tahun ke atas korban persembahan dan memberikan darah korban ini kepada-Nya. Pada hari itu, dosa-dosa bangsa Israel selama satu tahun ditebuskan, dan ini adalah karena pada hari ini, Imam Besar memberikan korban penghapus dosa bagi bangsa itu.
 

Tata Cara Korban Perjanjian Lama Untuk Membebaskan Orang-Orang Berdosa Dari Pelanggaran Mereka
 
Sebagaimana dikatakan Imamat 1:4, “Lalu Ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya,” segala dosa dari orang berdosa sungguh-sungguh ditanggungkan kepada kambing lepasan melalui penumpangan tangan ke atas kepala korban itu. Allah(Jahweh) menerima dengan berkenan jenis korban yang diberikan dengan iman yang sungguh-sungguh percaya kepada Firman-Nya. Inilah langkah pertama yang sangat penting di dalam tata cara korban yang sudah ditetapkan Allah(Jahweh) bagi umat-Nya bangsa Israel. 
Kemudian orang itu menyembelih leher binatang itu dan mencurahkan darah-Nya, dan memberikan darah itu kepada imam-imam. Imam-imam kemudian mengoleskan darah itu di tanduk-tanduk mezbah korban bakaran, meletakkan dagingnya di mezbah dan membakarnya, dan dengan itu memberikannya kepada Allah(Jahweh) sebagai korban persembahan bagi dosa-dosa orang-orang berdosa. Inilah hukum keselamatan yang ditetapkan Allah(Jahweh) untuk sungguh-sungguh menebus dosa setiap orang berdosa. 
Namun, di Hari Raya Pendamaian, hari kesepuluh pada bulan ketujuh, Allah(Jahweh) memungkinkan umat-Nya untuk mempersembahkan korban yang bisa menebus dosa-dosa mereka sepanjang satu tahun. Pada hari itu, Imam Besar, wakil dari seluruh bangsa Israel, mempersiapkan dua ekor kambing. “Harun harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah sebagai kambing lepasan. Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi TUHAN itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa” (Imamat 16:8-9). Dia harus menumpangkan tangannya ke atas kepala kambing jantan yang pertama sehingga dosa-dosa bangsa Israel selama satu tahun bisa ditanggungkan ke atas korban itu. Kemudian dia mencurahkan darah binatang itu dengan membunuhnya, masuk ke Tempat Maha Kudus, dan memercikkan darah itu dengan jarinya ke tutup pendamaian di sisi sebelah timurnya, dan di hadapan tutup pendamaian dia memercikannya tujuh kali. Dengan menerima darah korban persembahan, Allah(Jahweh) membasuh semua dosa mereka dan menerima mereka sebagai umat-Nya sendiri.
Setelah ini, Imam Besar kemudian keluar dari Kemah Suci, dan memberikan kambing jantan yang lainnya di hadapan semua orang Israel. Untuk sungguh-sungguh menanggungkan segala dosa bangsanya, Imam Besar kemudian menumpangkan tangannya ke atas kepala korban persembahan. Dia kemudian mengakui, “Aku akan menanggungkan segala dosa yang dilakukan bangsaku sepanjang satu tahun yang lalu ke atas korban ini.” Setelah ini, dia mengusir persembahan itu ke padang gurun dengan dituntun oleh orang yang sudah ditentukan. 
Kambing ini kemudian dibawa ke tengah-tengah padang gurun untuk mati di sana (Imamat 16:20-22). Ini menjelaskan bahwa dosa-dosa bangsa Israel sudah sepenuhnya ditebus sekali untuk selamanya dengan korban penghapus dosa yang diberikan pada Hari Raya Pendamaian. 
Kambing lepasan ini menjadi kiasan tidak lain dari Yesus. Korban penghapus dosa ini menyatakan kebenaran keselamatan yang digenapkan Yesus Kristus dengan dibaptiskan oleh Yohanes dan dengan disalibkan untuk menghapuskan segala dosa semua manusia di dunia ini. Allah(Jahweh) berjanji akan menemui bangsa Israel di atas tutup pendamaian ketika mereka mempersembahkan korban seturut hukum melalui Imam Besar. Bangsa Israel menganggap Imam Besar dan tutup pendamaian sangat berharga, karena Imam Besarlah yang memberikan korban penghapus dosa setiap tahun bagi mereka, dan di tutup pendamaian itulah semua pelanggaran mereka sudah diampuni. 
Demikian juga, Yesus memperdamaikan kita dengan Allah(Jahweh), sesudah mempersembagkan satu korban dengan tubuh-Nya bagi dosa-dosa kita untuk selamanya melalui baptisan dan curahan darah-Nya. Inilah sebabnya kita tidak pernah berhenti mengucap syukur kepada Tuhan Yesus, dan sebabnya kita percaya kepada baptisan-Nya bersama dengan penyalibanNya.
 

Tutup Pendamaian Memeteraikan Dual Loh Batu Berisi Dasa Titah Yang Adalah Ditempatkan di dalam Tabut Perjanjian 
 
Di atas Gunung Sinai, Allah(Jahweh) memerintahkan Musa untuk menempatkan kedua loh batu yang bertuliskan Dasa Titah itu di dalam Tabut Perjanjian dan untuk memeteraikan Tabut itu dengan tutup pendamaian. Allah(Jahweh) melakukannya karena Dia menghendaki untuk memberikan kasih anugerah-Nya kepada bangsa Israel, karena mereka tidak bisa mentaati Hukum. Dengan kata lain, itu adalah karena Allah(Jahweh) tidak bisa berhubungan dengan bangsa Israel yang melakukan dosa setiap hari kepada-Nya sebagaimana Hukum menyatakan bahwa upah dosa adalah maut. Ini, juga, adalah untuk memberikan pengampunan dosa kepada bangsa Israel. 
Bangsa Israel adalah, dengan kata lain, terlalu lemah di hadapan Allah(Jahweh) untuk bisa mentaati Hukum-Nya dengan perbuatan mereka sendiri. Jadi Allah(Jahweh) memberikan kepada mereka tata cara korban dengan menggunakan Hukum. Itu adalah untuk membuat mereka dibasuhkan dari segala dosa mereka melalui korban persembahan. Ini menunjukkan bahwa untuk menghapuskan dosa-dosa bangsa Israel, Allah(Jahweh) menuntut mereka menanggungkan dosa-dosa mereka kepada korban persembahan dengan menumpangkan tangan mereka ke atas kepalanya, dan untuk membunuh korban itu mengganti mereka dengan menyembelihnya. Allah(Jahweh) memberikan hukum kasih keselamatan-Nya bersama dengan hukum murka-Nya yang adil kepada bangsa Israel. Dengan demikian, kita juga perlu percaya kepada kedua kebenaran Allah(Jahweh) yang mutlak penting dari keselamatan; baptisan yang diterima Mesias dari Yohanes dan darah yang dicurahkan-Nya di atas kayu Salib. 
Binatang korban untuk korban penghapus dosa di Perjanjian Lama adalah tubuh Mesias di dalam Perjanjian Baru. Korban persembahan yang diberikan kepada kita di dalam Kitab Suci adalah kasih anugerah Allah(Jahweh) yang menghapuskan segala dosa kita. Sekarang ini juga, untuk ditebus dari dosa-dosa kita, kita mutlak memerlukan korban persembahan pendamaian. Sejak dahulu, untuk menghapuskan segala dosa manusia, harus ada keadilan Allah(Jahweh) dan kasih anugerah-Nya.
Karena keadilan Allah(Jahweh) harus menghakimi manusia kalau kita melakukan dosa, kita harus membasuh segala dosa kita dengan menanggungkannya kepada korban penghapus dosa. Sebagaimana pepatah di Korea mengatakan, “Bencilah dosa, tetapi jangan benci orang berdosa,” Allah(Jahweh) membenci dosa-dosa kita tetapi Dia tidak membenci jiwa kita. Agar Allah(Jahweh) bisa menghapuskan segala dosa jiwa kita, kita perlu menumpangkan tangan-kita ke atas korban persembahan, mencurahkan darahnya dan memberikan darah itu kepada-Nya. Di dalam Perjanjian Lama, bahwa Allah(Jahweh) memperdamaikan dosa-dosa bangsa Israel berarti bahwa Allah(Jahweh) menerima korban persembahan dan dengan itu menebus dosa-dosa mereka.
Bagi bangsa Israel, satu-satunya pembuat Hukum adalah Allah(Jahweh). Jehovah, yang menyatakan diri-Nya di hadapan bangsa Israel, adalah Dia yang ada dari diri-Nya sendiri. Sebagaimana kita mengenal Allah(Jahweh) sebagai satu-satunya pembuat hukum, kita harus mengakui bahwa Dia juga Allah(Jahweh) kita semua dan menerima tata cara korban yang ditetapkan-Nya untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Melalui tata cara korban yang ditetapkan Allah(Jahweh), kita adalah bisa untuk memahami betapa Allah(Jahweh) sangat mengasihi kita dan betapa adilnya Dia sudah membebaskan kita dari dosa. Dan melalui Hukum Allah(Jahweh), kita juga adalah dapat untuk memahami betapa kita memang sama sekali tidak bisa mentaati perintah-Nya. Dalam hakekat dasar kita, kita adalah penyembah berhala di hadapan Allah(Jahweh), melakukan segala macam kesalahan dan pelanggaran. Karena itu, kita tidak bisa tidak mengakui bahwa kita ditentukan masuk neraka karena dosa-dosa kita setiap waktu. Inilah sebabnya Allah(Jahweh) sendiri harus datang kepada kita sebagai Juruselamat.
Yesus Kristus memberikan tubuh-Nya sebagai korban bagi dosa-dosa dunia selamanya. Dia mengorbankan diri-Nya sendiri dengan cara yang tepat sama sebagaimana korban penghapus dosa yang diberikan di dalam Perjanjian Lama, khususnya yang ditunjukkan di dalam bagian mengenai Hari Raya Pendamaian: dengan menumpangkan tangannya ke atas kepala korban dan mencurahkan darahnya. Kedua loh batu di Tabut Perjanjian dan tutup pendamaian mutlak diperlukan oleh bangsa Israel untuk bisa menerima pengampunan dosa-dosa mereka, karena Allah(Jahweh) memampukan mereka yang percaya kepada Hukum Allah(Jahweh) yang adil dan janji kehidupan-Nya untuk menerima kehidupan yang baru. Hari ini, Hukum yang menunjukkan keadilan Allah(Jahweh) dan Firman kebenaran yang membawa keselamatan kekal dari dosa bukan hanya bagi bangsa Israel saja tetapi juga bagi kita semua untuk bertemu dengan Allah(Jahweh) dan menerima kehidupan kekal. 
Anda dan saya yang hidup di jaman ini harus memahami dan percaya siapakah Allah(Jahweh) kita, apa yang dikatakan-Nya kepada kita, dan melalui apa Dia sudah membuat kita menerima pengampunan dosa-dosa kita. Melalui kebenaran kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya yang dinyatakan di dalam pintu gerbang Kemah Suci di Perjanjian Lama, Allah(Jahweh) sudah memanggil anda dan saya, menerima kita, dan memberikan kepada kita iman yang percaya di dalam ini.
 

Kain Biru Secara Tepat Menunjuk Kepada Baptisan Yang Diterima Yesus 
 
Mari kita membuka Matius 3:13-17: “Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menurutiNya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.””
Melalui korban yang diberikan di bawah tata cara korban dalam Perjanjian Lama, Allah(Jahweh) Bapa sesungguhnya menunjukkan bahwa Dia akan menanggungkan segala dosa dunia ke atas Anak tunggal-Nya Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis memang pada kenyataaannya membaptiskan Yesus untuk menggenapi semua kebenaran Allah(Jahweh). Karena dosa-dosa dunia ditanggungkan kepada Yesus ketika Dia dibaptiskan oleh Yohanes, mereka yang percaya kepada hal ini sudah ditebus dari segala dosa di dalam hati mereka. 
Baptisan yang diterima Yesus memiliki makna yang sama sekali berbeda dengan air baptisan yang biasanya diterima orang sebagai ritual untuk menjadi orang Kristen. Dengan kata lain, air baptisan yang diterima orang di jaman ini hanyalah tanda luar dari peralihan mereka kepada agama Kristen. Yesus dibaptiskan di Sungai Yordan untuk menanggung segala dosa dunia dengan penumpangan tangan dari Yohanes Pembaptis, wakil dari manusia. Baptisan yang diterima Yesus adalah baptisan yang menggenapi janji Allah(Jahweh) akan keselamatan kekal, pengampunan dosa yang ditetapkan Allah(Jahweh) melalui tata cara korban di dalam Imamat. Bahwa Yesus menanggung segala dosa dunia dengan secara pribadi dibaptiskan dan mencurahkan darah-Nya sampai mati di atas kayu Salib untuk membayar upah dosa-dosa ini adalah kasih Allah(Jahweh) kepada manusia dan pengampunan dosa yang sempurna.
Itu adalah untuk menyelamatkan kita dari segala dosa duna sehingga Allah(Jahweh) membuat Anak-Nya dibaptiskan oleh Yohanes. “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kebenaran” (Matius 3:15). “Demikianlah” di sini berarti bahwa Yesus akan menanggung segala dosa manusia di dunia ini dengan dibaptiskan. Karena Yohanes membaptiskan Yesus Kristus, dosa-dosa kita ditanggungkan kepada-Nya. Itu adalah karena Yesus sudah menanggung segala dosa kita dengan baptisan-Nya sehingga Dia mencurahkan darah-Nya dan mati menggantikan kita. Baptisan yang diterima Yesus adalah kasih pengorbanan Allah(Jahweh) dan pengampunan dosa. Setelah Dia sungguh-sungguh menerima segala dosa kita yang ditanggungkan kepada-Nya, Dia menyelam ke dalam air. Penyelaman ini melambangkan kematian-Nya. Dan bahwa Dia keluar dari air adalah menyaksikan terlebih dahulu akan kebangkitan-Nya.
 

Yesus Adalah Pencipta Dan Juruselamat Kita 
 
Itu adalah benar bahwa Yesus Kristus yang datang kepada kita adalah Allah(Jahweh) sendiri yang sudah menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya. Kejadian 1:1 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” dan Kejadian 1:3 mengatakan, “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.” Yohanes 1:3 juga mengatakan, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yesus Kristus sungguh-sungguh menciptakan alam semesta bersama dengan Bapa dan Roh Kudus. 
Filipi 2:5-8 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di atas kayu Salib.” Dia adalah Pencipta yang sesungguhnya yang menciptakan dunia ini dan menciptakan kita manusia. Untuk membebaskan kita dari dosa, Tuhan sendiri datang dalam rupa manusia, menanggung segala dosa dunia dengan dibaptiskan oleh Yohanes, mencurahkan darah-Nya karena baptisan ini, dan sudah dengan itu menyelamatkan kita dari segala dosa.
Mesias sungguh-sungguh memerintahkan kepada bangsa Israel untuk membuat pintu Kemah Suci itu dengan kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya. Bahwa Dia membuat mereka memakai kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi untuk pintu Kemah Suci menyatakan maksud-Nya untuk menyelamatkan semua manusia dari dosa-dosa mereka: untuk menanggung dosa-dosa dunia dengan baptisan yang akan diterima Yesus dari Yohanes, dan untuk membayar upah dosa itu dengan darah-Nya di atas kayu Salib.
Di dalam Perjanjian Lama, orang berdosa bisa membawa korban persembahan mereka ke Kemah Suci dan menanggungkan dosa-dosa mereka ke atas korban itu dengan penumpangan tangan mereka ke atas kepalanya di dekat mezbah korban bakaran. Dia kemudian mencurahkan darah korban dengan menyembelihnya, dan memberikan darah ini kepada imam-imam. Imam-imam kemudian memberikan korban itu kepada Allah(Jahweh) dengan mengoleskan darah itu di keempat tanduk mezbah korban bakaran, dan juga menumpahkan sisanya ke atas tanah. 
Pada Hari Raya Pendamaian, ketika Imam Besar membawa darah korban persembahan yang ke atas kepalanya dia sudah menumpangkan tangannya ke dalam Tempat Maha Kudus dan memercikkanya ke tutup pendamaian, Allah(Jahweh) menerima darah korban persembahan ini sebagai pengganti penghukuman bagi umat-Nya. Mengapa korban persembahan itu harus dibunuh? Karena dia sudah menanggung segala dosa bangsa Israel melalui penumpangan tangan Imam Besar ke atas kepalanya. Darahnya adalah, dengan kata lain, akibat dari penumpangan tangan. Jadi, Allah(Jahweh) menerima darah binatang korban dan mencium aroma yang harum dari daging yang terbakar di mezbah, dan dengan itu menebus dosa-dosa bangsa Israel.
Di masa Perjanjian Baru juga, Yesus datang dengan cara yang tepat seperti ini. Untuk menanggung dosa-dosa kita dan menanggung penghukuman atas dosa, Tuhan kita harus datang ke bumi melalui rahim anak dara Maria, dan Dia menggenapkan keselamatan dengan dibaptiskan oleh Yohanes dan mencurahkan darah-Nya di atas kayu Salib. Kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi sebenarnya adalah Injil yang menyatakan bahwa Yesus, Allah(Jahweh) sendiri, dibaptiskan dan disalibkan.
Itu adalah karena Yesus menanggung segala dosa kita dengan baptisan-Nya sehingga Dia adalah disalibkan, mencurahkan semua darah-Nya, mati, bangkit kembali dari kematian pada hari yang ketiga, dan dengan itu sudah menjadi Juruselamat bagi kita yang percaya, duduk di sebelah kanan tahta Allah(Jahweh). Yesus Kristus sudah memampukan mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat untuk memanggil Allah(Jahweh) sebagai Abba, Bapa, dengan cara ditebuskan dari segala dosa mereka sekali untuk selamanya di hadapan Allah(Jahweh) Bapa. Inilah rahasia yang tersembunyi di balik kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi.
Melalui baptisan dan darah-Nya di atas kayu Salib, Mesias menggenapkan pembasuhan dosa-dosa kita dan menanggung penghukuman atas dosa-dosa kita menggantikan kita. Sekarang, Dia sudah menjadi Juruselamat bagi dunia. Dengan demikian, kita harus percaya bahwa pintu Kemah Suci di Perjanjian Lama memang terbuat dari kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan kita juga harus percaya bahwa di dalam Perjanjian Baru, Mesias Juruselamat kita sungguh-sungguh datang ke bumi ini, menanggung dosa-dosa dunia melalui baptisan-Nya, dan menanggung penghukuman atas segala dosa di atas kayu Salib—sehingga, kita harus menerima pengampunan dosa-dosa kita.
 

Sebagai Orang Kristen, Berapa Banyak Perhatian Anda Kepada Firman-Nya?
 
Keluaran 25:22 mengatakan, “Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” Seberapa dekat anda, kemudian, dengan Injil air dan Roh, Injil pendamaian itu? Dari mana Tuhan mengatakan bahwa Dia akan berbicara kepada anda yang sudah percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat? Di dalam Keluaran 25:22, Dia mengatakan bahwa Dia akan memberikan kepada anda semua perintah-Nya dari atas tutup Tabut Perjanjian itu. Kepada bangsa Israel di jaman Perjanjian Lama, Allah(Jahweh) mengatakan bahwa Dia akan berbicara semuanya kepada mereka dari tutup pendamaian.
Anda harus memahami bahwa ini adalah janji Allah(Jahweh) bahwa Dia akan menuntun kehidupan anda setelah Dia memberikan kepada anda pengampunan dosa melalui keadilan hukum korban persembahan dan menjadikan anda sebagai umat-Nya. Allah(Jahweh) mengatakan kepada kita bahwa betapapun banyaknya orang yang percaya kepada Kekristenan berusaha untuk dipimpin oleh Tuhan, kalau anda percaya kepada Yesus sementara masih mengabaikan kebenaran Injil air dan Roh, maka Dia tidak akan bisa menuntun anda. Dengan demikian, kalau anda sungguh-sungguh mau dituntun oleh Tuhan, anda harus terlebih dahulu memahami dan menerima kebenaran pengampunan dosa yang sudah menebus segala dosa anda sekaligus, dan kemudian menantikan petunjuk-Nya. 
Ada satu hal yang ingin saya katakana kepada anda, dan itu adalah bahwa kalau anda mau menjadi anak-anak Allah(Jahweh), dan kalau anda mau menjadi bagian dari Gereja-Nya, maka anda harus terlebih dahulu ditebus dari dosa-dosa anda dengan percaya kepada Injil air dan Roh, rahasia dari kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi. Hanya setelah ini anda bisa menerima perintah Tuhan yang disampaikan kepada anda dari atas Tabut Perjanjian.
Kita harus ingat dan percaya bahwa Tuhan senantiasa mengatur dan menuntun kehidupan kita ketika kita memiliki iman kepada Injil air dan Roh yang memampukan kita untuk menerima pengampunan dosa. Apakah anda sekarang menerima perintah Tuhan yang diberikan kepada anda dari atas tutup pendamaian? Atau apakah anda mengikuti Tuhan hanya didasarkan kepada perasaan anda sendiri? 
Perasaan dan emosi anda sendiri tidak bisa membangun iman anda, tetapi hanya menuntun anda kepada kebingungan. Kalau anda berusaha untuk mengikuti perintah Allah(Jahweh) yang disampaikan kepada anda dari atas Tabut Perjanjian, anda harus menyadari dan percaya kepada kain biru, kain ungu, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya yang dijelaskan di dalam Kemah Suci adalah pengampunan dosa yang diberikan Allah(Jahweh) kepada kita. 
Haleluya! Saya bersyukur kepada Allah(Jahweh) atas baptisan Tuhan, darah di atas kayu Salib, dan kuasa serta kasih-Nya yang sudah menyelamatkan kita dari segala dosa dunia.